
Meskipun dengan berat hati, namun Javas menuruti permintaan mommy nya untuk menjemput Jaz di sekolahnya. Bukannya senang, Jaz malah protes.
"Kenapa kak Javas yang jemput Jaz? Daddy mana?",
"Daddy lagi pacaran sama mommy.."
"Pacaran itu apa?",
Aduh.., kayaknya salah ngomong. Benar kata Mine, tuyul satu ini emang cerdas.
"Kayak kak Javas sama kak Mine..",
"Oh.., pelukan ya..",
Astaga.., Jaz kayak ya pernah liat aku sama Mine lagi pelukan.
"Iya.., gitu lah pokoknya..",
"Oh.., hmmm.., kenapa jemputnya nggak naik motor aja?
"Nggak sudah protes ",
"Motor kak Javas kenapa? rusak? atau udah dijual?",
"Enak aja.., duit kak Javas itu banyak...",
"Duit kak Javas banyak ya? kalo gitu.., ayo kita jajan..",
Dasar otak tuyul satu ini.., ada aja akalnya.
"Jajan? mau jajan apa?",
"Es krim...",
"Es krim terus.., nanti gigi kamu ompong.."
"Jadi.. nggak mau beliin?",
"Yang lain aja.., jangan es krim..",
"Bilang aja nggak mau, nggak punya uang kan?", ledek Jaz.
"Oke.., ayo.., beli es krim seabang-abangnya juga kakak mampu..",
"Asyikkk.., tapi Jaz nggak mau beli di tempat biasanya..",
"Terus maunya beli dimana?",
"Di Mall ya kak...",
"Kalo ke Mall, kelamaan. Kamu di tunggu sama mommy...",
"Kan bisa telepon mommy..",
"Mommy belum pegang handphone..",
"Telepon Dad..?",
"Nih.., kamu aja yang telepon.., bisa caranya nggak?",
"Bisa dong.., hape Jaz kan sama kayak gini..",
"Widih.., gaya lu..",
"Jaz emang masih kecil.., tapi Jaz kan anak sultan..",
"Stres kakak ngomong sama kamu. Bahaya.., masih tuyul tapi omongannya kayak orang dewasa..",
"Shuuut..., diem. Ini udah nyambung sama Daddy..",
Javas hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah adiknya yang sebenarnya, lebih pantas untuk menjadi keponakannya. Selisih usia keduanya memang sangat jauh.
"Halo Dad.., ini Jaz..",
"..................",
"Mom.., ada? Jaz mau ngomong..",
".................",
"Iya Jaz kan pinjem hape kak Javas..",
".................",
"Halo mom...., Jaz jagain mommy nya agak telat ya..",
"Kenapa sayang..?",
"Jaz diajak kak Javas jalan-jalan ke mall..., mau beli es krim.., mommy mau titip apa? biar Jaz beliin..",
"Heh gaya lu.., emangnya kamu punya duit?", sahut Javas.
"Nggak usah sayang.., habis beli es krim, Jaz langsung kesini ya..",
"Oke mom..",
"Jangan nakal, Jaz juga nggak boleh jauh-jauh dari kak Javas, biar nggak ilang..",
"Oke mommy..., bye..",
__ADS_1
"Bye-bye sayang..",
Jaz mengembalikan ponsel kepada Javas.
"Makasih kak.."
"Hmmmm..",
Javas sebenarnya senang, bisa mengajak adiknya jalan berdua seperti ini. Javas sebenarnya sangat menyayangi Jaz, namun sayangnya selama ini tertutup dengan rasa kehilangan karena mommynya yang sakit.
"Mau yang mana?", tanyanya pada Jaz yang sepertinya bingung untuk memilih.
"Hmmm.., Vanilla sama coklat..",
"Mau dua?",
"Iya.., kenapa? nggak mampu bayar ya?",
"Elah.., tuyul. Daritadi ngeledek aja..",
"Ya udah.., cepetan bayar..",
"Iya bos.., oke..",
Javas menenteng satu bag es krim, begitu pula dengan Jaz . Javas kira kenakalan Jaz berhenti sampai disitu. Namun, perkiraannya salah.
"Kita langsung ke rumah sakit ya Jaz..
Mommy tadi bilang suruh cepet pulang kan?",
Tidak ada sahutan.
"Jaz.., kamu denger kakak nggak..?", tolehnya ke samping. Javas baru menyadari jika Jaz tidak ada.
Ternyata, Jaz berhenti ketika mereka melewati toko mainan. Javas langsung kembali berjalan mundur, menghampiri adiknya yang seperti mengincar sesuatu.
"Ayo pulang..",
"Kak.., mau mainan..",
"Nggak ya.., lain kali aja..",
"Jaz pengen..",
"No..."
"Bilang aja nggak punya uang..",
"Terserah..",
"Jaz aduin sama mommy lho..",
"Asyik....",
Mendapatkan lampu hijau dari Javas, Jaz segera berlari masuk ke dalam Toys Shop. Layaknya anak kecil seusianya, Jaz langsung mengitari rak yang memajang ratusan mainan. Sebenarnya, Jaz sudah memiliki sebagian besar mainan yang dijual. Jaz sering mendapatkan hadiah dari para kerabatnya. Tak jarang, Sharen juga sengaja membelikan mainan dari luar negeri melalui e-commerce. Tapi kali ini berbeda. Javas yang akan membelikannya.
"Mau yang mana?",
"Nanti dulu, Jaz mau pilih..",
"Jangan lama-lama. Nanti es krimnya meleleh.."
