
Setelah lelah berkencan, Bian mengantarkan Sharen. Tiba di rumahnya, tepat setelah Adzan magrib berkumandang.
"Kak Bian mau mampir dulu? sholat sini?",
"Nggak sayang, makasih.., aku langsung pulang aja..",
"Emangnya keburu?",
"Keburu..,
Kamu beneran nggak mau dianter ke bandara..?",
"Nggak ah.., aku di rumah aja kak.., males..",
"Ya udah.., kalo gitu aku pulang.
Salam buat Om sama Tante..",
"Hati-hati sayang..",
"See you..",
Sharen masuk, langsung menuju ke kamarnya. Namun, langkahnya terhenti ketika mommynya menyapa.
"Anak mommy, baru pulang?",
"Iya mom..",
"Pacaran?",
"Hehe iya..",
Rendra dan Aira memang membebaskan putra dan putrinya untuk berpacaran. Namun, tentunya dengan batas-batas yang harus mereka taati. Baik Sharen maupun Javas juga selalu terbuka mengenai hubungannya dengan pasangannya masing-masing.
"Kak Sha mau bareng sama Dad Mom, apa nggak?",
"Bareng kemana mom?",
"Ke bandara.., nganter Mine sama Javas..",
"Kayaknya Sha nggak ikut deh mom..",
Sharen langsung duduk dengan merebahkan setengah badannya. Dia memang terlihat sangat lelah.
"Kenapa? kakak capek..?",
"Iya mom..",
"Kamu nggak pengen ngucapin salam perpisahan, bukan ke Mine..tapi ke Nathan. Tiap hari kan kalian ketemu.., Nathan mau pergi.., kamu juga mau liburan. Kalian bisa nggak ketemu lama loh Sha..",
"Tadi kan Nathan udah pamit mom.., ya udah..",
"Kalian masih berantem? kamu masih kecewa karena Nathan resign?",
"Ya.., kecewa ya marah.., ya gitu deh..,terserah dia lah mom...",
"Kalo itu udah keputusan kamu, ya udah..",
Rendra yang mendengar percakapan istri dan putri satu-satunya langsung menimpali.
"Beneran nggak mau bareng sama kita?",
"Nggak dad.., Sha nggak ikut ke bandara. Tapi, kalo nanti berubah pikiran ya.., Sha nyusul aja. Sekarang mau mandi, gerah banget..",
Sharen berjalan, meninggalkan Dad dan Mommynya yang saling pandang. Mereka heran dengan Sharen yang terlihat sangat kecewa dengan Nathan.
"Oh ya Dad.., Sha mau tanya..",
Sharen berbalik badan lalu duduk kembali ke tempatnya semula.
"Apa?",
"Dad abis ketemu Nathan? Dad ngasih penawaran apa ke dia?",
"Dia nggak cerita sama kamu?",
"Nggak dad..",
__ADS_1
"Harusnya di cerita sama kamu..",
"Apa sih Dad?",
"Biar Nathan aja yang cerita..",
"Nathan bilang suruh nanya ke Dad..
Daddy bilang tanya Nathan aja.., gimana sih.., bingung deh..",
"Padahal, penawarannya itu mengamankan posisinya, tapi dia nggak mau..",
"Nathan bukan orang yang ambisius Dad, dia nggak butuh jabatan ..",
"Ya namanya juga penawaran. Kalo dia nolak.., dia sendiri yang rugi..",
"Udah ah..,bahas Nathan jadi nggak ada abisnya. Sharen mau ke kamar dulu..",
Aira menggelengkan kepalanya melihat tingkah putrinya yang kini sudah beranjak dewasa. Terkadang kekanak-kanakkan, manja tapi tak jarang menunjukkan sikapnya yang sangat dewasa.
"Liat tuh anak mas..",
"Cantik ya.., kayak kamu..",
"Jelas.., siapa dulu Daddynya..",
"Kalo nambah satu lagi yang cantiknya kayak Sharen, mau nggak sayang..?",
"Tiga anak cukup mas.., nanti diprotes Sharen sama Javas..",
"Yang penting nggak diprotes sama Eljaz..",
"Yah.., kalo dia sih emang pengen jadi kakak..",
"Tiga puluh menit lagi kita berangkat sayang..",
"Iya mas..,
Aira siap-siap dulu..sekalian nyiapin Jaz..",
Hari ini, Javas dan Mine menghabiskan waktu berdua. Bukan jalan-jalan, atau sekedar makan. Namun, mereka menghabiskan waktu di Apartement. Tidak ada yang mereka lakukan, selain mengobrol berdua, mencurahkan isi hati masing-masing atau bercerita hal-hal random yang bisa membuat mereka lupa kalo ini adalah hari terakhir mereka bersama.
Javas yang dari awal tidak rela ditinggalkan oleh kekasihnya, sudah terlihat ikhlas. Dia merelakan kepergian Yasmine.
