
Tama berhasil mendapatkan rekaman kamera yang diminta oleh Javas. Memanggil Tama ke ruangannya, dan menyuruhnya untuk memutar rekaman. Javas mengamati satu persatu mobil yang lewat, namun tidak ada plat yang dia kenal. Mengamati pengemudi dan sopir di dalam mobil, namun sayangnya kurang jelas.
"Gimana bos?",
"Nggak keliatan Tam...",
Tiba-tiba Daddy masuk ke dalam ruangan Javas. Beliau, penasaran dengan putranya yang nampak serius mengamati layar laptopnya.
"Ada apa son..?",
"Dad.., istri Javas tadi ke makamnya Mine..",
"Kamu ketemu?",
"Nggak dad, Javas tau karena kalung yang dia pake jatuh..",
"Terus, kamu liat apa itu?",
"Javas yakin Kina tadi lewat jalan ini Dad.., tapi nggak ketemu..",
"Coba Dad liat dulu..",
Daddy Rendra memasang matanya lebar-lebar.
"Vas.., liat mobil yang belok ke minimarket?",
"Iya dad liat..",
"Kalo emang kamu yakin istri kamu lewat situ, berarti dia ada di mobil itu. Kina, tau kalo kamu cari dia..",
"Hah...?",
"Kalo kamu mau mastiin Daddy bener apa nggak, coba kamu minta rekaman Cctv disana..",
"Tadi emang Javas nggak sempet ke mobil itu, keburu dia minggir kesitu trs masuk ke minimarket..",
"Vas..vas..",
"Namanya juga nggak kepikiran Dad.., Daddy liat sendiri kan? disitu Javas udah kayak orang bod*oh, ngetuk satu persatu pintu. Demi Na, Javas buang rasa malu...",
"Emang yang nurunin cerdasnya Dad kayaknya cuma kakak kamu...",
"Terus gimana Dad..?",
"Kan Daddy udah bilang, minta rekamannya..",
"Tam....",
__ADS_1
"Iya bos iya.., ini jalan ke sana..",
"Makasih ya Tam...",
Lagi-lagi, Tama menunjukkan kualitasnya sebagai asisten Javas. Dia berhasil mendapatkan rekaman tersebut, meskipun dia mengaku kepada Javas kalo dia harus mengeluarkan uang untuk itu.
"Iya.., nanti aku ganti.., 3 kali lipat..",
"Beneran ya bos..",
"Iya..
udah cepet siniin flash disk nya..",
Mengamati, dan akhirnya seseorang yang sudah lama dia rindukan, masuk ke dalam minimarket tersebut. Ternyata, benar kata Daddynya, jika istrinya berada di dalam mobil tersebut.
"Itu kamu sayang...",
Dalam rekaman tersebut, menunjukkan jika Kinara masuk. Tidak seperti yang dikatakan oleh penjaga makam. Nyatanya, istrinya masuk seorang diri. Tapi, bisa jadi seseorang yang bersamanya sedang menunggu di dalam mobil, entah siapa dia.
Kina ternyata masuk untuk membeli beberapa minuman ringan, dan yang membuat Javas haru adalah ketika istrinya mengambil beberapa kardus susu untuk ibu hamil. Harusnya, kegiatan ini Kinara lakukan bersamanya, bukan seorang diri seperti ini.
Tama melihat Javas yang garang, berubah mimik menjadi laki-laki yang tak berdaya. Bahkan, matanya terlihat berkaca-kaca ketika melihat gerak-gerik istrinya di sana.
"Mas rindu kamu sayang...",
"Tam, di depan minimarket, ada CCTV nya kan? kamu tadi sekalian minta?",
"Nah, itu masalahnya bos. Kebetulan CCTV nya rusak, beberapa hari yang lalu kesamber sama petir. Belum sempet dibenerin..",
"Nggak ada petunjuk lain Tam..?",
"Nggak ada bos..",
Kinara berada di minimarket hanya sebentar. Kurang dari 10 menit. Istrinya, terlihat buru-buru. Dan, sepertinya benar kata Dad.., jika istrinya itu sadar jika dia sedang mencarinya.
"Tam.., puter lagi rekaman kamera dari jalan. Terus zoom plat mobil yang ada bawa istri aku. Kamu pasti tau apa yang aku maksud kan?",
"Iya..tau bos..",
Meskipun hanya sebentar, tapi setidaknya Javas tahu jika istrinya dalam keadaan baik-baik saja.
Javas terus memutar rekaman tersebut. Mengulangnya lagi dan lagi.
"Kapan mas bisa ketemu kamu lagi Na? mas rindu sayang.., jangan siksa mas kayak gini...",
Kinara puas berjalan-jalan walaupun hanya berputar-putar mengitari jalan. Meskipun tadi, jantungnya hampir copot ketika dia melihat Javas. Tapi, Kina senang karena dia bisa menghirup udara luar.
__ADS_1
"Dipikir-pikir kasian juga tadi liat Javas, dia kayak tukang koran..",
Kinara tersenyum tipis.
"Tapi, seenggaknya kamu udah liat dia kan Na, jadi nggak kangen lagi kan?",
Kinara kembali tersenyum.
"Nggak kasian sama suami kamu?",
Kinara menetralkan wajahnya.
"Nggak maksa kamu buat pulang kok. Seenggaknya kamu punya niatan pulang, entah kapan itu..",
"Iya..",
"Ini, susunya bisa sampe berapa minggu?",
"Mungkin sebulan, kalo Na minumnya normal. Tapi, kalo banyak paling dua Minggu..",
"Kalo habis, nanti bilang. Nanti dibeliin..",
"Iya...,
Kira-kira ketauan nggak kalo tadi Na ke minimarket..",
"Bisa jadi.., tapi tenang aja. Aku kan nggak turun, kamu doang kan?",
"Iya..
Katanya mau ada perlu?",
"Iya, sebenarnya nggak tega ninggalin kamu sendirian. Hamil, sendirian disini.., apa-apa sendiri. Kalo kamu butuh apa-apa kalo malem, gimana?",
"Nggak apa-apa, udah biasa kok.."
"Mau dicariin mbak-mbak yang bisa nemenin? mau..?",
"Nanti ketauan...",
"Nggak.., carinya yang dari luar kota, yang nggak tau siapa kamu, siapa aku, siapa kita.., mau ya? makin lama perut kamu juga makin besar. Kalo mau nyapu, masak, nyuci, bersih-bersih pasti susah deh...",
"Ya udah, boleh deh...",
"Oke..besok dicariin...,
jangan lupa makan ya, susunya diminum. Kalo ada apa-apa, langsung hubungi ya..",
__ADS_1
Kinara melambaikan tangannya. Tinggal seorang diri memang sudah biasa, tapi dalam keadaan hamil, tidak sedikitpun dia bayangkan sebelumnya. Tapi, ini sudah pilihannya.