Istri Pura - Pura ( Bukan Perawan Tua )

Istri Pura - Pura ( Bukan Perawan Tua )
Jangan Bandel!


__ADS_3

Nathan membuka pintu kamarnya. Dia langsung melihat istrinya yang berdiri di depan lemari. Berkaca dengan memegangi perutnya, berisi menyamping dengan memperhatikan perutnya. Nathan tersenyum. Seharian ini tidak berjumpa rasanya sangat rindu.


"Kamu ngapain..?", tanya Nathan yang memperhatikan istrinya dengan duduk dipinggir ranjang.


Sharen membalasnya dengan senyuman.


"Sebentar lagi perutnya maju ke depan yank...",


"Heemmmm..


kamu udah nggak sabar ya..?",


"Iya..pasti lucu..,


tapi nanti banyak baju aku yang udah nggak muat...",


"Itu yang kemarin dibeliin Mama di Singapore kan juga banyak..",


"Iya.., tapi nggak bisa dipake sampe sembilan bulan yank..",


"Bisa beli lagi kan sayang..?",


"Bisa..kalo kamu ngasih uang.., aku kan udah nggak kerja..",candanya. Sharen masih mempunyai banyak penghasilan dari endorsement dan butiknya meskipun hanya di handle nya dari rumah.


"Kan tiap bulan udah mas isi kartunya..",


"Hehe iya sayang..


makasih...",


"Sini sayang..", tepuknya pada sisi kanan ranjang yang di duduki.


Sharen menghampiri Nathan yang saat itu baru saja pulang bekerja.


"Daddy kangen banget sama Baby, apalagi sama Mommy nya..",


"Ih..nggak mau...", Sharen menghindar saat Nathan hendak mencium pipinya.


"Kenapa? mas bau ya..?",


"Wangi.., tapi mas kan dari luar. Nggak baik buat ibu hamil, kumannya banyak. Sana mandi dulu...


udah disiapin tuh airnya..",


"Gitu ya sekarang..,


iya deh..mas mandi dulu..", Nathan hendak menuju kamar mandi, namun sebelumnya dia tetap mencuri satu buah ciuman ke pipi istrinya.


Nathan sudah nampak segar, dia memakai baju ganti yang telah di siapkan oleh sang istri.


"Ganteng banget suami aku..", ucap Sharen memeluk suaminya yang sedang menyisir rambutnya.


"Tadi aja nggak mau dicium, sekarang nempel-nempel..", goda Nathan.


"Kangen.., seharian kan udah ditinggal..


mana nggak dikabarin...",


"Mas kan meeting sayang..


tadi pagi kan udah bilang sama kamu..", Nathan berbalik badan, langsung memeluk istrinya.


"Iya-iya...",


"Oh ya..


kamu mau babymoon nggak..? mau kemana sayang..??",


"Pengen.., tapi nggak yakin bisa di izinin sama Mama..",


"Kenapa..?",


"Ya pasti disuruh istirahat...


selama di rumah juga nggak boleh ngapa-ngapain. Sekedar bantu nyiramin bunga nya Mamah aja nggak boleh..",


"Ya kan nggak usah, Mamah bisa lakuin sendiri kan? ada mbak-mbak juga disini.., kamu emang harus banyak istirahat..",


"Bosen yank..",


"Kamu ngerasa dikurung disini? boleh kok kalo mau jalan-jalan tapi perginya sama aku..",


"Pasti nggak dibolehin sama Mamah..",


"Kamu ngerasa dikekang sama Mamah..?",


"Nggak kok..",


"Kalo iya, bilang aja..

__ADS_1


nanti mas yang ngomong..",


"Nggak usah mas..,


aku nggak apa-apa kok..",


"Bener..?",


"Iya bener...",


"Makan yuk.., mas laper...",


"Tapi, makanan Sharen pasti bentar lagi di anter kesini..",


"Kamu mau makan di kamar..?",


Sharen mengangguk, dengan menghela nafasnya dalam.


"Daripada harus turun...", ucapnya.


Tak berselang lama, pintunya diketuk. Dan benar, seorang maid membawa nampan dengan makanan di atasnya lengkap dengan buah dan susu.


"Permisi mbak, ini makan malamnya..",


"Makasih bik...",


"Lah.., buat aku mana?", tanya Nathan.


"Maaf mas, kata ibu makanan buat mbak Sharen saja yang diantar..",


"Oh ya udah..",


Nathan menutup pintu kamarnya. Dan, Sharen terlihat langsung menyantap makanan tersebut.


"Mas mau..?", tanya Sharen.


