Istri Pura - Pura ( Bukan Perawan Tua )

Istri Pura - Pura ( Bukan Perawan Tua )
Bodo Amat


__ADS_3

Berkendara hampir satu jam. Keduanya akhirnya sampai. Nathan yang hendak menurunkan Sharen di depan loby, langsung di hujani pertanyaan.


"Kenapa berhenti disini?


Emangnya boleh parkir disini?


Kan nggak ada petugas valetnya...",


"Iya emang nggak ada, kamu turun disini dulu. Sementara aku parkirin mobilnya..",


"Terus aku sendirian gitu?",


"Nanti aku susul...",


"Nggak mau aku..",


"Terus maunya gimana?",


"Menurut kamu..?",


"Kamu mau ikut aku ke parkiran?",


"Gitu juga boleh..",


Sebenarnya, Sharen memang tidak ingin masuk ke dalam seorang diri. Mau berucap terus terang, tapi gengsi.


"Padahal enakan kamu turun dulu, nanti kan aku bisa nyusul. Parkirannya agak jauh loh Sha..",


"Nggak apa-apa..",


"Kamu manja juga ya..",


"Aku cuma nggak mau aja, didalem sendirian...kan katanya kamu mau nemenin, jangan setengah-setengah dong..",


"Oh..nggak bisa jauh dari aku maksudnya..?",


"Nath..bisa nggak sih jangan godain aku terus..",


"Yang godain siapa? bukannya kamu?",


"Mana pernah aku godain kamu..",


"Emang nggak pernah, tapi kamu selalu bikin aku tergoda sama kamu..",


"Apain sih, nggak jelas..",


"Udah yuk..turun...",


Mereka berdua menghadiri acara pernikahan sekaligus resepsi salah satu putra dari kolega Prime grup. Daddy Rendra berhalangan hadir, Javas pun begitu. Jadi Sharen yang mewakili dan ditemani oleh Nathan.


"Ada barcode nya mbak?",


"Oh iya.., ini mbak...", Sharen memberikan ponselnya pada panitia acara.


"Saya scan dulu...


Undangan atas nama bapak Rendra Perdana Prime grup ya mbak..",


"Iya mbak..., betul..",


"Undangan untuk dua orang, silahkan di meja VIP-F...",


"Baik mbak, terima kasih..",


"Ada pemberian untuk kedua mempelai?",


"Transfer saja mbak..",


"Baik..terima kasih..


Silahkan..",


Sharen dan Nathan, masuk ke dalam gedung resepsi pernikahan. Duduk satu meja dengan orang yang sudah mereka kenal. Sama, juga kolega dari Prime grup.


"Pak Nathan.., apa kabar? kapan kembali ke Indonesia?",


"Kabar baik pak...


Dua Minggu yang lalu...",


"Gabung di Prime grup lagi..?",


"Saya masih bagian Prime grup, tapi dengan posisi yang berbeda..",


"Oh.., sudah berubah jadi calon mantunya pak Rendra?", tanyanya dengan melihat ke arah Sharen.


Nathan hanya tersenyum. Tapi, seperti menyiratkan dia membenarkan ucapan rekannya.

__ADS_1


"Kapan menyusul pak?",


"Doakan saja pak...",


Sharen langsung memandang Nathan dengan wajah sinisnya. Sayangnya, Sharen tidak bisa memberikan protesnya. Sepertinya kurang patut jika dia ribut dengan Nathan, apalagi di hadapan rekan bisnisnya.


"Mbaknya model kan?", tanya istri rekan bisnis tersebut.


"Iya Bu...",


"Pantesan, saya sering liat.., ternyata lebih cantikan aslinya...",


"Makasih Bu...",


"Jadi, ini ya calonnya? serasi sekali mbak..., mbaknya cantik, masnya ganteng...",


Sharen hanya tersenyum. Bukan berarti mengiyakan, tapi Sharen malas untuk menjelaskan.


Menikmati satu persatu hidangan yang disajikan oleh pemangku hajat. Sharen dan Nathan memang terlihat sangat cocok menjadi seorang pasangan. Apalagi, Nathan yang terlihat perhatian pada Sharen. Meskipun hanya terlihat membukakan air mineral dan menuangkannya ke gelas Sharen, tapi itu terlihat sangat manis.


"Jangan dimakan.. ini pedes Sha.., nggak cocok sama perut kamu..", ucap Nathan yang memang mencoba makanannya terlebih dahulu.


Sharen langsung meletakkan kembali sendok yang sudah dipegang oleh tangannya.


Nathan mengangkat tangannya, dan dengan sigap pelayan langsung datang ke meja mereka.


"Mbak.., tolong diambil aja ya. Bisa minta hidangan selanjutnya nggak?",


"Baik mas.., mau satu atau dua porsi..?",


"Satu aja mbak...",


"Baik.., mohon ditunggu..",


"Makasih mbak..",


Sharen hanya diam, melihat Nathan. Ternyata benar kata Daddynya. Belum ada laki-laki yang memperhatikan Sharen, lebih dari apa yang Daddy dan Nathan lakukan untuknya.


Jamuan selesai, dan waktunya acara hiburan. Nah, ini adalah waktu dimana acara pernikahan biasanya berubah menjadi ajang pertemuan para klien.


Sharen tampak bercakap-cakap dengan kliennya yang lain.


"Iya pak, kemarin Daddy lagi meninjau lokasi, tapi belum final. Mau dikaji ulang, itu kan masih tanah basah, jadi masih mikir-mikir..jadi diambil apa nggak..",


"Ambil aja mbak, itu lokasinya strategis.., masalah perizinan soal gampang....",


"Daddy masih mempertimbangkan pak.., semua keputusan ada di tangan Javas..",


"Iya pak, terima kasih. Nanti saya sampaikan ke Javas atau Daddy...",


Sharen tidak nyaman dengan Nathan yang berdiri di belakangnya, namun dengan jarak yang sangat dekat, seperti memeluknya. Menjaga sih boleh saja, tapi tidak seperti ini.


