
Kinara membantu mommy Aira yang sedari pagi sibuk di dapur. Hanya membantu ala kadarnya, karena Kinara juga datang terlambat.
"Kue nya buat siapa mom?",
"Buat Oma..",
"Mommy mau kesana?",
"Iya.., mau ikut Na?",
Kinara menggeleng.
Kina takut ditanyain Oma, kapan hamil?
"Kenapa? kalo mommy kesana, Oma sering nanyain kamu..",
"Nggak mommy, Kina mau di rumah aja, nungguin mas Javas pulang..",
"Ya udah kalo gitu..,
tolong masukkin asinannya ke wadah yang udah mommy siapin ya Na...",
"Ini ya mom..?
Buat Oma juga..?",
"Bukan..., itu buat Sea. Dia ngidam asinan katanya..biar anaknya nanti nggak ngiler..",
"Oh gitu..",
Mommy aja keliatan sayang banget sama anaknya Sea, gimana kalo aku yang hamil ya?
"Mom...",
"Ya...",
"Maaf.., Kina belum bisa ngasih mommy cucu...",
Mommy Aira yang sedari tadi sibuk dengan kuenya, mendadak beralih pandangan melihat ke arah Kinara yang terlihat sendu.
"Kok ngomong gitu, kenapa?",
"Ya..kina sama Sea kan nikahnya barengan, duluan Kina sama mas Javas. Tapi, sampe sekarang Kina belum isi. Mommy, pasti udah kepengen punya cucu kan?",
"Siapa sih yang nggak pengen punya cucu? mommy udah kepengen, apalagi Daddy tuh...
Tapi, kalo emang belum rezekinya, mau diapain lagi? yang penting usahanya kan?",
"Maaf ya mommy..",
"Nggak apa-apa sayang, jangan stress nggak perlu dipikirin...",
"Iya mom...",
"Kamu beneran nggak mau ikut? yuk ikut mommy aja ke rumahnya bude, nanti abis itu kita shopping bareng. Javas sama Daddy pasti pulangnya sore.., jadi kita punya waktu banyak..",
"Kina di rumah aja mom.., pengen istirahat..",
"Kamu sakit?"
"Nggak mom, cuma kecapekan aja..",
"Ehmmm..pasti sering diajakin Javas begadang kan?",
Kinara tersipu malu.
Hubungan Nathan dan Sharen, semakin hari semakin dekat. Sharen sepertinya sudah sadar jika dia memang sangat membutuhkan Nathan. Tapi, sayangnya Sharen masih belum mau terbuka tentang perasaanya pada Nathan.
Saat ini mereka berdua berada di salah satu toko bahan. Tepatnya, Nathan yang memang dengan suka rela menawarkan dirinya, untuk menemani Sharen yang berbelanja bahan untuk gaun pernikahan Gladys. Kurang baik apa coba? Pacarnya direbut, disalahkan atas kesalahan yang tidak dia perbuat. Tapi, Sharen tetap mengerjakan gaun pengantin milik Gladys.
"Yang kanan atau kiri, bagusan mana Nath?",
"Bagus semua..",
"Nath.., serius..",
"Aku serius, cantik banget..",
__ADS_1
"Aku apa kainnya yang cantik?",
"Kamu...",
"Jangan gombal ih, ini bantu pilihin kainnya Nath..",
"Tapi, bagus semua Sha...",
"Kalo buat kak Gladys, menurut kamu cocokkan yang mana?",
"Nggak tau.., ngapain juga aku mikirin gadis kayak Gladys...",
"Ini kan buat gaun pengantinnya Nath..",
"Kamu selain cantik rupa, hati kamu juga cantik. Nggak salah aku pilih kamu jadi calon istri..",
"Pede, emangnya aku mau?",
"Harus mau...",
"Nath, gombalnya nanti aja deh...",
"Ya terserah kamu aja. Kamu kan yang buat gaunnya..",
"Kanan aja ya Nath..",
"Iya cantik.., yang kanan..",
"Eh tapi yang kiri, serat kainnya bagus..keliatan elegan.. Nath
Gimana dong? jadi bingung..",
"Kamu lebih condong ke kanan atau kiri..?"
"Kalo sesuai karakternya kak Gladys sih lebih bagus yang kanan sih. Tapi, aku suka kain yang kiri...",
"Ya udah beli yang kanan aja..",
"Oke deh..
Mbak..aku ambil yang ini aja deh.., kasih 7 meter, terus mau liat kain polosnya juga ya..",
Selesai, akhirnya Sharen sudah membeli semua bahan yang diperlukan untuk gaun pengantin Gladys. Ini adalah gaun tambahan yang dipesan oleh kakak sepupunya. Meskipun mereka berseteru, namun Sharen juga tetap profesional mengerjakan pekerjaannya dengan baik.
