
Keputusan Sharen untuk melanjutkan study nya ke Aussie, sebenarnya tidak mendapatkan dukungan penuh dari keluarganya, terutama sang Mommy yang merasa sangat berat melepaskan putri satu-satunya. Tapi, Daddy selalu meyakinkan Mommy jika keputusan Sharen adalah keputusan yang terbaik.
Hari ini adalah waktu dimana Sharen harus meninggalkan tanah air. Keluarga besarnya mengantarkan kepergiannya sampai ke bandara.
Oma menangis. Beliau tidak kuasa menahan kesedihannya, melihat cucu perempuan satu-satunya pergi. Meskipun, kesehariannya mereka juga jarang bertemu, tapi Sharen adalah cucu pertamanya, sekaligus cucu perempuan satu-satunya.
"Oma jangan nangis dong, Sha kan kesana mau sekolah lagi.., 3 bulan lagi ketemu ya.., Sharen pulang liburan...",
"3 bulan kan lama Sha..",
"Bentar kok..
Oma sehat terus ya, minta Om Revan buat ngurus Visa Aussie, nanti kita jalan-jalan bareng disana..",
"Oma pasti kangen sama kamu..",
"Jangan nangis dong..", Sharen mengusap air mata Oma.
"Nanti kalo udah sampe disana, kabari Oma ya..",
"Pasti Oma..",
Jaz yang biasanya pecicilan juga saat ini seperti orang yang lunglai tidak mempunyai tenaga.
"Adik kak Sha kok diem aja daritadi, kenapa..?",
"Nanti yang belain Jaz kalo diusilin kak Javas, siapa kak? kalo Kak Sharen pergi..?",
"Kak Javas udah nggak usil lagi ke kamu, kan udah ada Zee yang bisa diusilin...",
"Jaz nggak punya kakak perempuan lagi dong.., kak Sha kapan pulangnya..?",
"Kan masih ada kak Kina, ada kak Chelsea, itu kan kakak Jaz juga...
Kak Sha nanti pulangnya 3 bulan lagi ya. Pas banget sama libur sekolah kamu. Nanti kita liburan bareng ya, kamu mau kemana?",
"Abis 3 bulan, kak Sharen nggak pergi lagi kan?",
"Pergi dong, abis itu kan lanjutin kuliah...",
"Kenapa nggak disini aja kak..? Jaz sedih...", peluknya pada sang kakak.
"Cup..cup..cup..
kakak kesana kan buat sekolah. Hmmm, nanti Jaz kalo udah gede pasti juga ngerasain. Harus jauh sama Mommy Daddy buat sekolah lagi..",
"Hmmm..
nanti kirim PAP ya..kalo udah sampe..",
"Oke bos...",
Javas terlihat tegar dibandingkan keluarga yang lain. Bukannya tidak sedih, tapi dialah orang yang 100% mendukung keputusan Sharen. Javas bahkan yang membelikan tiket untuk kakaknya. Dia juga yang mencarikan Apartement yang paling dekat jaraknya dengan sekolah modelling yang akan diikuti oleh kakaknya.
"Jaga kesehatan, pokoknya di sana harus happy.., nggak boleh sedih-sedih lagi ya...",
"Hmmmm..iya makasih adikku..
jadi suami sama papa yang baik buat Kina sama Zee ya..",
"Pasti kak..
__ADS_1
kalo kehabisan uang, bilang ke Javas ya, nanti ditransfer..",
"Nggak lah, duit kakak juga banyak, udah dikasih sama Daddy...
Kamu kok kayak nggak keliatan sedih sih ditinggal sama kakak..",
"Bukan gitu, tapi Javas lega aja. Kakak bisa lewatin ini semua.., pergi bukan berarti menghindar, tapi melupakan itu perlu..",
"Iya Vas..
ya udah.., kakak pergi dulu..
Kamu cepetan masuk kantor, biar Daddy nggak perlu kerja..",
"Iya, lusa Javas masuk kak..",
"Titip Mommy sama Daddy ya Vas..",
"Iya, Javas pasti jagain mereka..",
Sharen bergeser ke samping, mendekati adik ipar yang menggendong keponakan lucunya.
"Na..kakak pergi ya..",
Kinara tersenyum, tapi dia langsung mewek.
"Loh..kok nangis, Ze nanti bangun...",
"Hati-hati ya mbak...
Na pasti kangen banget..., jaga kesehatan ya.., jangan lupa minum vitamin yang udah Na siapin...",
Kinara mengangguk, sambil menyeka air matanya.
