
"Morning...",
"Pagi sayang.., gimana? masih pusing?", tanya Mommy pada Sharen.
"Udah mendingan mommy...",
"Moma sakit apa?", tanya si kecil Jaz.
"Cuma butuh istirahat aja Jaz..",
"Nggak kerja?",
"Nggak.., duitnya udah banyak..",
"Sombong..
Nanti kalo Jaz udah gede, juga kayak Daddy, duitnya banyak. Iya kan Dad..?",
"Iya..,makanya belajar yang rajin ya biar pinter. Biar jadi orang sukses, banyak duitnya..",
"Kalo nggak sukses, juga udah banyak duit kan Dad.., kan Jaz anak sultan..",
"Siapa yang bilang gitu..?",tanya Javas.
"Banyak..."
"Orang kamu anaknya Dad sama mommy kok, anak sultan...", celetuk Javas.
"Ih.., nggak gitu maksudnya. Kak Javas tuh ngerti nggak sih..",
"Nggak..!!!",
"Berarti kak Vas nggak pinter...",
"Husstt.., nggak boleh gitu. Sekarang Jaz sarapan, terus berangkat ke sekolah ya.."
"Kak Sha mau nganterin?",
"Nggak.., lagi males. Kak Sha aja belum mandi.., lain kali aja ya Jaz, ucapnya.
Penampilan Sha saja memang khas orang bangun tidur. Masih memakai piyama, bahkan roll rambutnya masih terpasang. Meskipun belum mandi, Sha masih tetap wangi.
"Tumben, belum mandi tapi udah sarapan?",
"Yang penting udah sikat gigi, lagian Sha laper banget mom..",
"Beneran udah nggak pusing..?",
"Tinggal dikit pusingnya..",
"Laper banget, sampe mau sarapan 4 slice roti?",
"Hmmm...",
"Kamu stress?",tanya mommynya lagi.
"Nggak mom..",
"Biasanya kalo kamu lagi makan banyak, itu karena kamu lagi stress..., ada apa Sha..?",
"Nggak apa-apa mom..",
"Moma stress? gila gitu mom..?",tanya Jaz dengan polos.
"Enak aja...",
"Nggak sayang, maksud mommy itu kak Sahren banyak kerjaan, jadi banyak pikiran..",
"Gitu ya..",
"Jaz nggak sekolah? nanti telat lho..", ucap Kina.
"Iya.., ini Jaz mau berangkat sekolah..", Jaz berdiri lalu menyalami anggota keluarganya satu persatu.
Dia mulai dengan Daddy, mommy, kak Sharen lalu Kak Javas.
__ADS_1
"Salim dulu kak..",
"Hmmm..sekolah yang pinter ya..., biar nanti bisa jadi anak sultan.."
"Iya.., bawel..",
"Tuh kan, didoain kakaknya bukannya terima kasih.."
"Iya.., makasih kak..",
"Nah gitu..",
"Kak dok, Jaz mau sekolah ya.., biar pinter..., jadi sultan..",
"Iya.., belajar yang rajin..",
"Iya kak.., sini Jaz bisikkin..",
Kina merendahkan kepalanya agar telinganya bisa dijangkau oleh Jaz.
"Mmuaaach....", bukannya membisikkan sesuatu, Jaz malah mencium pipi kakak iparnya.
"Wah..., dikasih cium...",
"Heh tuyul... kak dok itu istri kakak.., maen cium sembarangan..",
"Biarin aja.., kak Javas kan udah tiap hari cium kak Na, Jaz kan jarang..
Ayo mbak sus, kita sekolah. Bye Dad..Bye mom..bye Moma, bye kak dok.., kak Javas nggak usah..",
"Untung masih kecil...", gumam Javas.
Jaz melenggang seperti orang yang tanpa dosa. Dia merasa menang sudah membuat kakak laki-lakinya kesal.
"Hari ini nggak ngantor Sha?",
"Nggak dad.., males..",
"Ya udah, istirahat aja kalo gitu ya...",
"Iya.., Sharen mau naek ke atas..",
"Nggak mommy..,Sha nggak pengen apa-apa kok..",
"Mommy sama Kina nanti mau belanja, mau nitip nggak Sha?",
"Nggak mommy..",
"Abis itu Mom sama Kina mau ke rumahnya Budhe Sof, kamu nggak apa-apa sendiri di rumah..?",
"Nggak apa-apa mom..",
"Oke..", ucap mommy sambil tersenyum.
Sebenarnya ada rasa tidak enak hati pada Sharen, karena Aira juga ikut andil dalam persiapan acara pertunangan Gladys dan Bian, besok malam. Tapi, bagaimanapun Gladys adalah keponakannya, putri satu-satunya dari kakak semata wayangnya.
