
Eljaz menjadi anggota keluarga yang terlihat sibuk pagi itu. Putra bungsu Aira itu tampak membantu tim EO yang sedang bekerja. Sebenarnya bisa dikatakan sebagai penganggu, Karena tidak ada yang bisa anak kecil itu lakukan selain membuntuti salah satu pekerja.
" Jaz..., sarapan dulu yuk,, sus Sri suapin ya.."
"Nanti aja sus.., aku mau bantuin mas-masnya,, "
" Wah..tuyul..kamu ganteng juga ya pake baju koko kayak gitu..", ledekan serta pujian yang terlontar dari mulut Javas yang melihat adiknya mengenakan baju koko dengan panjang selutut serta celana berwarna mocca yang dia kenakan. Tentu saja, ini adalah hasil karya dari Sharen yang senang menjadi stylist adiknya.
"Baru tau ya kalo Jaz ganteng? kemana aja selama ini?",
" Idih..pede lu...",
" Harus dong,,
kak Javas baru dateng ya..",
" Iya..",
" Kak Mine mana?', tanyanya.
" Nanti datengnya sama keluarganya..
Kenapa tanya-tanya?",
" Emangnya nggak boleh?"
"Capek ah ngomong sama kamu..",
Mommy dimana?",
" Di dalam.. ",
" Ada siapa aja?",
" Ya banyak,,
Dad, mom, moma, oma, bunda, Ayah, kakak upin ipin, Bude, Pakde, kak Dys, mami Vina, Papi Zein...,banyak kan?",
" Iya banyak.. dokter juga?",
"Ada..., tadi abis periksa oma..
Kenapa tanya-tanya?"
" Emangnya nggak boleh,,", jawab Javas yang menirukan omongan Jaz tadi.
" Boleh.., Jaz aduin sama kak Mine loh..",
"Aduin aja
Jaz, kamu udah siap?",
" Apa?",
"Kamu tuh dibohongin sama Mom.., hari ini bukan acara pengajian, Tapi, ini acara khitan... kamu hari ini mau dikhitan kan?",
Wajah Jaz langsung datar seketika. Dia memang sangat takut untuk disunat. Mbak Sus, menahan tawanya, tapi juga merasa kasian karena Javas menggodanya seperti itu.
" Bohong...", ucapnya berlari masuk ke dalam rumah.
Jaz menyembunyikan wajahnya ketakutan. Dan, ini adalah sebuah kemenangan bagi Javas yang berhasil menggoda adiknya.
" Kamu ditipu sama kak Javas...", ucap Kai yang menenangkan Kakak sepupunya. Jaz menenggelamkan wajahnya pada pundak Kai yang memangkunya.
" Javas..., adiknya kamu apain sih?",
" Hari ini Jaz disunat kan Mom..?",
" Owalah.. kamu bilang gitu sama dia? pantesan dia takut banget..
Sini anak mommy.., kak Javas cuma godain aja kok..",
" Jaz nggak mau disunat...",
" Katanya pemberani. Mau disunat aja C-Man..",
"Pokoknya Javas nggak mau mom..",
"Padahal kalo kamu berani disunat, Daddy beliin motor kayak punya kak Javas,, ", ucap Rendra.
"Tapi Jaz nggak mau..",
" Yah.., sayang banget.."
Kediaman Keluarga Rendra Perdana dipenuhi oleh orang yang memakai pakaian serba putih. Dekorasi bunga serba putih serta ornamen dengan warna senada menjadi penghias. Hari ini adalah acara tasyakuran atas kesembuhan Aira. Sekaligus bentuk rasa syukur atas rezeki serta mukjizat yang diberikan oleh Tuhan untuk keluarga ini.
Satu persatu para undangan mulai berdatangan. Selain menjadi ajang silaturrahmi, kesempatan ini adalah pertama kalinya para kerabat, teman untuk bisa berjabat tangan langsung dengan Aira. Setelah beberapa tahun belakangan ini mereka kehilangan sosoknya.
Aira memang belum sembuh total, namun kondisinya jauh lebih stabil meskipun harus tetap menjalani therapy demi kesehatannya.
Sayangnya, sosok yang sangat ingin Aira temui saat ini berhalangan hadir. Padahal, Aira ingin sekali melihat reaksinya.
