
Yang bab sebelumnya belum baca sampe full.., yok dibaca dulu bab versi lengkapnya, baru lanjut ke sini.
Semenjak mommynya sadar, setiap hari Javas selalu pulang ke rumahnya. Melepas kangen atau sekedar numpang makan. Yang jelas, di tengah kesibukannya Javas selalu menyempatkan diri untuk bertemu mommynya di rumah.
"Pagi mommy..",
"Pagi sayang.., kok telat..",
"Iya jalanan macet..",
"Ayo sarapan dulu, mommy sama yang lainnya udah selesai. Mau mommy ambilin apa?",
"Makasih mom.., Javas ambil sendiri aja.
Oh ya mbak, tolong dong kopernya taruh di kamar..", ucapnya pada maid yang kebetulan sedang membawakan minuman hangat untuk Aira.
"Baik mas..",
Kedatangan Javas kali ini sedikit berbeda. Javas pulang dengan menyeret koper miliknya. Javas mau tinggal, atau ada yang mau dia taruh di dalam kamarnya?
"Koper kamu, isinya apa Vas?",
"Baju mom..",
"Buat?",
"Dipake dong mom..",
"Oh.." ucap Aira tersenyum. Akhirnya putranya kembali tinggal di rumah.
"Iya kan bener..",
"Terserah deh..", ucap Javas yang kali ini tidak terpengaruh dengan ucapan Jaz.
Celetukan Javas itu juga di dengar langsung oleh dokter Kinara yang baru saja memeriksa keadaan Jaz. Bukannya merasa geer, tapi dokter Kinara terlihat biasa saja karena dia sudah tau jika Javas dan Jaz sama-sama usil. Keduanya tidak ada yang mau kalah, begitupun dengan Javas yang tidak mau mengalah meskipun usia keduanya terpaut cukup jauh.
Jaz memang masih sakit, keadaannya sudah membaik tapi belum bisa dikatakan sehat. Dan, saat ini dia sedang digendong oleh Daddynya. Sifat manja dan kekanakannya keluar begitu saja ketika tubuhnya lunglai tidak berdaya.
"Jaz.., nggak boleh jahil sama kak Vas..", peringat Aira.
"Nanti disuruh sunat, nangis...",ucap Javas.
"Javas... nggak liat adeknya kalo sakit tuh manja kayak gini, masih aja digodain..",
"Iya Dad.., maaf..",
"Tau nggak, Daddy berdiri gendong Jaz kayak gitu udah hampir satu jam.., kamu nggak kasian sama dad? harusnya kan kamu yang gendong Jaz..",omel Sharen.
"Kok aku? kan Daddy emang ayahnya nya Jaz.., ya wajar kayak gitu..",
"Kamu kan kakaknya, yang bikin sakit kan kamu..",
"Iya iya.., salahin aja terus..,
oke nanti kak Javas gendong Jaz tapi tunggu selesai kakak makan mau isi amunisi dulu..",
"Nggak usah.., Jaz mau digendongnya sama Daddy bukan sama kak Javas..",
"Oh.., bagus lah kalo gitu..",
"Wlee...", ledek Jaz dengan menjulurkan lidahnya.
Rendra dan Aira saling pandang sambil tersenyum satu sama lain. Kedua putranya memang seringkali berdebat saat bertemu.
"Mommy sama Dad, kenapa liat-liatan kayak gitu. Sharen jadi salting deh, takut..",
"Takut kenapa?", tanya Rendra.
"Takut punya adek lagi...",jawab Sharen.
Javas yang sedang menikmati sarapan paginya langsung tersedak.
"Minum-minum sayang..", Aira menyodorkan segelas air putih kepada putranya.
"Pelan-pelan makannya..",
"Itu tuh..Queen mom.., ngomongnya ngaco..",
"Ngaco gimana? kamu takut juga kan kalo punya adek lagi?",
"Bukan takut tapi malu. Udah dewasa gini, masa iya punya adek bayi lagi..",
"Kalo seumpama mom hamil lagi, kalian gimana?",tanya Rendra iseng.
