
Kinara sudah membulatkan tekadnya. Besok pagi, dia akan meninggalkan rumah. Kinara hendak pergi jauh hingga tidak ada orang yang mengenalinya. Sakit hatinya pada Javas sudah terlanjur dalam.
Sudah menyiapkan semuanya termasuk rumah yang akan dia tempati. Tidak ada seorang pun yang tahu kemana dia akan pergi, termasuk tantenya.
Membohongi tantenya dengan mengatakan jika menjemputnya adalah sopir Javas. Padahal sopir tersebut adalah sopir dari travel yang sebelumnya sudah dipesan oleh Kinara. Tante Tya tidak menaruh curiga sedikitpun, karena memang akhir-akhir ini, Javas memang sibuk sehingga mungkin tidak bisa untuk menjemput istrinya. Pun, dengan sopir yang berbeda dari biasanya. Ya, namanya juga orang kaya, sopir yang menjemput juga bisa berbeda-beda.
"Hati-hati ya, sampe di rumah nanti langsung istirahat. Kalo masih mual, minum jahe hangat ya. Terus, perutnya jangan sampe kosong, kasian bayi yang ada di dalam kandungan kamu. Dia juga butuh nutrisi..",
"Iya Tante, makasih nasehatnya ya. Kinara pulang dulu. Tante baik-baik di rumah ya..",
Berat sebenarnya untuk meninggalkan keluarganya. Apalagi, Kinara baru saja kehilangan neneknya. Tapi, Kinara juga harus pergi. Hatinya sudah terlalu sakit.
Sebelum pergi ke tempat tinggal barunya, Kinara menyempatkan diri untuk pergi ke counter. Dia ingin mengganti nomor lamanya dengan nomor baru. Untuk apa? tentu saja agar tidak bisa dihubungi oleh siapapun, termasuk suaminya.
"Kita kemana mbak..?",
"Ke makam dulu ya pak...",
Tidak ingin menangis di depan pusara Ibu dan Neneknya yang sudah beristirahat dengan tenang. Kinara ke makam hanya ingin berpamitan. Mungkin, untuk beberapa bulan atau bahkan setahun kedepan, dia baru bisa kembali.
Tak lupa, Kinara juga menitipkan "rumah" ibu dan neneknya ke penjaga makam agar selalu dibersihkan dan dirawat dengan baik.
"Pak..kita ke apotek sebentar ya, ada yang mau saya beli...",
Kinara masuk ke apotek tersebut untuk membeli beberapa keperluannya.
"Mau apa mbak?",
"Vitamin, obat mual, sama susu buat ibu hamil yang bagus.., apa mbak..?",
"Sebentar ya, saya ambilin dulu mbak.."
Kinara sadar diperhatikan oleh seseorang yang sepertinya juga sedang menunggu obat. Tapi, Kinara mencoba bersikap biasa. Dia memang sering menjadi pusat perhatian, mungkin karena dia cantik. Ya, percaya diri saja seperti itu.
"Kina...", ucap seseorang yang suaranya setiap hari biasa dia dengar. Dia langsung menghampiri Mina.
Deg,
Jantungnya serasa mau copot.
"Mmmmbak Sharen...",
"Kamu ngapain disini? beli apa? kamu sakit..?",
"Ngggakkk mbak, beli vitamin aja", ucapnya terbata.
"Mbak Sharen ngapain disini..?",
"Iya ini beliin obat buat kakek..",
"Kakek sakit mbak..?",
"Ya biasalah namanya juga udah sepuh kan. Ini mbak beli multivitamin aja kok..,
Kamu mau pulang? bareng aja yuk? kakak juga mau pulang...",
"Iya mbak..,makasih Na pulang duluan aja..",
Obrolan singkat mereka terhenti oleh apoteker yang tadi melayani Kinara.
"Mbak.., ini vitamin yang bagus, obat mualnya juga banyak yang cocok. Kalo susunya mau merk yang ini , apa ini mbak? Dua-duanya juga bagus..",
Kinara melongo, begitupun juga dengan Sharen yang akhirnya mengetahui jika adik iparnya saat ini sedang mengandung.
"Loh.., Na..kamu lagi hamil...?",
Kinara tidak bisa berkutik, mau tidak mau dia harus menjawab jujur.
