
Sharen melajukan mobilnya menuju Apartement milik Nathan, tempat dia tinggal sekarang.
Selain penasaran dengan keadaan Nathan, Sharen juga ingin mengembalikan jas yang tempo hari Nathan pinjamkan pada Sharen.
Sharen memencet bel pintu, hanya beberapa detik Nathan langsung membukakannya.
"Nyasar nggak tadi..?",
"Aku kan udah sering kesini, dulu tapi...",
"Hmmm iya..
masuk yuk...",
Sharen masuk, sambil mengamati Apartement Nathan. Tidak ada yang berubah, hanya saja foto-foto yang terpampang disana sudah sedikit berubah. Ada beberapa foto Sharen disana. Seorang hingga berdua bersama Nathan.
"Ini kenapa fotoku dipajang disini?"
"Kamu kan model.., aku fans nomor satu..",
Tanpa dipersilahkan, Sharen langsung duduk di sofa sambil meletakkan paper bag yang berisi jas milik Nathan.
"Dasar bohong...", ucap Sharen.
Nathan duduk di samping Sharen tanpa memberikan jarak, sejengkalpun.
"Apa sih cantik..?", tanya Nathan.
"Kamu bohong kan?
katanya sakit..?kok wangi..?", omelnya.
"Lah, kamu kan mau dateng. Masa iya putri bersandingnya sama kurcaci, ya harus sama pangeran lah..., kamu cantik, masa iya aku buluk..",
"Alah bohong..",
"Kalo ngomong tuh ditatap lawan bicaranya, kamu ngomong sama aku, tapi mandangnya ke depan. Aku disamping kamu, sa....yang...",
Sharen memang tidak berani menatap Nathan, apalagi dalam jarak dekat seperti ini.
"Sharen....sa...yang...",
"Kamu dulu nggak kayak gini deh, genit banget..",
"Genit sama siapa? sama kamu..? ya jelas lah, aku cinta sama kamu..",
"Tapi aku nggak..",
"Sayangnya aku yakin kamu nantinya juga cinta sama aku. Ya nggak nanti sih, ini juga bisa juga kamu udah cinta, tapi malu..,atau gengsi ngakuinnya..",
"Bodo..
pokoknya kamu bohong..",
Nathan yang gregetan, langsung memutar pundak Sharen, dan kini mereka saling bertatapan. Perlahan, Nathan mendekatkan wajahnya pada Sharen yang seketika membuat bulu kuduk gadis itu berdiri.
__ADS_1
"Mau bukti..?", ucap Nathan sangat....lembut.
Seperti terhipnotis, Sharen hanya diam.
Semakin mendekatkan wajahnya, namun bukan ingin mencium Sharen. Nathan langsung meraih tangan Sharen dan dia taruh di keningnya.
"Astaga Nath.., kok panas banget...",
"Baru percaya kan?",
"Kamu demam..?",
"Iya, gara-gara virus cinta kamu Sha..",
Sharen mendorong pelan pundak Nathan.
"Nath.., ih serius...",
"Aku juga serius..",
"Udah minum obat belum..?",
Nathan menggeleng.
"Udah sarapan kan..?",
"Aku baru bisa bangun, punya tenaga gara-gara denger suara kamu.., jangan kan makan, ngambil minum aja aku nggak bisa.."
"Jadi belum makan atau minum obat Nath..",
"Belum sayang..",
"Kamu khawatir sama aku ya Sha..",
"Nggak...",
"Nggak khawatir sama sekali..?",
"Ya siapa sih nggak khawatir kalo liat sahabatnya lagi sakit..?",
Nathan menghirup nafasnya panjang. Dia meraih tangan Sharen lalu menggenggamnya.
"Kenapa sih? kamu nggak percaya kalo aku ini tulus sama kamu? aku cinta sama kamu..? kapan kata-kata sahabat bisa berubah jadi orang yang kamu cinta..?",
Sharen diam, dia menatap Nathan dengan seksama.
"Tepatin janji yang kamu buat. Buka hati kamu buat aku Sha.., biarin aku masuk...",
"Nath.., ngomong apa sih...?", Sharen melepas tangan Nathan, dia beranjak dari duduknya.
Nathan tidak tinggal diam. Dia mengikuti Sharen, dan....memeluk Sharen dari belakang.
"Please.., jangan lepasin Sha.., aku pengen kayak gini.., bentar aja..",
Sharen berdiri mematung. Ini memang bukan pelukan pertama mereka. Tapi, ini pelukan pertama ketika perasaan mereka sudah tidak lagi sama.
"Di kulkas ada apa? aku masakin..",
"Aku nggak laper...",
__ADS_1
"Nathan... lepasin...",
Sharen melepaskan pelukan Nathan, dan kali ini tidak ada penolakan. Tapi, sepertinya salah. Justru, Nathan memutar tubuh Sharen, dan kembali memeluknya. Kali ini dalam posisi mereka yang saling bertatapan.
"Sha.., kali ini izinin aku buat maksa kamu. Aku nggak mau kehilangan kamu lagi...", ucapnya.
Sharen kembali mematung. Sungguh, ini bukan Nathan yang dia kenal dulu. Nathan yang sekarang lebih agresif dengan mengutarakan perasaan kepadanya.
"Nath..",
Nathan menuntun satu persatu tangan Sharen ke pinggangnya.
"Hmmm.., apa cantik..?",
"Lepasin..",
"Nggak aku mau kamu peluk..., abis ini janji aku bakalan sembuh..",
"Mana bisa kalo kamu nggak mau makan sama minum obat..?",
"Kamu obat dari segala obat sayang..",
"Sejak kapan namaku berubah..?",
"Udah dari lama..",
Kamu nepatin janji kan?",
"Janji apa..?",
"Buka hati kamu buat aku ya.., kasih kesempatan itu buat aku..",
Sharen mengeratkan kedua tangannya pada pinggang Nathan.
"Sha...",
Sharen masih diam.
"Sayang...",
"Iya.., aku kasih kesempatan buat kamu...",
"Kalo gitu, aku mau kamu jawab jujur..."
"Apa..?",
"Kamu sayang nggak sama aku..?",
"Aku...hmmmmm...."
"Jawab aja.., sayang nggak.."
"Sayang..., tapi..."
"Nggak ada kata tapi...."
Nathan mempererat pelukannya. Tidak peduli embel-embel kata tapi yang akan dikeluarkan oleh Sharen. Yang pasti, Nathan tahu jika Sharen menyayanginya. Sakitnya membawa berkah untuknya. Benar - benar kesempatan dalam kesakitan namanya.
Bab selanjutnya masih di Apartement loh. Malam ini baru bisa segini, Author lagi riweuh.
__ADS_1
"Kesempatan dalam kesakitan ", tadi ada yang komen kayak gini, makasih ya Author jadiin judul babnya. ( Lupa namanya siapa tadi, hehe )