Istri Pura - Pura ( Bukan Perawan Tua )

Istri Pura - Pura ( Bukan Perawan Tua )
Moment 2


__ADS_3

Dengan ditemani oleh kedua orang tuanya, Javas masuk kembali ke dalam rumah. Meskipun berpenampilan sederhana kala itu, namun jika melihat pembawaan Rendra dan Aira, terlihat jelas jika mereka adalah orang berada. Sehingga kehadiran mereka tentunya menjadi pusat perhatian tetangga Kinara.


"Ini mom sama Dad, kedua orang tua saya pak..",


"Bisa kamu penuhi dulu syarat yang tadi..?",tanya bapak Kinara.


"Oke saya transfer Pak..",


"Mas jangan lakuin ini mas..",ucap Kinara yang berusaha mencegah Javas untuk menikahinya.


"Lebih baik nikah sama aku daripada kamu menjadi istri kedua..",


Namun, saat Javas sibuk dengan ponselnya. Rendra bersuara.


"Berapa kurangnya son?",


"900 juta Dad..",


"Pake punya Dad..",ucapnya menyodorkan ponselnya pada Javas.


"Makasih..,tapi Javas ada Dad..",


"Pake punya Dad, kamu masukkan nomor rekening sama nominalnya..", ucapnya lagi.


"Sebelum saya transfer, mana surat perjanjiannya pak..?",


"Ini..", Bapak Kinara memberikan surat perjanjian tersebut, bersamaan dengan itu, rentenir yang menjadi calon suami Kinara keluar dari rumah Kinara.


"Sudah bisa kita mulai..?", tanya penghulu.


"Bisa pak..",


"Sudah disiapkan mas kawinnya?", tanyanya kembali.


Javas menepuk jidatnya. Dia melupakan itu.


"Kamu udah siapin Son..?",


"Belum dad.., Javas kan nggak persiapan apa-apa.., terus gimana Dad?",


"Paling gampang ya uang, kamu tanya sama calon istrimu, dia minta mahar berapa?", ucap Rendra.


Javas menolah ke samping kirinya.


"Dok.., minta mahar berapa?"


"Terserah mas Javas..",


"Sebutin aja, berapa?",


"Berapapun itu, saya terima mas..",


"Minta nomor rekening..",


Kinara menyebutkan 10 digit nomor rekeningnya.


"Udah..., segini ya pak..", ucapnya memperlihatkan bukti transfernya kepada penghulu dan bapak Kinara.


Bapak Kinara tersenyum puas, karena ternyata calon menantunya memang berasal dari keluarga kaya.


"Baik kita mulai ya.."


Javas menjabat tangan bapak Kinara.Javas akhirnya resmi menjadi suami Kinara. Dengan lancar, satu kali helaan nafas.


"Saya terima nikah dan kawinnya Kinara Laksmita Baskoro binti Yuda Baskoro dengan mas kawin berupa uang senilai satu milyar rupiah, dibayar tunai..",


Sah......!!!


Ucap saksi yang menyaksikan prosesi tersebut. Javas Althafarezzar Perdana kini resmi mempersunting Kinara Laksmita Baskoro.


Kinara memejamkan matanya, diiringi dengan air matanya yang luruh.


Pernikahan yang sejatinya adalah moment kebahagiaan yang dirasakan oleh kedua mempelai. Namun berubah menjadi suatu hal yang sulit untuk diungkapkan. Javas dan Kinara menikah bukan berdasarkan cinta, tapi karena didesak oleh keadaan.


Kinara mencium tangan Javas, sebagai tanda baktinya sebagai seorang istri. Javas yang terlihat tenang, rupanya juga merasakan kegugupan. Telapak tangan Javas terasa dingin.


Tidak ada cium kening seperti yang pengantin laki-laki lakukan kepada pengantin perempuan pada umumnya. Bersentuhan tangan saja, ini baru pertama kalinya.