__ADS_1
"Iya mbak..",
"Kok kakak nggak tau? mommy nggak bilang, Javas juga nggak pernah cerita..",
"Na emang baru tes mbak.., makanya langsung beli obat, vitamin, sama susu..",
"Ya Allah, selamat ya. Akhirnya, aku dipanggil onty juga...", ucapnya dengan memeluk Kinara.
Hati Kinara senang, karena ternyata kehamilannya dinantikan oleh kakak iparnya.
"Mbak.., Kina langsung pulang ya, biar bisa istirahat..",
"Iya..hati-hati ya. Nanti kita ketemu di rumah..",
Kinara buru-buru keluar, setelah barang yang dibelinya ternyata dibayarkan oleh Sharen.
Kinara masuk kedalam mobil, dan langsung memberitahukan kepada sopir agar melajukan kendaraannya dengan cepat.
Sharen yang baru saja keluar dari apotek, sempat melihat adik iparnya masuk ke dalam mobil. Anehnya, mobil yang ditumpangi Kinara bukanlah salah satu mobil milik keluarganya. Tidak ada yang mempunyai mobil seperti yang ditumpangi Kina. Ada satu, itupun milik orang belakang. Mobil yang biasanya digunakan untuk operasional, mengantarkan maid berbelanja misalnya. Dan, tidak mungkin sopir ada yang berani menjemput Kinara dengan naik mobil yang biasa ditumpangi oleh pekerja di rumah.
Sharen segera menelepon Kinara. Tapi, tidak dapat tersambung. Padahal, dia tadi melihat layar ponsel Kinara menyala. Itu tandanya ponsel milik adik iparnya dalam keadaan hidup.
Sharen yang mempunyai insting kuat, langsung naik ke dalam mobilnya. Dia mengejar mobil yang ditumpangi oleh Kinara.
Mempunyai skill mengemudi yang baik dan gesit, tentunya tidak sulit untuk Sharen mengejar Kinara. Sharen terus mengklakson ketika mobilnya berhasil berada di belakang mobil Kinara.
"Udah diklaskon tapi nggak mau berhenti juga.., awas aja..",
Sharen terus memepet mobil di depannya. Dan ketika kondisi memungkinkan, Sharen berhasil mendahului mobil Kinara, dan Sharen langsung berhenti menghalangi laju mobil tersebut.
Sharen turun dari mobilnya.
Tok..tok..tok..
Sharen mengetuk pintu penumpang.
Benar dugaan Sharen, jika ada sesuatu yang tidak beres dengan adik iparnya. Kinara masih diam di dalam mobil.
Sharen terus menggedor pintu, hingga membuat sopir itu keluar.
"Mbak.., kalo mobil saya rusak gimana?",
"Rusak..? saya ganti...,
bapak tau penumpang yang didalem? itu adik ipar saya. Bapak tau dia siapa? dia menantu dari pemilik hotel di ujung jalan itu, tau kan? kalo cuma kaca mobil yang rusak atau pecah, tenang aja, saya ganti pake mobil baru. Turunin adik ipar saya, sekarang juga. Jangan lupa barang-barangnya dikeluarin, masukin ke mobil saya..",
Tahu, orang yang diajaknya bicara bukan orang sembarangan, bapak itu melaksanakan perintah Sharen. Dia menurunkan barang-barang milik Sharen. Dan, terakhir dia memaksa Kinara untuk turun.
"Makasih pak, ini buat bapak...", ucap Sharen dengan memberikan belasan uang ratusan ribu untuk sopir tersebut.
Kinara lemas, ternyata usahanya gagal.
"Masuk ke dalam mobil kakak sekarang..!!!",
Baru pertama kali ini Sharen bersikap tegas seperti ini pada Kinara. Bukan tanpa sebab, tapi Kinara memang harus diberikan pencerahan.
Saat di Apotek tadi, memang Sharen merasakan sesuatu yang berbeda dengan adik iparnya. Kinara terlihat kaku saat bertemu dengan Sharen, seperti tidak suka dengan kehadirannya. Padahal, selama ini hubungan mereka sebenarnya cukup dekat.
"Kamu kenapa? kamu mau kabur? iya..?",
Kinara menggeleng.
"Jangan bohong...",
Kinara diam. Dicecar seperti ini oleh Sharen membuat nyalinya ciut.