"Udah nggak apa-apa. Anak kamu cuma butuh istirahat aja.., nggak usah mikir macem-macem sayang..",
"Iya mas..",
Bukannya naik ke atas dan masuk ke dalam kamarnya. Sharen justru sedang duduk di rooftop. Menikmati pemandangan sekitar yang hijau, dan terlihat sangat segar dipandang mata.
"Sayang...",
suara laki-laki tiba-tiba terdengar. Dia menghampiri Sharen yang berdiri di pinggir pembatas.
"Daddy...",
"For you...", ucap Daddynya dengan memberikan sebucket bunga kepada putri satu-satunya.
"Me..? thank you Dad.., mommy dikasih nggak? kalo nggak.., nanti mommy bisa cemburu sama Sharen..",
"Mana ada, mommy cemburu sama anaknya sendiri. Tapi ini bukan dari Dad..",
"Oh..., iya.
__ADS_1
Sharen tau.., pagi banget...",
"Mungkin untuk ucapan selamat pagi buat kamu. Nggak pengen baca ucapannya?",
Hanya dengan memikirkanmu mampu membuat pagiku indah. Selamat pagi, semoga harimu secantik paras wajahmu.
"Gombal ya Dad.."
"Anak Daddy kan emang cantik.."
"Sha sama mom, cantik kan siapa?",
"Cantik mommy lah.."
"Sharen nggak cantik..?",
"Sangat cantik, tapi bagi dad, mommy tetap nomor satu. Meskipun ada kamu, Javas, bahkan Jaz. Seperti Javas yang udah bertemu sama pasangan hidupnya. Kamu sama Jaz juga nanti akan menemukan pasangan. Kalian udah punya kehidupan sendiri. Cuma ada mommy yang menjadi teman hidup, teman di masa tua nanti...",
"Hmmm.., gitu yah..",
"Kamu ada masalah, sayang..?", tanya Daddy.
"Nggak ada Dad..",
"Kamu masih galau gara-gara Bian?"
Sharen hanya tersenyum tipis sambil menggelengkan kepalanya.
"Ayolah, anak Dad cantik..,pinter, punya segalanya. Nggak usah sedih karena nggak berjodoh sama Bian. Diluar sana banyak laki-laki yang baik, yang lebih dari Bian. Siapa tau, secret admirer yang kirim bunga itu lebih segalanya dari Bian?",
Sharen menggeleng kembali.
"Dia nggak lebih baik dari kak Bian..",
"Kenapa?"
"Ya, buktinya dia nggak mau muncul Dad, kenapa harus sembunyi-sembunyi kayak gini..",
"Mungkin, ada alasan dibalik itu semua..",
"Apa Dad?",
"Cinta tak harus memiliki...,
dia lebih mementingkan kamu bahagia meskipun nggak sama dia..",
"Munafik..",
"Isi hati sama pikiran, kadang-kadang dan sering tidak sinkron sama tindakan. Ya, salah satunya penggemar rahasiamu ini..",
"Sebagai laki-laki, misal Dad cinta sama seseorang, apa yang Dad lakuin?",
"Kejar sampe dapet.."
"Kenapa dia nggak kaya gitu dad?"
"Coba kamu tanya sendiri sama orangnya. Udah tau dia siapa?", tanya Dad.
Sharen mengangguk.
"Ya udah, coba tanya.."
"Daddy juga pasti udah tau kan? mustahil seorang Rendra Perdana nggak tau apa-apa.."
"Dad memantau dari jauh..,dia nggak nyakitin kamu, Dad nggak mau ikut campur. Soal pasangan, semuanya Dad serahkan sama kalian. Mau siapapun pilihan kalian, Dad sama mommy selalu dukung. Asalkan, orang yang menjadi pilihan kalian adalah orang yang berkualitas. Nggak perlu kaya, yang penting kalian yakin...",
"Makasih Daddy..",ucapnya dengan memeluk sang ayah.
"Nggak usah sedih, galau, apapun itu. Kamu punya segalanya.., termasuk keluarga yang selalu ada buat kamu..", nasehat Daddy. Beliau mengelus pucuk kepala Sharen dengan sayang.
Mau dilanjut, tapi udah ngantuk. Author kasih spoiler aja deh.
Keluarga Gladys dan Bian duduk berhadap-hadapan. Berada di kursi paling depan, Gladys didampingi oleh kedua orang tuanya. Begitupun dengan Bian . Di belakangnya menyusul keluarga yang lain.
Nathan yang notabene adalah pacar Luna duduk di deretan kursi nomor dua dikelompok kursi keluarga Bian. Begitupun dengan Sharen yang duduk di kursi nomor dua, tapi dibarisan keluarga Gladys.
__ADS_1
Sharen yang terlihat sangat cantik malam itu, menarik perhatian Nathan yang beberapa kali terlihat mencuri-curi pandang.
"Cantik banget kamu malam ini, Sha.." ucap Nathan dalam hati. Dia lupa bahkan disampingnya saat ini adalah Luna, kekasihnya.