Dengan dipandu oleh penghulu, Javas memegang ubun-ubun Kinara dengan melantunkan sebuah doa.


Allahumma inni as'aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa 'alaih. Wa a'udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha 'alaih.”


Javas baru menyadari satu hal. Pernikahan adalah sesuatu yang sakral, tidak bisa dia permainkan. Ini janjinya bukan hanya kepada manusia, tetapi kepada Tuhan Yang Maha Esa.


"Ini adalah kewajiban Dad dan Mom untuk menikahkan kamu. Tunjukkan tanggung jawabmu sebagai seorang laki-laki. Statusmu bukan hanya seorang anak, adik, kakak atau cucu. Tapi, sebagai seorang suami yang menjadi nahkoda keluarganya. Selamat menempuh hidup baru son..",


"Makasih dad..",


Mom...",


Aira kembali menangis, kali ini dipelukan putra tersayangnya. Sungguh ini bukanlah sesuatu yang Aisa harapkan. Namun, jika ditelisik lebih jauh, pernikahan putranya juga karena campur tangannya. Andai saja Aira tidak meminta Javas untuk mengantar Jaz tentunya pernikahan ini tidak akan terjadi.


Jaz? inikah alasannya mengapa anak itu sangat melarang jika kakaknya pergi ke Aussie?


Meskipun sudah mengenal baik Aira, namun rasanya canggung. Statusnya saat ini adalah menantu dan mertua. Bukan lagi dokter dan pasien.


"Bu.., maafin saya.., ini semua diluar dugaan saya Bu..",

__ADS_1


Aira tersenyum. Sungguh sangat amat terasa berat. Bukan tidak menyukai sosok Kinara, tapi Aira shock. Kecewa mengapa pernikahan putranya terjadi begitu cepat, tiba-tiba dan tanpa rencana.


"Ini semua sudah takdir, tapi kalo boleh jujur rasanya berat dok..",


"Maafkan saya Bu..",


"Semoga ini yang terbaik buat Javas, sudah takdir yang harus dia jalani..", ucapnya. Aira dan Kinara saling berpelukan, mereka menangis bersama. Aira menangisi nasib putranya, sedangkan Kinara menyesalkan pengorbanan yang Javas lakukan untuknya. Nasibnya? jangan ditanya. Kinara bahkan sudah tidak punya harga diri lagi. Martabatnya sudah direndahkan serendah-rendahnya oleh bapak kandungnya sendiri. Mirisnya lagi, Kinara ditolak mentah-mentah oleh keluarga Firman, kekasihnya yang sudah dipacarinya bertahun-tahun.


Kinara memeluk erat neneknya yang sedari tadi tidak kuasa menahan tangisnya. Namun, nenek lega karena cucunya dipersunting oleh laki-laki yang tepat.


"Cucu nenek.., semoga bahagia selalu...",


"Makasih nek...",


"Jadi istri yang berbakti ya nduk.., Tante cuma bisa mendoakan. Tante titip Kina ya mas..",


"Sayang...",tiba -tiba Firman masuk ke dalam rumah. Lututnya lemas seketika saat mendengar jika Kinara sudah resmi menjadi istri Javas.


"Kamu terlambat Man.., Kina udah nikah sama Mas Javas..",


"Nikah? Tante bercanda kan?",


"Andai aja tadi kamu denger ucapan Tante dan mas Javas, mungkin sekarang kamu udah jadi suami Kinara..",


"Sayang.., ini nggak bener kan..",


Firman yang berniat mendekati Kinara, langsung dicegah oleh Javas.


"Status anda sudah bukan siapa-siapanya Kinara..nggak baik berdekatan dengan istri orang..",


"Maaf bang..", ucap Kinara lirih.


"Kamu udah nggak sayang lagi sama Abang? kamu udah nggak cinta lagi sama Abang Na?", ucapnya histeris.