"Kakak mau telepon Javas..",
__ADS_1
"Jangan mbak....",
"Kenapa..?",
Kinara justru menangis.
"Na..., kamu kenapa..?", ucap Sharen kali ini lembut.
"Na capek mbak.., Na lelah.., Na nggak bisa terus-terusan kayak gini. Selalu ngalah, selalu ngertiin mas Javas, tapi sedikitpun dia nggak pernah ngertiin posisi Kinara sebagai istrinya. Kina mencoba sabar mbak, tapi kesabaran Kina udah abis ketika Nenek pengen banget ketemu Mas Javas. Nenek cuma mau bilang kalo Na ini udah hamil, tapi mas Javas nggak pernah datang, sampe Nenek meninggal. Dia lebih mentingin seseorang dari masa lalunya. Na nyerah mbak, Na nggak bisa lagi jadi istri mas Javas..",
Sharen tertegun mendengar penjelasan jujur Kinara. Adiknya memang sangat keterlaluan.
"Terus, dengan kamu kabur kayak gini, bakal nyelesain masalah? nggak Na..., cepet atau Lambat, Javas atau Daddy juga pasti nyari kamu, pasti mereka berhasil nemuin kamu. Apalagi, kamu lagi hamil kayak gini..",
"Mas Javas belum tau kalo Na hamil mbak..., mbak.., tolong biarin Na pergi ya mbak....",
"Kakak nggak segila itu Na.., apalagi ada keponakan kakak di dalam perut kamu. Kakak juga nggak bakalan tega ngebiarin kamu hidup sendirian dengan keadaan hamil kayak gini.."
"Na nggak mau balik pulang mbak, Na nggak mau ketemu mas Javas lagi....", Kinara menangis.
"Terus rencana kamu, mau kemana? kamu mau tinggal dimana?",
"Na udah sewa rumah mbak...",
"Oke.., kakak bantu kamu. Tapi, janji ya..kalo kamu udah tenang, kamu mau pulang..?"
"Mbak janji mau rahasiain ini mbak?"
"Iya.., asalkan kamu nggak pergi dari kakak.."
Mereka membuat kesepakatan. Sharen akhirnya mengantarkan Kinara ke rumah tempat tinggal Kinara.
"Na.., ini rumahnya?",
"Iya mbak..",
"Kakak nggak suka kamu tinggal disini...lingkungannya nggak sehat Na..",
"Tapi, disini aman mbak..",
"Kamu boleh tinggal disini, tapi untuk semalam aja. Kakak bakalan cari tempat tinggal buat kamu....",
Tidak membantah ucapan Sharen, Kina hanya menganggukkan kepalanya.
"Kamu baik- baik disini ya. Besok kakak balik lagi kesini, jemput kamu. Inget, jangan coba-coba kabur.."
"Iya mbak, makasih...",
"Kakak balik ke rumah kakek dulu, terus pulang ke rumah. Kakak balik lagi besok, biar orang rumah nggak curiga..",
"Makasih sekali lagi mbak..",
"Soal Javas, nggak usah dipikirin. Biarin aja dia mau sesukanya.., kamu masih punya kakak...oke..",
Kinara menganggukkan kepalanya.
"Nanti ada ojek online yang nganterin makanan kesini, kakak udah pesenin buat kamu. Jangan telat makan ya, makan yang banyak. Kalo ada apa-apa langsung hubungi kakak, ngerti..?",
"Iya mbak..
hati-hati mbak.."
Ya, semenjak saat itu Sharen lah yang menjadi malaikat penolong bagi Kinara. Selama menghilang, Sharen yang selalu ada disamping Kinara. Setiap hari selalu mengunjungi rumah yang ditempati oleh Kinara. Bahkan Sharen sengaja membeli Rumah untuk tempat tinggal Kinara selama adik iparnya itu bersembunyi.
Setiap bulan pun, Sharen selalu menemani Kinara untuk mengecek kandungannya ke dokter yang berada diluar kota. Segala keperluan Kinara, Sharen yang menyiapkan dan memenuhi. Bagi Sharen, Kinara adalah tanggung jawabnya. Apalagi, Kinara sedang mengandung calon penerus Javas Perdana, sang pewaris utama.
Flashbacknya satu aja yak..,
__ADS_1
Next, kita temenin Kinara lahiran.