Javas terus menggenggam tangan Mine. Beberapa waktu kedepan, tidak ada tangan halus yang bisa dia genggam seperti ini. Tidak ada tangan yang mengelusnya ketika dia tertidur ketika menonton film. Tidak ada cubitan kecil diperutnya ketika Javas menggoda Yasmine. Dan, sudah pasti Javas akan rindu hal itu.
"Nggak ada yang ketinggalan kan sayang?",
"Udah lengkap semua kak..",
Javas dan Mine memang memilih untuk duduk menjauh dari keluarganya. Mereka butuh ketenangan di tengah keramaian.
"Tangan kamu kok dingin?",
"Iya kak.., tegang..",
"Takut naik pesawat? kan udah sering..",
"Berat..",
"Cancel aja ya.., kita nikah..",
Yasmine tersenyum kecut.
" Maunya kayak gitu kak.., tunggu bentar lagi sayang.., Mine pasti kembali..",
" Kakak nunggu kamu..sayang.."
Saat ini mereka sudah berkumpul di Bandara, menunggu jam penerbangan Yasmine dan Nathan. Sharen ternyata menepati ucapannya untuk ikut mengantarkan kepergian Mine dan Nathan.
Ada raut kekecewaan dalam diri Nathan ketika tidak melihat batang hidung Sharen. Meskipun ada Luna, kekasihnya yang berada disana, namun rasanya ada sesuatu yang kurang.
Jaga diri kamu baik-baik Sha... Kalo kamu butuh sesuatu, minta tolong sama Tama, apapun itu. Aku pamit, aku pergi dulu.
Nathan akhirnya memutuskan untuk mengirimkan Chat kepada Sharen hanya sekedar mengucapkan selamat tinggal dan sebuah pesan bagi sahabatnya.
"Kakak pergi dulu ya.., yang rajin bikin skripsinya, cepet selesain kalo mau dihalalin..",
__ADS_1
"Kak Nathan jaga hati, jaga diri ya. Luna disini nunggu..",
"Iya cantik.., jangan nakal ya.."
"Bye.., see you.."
Menyalami satu persatu keluarganya yang ikut melepas kepergiannya. Yasmine tidak kuasa menitikkan air matanya ketika untuk terakhir kalinya dia memeluk tubuh kekasihnya, sebelum dia pergi.
"Udah, jangan nangis. Cuma tiga bulan, abis itu balik ke sini kan?",ucapnya dengan mengusap air mata yang membasahi pipi Mine.
"Mine pasti kangen banget sama kak Javas..",
"Kakak juga pasti kangen sama kamu..", Javas mengecup tangan Mine, tidak peduli ada banyak pasang mata yang melihat perilakunya.
"Mine harus masuk..",
"I love you, sayang..",
"I love you, too..",
Terakhir, Javas mengusap rambut Mine.
"Jangan lupa kabarin kalo udah sampai..",
"Iya kak..", Mine mencium punggung tangan Javas, sebagai tanda perpisahannya.
Nathan dan Mine melambaikan tangan kepada rombongan yang sudah bersedia mengantarkan kepergiannya.
"Nathan....!!!!",
Suara teriakkan terdengar, disusul oleh seorang perempuan cantik yang berlari menghampiri Nathan.
"Sha...",
Bruuuukkkk....
Sha berlari lalu menghambur memeluk Nathan.
"Maaf aku telat..", ucapnya.
"Heh.., kamu lari kenceng banget? jantung kamu nggak copot kan? bunyinya sampe sini loh....",
"Ih.., apaan sih..", ucap Sharen langsung melepas pelukannya.
"Katanya capek?",
"Iya capek..", jawabnya dengan suara tersengal-sengal mengatur nafasnya.
"Aku pergi dulu..",
"Iya..hati-hati..",
"Aku nggak bisa jagain, bantu , nolongin kamu.., aku udah jauh. Kamu jaga diri baik-baik ya...Jangan bandel.., jangan gila kerja, jangan sampe lupa makan..,jaga kesehatan kamu.., inget kalo kamu itu punya asam lambung..",
"Bawel..",
"Tuh kan.., kalo dibilangin kayak gitu..",
"Iya iya..
Makasih ya Nath..",
"Sama-sama..
Aku pergi dulu ya..", elusnya pada rambut Sharen.
"Bye..", ucap Sharen dengan senyuman manisnya.
Suster Sri dan dokter Kinara langsung saling pandang. Sebuah pemandangan yang terlihat Dejavu bagi mereka.
"Mbak..,
kok...", tunjuknya ke arah Nathan dan Mine.
"Nggak tau..", ucap Kinara dengan menaikkan bahunya.
Dan akhirnya Nathan dan Mine benar-benar pergi. Meninggalkan keluarga dan orang terkasihnya yang berada di Indonesia.
__ADS_1
Who is?