"Asyik..., Jaz bakalan jadi Abang dong..",
"Dad...adik Sha cukup 2..",
"No Dad.., no.., punya adek satu aja udah bikin Javas pusing. Mom sama dad itu udah pantes jadi Oma Opa..",
"Javas udah siap nikah?", tanya Aira.
"Siap-siap aja.., tapi kan Mine mau kuliah dulu..",
__ADS_1
"Kalo Sharen?",
"Nanti dulu mom..",
"Yah.., katanya disuruh jadi Oma Opa , tapi kalian belum ada yang mau nikah..",
"Tenang mom.., slow...", ucap Javas.
"Oh ya.., Dad hari ini batal ke kantor ya?",
"Iya.., nih.. jagoan kecilnya Dad kan lagi sakit..",
"Ya udah deh kalo gitu, hari ini Queen ke Prime dulu.., baru ke butik..",
"Jangan capek-capek sayang.., jaga kesehatan kamu..",
"Its oke mom.., no problem. Sharen kuat..
Kalo gitu Sha berangkat duluan..",
"Hati-hati sayang..",
"Iya mom..
Dad.., Sha berangkat dulu..",pamitnya dengan mencium tangan Daddy nya..",
"Jangan ngebut nyetirnya..",
"Iya Dad..
Cepetan sembuh kesayangan Moma.., kita ke toko mainan deh kalo udah sehat..", cubitnya pada pipi Javas.
"Beneran ya Moma..",
"Iya ganteng.., pilih mainan sesuka kamu..",
"Mahal.., nggak apa-apa..?",
"Boleh.., tapi Moma minta ganti sama dad..",
"Yah...",
"Bercanda..,
pokoknya Jaz harus sembuh dulu.., oke..",
"Oke..., bye Moma..",
"Bye tuyul...", ucap Sharen yang menirukan julukan yang Javas sematkan pada Jaz.
"Permisi Bu..",
"Ya dok..",
"Bu Aira.., saya bisa minta izin?",
"Izin apa dok?",
"Begini.., nanti siang rencananya pacar saya mau mampir, kebetulan dia lewat daerah sini. Diizinkan..?",
"Oh..,gitu ya..
Silahkan.., saya sama sekali nggak keberatan..",
"Cuma mau tau tempat kerja saya saja Bu.., nanti juga ngobrolnya nggak di dalam, tapi di taman depan saja..",
"Loh.., nggak apa-apa diajakin masuk aja dok.., masa iya tamu, tapi nggak disuruh masuk...",
"Nggak usah Bu, nanti merepotkan...",
"Nggak sama sekali dok.., iya kan mas..?",
"Iya sayang..",
"Terima kasih Bu.., pak..",
"Dad.., pengen ke kamar..", rengek Jaz.
"Ngantuk ya?",
"Pengen ke kamar aja Dad..",
"Ya udah, yuk..., mom sama Dad temenin ya sayang..", Aira berdiri dari duduknya. Dan, dengan cekatan Rendra membantu istrinya. Meskipun, dalam keadaan sedang menggendong Jaz.
Pemandangan tersebut tidak luput dari penglihatan Javas serta dokter Kinara. Tidak perlu diragukan lagi bukti cinta Rendra untuk Aira. Dari matanya saja, sudah bisa berbicara jika Rendra memang benar sangat mencintai istrinya.
Javas berdiri ketika makanannya sudah habis. Kinara yang memang sadar diri jika dirinya hanyalah orang lain yang sudah diperlakukan layaknya keluarga. Langsung mengambil piring bekas makan Javas, membantu maid yang membereskan makanan.
"Anda disini dokter.., bukan maid..", ucap Javas.
"Nggak apa-apa mas.., ini kan cuma bantuin aja..",
"Dikasih tau, tapi ngeyel..",
"Bukan ngeyel, tapi cuma bantuin si mbak aja kok..",
__ADS_1
"Yayaya..terserah..",
Kinara hanya tersenyum menanggapi ucapan Javas yang terdengar dingin untuknya.