"Nggak.., buat kamu aja..,


mas boleh nggak mau ke bawah dulu.., mau makan. Sekalian mau ngobrol sama Papa, ngomongin meeting yang tadi..",


"Iya nggak apa-apa..",


"Kamu nggak apa-apa? nggak ditemenin..?",


"Nggak apa-apa,


tapi tolong nanti kalo balik ke sini, bawain susu lagi ya yank..",


"Kurang.., ini cuma gelas kecil, biasanya kan gelas gede..",


"Iya.., nanti mas bawain..",


"Jangan bawain aja, buatin juga ya..",


"Iya sayang, nanti susu yang mas bawa itu susu yang mas buat..,khusus buat kamu..",


"Iya makasih sayang..",


Nathan sebenarnya tidak hanya ingin mengobrol dengan Papanya. Tapi, dia juga ingin bertanya pada Mamanya tentang makanan istrinya yang diantarkan ke kamar. Nathan tidak ingin Sharen merasa tertekan ketika tinggal bersama kedua orang tuanya.


Nathan bergegas menuju ke kamarnya setelah tahu alasan sang Mama. Wajahnya berubah ekspresi. Datar dan dingin.


"Sha.., ini susunya..", ucap Nathan.


"Makasih mas..",


"Mau sekalian diminum?",


Sharen mengangguk. Dia tahu ada sesuatu yang membuat Nathan berubah. Nyalinya menciut, dan Sharen sudah tahu jika suaminya pasti sudah diberitahu oleh Mama mertuanya.


"Sha..",


"Iya mas..",


"Perlu mas bilang ke Javas kalo kerjaan di Prime grup dihandle dari rumah?",


"Kenapa..?",


"Biar mas bisa jagain kamu...",


Sharen diam.


"Kenapa nggak cerita?",


Sharen menggeleng.


"Mama nyuruh bibik nganter makanan ke kamar, karena nggak pengen kamu terlalu banyak gerak. Kamu tadi siang hampir kepleset dari tangga kan?",


Sharen mengangguk. Tanpa sepatah kata, dia hanya memandang suaminya.

__ADS_1


"Kenapa bandel sih sayang..? di rumah ada lift.., kenapa nggak pake lift aja..?",


"Pengen jalan mas..",


"Kan mas udah berulang kali bilang, jangan lewat tangga.., kamu lagi hamil muda..., rentan Sha..",


"Iya mas, maaf..",


"Untungnya tadi ada Mamah yang langsung pegang tangan kamu, kalo nggak? gimana?",


"Kamu khawatir sama aku, atau sama anak kita..?",


"Dua-duanya, tapi lebih khawatir sama kamu..",


"Tapi, Mamah khawatirnya sama cucunya aja, tadi aja bilang gitu..",


"Kamu kena omel kan tadi sama Mamah?itu karena kamu bandel..,


Mamah ngomong gitu, karena sayang sama kamu..",


"Nggak.., orang Mamah bilangnya


gimana sama cucu Mama kalo sampe kamu jatuh Sha..?


bilang gitu..", ucapnya sambil menahan tangisnya. Tapi, meskipun sudah ditahan, tetap saja tangisannya pecah.


"Bukan gitu sayang..", Nathan membawa Sharen ke dalam pelukannya.


"Emang gitu kok, Mamah nggak khawatir sama aku, tapi cuma sama cucunya doang..",


"Kamu tau kenapa Mamah jaga banget kehamilan kamu??",


"Ya karena pengen cucu..",


"Iya pengen anak kita lahir dengan selamat, tapi Mama juga punya pemikiran lain..",


"Apa..?",


"Mama takut ini adalah kehamilan pertama dan terakhir buat kamu..,


mungkin bisa jadi ini adalah keberhasilan satu-satunya mas bisa bikin kamu hamil.., kamu tau sendiri kan? mas susah buat punya anak..",


"Apaan sih..",


"Iya.., itu jalan pikiran mamah.., sama mas juga sayang...


mamah nggak apa-apa kalo cuma punya cucu satu.., dan mas juga sangat bersyukur punya baby yang lahir dari rahim kamu..


"Tapi kan aku bisa hamil lagi..",


"Sama siapa?",


"Ya sama kamu, sama siapa lagi..",


"Tapi, mas belum tentu bisa bikin kamu hamil lagi sayang..


kehamilan kamu kali ini bener-bener mukjizat buat keluarga kita..",


"Kenapa nggak optimis aja sih yank?",


"Ya kan mas cuma ngambil hal terburuknya..


biar kamu nggak berpikir mamah atau aku ngekang atau terlalu protective sama kamu.


Karena mas sama mamah ngambil hal terburuknya aja..",


"Kamu selalu sayang sama aku kan yank..?",


"Always sayangku...",


"Percaya sama aku yank, aku bisa jaga diri..., sampe nanti anak kita lahir..",


"Iya sayang.., mas percaya sama kamu,


tapi jangan bandel lagi ya.., jangan bikin semua orang khawatir sama kamu..",


"Iya mas..maaf...",


"Nggak usah minta maaf, cukup kamu nggak kenapa-napa aja mas udah bersyukur..",


"Ngantuk mas..",


"Ya udah, tidur sayang..",


"Mas nggak tidur..?",


"Mau nonton bola dulu ya..",


"Ya udah..",

__ADS_1


Sharen tidur dalam pelukan suaminya disertai dengan elusan yang di dapatkan di pucuk kepalanya. Malam ini bisa dipastikan dia akan tidur dengan nyenyak.


__ADS_2