Istri Pura - Pura ( Bukan Perawan Tua )

Istri Pura - Pura ( Bukan Perawan Tua )
Pergi..


__ADS_3

Kinara buru-buru keluar dari mobil. Dia ingin segera bertemu dan mengetahui keadaan neneknya.


"Mang..makasih ya udah dianter. Mamang langsung balik aja, nggak apa-apa..",


"Nggak perlu saya tungguin, non..?",


"Nggak usah..",


"Kalo gitu, saya bawain kopernya non...",


"Nggak usah mang, makasih..saya bisa sendiri. Oh ya, ini uang bensin buat mamang. Hati-hati ya mang, udah malem soalnya..",


"Iya non..terima kasih..",


Kinara menyeret kopernya, dengan langkah lebar dia menuju kamar rawat neneknya.


"Assalamualaikum...", salamnya yang langsung disambut oleh sang Tante.


"Waalaikumsalam, Na..udah sampe..?",


"Gimana sama nenek Tan..?",


"Udah bisa tidur.., tadi sesek nafasnya..",


Kinara menghampiri sang nenek, lalu memeriksa keningnya.


"Panas..Tante..",


"Iya.., tekanan darahnya malah turun...",


"Tiba-tiba drop, atau gimana?",


"Ya, kayak biasanya. Katanya pegel, punggungnya minta dibalurin minyak angin. Udah enakan tapi tadi tiba-tiba ngeluh kalo pusing. Tante cek, ternyata demam tinggi..",


"Ya Allah.., kasian nenek..",


"Na..., kamu sendiri? mas Javas mana?",


"Mas Javas ada meeting tadi Tan, sampe malem. Ya udah, Kina minta dianterin sopir aja.., besok mudah-mudahan bisa kesini..",


"Sibuk banget ya suami kamu..


kalian baik-baik aja kan?",


"Baik Tan..",


Dilihat - lihat, Kinara memang sudah berubah. Penampilannya sudah berbeda dari yang sebelumnya. Semakin terlihat cantik, apalagi barang-barang yang dipakainya terbilang bukan barang sederhana lagi, tapi mewah.


"Malahan bukan kamu yang tadi ditanyain, tapi mas Javas..",


"Mas Javas..?",


"Hmmm..nenek pengen ketemu katanya..",


"Iya, nanti Kina bilangin sama mas Javas ya Tan..",


"Kamu udah makan belum?",


"Udah.., tadi Kina kan udah mau siap-siap tidur..",


"Maaf ya, Tante ganggu malem-malem. Tante niatnya cuma ngabarin, seharusnya kalo kamu mau pulang, ya besok aja..",


"Nggak apa-apa, Kina justru nggak bisa tidur kalo belum tau keadaannya nenek..",


"Tante udah ngajuin cuti, buat nemenin Nenek Na..",


"Loh..kenapa? nggak perlu kayaknya Tante. Kina kan ada disini, Kina nemenin nenek sampe nenek sembuh..",


"Ya..kamu kan punya suami. Kasian mas Javas kalo kamu kelamaan disini..",


"Mas Javas juga sibuk Tan...",


"Ya namanya juga pengusaha, kan emang gitu kerja nya. Kamu juga harus ngerti..",


"Iya..Kina selalu ngerti kok..sabar banget malahan..",


"Persis kayak ibumu. Mau diapain bapakmu, kelakuan bapakmu kayak gimana pun, ibu kamu tetep maafin...",


"Keturunan ya berarti Tan..?",


"Iya.., cinta sama bodoh kan emang tipis Na..",


Kina diam. Dan, tertohok oleh ucapan tantenya barusan. Selama ini memang dia bersikap bodoh dengan terus-terusan memaafkan Javas, suaminya. Bukan hanya karena dia cinta, tapi bukankah rumah tangga memang harus seperti itu? Tapi, tapi.... Javas kan melakukannya berulang kali. Apakah masih pantas jika disebut sebuah kesalahan?

__ADS_1


Javas kini sedang disidang dan diadili oleh kedua orang tuanya. Mom dan Daddy nya menilai sikap Javas sudah keterlaluan kali ini. Membiarkan istrinya pergi malam-malam hanya diantar oleh seorang sopir dengan bermodalkan kepercayaan. Lantas, bagaimana jika terjadi sesuatu dengan istrinya? Apa Javas akan terima? Apa dia tidak mengamuk nantinya?