"Semuanya udah terlambat bang..",


Atas permintaan Bapak Kinara, Firman akhirnya dibawa paksa keluar oleh warga sekitar. Sudah tidak ada gunanya menyesali. Firman tadi sudah mempunyai cukup waktu, sayangnya dia tidak memanfaatkannya dengan baik.


Satu persatu warga yang turut menyaksikan pernikahan Javas dan Kinara, meninggalkan rumah. Disusul dengan Bapak kandung serta Ibu Tiri Kinara yang kala itu berwajah sumringah. Hutang 500 jutanya lunas, bonusnya dia diberikan 500 juta dari Javas.


"Bapak pulang dulu ya Na.., selamat atas pernikahan kalian..",


Kinara diam, dia menepis tangan bapaknya.


"Bapak laknat.., ibl*is kamu mas.., ", Tante Tia kembali mengeluarkan sumpah serapahnya.


"Seharusnya kalian terima kasih.., karena aku. Akhirnya Kinara punya suami kaya raya..",


Tante Tia kembali mengunci mulutnya. Dihadapannya kini ada Aira dan Rendra yang harus dihargai kehadirannya. Tante Tia membiarkan bapak Kinara pulang.


"Dad..mommy...", teriak Jaz yang tiba-tiba datang dari luar.


"Tuh didepan situ, main sama kakak cantik..


Kak Javas udah jadi pengantin mom?",


"Udah.., liat tuh kak dok..",


"Wah.., kak dok cantik..",


Kinara tersenyum.


"Padahal Jaz mau nonton Kak Javas sama kak dok..",


"Ini bukan tontonan sayang..",


"Iya maksud Jaz pengen liat mom..",


"Ada di hape Dad, nanti diliat ya..",


"Dad rekam tadi?",


"Iya.., nanti diliat ya..",


Tidak banyak yang Tante Tia dan Nenek ucapkan selain permintaan maaf serta ucapan terima kasih.


"Kami mengucapkan banyak terima kasih Bu.., pak.., karena sudah memberikan restu kepada mas Javas untuk menikahi keponakan saya..",


"Ini takdir Bu..", ucap Aira singkat. Jika melihat wajah Aira saat itu, mungkin sebagian orang akan menilai jika Aira tidak menyetujui pernikahan tersebut. Memang benar seperti itu. Namun, bukan tidak setuju kepada sosok yang menjadi istri Javas. Melainkan pada momentnya. Pernikahan bukan berdasarkan cinta, tetapi karena sebuah pertolongan.


"Kalo begitu, kami pamit dulu..", ucap Rendra.


"Vas.., mau pulang kerumah kakek, atau kamu mau pulang kerumah?",


"Javas balik kerumah kakek dulu mom..",


"Mau bareng..?",


"Hmmm..maaf Bu Aira. Mas Javas nggak bisa kemana-mana dulu malam ini..",


"Lho.., kenapa? nggak ada acara kan Bu?",


"Di desa kami, masih mempercayai tradisi leluhur Bu. Seorang pengantin laki-laki, harus menginap lebih dahulu di rumah pengantin perempuan, meskipun hanya satu malam..., setelah itu bebas Bu..",


( Di desa Author kayak gini loh guys, jadi pengantin perempuannya nggak boleh dibawa dulu ke rumah pengantin laki-laki, pokoknya harus nginap, meskipun cuma semalam..)


Javas masuk ke dalam kamar Kinara yang luasnya hanya sepertiga dari luas kamarnya. Meskipun kecil, semua perabotan tertata rapi disana.

__ADS_1


Kinara canggung ketika berduaan dengan Javas di dalam kamarnya.


"Mas.., saya nggak tau harus bilang apa ke mas Javas.., tapi saya mau mengucapkan terima kasih..",


Kinara duduk dikursi riasnya sedangkan Javas duduk di bibir ranjang. Mereka duduk berhadapan namun masih berjarak.