"Bohong..,
kan udah dimasukin ke dalam tas khusus.",
"Oh iya-iya.., kamu emang cerdas..",
"Jaz mau yang itu..", tunjuknya pada satu mainan berbentuk robot.
"Kamu kan udah punya.., kenapa minta lagi?",
"Jaz belum punya..",
"Kak Javas kan pernah ngasih kado, waktu ulang tahun kamu persis kayak gitu. Belum dibuka?",
"Belum..", Jaz menggeleng.
"Oh ya udah, yok pulang aja..nanti kita ke rumah ambil mainannya langsung ke rumah sakit ya..", gandengnya pada Jaz.
Jaz menarik tangannya kembali.
"Nggak mau.., Jaz mau beli mainan..!!!", teriaknya.
"Hussst.., iya-iya.., jangan teriak.
Kakak malu diliatin orang-orang tuh, nanti dikiranya kakak penculik..",
Javas memperingati Jaz untuk mengecilkan volume bicaranya. Karena saat ini mereka menjadi pusat perhatian orang-orang yang berada disana.
"Jaz pilih dulu..",
"Oke.., kakak keluar dulu ya. Ini ada yang telepon. Kamu jangan kemana-kemana..",
Jaz mengangguk.
Javas keluar dari toko, untuk menerima panggilan telepon dari karyawan bengkelnya.
Jaz masih melanjutkan kegiatannya memilih mainan yang hendak dia beli. Matanya tertuju pada robot berukuran cukup besar lengkap dengan pasukan dan alat tempurnya. Sepertinya Jaz tertarik dan akan meminta Javas untuk membelikannya.
__ADS_1
Dia tidak bisa menjangkau mainan yang ditaruh di rak bagian tengah. Mudah saja untuk orang dewasa, tapi tidak bagi Jaz yang memiliki postur pendek dan kecil. Namun, Jaz tidak putus asa, dia tetap berusaha. Berjinjit dengan sedikit melompat-lompat. Sayangnya, usahanya tidak berhasil.
"Mau ini ya? nih..", ucap seorang perempuan muda. Dia memberikan mainan itu kepada Jaz.
"Makasih..",
"Sama-sama..,
Aduh.., kamu ganteng banget..",ucapnya dengan mencubit pipi kemerahan Jaz.
"Iya.., keturunan dari Dad..", ucap Jaz polos.
"Kamu disini sendirian?"
"Nggak...",
"Lain kali, minta tolong orang dewasa buat ngambilin ya..",
"Iya.., aku pendek ya Tante..",
"Tante..? panggil aja kakak..",
"Oh oke.., kak...., terima kasih..
Aku Jaz..", ucapnya.
Jaz meletakkan mainnya ke lantai, lalu mengulurkan tangannya untuk berkenalan.
"Oh.., Jaz? nama kamu unik ya..",
"Eljaz..",
"Oh Eljaz..
kenalin kak Kinara..",ucapnya dengan bersalaman dengan Jaz.
"Beautiful name..",
"Thank you,
Kecil-kecil udah gombal ya.."
"Kakak juga cantik..",
"Aduh..", ucap Kinara dengan menepuk jidatnya.
"Masih paud ya?",
"Iyah.., I'm four years old..",
Dengan melihat nama sekolah yang tertera dibaju Jaz, Kinara tidak perlu meragukan lagi kepintaran Jaz.
"Kamu pinter..",
"Makasih..",
"Kamu beneran sendirian?"
"Nggak.., ini kan Jaz lagi pilih mainan..",
"Oh gitu..,nggak takut ilang?",
"Nggak..,
Mall ini yang punya kan Daddy..",
"Wow...",ucap Kinara singkat menanggapi ucapan Jaz yang terdengar seperti membual. Namun, yang dikatakan Jaz adalah sebuah kebenaran, karena Mall yang saat ini mereka kunjungi benar milik Rendra dan Ahimsa.
"Jaz.., udah? ucap Javas yang menghampiri Jaz.
"Udah..",
Javas tidak sadar jika ada perempuan cantik yang sedang berada disamping Jaz, dengan berdiri membelakangi Javas.
"Kita pulang sekarang..",
"Oke Dad..",
"Dad? mana Daddy?",ucap Javas yang langsung melihat kesekitar untuk mencari keberadaan Daddynya.
"Kak Kinara, Jaz pulang dulu ya..",
Mendengar nama itu disebut, Javas langsung menoleh kesampingnya.
"Oh ini Daddy..", Kinara melemparkan senyuman manisnya kepada Javas.
"Oke Jaz, sampai jumpa lagi..cepet tinggi ya", ucap Kinara dengan melambaikan tangannya.
Javas berdiri mematung. Perempuan yang sempat dia kagumi, saat ini berada disampingnya. Bisa melihat wajah cantiknya dengan jarak sedekat ini.
Tidak ada perkenalan atau pembicaraan lebih lanjut, karena Kinara langsung pergi menjauh dari Jaz dan Javas. Kinara keluar dari toko tersebut dengan seorang pemuda berkacamata yang sepertinya adalah pasangannya . Pemuda itu memeluk pinggang Kinara dengan posesif.
"Kita bayar sekarang ya kak..",
"Tadi bilang Dad, sekarang panggil Kak..,
Kenapa kamu bilang kalo kakak ini Daddy di depan Kinara?",
"Hehehe ", jawab Jaz menyengir kuda, mempertontonkan gigi putihnya yang rapi.
__ADS_1
"Dasar tuyul...!!!!", umpatnya kepada Jaz yang berjalan ke arah kasir meninggalkan Javas yang masih berdiri di tempatnya.