Barulah, saat rekan bisnisnya berdiri agak berjarak Sharen mengomel pada Nathan.


"Nath, kamu apa-apan sih?",


"Kamu lagi dapet ya Sha..?",bisik Nathan


Sharen langsung diam. Dia langsung mengerti apa yang Nathan maksudkan.


"Nath.., tembus ya..?",


"Iya.., keliatan Queen...",


"Yah.., terus gimana dong Nath..", ucap Sharen yang langsung panik.


"Nggak apa-apa, kan udah aku tutupin...",


"Nggak usah naik ke pelaminan ya Nath..",


"Iya nggak.., kan kamu belum mau sama aku...",


"Nath.., aku serius..",


"Aku juga serius sama kamu..",


"Maksudnya nggak usah ngucapin selamat ke pengantinnya..",


"Iya..iya nggak usah..",


"Ya udah, kamu tetep dibelakang aku ya.., aku malu..",


"Iya cantik.., tenang aja..",


"Balik aja yuk Nath, aku risih...",


"Oke..ayo acaranya juga kayaknya mau selesai..keburu orang-orang pada balik..",

__ADS_1


Nathan melepas jasnya.


"Sha.., kamu pake jas aku aja ya.., buat nutupin..",


"Nggak Nath..kotor nanti..",


"Nggak apa-apa...


Mau aku pasangin???", ucapnya memberikan jasnya pada Sharen.


Sharen menggeleng.


"Aku bisa sendiri...", ucapnya dengan melilitkan kedua lengan ke pinggangnya.


"Sha.., kamu tunggu disini aja ya. Aku ambil mobil...",


"Aku ikut aja Nath..",


"Nggak usah, disini aja ya. Tunggu dulu...",


Nathan meninggalkan Sharen. Dia bergegas menuju parkiran mobil.


Nathan membukakan pintu belakang untuk Sharen, tapi tanpa dia sangka. Sharen justru menuju ke pintu depan dan masuk ke dalam mobil. Sharen duduk disamping kemudi. Nathan tersenyum, dengan sedikit berlari dia masuk ke dalam mobil.


"Mau langsung pulang..?",


"Iya.., emang mau kemana? keadaan kayak gini...",


"Sakit banget ya Sha.., sampe tembus gitu..",


"Nggak juga..udah biasa. Ini baru hari ketiga..jadi masih banyak..",


"Aku boleh ge-er nggak sih Sha..?"


"Kenapa?"


"Kamu pindah ke depan, karena mau Deket sama aku?",


"Lebih dari dua jam tadi di dalam gedung, juga duduknya deketan sama kamu Nath.., nggak ge-er juga?"


"Nggak sih, kalo itu kan karena emang nggak ada pilihan tempat duduk lagi..",


"Aku kan tembus, kalo duduk di belakang, takutnya nanti malah tembus disitu....",


"Di depan juga bisa tembus Sha..",


"Lebih gampang bersihin kursi depan..., udah nggak usah bawel. Moga aja nggak tembus ke kursi, ini mobil kesayangan Dad..",


"Iya-iya..",


Nathan mengiyakan perkataan Sharen yang sebenarnya tidak masuk di akal dan lebih pas dikatakan jika dia mengelak.


Ngomong-ngomong soal mobil kesayangan. Mobil yang saat ini dikendarai oleh Nathan adalah salah satu mobil kesayangan Daddynya. Sebuah mobil BM*W dengan seri M8 yang harganya mencapai milyaran, kini mempunyai sopir baru. Mobil yang tidak pernah sekalipun dikendarai oleh driver dirumah, kecuali saat sedang dibersihkan, diisi BBM atau servis. Mobil yang dirawat seperti anak sendiri kini dilepas Daddy dan boleh dikendarai oleh seorang Nathan yang notabene adalah pegawai kantornya. Sebegitu besarnya pengaruh Nathan dan betapa percayanya Daddy kepada pemuda itu?


"Kok kamu bisa pake mobil ini Nath?",


"Aku yang milih.., kata Om Rendra pake mobil yang di rumah kamu aja perginya.., dan aku pilih ini...",


"Boleh sama Daddy?", tanya Sharen dengan nada bicara yang tidak biasa.


"Lah..ini boleh....",


Javas aja yang tempo hari mau pinjem, nggak dibolehin, tapi kamu dibolehin....


"Kenapa kaget gitu..?",


"Nggak apa-apa..",


"Oh...


Kamu cantik banget hari ini..",


"Nggak usah mulai deh..",


"Beneran, kamu cantik..",


"Nggak usah berharap kalo kita ini bisa pacaran ya Nath.., nggak..",


"Aku emang nggak mau pacaran sama kamu. Mau sih, tapi kalo kita pacaran nggak usah lama-lama. Begitu kamu bisa terima dan balas cintaku, nggak perlu mikir panjang lagi. Aku lamar kamu, dan kita nikah..",


"Mulai ngaco..",


"Aku nggak bisa kehilangan kamu lagi...",


"Bodo amat..",ucap Sharen langsung menyalakan audio car. Daripada mendengarkan ucapan Nathan yang membuat sakit kepala, lebih baik dia mendengarkan lagu yang bisa menghiburnya.


*Dikit lagi ya Sha..aku pasti bisa dapetin hati kamu..

__ADS_1


Bab selanjutnya ada POV Nathan...


wait ya*..


__ADS_2