"Beruntung kamu Vas, istri kamu itu Kinara. Coba.., kalo istri kamu itu sama sifatnya sama mommy.., udah ditinggal kabur kamu..",


"Jangan doain yang jelek-jelek mom...",


"Kamu tuh pemilik perusahan. Kamu bisa mimpin ribuan orang, tapi jagain satu istri aja nggak sanggup. Ini, sok-sokan mau nambah lagi..",


"Nggak ada yang mau nambah istri Mom..",


"Kalo sikap kamu kayak gini terus Vas.., mendingan kamu cerain Kina aja. Biar dia bahagia sama hidupnya sendiri. Dad, malu..., punya anak laki-laki tapi nggak bisa buat bahagia istrinya sendiri...",


Dad, langsung berdiri meninggalkan Mommy dan Javas yang terlihat shock dengan perkataan Daddy. Selama ini Dad memang enggan untuk ikut mencampuri urusan rumah tangga Javas yang dianggapnya sudah dewasa. Barulah, kali ini Daddy mengungkapkan pendapatnya dan meminta Javas untuk bercerai.


"Syukurin.., udah tau kan gimana kalo Dad udah marah sama kamu? Nggak perlu lagi ada kata-kata kasar, tapi Dad udah pasti nanti bakal ambil tindakan. Kalo kamu tetep kayak gini, bukan kamu yang disuruh ngajuin gugatan, tapi Kina. Kamu belum tau rasanya gimana kalo orang sabar marah kan? ngeri Vas..",


Javas diam.


"Kamu udah tanya, Kina udah nyampe atau belum..?",


"Udah..",


"Kamu pikir lagi Vas, apa nasehat yang Dad kasih ke kamu tadi. Dad, bukan nyuruh jamu cerai, tapi kalo kamu nggak bisa bahagiakan Kina, mending kamu lepasin aja. Mom..juga nggak tega liat Kina sedih terus..",


"Sampai kapanpun mom, Kina itu istri Javas. Nggak akan Javas lepas..",


"Halah, cuma dibibir doang.., Mommy sih nggak percaya sama kata-kata kamu..",


Mommy langsung meninggalkan putranya. Lagi-lagi Javas dibuat berpikir. Dia takut dengan nasehat yang Dad berikan untuknya. Takut, jika Daddy akan mengambil tindakan dan memaksa Kinara untuk mengakhiri pernikahan mereka.


...*********...


Keesokan paginya, nenek yang sudah beristirahat semalaman, terbangun ketika mendengar azan subuh berkumandang. Beliau melihat Kinara yang tidur di sofa dengan bertutupkan selimut tebal.


"Na...",


Kinara langsung membuka matanya lebar-lebar setelah mendengar namanya disebut.


"Nek.., udah bangun..?",


"Kamu kesini nduk?",


"Iya..nemenin nenek..",


"Tadi malam Tante pulang, biar beres-beres rumah. Nenek mau dibawain apa nanti? pengen makan apa nek?",


"Nggak usah..


suamimu mana?",


"Mas Javas lagi sibuk kerja...",


"Kapan kesini? nenek pengen ketemu..",


"Iya nanti Kina bilangin ya nek..",


Nenek tersenyum.


"Yang rukun ya sama mas Javas.., suamimu itu surgamu nduk..",


"Iya nek..",


"Nenek mau sholat, kamu sholat juga..",


Bukannya Javas yang datang, justru ibu mertua, kak Sharen dan Tante Fafa yang mengunjungi nenek ke rumah sakit. Mereka bertiga menjenguk nenek ketika Kina sedang keluar untuk membeli diapers untuk nenek.


"Gimana sama nenek mbak?",


"Ya..begitu Bu.., tadi subuh kata Kina nenek udah bangun. Tapi, habis solat tidur lagi..mau dibangunin tapi nggak tega..", ucap Tante Tya.


"Nggak apa-apa mbak, jangan dibangunin. Biar istirahat..",


"Maaf ya Bu, mungkin untuk beberapa waktu ke depan, Kinara nya disini dulu, ikut jaga nenek..",


"Nggak apa-apa.., Kina juga izin sama saya kok.. Oh ya, maaf ya mbak suami saya belum bisa kesini. Karena hari ini lagi ada meeting...",


"Iya Bu, Kina semalam sudah cerita. Mas Javas juga belum bisa kesini, karena sibuk kerja katanya..",


"Hehe..iya..", ucap mommy yang sebenarnya tidak enak.