Nathan membuka bagasi mobil. Mengeluarkan barang belanjaan satu persatu, dibantu oleh Sharen tentunya.
"Nath, bawa ke sini aja ya..",
Nathan mengikuti Sharen ke dalam ruangannya. Meletakkan satu persatu paper bag yang berisi kain.
"Bentar Sha, masih kurang dua paper bag lagi..",
Sharen memeriksa satu persatu kain yang dibelinya.
"Loh.., kok ada kain ini..
Perasaan waktu bayar tadi juga nggak ada ini. Mbaknya tadi pasti salah deh....", ucap Sharen yang kebingungan karena ada kain yang malah terbawa olehnya.
"Yah..nggak diangkat lagi..",
"Kenapa Sha..?",
"Ini Nath, ada kain ini..., kebawa sama aku...",
"Itu aku yang beli..", ucap Nathan dengan santainya.
"Beli kain ini? ",
"Iya.., aku beliin buat kamu. Nyicil kain dulu ya.., cincin, perhiasan, yang lainnya nyusul ya sayang..",
"Maksudnya gimana? kamu ngelamar aku, ceritanya?",
"Ya bisa dibilang gitu..",
"Nggak mau..
Kalo mau ngelamar nggak gini caranya lah, kamu dateng ke Dad, sama mom.., bawa kedua orang tua kamu..",
__ADS_1
"Kamu udah siap? jadi kita nggak usah pacaran, langsung lamaran, terus nikah aja ya..?",
"Aku mau nikahnya nanti pokoknya harus meriah. Aku nggak mau nikah sederhana, apalagi nikah diam-diam kayak mommy Daddy, Javas Kina. Pokoknya harus ada banyak tamu undangan, ada resepsi,ada bridesmaidnya, pokoknya aku mau nikahnya mewah. Emangnya kamu sanggup..?",
"Sanggup, mau kapan? ayo..., tabunganku udah lebih dari cukup buat biayain pesta pernikahan kita. Asalkan, kamu minta maharnya jangan yang mahal..",
"Aku tuh cicit perempuan satu-satunya, anak perempuan satu-satunya, anak pertama pula. Mom sama Dad, yang pasti nggak mau kalo nikahnya nanti ala kadarnya. Pasti, pengennya yang meriah.., mewah sih pasti iya..",
"Aku udah pernah datang ke Daddy kamu dan beraniin diri buat selalu jaga kamu, aku udah menawarkan diri ke Om Rendra untuk jadi menantunya, dan om Rendra udah ACC, sekarang, masalahnya ada di kamu. Mau nggak kamu nikah sama aku..?"
"Ya, tergantung kamu ngeyakinin aku...",
"Oke.., mau diyakinin kayak gimana lagi?",
"Mau diyakinin 100 persen..",
"Sekarang udah yakin berapa persen?",
"Baru separuh...",
"Oke..,
aku pasti bisa kok.., kamu yang awalnya marah, cuek, sampe buka hati kayak sekarang butuh perjuangan dari aku. Dan, sekarang pun aku akan berjuang buat ngeyakinin hati kamu, sampe 100 persen. Abis itu kita nikah, titik!
Mau kayak gimana pun dream wedding kamu, bakalan aku penuhin Sha..",
Sharen tersenyum.
"Aku pulang dulu ya..",
"Mau kemana?",
"Pulang cantik..",
"Pulang apa pulang?",
"Pulang..beneran deh.
Kamu kan mau ngerjain gaunnya Gladys kan? ya udah kamu kerja, aku nggak ganggu...",
"Ya udah kalo gitu..",
"Aku pulang ya..",
"Makasih kainnya ya Nath..",
"Mau dibuat gaun pengantin? kapan?",
"Belum tau.., disimpen aja dulu..",
"Aku pulang..
I love you, cantik..",
Sharen hanya menjawab.
"Hati-hati..",
Nathan tersenyum. Lihat sendiri kan? Sharen sudah menunjukkan perhatiannya pada Nathan.
Saat keluar dari ruangan Sharen, ponsel Nathan berbunyi.
"Halo Ma..",
"Halo sayang.., kok nggak ada di rumah, dimana?"
"Mamah telepon rumah ya tadi? Nathan kan tinggal di Apartement Mah..",
"Nggak.., mamah ini udah sampe di rumah loh..",
"Sama Papa sama Mine juga..?",
"Iya sayang, kamu pulang ya?",
"Iya mah, tunggu ya..",
Nathan melajukan kendaraanya menuju ke rumah kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Ya Allah, apalagi ini? baru aja hubunganku sama Sharen semakin dekat, ada aja halangannya...",