"Mbak dokter.., tapi mas Javas bener..",
"Udah nggak apa-apa.., biar cepet selesai kerjaannya.., aku bantuin bawain piring kotornya ke belakang..",
Kinara berdiri di depan gerbang, menunggu kedatangan kekasihnya. Sebelumnya, Kinara sudah memberikan alamat lengkap serta share lokasi. Namun, karena pagar rumah milik Keluarga Rendra Perdana yang tinggi dan tertutup. Kinara tidak yakin jika kekasihnya bisa menemukan rumah ini.
"Bang...",
"Lama ya nunggunya..",
"Lumayan.., yok masuk..
Pak.., minta tolong buka pagarnya ya..", mintanya pada security yang berjaga.
Pemuda yang bernama Firman itu sedikit takjub dengan penampakan rumah. Megah, mewah, indah tidak cocok disebut sebagai rumah tapi istana.
"Gede banget dek rumahnya..",
"Iya bang.., namanya juga orang kaya..",
"Udah izin sama yang punya rumah?",
"Udah.., mereka ngizinin. Maaf ya nggak diajak masuk.., adek nggak enak..",
"Nggak apa-apa.., disini aja...
Abang kan cuma mampir aja..",
"Ini apa..?", tanyanya pada paper bag yang diberikan Firman untuknya.
"Oleh-oleh.."
"Makasih ya Bang..",
"Sama-sama..
Jaga kesehatan ya.., jangan sampe sakit...",
"Nggak dong.., kalo adek sakit.., yang nyakitin Abang, siapa dong..",
"Bisa aja kamu..",
"Ibu sama bapak, sehat.??",
"Alhamdulillah sehat..",
"Mereka nggak nanyain aku ya..",
"Sabar ya...",
"Kenapa orang tua abang.., nggak bisa terima aku?",
"Bukan nggak bisa.., tapi belum. Nanti juga pasti ada waktunya kok..",
"Kapan..?",
"Ya sabar aja.., nanti tiba saatnya.
Kamu kapan bisa kerumah? ",
" Kapan aja bisa sih bang, tapi kina aja yang males. Tiap kesana, wajahnya ibu kecut.., bapak juga kayaknya nggak suka..",
"Kalo bapak tergantung sama ibu dek.., Abang pasti berusaha supaya kita dapet restu, terus kita nikah..",
"Hmmmmm.., ya Kina juga udah nggak berharap banyak. Kita jalanin aja..",
Mengobrol sekitar tiga puluh menit, dan akhirnya Firman meminta izin untuk pamit.
"Abang pengen tau tempat kerja kamu, siapa tau kapan-kapan bisa mampir lagi.."
"Iya bang.., makasih ya udah ditengokin.
Ini aku nitip buat nenek.., ini buat Abang, sama bapak ibu, semoga suka..",
"Apa ini..?"
"Bukanya nanti aja dong kalo sampe rumah.
Sampein nenek ya bang, Kina disini baik-baik aja..",
"Iya sayang.., kamu jaga diri baik-baik..",
"Hati-hati.., kalo udah sampe kabarin ya..",
Dari balkon kamarnya, Javas melihat Kinara dan seorang laki-laki yang sepertinya pernah dia lihat sebelumnya. Meski dari jarak yang cukup jauh, namun Javas bisa melihat dengan jelas. Kinara mencium tangan laki-laki itu sebelum keduanya berpisah. Kinara melambaikan tangannya ketika mobil yang dikendarai kekasihnya mulai melaju meninggalkan halaman rumah.
Javas tersenyum dengan menggelengkan kepalanya.
"Cantik, santun, tapi suka bantah. Sayangnya, kita terlambat bertemu..", ucapnya lirih.
Keputusannya tinggal dirumahnya kembali sepertinya adalah sebuah tantangan yang harus dia jalani. Bertemu setiap hari dengan Kinara sama saja menguji kesetiaannya untuk Mine. Tapi, Javas juga ingin selalu dekat dengan keluarganya tercinta. Toh, setelah mommynya sembuh, dokter Kinara tidak akan lagi tinggal di rumahnya.
__ADS_1
Semoga kuat ya Vas..😉