" Erna nggak bisa dateng, katanya lagi keluar kota...", kata Farah
__ADS_1
" Yah.., padahal dia salah satu tamu agung disini..",
" Kayaknya belum siap mental dia Ra..",
" Mimpinya ketinggian Far, kalo jatuh kan sakit banget..",
"Ya gitu.., kamu kan lebih kenal sama dia, dibandingkan aku..",
"Iya,, tapi dia tega ya punya niatan sama suaminya temen sendiri..",
" Namanya juga kesempatan dalam kesempitan Ra..".
Kinara yang duduk di dekat Aira, hanya diam mendengarkan obrolan ringan antara kedua sahabat itu. Namun, ada rasa penasaran di dalam hatinya.
"Erna? apa yang dimaksud sama dengan Erna yang aku kenal?",
Mendengarkan tausiyah dari ustadz kondang yang menjadi pengisi acara di hari itu. Semuanya nampak khusuk namun tetap terlihat santai. Apalagi gaya penyampaian ustadz yang dibalut dengan santai dengan sesekali diiringi oleh gurauan.
Acara tasyakuran hari itu ditutup dengan santunan yang diberikan untuk anak yatim piatu. Sebagai wujud rasa syukur atas rezeki yang diberikan oleh Tuhan untuk keluarga Rendra Perdana. Khususnya, memberi contoh nyata bagi si kecil Jaz untuk mengajarkan bagi anak-anak agar senantiasa berbagi untuk orang disekitar.
Satu persatu para undangan pamit undur diri. Hanya keluarga dekat serta kerabat yang masih berkumpul disana. Termasuk, keluarga Aldo serta keluarga Fahmi. Kedua calon besan Aira dan Rendra.
"Ra..", sapa Ernest.
"Mbak.., makasih udah dateng..",
"Gimana keadaannya?",
"Alhamdulillah, udah membaik mbak. Tinggal pemulihan aja. Ya Allah mbak, kok repot-repot..", ucap Aira yang mengambil paper bag dari tangan Ernest.
"Maaf ya, baru bisa nengok sekarang. Waktu kamu keluar dari RS, akunya yang belum sepat nengok kesini..",
"Nggak apa-apa.., turut berduka cita buat maminya mbak Nest..",
"Makasih Ra..",
"Ayo mbak silahkan diincipi hidangannya..",
Dengan tergopoh, Sri menghampiri Aira yang sedang asyik mengobrol dengan Ernest juga Sofia.
"Maaf nyonya..,si bungsu tiba-tiba panas badannya..",
"Loh.., kenapa?",
"Nggak tau.., ini tiba-tiba tadi minta dianterin ke kamarnya. Sudah saya cek suhunya, tinggi nyonya 39 derajat..",
"Kenapa Ra?",
"Jaz tiba-tiba sakit mbak..",
"Mbak.., aku tinggal dulu ya..", pamit Aira yang meninggalkan Aira dan Ernest.
Kening Javas panas ketika Aira memerika putra bungsunya. Wajahnya masih terlihat tampan seperti biasa, namun sepertinya ada sesuatu yang putranya pikirkan.
"Sus.., minta tolong panggilin dokter Kinara kesini ya..",
"Baik nyonya..",
Hanya selang beberapa menit saja, Kinara langsung datang untuk memeriksa Jaz.
"Gimana dok?",
"Nggak usah panik Bu, ini Jaz cuma panas biasa. Semoga setelah minum obatnya nanti juga panasnya turun..",
"Tapi, dia kan lagi tidur..",
"Dibangunin aja sebentar.., biar obatnya masuk dulu..",
Aira mencoba membangunkan Jaz, dan respon yang tidak pernah Aira bayangkan sebelumnya keluar dari mulut Jaz.
"Jaz nggak mau disunat mom..", gelengnya.
Ternyata, sakitnya Jaz karena ucapan Javas yang menggodanya. Ini semua gara-gara Javas yang mengisengi adiknya.
"Nggak sayang.., Jaz nggak disunat. Kak Javas bohong..",
"Jaz takut mom..",
"Iya sayang.., nggak kok.., nanti mommy aduin kak Javas sama Dad ya.., biar dimarahin..",
Jaz mengangguk.
"Sekarang obatnya diminum dulu ya, biar panasnya turun..",
"Jaz pusing mom..",
"Kalo nanti panasnya turun, Jaz nggak akan pusing lagi. Ayo dibuka mulutnya, ganteng..",
Jaz membuka mulutnya, dan satu sendok takar obat langsung dia minum.
Aira masih setia menemani putra bungsunya, namun Kinara langsung peka.