"Aku melakukan ini semua karena rasa kemanusiaan, kebayang kalo seandainya mom sama kak Sha ada diposisi kamu saat itu..",


Sudah menggunakan bahasa santai untuk menyebut dirinya dengan aku dan kamu. Namun, tidak dengan Kinara yang masih menggunakan bahasa formalnya.


"Iya mas, apapun itu, terima kasih banyak..",


"Aku nggak bisa menjanjikan sesuatu ke kamu. Nyatanya pernikahan ini bukan di dasari cinta. Tapi sebisa mungkin aku akan selalu lindungin kamu dari laki-laki yang udah nyakitin kamu, terutama bapak durhaka dan pacarmu yang pengecut..,


"Bang Firman bukan pengecut mas..?",


"Andai aja dia denger apa yang aku dan Tante Tia bilang, mungkin kamu sekarang udah bahagia sama dia..",


"Semuanya udah terjadi mas..",


"Jangan Geer, aku tadi ngehalangin dia nyentuh kamu, bukan karena aku cemburu atau aku nggak rela. Tapi, aku sangat menghargai kehadiran mom sama dad..",


"Iya mas.., saya ngerti..",


"Aku nggak akan larang-larang kamu seperti suami diluar sana. Terserah kamu mau ngapain, yang penting kamu bisa jaga diri..",


"Makasih mas..


Mas..saya boleh tanya?",


"Apa?"


"Kalo mbak Mine tau, gimana?",


"Kamu boleh tanya apa aja, tapi nggak usah tanya tentang Mine. Biar itu menjadi urusanku..",


"Iya mas.. maaf..",


"Mau tanya apa lagi?",


"Nggak ada mas..",


"Udah malam, tidur sana..",


"Baik mas.., kalo gitu saya mau permisi dulu..", Kinara berdiri hendak keluar kamarnya, namun tangannya ditarik oleh Javas.


"Kamu mau kemana?",


"Tidur mas..",


"Tidur, kan kasurnya disini. Ngapain kamu kesana?", tunjuknya pada pintu.


"Saya mau permisi tidur sama nenek..",


"Kamu mau buat nenek sedih lagi? kamu tadi liat nggak? nenek nangis terus waktu kamu mau dinikahkan. Sekarang kamu mau ngulangin lagi? mau nenek kepikiran lagi..??",


Kinara diam mencerna ucapan Javas.


"Kita tidur dalam satu kamar yang sama, diatas kasur yang sama.., ",


"Hah?",


"Kenapa? kaget..? tenang aja aku nggak akan ngapai-ngapain kamu kok..,setidaknya untuk malam ini kalopun aku mau, juga nggak masalah. Itu hak aku dan itu kewajibanmu karena kamu istri aku sekarang..",


Kinara terdiam.


"Kok bengong..? nggak usah takut, aku nggak mau minta sekarang.., nggak tau kalo besok-besok..",


"Apa mas? minta apa?",


"Nggak apa-apa... ayo cepetan tidur, besok kita kerumah kakek..",


"Iya mas..",


Dengan ragu, Kinara naik ke atas ranjang dan bersiap tidur. Ditengah, ada guling sebagai pemisah antara dia dan Javas.


"Na..",


"Iya mas..",


"Kamu ngantuk?",


"Katanya disuruh tidur tadi..",


"Mau tanya..",


"Apa mas..?",


"Kalo kita permainkan pernikahan, dosa nggak?"


"Dosa kayaknya mas..",


"Hmmmm, iya..aku tau itu..",


"Mas Javas nggak perlu khawatir, saya udah tau resikonya kok. Istri cuma sekedar status kan buat saya..? kapanpun mas Javas mau akhiri ini semua, saya terima mas..",


Tidak ada sahutan lagi dari Javas. Kina pun tidak ingin bertanya lebih jauh. Dia memilih untuk memejamkan matanya meskipun sulit.

__ADS_1


Kenapa kamu ngomong gitu sih, Na..?


__ADS_2