Tidak lama kemudian, Kinara kembali. Membawa barang belanjaannya untuk nenek.


"Loh..mom...mbak..Tante..", ucapnya ketika masuk ke dalam kamar nenek dan melihat ibu mertua, kakak ipar serta tantenya datang. Kinara menyalami mereka satu persatu.

__ADS_1


"Habis belanja Na..?",


"Iya Tante..",


"Na.., kalo kamu butuh sesuatu, kamu telepon aja ke tokonya kakek. Biar nanti ada orang yang nganter kesini, jadi kamu nggak repot kayak gini..",


"Nggak apa-apa mom. Ini kina juga tadi sekalian pulang, naruh koper sama mandi..",


"Jangan capek-capek ya.., nanti ikutan sakit..",


"Iya Tante.., makasih..",


Sharen tidak ikut pulang bersama mommy dan tantenya. Dia malah terlihat menemani Kinara.


"Na.., Mine drop..", ucap Sharen ketika keduanya menikmati makan siang di kantin rumah sakit.


"Drop gimana mbak..?",


"Katanya semalem masuk ICU...",


"Ya Allah...",


"Aku tau dari mommy..",


"Mas Javas, hari ini meeting atau di rumah sakit mbak?",


"Kalian nggak komunikasi..?",


"Ponsel Kina drop mbak...",


"Sengaja nggak dinyalain..?"


"Masih dicharger mbak..",


"Javas meeting sama Dad...",


"Habis itu pasti ke rumah sakit kan mbak..?",


"Kakak nggak tau..",


"Mas Javas janji mau kesini mbak, nenek udah dari tadi, nanyain..",


"Iya, nanti juga kesini Na.., mungkin abis meeting nanti. Ini proyek penting, jadi mau nggak mau dia harus ikut..",


"Iya mbak, Na ngerti...",


"Kakak beberapa hari di rumah kakek, jadi tiap hari bisa nemenin kamu disini..",


"Di rumah kakek? kakek sehat kan mbak?",


"Alhamdulillah sehat. Mommy sama Tante Fafa jenguk nenek kan juga sekalian pulang kampung. Kakak pengen liburan aja disini..",


"Buat ngelupain mas Nathan..",


"Nggak juga.., udah nggak mau mikirin laki-laki. Kakak jadi mikir berulang kali, kalo mau punya hubungan serius. Apalagi, setelah liat pernikahan kamu sama Javas..",


"Pernikahan Kina dan mas Javas belum layak dijadikan patokan mbak. Seharusnya pernikahan mommy sama Daddy, atau kalo nggak om sama Tante Fafa. Itu baru gini..", ucapnya mengacungkan jari jempolnya.


Setelah mendengar keadaan Mine dari Sharen, Kinara tidak ingin berharap lagi kedatangan Javas untuk menemui neneknya. Konsentrasi Kina hanya untuk kesembuhan neneknya.


Dan, benar. Sampai tengah malam, belum ada tanda-tanda kedatangan Javas. Jadi, bisa dipastikan Javas dimana dan lebih mementingkan siapa, kan? Kina tidak ingin mencoba menghubungi suaminya, karena dia juga tahu persis suaminya ada dimana, dan apa kata yang akan keluar dari mulutnya. Maaf maaf dan maaf.


"Bu..ibu..Bu...",


Kinara bangun setelah mendengar suara Tante yang memanggil-manggil nenek. Dilihatnya, Tante Tya sudah memegangi kepala dengan mengelus-elus kening nenek.


"Tante..kenapa nenek? Na panggilin dokter ya..",


"Na..nggak usah.., nenek sebentar lagi pergi..",


"Pergi kemana? nenek masih sakit gini kok..",


"Kamu ngaji aja Na.., nafas nenek udah pendek..",


Mengerti maksud ucapan Tante Tya, Kinara tak kuasa menahan air matanya. Dia menangis, Kinara panik. Tante Tya terus menuntun nenek melafalkan kalimat syahadat.


Tangis Kinara pecah ketika neneknya menghembuskan nafas terakhirnya. Nenek meninggal dunia, menjelang azan subuh.


"Nek.......huaaaaaa......nek...jangan tinggalin Kina nek...",


"Na..ikhlasin ya..",


"Baru aja sore tadi ngobrol nek..., huuaaaaaaaa......nek...., jangan pergi..........",

__ADS_1


__ADS_2