"Keponakan ganteng aunty..,
aunty Sha pergi dulu ya sayang..
nanti balik-balik liat kamu udah gede deh, pasti nanti udah bisa denger kamu ngoceh-ngoceh ya..", Sharen mencium gemas Zee yang tidur dalam gendongan Kinara.
Melepas putri semata wayangnya seorang diri untuk tinggal di negara tetangga, tentunya hal yang berat untuk Daddy dan Mommy. Untungnya, mereka masih mempunyai "orang-orang" disana yang bisa mereka mintai tolong untuk membantu mengawasi Sharen.
"Anak mommy baik-baik disana ya. Kalo nggak ada perlu, nggak usah keluar. Nggak usah masak, nggak usah laundry, pokoknya kamu seneng-seneng aja disana..",
"Iya mommy....nanti uang bulanannya kasih yang banyak ya..",
"Kamu tuh, mommy lagi sedih malah ngajakin bercanda..",
"Beneran, Sha minta yang banyak ya uang bulanannya..",
"Iya, nanti dikasih sama Daddy...",
Sharen memeluk Daddynya dengan erat. Yah, mereka memang tidak pernah berpisah lama. Terakhir, saat Sharen pergi liburan keluar negeri setahun yang lalu.
"Inget pesan Dad ya, kalo ada apa-apa langsung hubungi orang Daddy di sana ya, biar mereka yang bantu kamu..",
"Iya Dad, makasih..",
"Baik-baik disana sayang..",
"Pasti Dad...",
__ADS_1
"Van.., dijagain kakaknya ya..",
"Oke Dad..", jawab Vano.
Mereka berdua, Sharen dan Vano melambaikan tangan kepada keluarganya.
"Liat deh yang, aku jadi inget dulu. Waktu kak Rendra jemput aku ke Indonesia, terus dia ngajak aku tinggal di Aussie waktu hamil Vano..", ucap Vina.
"Maaf sayang..", ucap Zein yang merasa bersalah ketika dulu dia sempat meninggalkan Vina.
"Its oke, yang penting sekarang kita bisa sama-sama lagi...",
"Sha......", suara laki-lami berteriak memanggil nama Sharen.
Sharen dan Vano menoleh.
Sharen berhenti, dia menunggu Tama yang berlari kepayahan. Tama hampir saja terlambat datang.
"Sha.., kenapa nggak nunggu aku..", ucapnya ngos-ngosan.
"Aku kira kamu nggak bisa kesini...",
"Aku barusan....",
"Iya aku ngerti nggak apa-apa..",
Tidak perlu menjelaskan lagi. Tama yang saat itu mengenakan kemeja batik memang harus membagi waktu untuk kedua sahabatnya. Untuk Sharen dan Nathan.
"Tam..aku pergi dulu ya..",
"Jaga diri baik-baik ya...
Disana nggak ada aku yang bisa antar kapan dan kemana aja kamu pergi..",
"Makasih buat waktu yang selama ini kamu kasih buat aku..., makasih selama ini udah jadi orang yang selalu ada buat aku ya Tam..",
"Sama-sama..
cepetan balik ke indo lagi ya..",
"Iya, 3 bulan lagi aku balik..bentar doang kan..",
"Hmmmm.., bagimu.
Nanti kalo udah sampe jangan lupa hubungi aku.., kasih kabar..",
"Kamu orang kesekian yang bilang gitu..",
"Ya nggak apa-apa..
Good bye Sha.., take care...",
Duduk di bisnis class. Sebentar lagi Sharen akan bertolak dari Indonesia menuju Sydney. Beberapa jam kedepan dia akan memasuki babak kehidupan barunya. Menjadi murid salah satu sekolah modelling disana, dan hidup mandiri jauh dari orang tua dan keluarganya.
"Nath..aku pergi ya...
Hari ini kita sama-sama memasuki kehidupan baru. Aku pergi buat lupain semuanya yang sudah terjadi disini, tapi bukan melupakan kisah kita. Aku akan tetap mengenangnya, menjadi salah satu bagian hidup terbaik yang pernah ada. Sedangkan hari ini kamu memulai kehidupan dengan perempuan pilihan kamu. Semoga kamu bahagia ya Nath..,
Terima kasih kamu udah hadir dalam kehidupanku. Meskipun kisah kita nggak sempurna, tapi setidaknya aku pernah merasakan cintamu yang sempurna buatku.
Selamat tinggal Nath..", ucapnya dalam batin, sambil memegangi liontin dari kalung yang dipakainya, kalung pemberian dari Nathan.
__ADS_1