"Bu Aira.., silahkan melanjutkan menyapa kerabat dan keluarga yang hadir. Biar saya sama sus Sri aja yang jaga disini..",
__ADS_1
"Nggak apa-apa dok?",
"Ibu Aira kan yang punya acara.., pasti nanti dicariin..",
"Iya dok.., titip Jaz ya dok..",
"Pasti bu..",
Aira meninggalkan Jaz dikamarnya. Sebenarnya berat, namun setelah tamu undangan benar-benar sudah pulang, Aira berjanji akan segera menemui Jaz kembali.
"Mommy tinggal sebentar ya sayang..", ciumnya pada Jaz yang tengah tertidur.
Kinara masih penasaran dengan obrolan Aira dan Farah tadi. Tidak ingin memendam, akhirnya dia bertanya kepada Sri.
"Mbak.., mau tanya dong..",
"Apa mbak?",
"Selama disini.., pernah ketemu sama yang namanya Erna? dia siapa?",
"Pernah mbak.., dia itu temen ibu Aira..",
"Selingkuhannya pak Rendra?", tanyanya berbisik.
"Bukan...
pak Rendra itu setia sama ibu..Mbak Kina kenapa tanya gitu? kenal sama Erna?",
"Nggak.., tadi lho.., aku denger ibu Aira sama Tante Farah, ngobrolin Erna..., kayaknya mereka kecewa...",
"Ya kecewa lah...",
"Erna naksir sama pak Rendra, gitu ya?",
"Kalo nggak.., mana mungkin sih sering ngirimin makanan buat pak Rendra? sering beliin Jaz mainan.., pokoknya perhatian gitu selama ibu Aira masih sakit..",
"Mbak Sus tau banyak dong..",
"Ketemu waktu di acara ulang tahun Jaz kemarin, selebihnya sih diceritain sama mbak belakang.., pas di dapur gitu jadi gosip..",
"Owalah gitu ya..",
"Kenapa sih mbak?",
"Nggak apa-apa..",
Sharen mengomeli Javas karena membuat adik bungsunya terkapar lemas tidak berdaya. Sharen bahkan meminta pertanggung jawaban dari Javas, setelah tau adik yang dirawatnya dari bayi, sakit karena saking kagetnya. Mendengar kata " sunat ", bagaikan virus mematikan yang langsung menyerang tubuh Jaz.
"Tuh.., makanya kalo ngomong tuh dipikiri. Akibatnya kan, liat nih.., bocah yang biasanya aktif jadi diem kayak gitu. Gara-gara kamu..",
"Iya maaf.., Javas kan nggak bermaksud kayak gitu kak..",
"Terus gimana? ",
"Apanya?",
"Tanggung jawab kamu karena udah buat Jaz kayak gini..",
"Iya nanti aku beliin obat..",
"Nggak usah, orang tadi kata mbak sus, Jaz udah minum obat kok..",
"Terus Javas kudu gimana?",
"Ya kamu yang jagain dia..",
"Kok Javas?",
"Terus siapa? mommy? kan lagi sakit. Daddy? kan nemenin mommy...",
"Kakak kan bisa..",
"Nggak usah kamu suruh pun pasti kakak lakuin. Kamu lupa? siapa yang ngerawat Jaz dari kecil? kakak Vas..",
"Iya Queen..", ucap Javas pasrah.
"Ya udah, kamu jagain sini..",
"Tapi kan aku mau nganterin Mine pulang kak..",
"Dasar, nggak tanggung jawab...!!",
"Nggak ada yang Javas hamili..",
"Malah ngajakin bercanda..",
"Ya udah sih kak.., kan udah ada mbak sus sama dokter disini..",
"Awas ya, kakak masih belum selesai sama kamu. Marahnya kakak lanjut nanti, setelah tamu nggak ada. Kakak mau kebawah dulu, nggak enak ninggalin kak Bian..",
"Ya udah sama.., Vas juga mau nemuin Mine, mau nganter dia pulang..",
Perdebatan Sharen dan Javas di dengar langsung oleh Sri dan dokter Kinara. Namun, mereka hanya diam mendengarkan ocehan Sharen serta kepasrahan Javas.
__ADS_1
Spoiler.
Dari balkon kamarnya, Javas melihat Kinara dan seorang laki-laki yang sepertinya pernah dia lihat sebelumnya. Meski dari jarak yang cukup jauh, namun Javas bisa melihat dengan jelas. Kinara mencium tangan laki-laki itu sebelum keduanya berpisah. Kinara melambaikan tangannya ketika mobil yang dikendarai kekasihnya mulai melaju meninggalkan halaman rumah megah ini.