
Kesempatan langka bagi Bian, bisa pergi berdua bersama pujaan hatinya, meskipun hanya perjalanan pulang dari Bandara ke rumah Sharen. Selama dekat, mereka memang kerap jalan berdua, tapi selalu ditemani oleh Javas. Hal itu dilakukan sebagai syarat agar diizinkan oleh Rendra.
"Sha..,nggak mau mampir beli minum gitu?",
"Kak Bian kan udah janji tadi sama Javas, kita langsung pulang. Kayaknya mommy juga udah nyiapin makan malam buat kita..",
"Sambutan buat calon mantu ya?",
"Ge-er..",
"Besok jalan ya?",
"Sha kan masih sekolah.., ada try out kak..",
"Habis itu kan bisa, kak Bian jemput ya..",
"Izin dulu sama Dad..",
"Iya.., nanti kakak Izin sama om Rendra.
Kakak kangen banget loh sama kamu..",
"Kak Bian bawa coklat pesanan Sha, nggak?",
"Sha.., jangan ngalihin pembicaraan..",
"Sha cuma tanya kok..",
"Tiap kali Kakak ngobrolin hal serius, kenapa selalu kayak gitu?",
"Terus Sha harus jawab apa?",
"Kamu kangen nggak sama kakak?",
Sharen mengangguk malu.
"Makasih cantik.., gini aja udah bikin kakak seneng..",
"Kak Bian udah izin sama papi mami kalo mau ke rumah Sha?",
"Udah..., makanya aku minta sopir nganterin mobil ke Bandara, biar nggak repotin mereka.
"Kak Bian, nanti serius mau ngobrol sama Dad?",
"Serius.., tiap kali ke rumah kamu, kakak kan selalu ngobrol sama om Rendra..",
"Maksud Sha.., ngobrol tentang hubungan kita..",
"Serius.., nanti kakak ngobrol sama Om Rendra..",
"Yakin?",
"Yakin.., udah santai aja. Aku punya cara buat ngadepin Daddy kamu..",
"Apa..?",
"Rahasia.."
Bian langsung menyapa Rendra dan Aira begitu mereka sampai di rumah. Rupanya, Rendra dan Aira sengaja menunggu kedatangan putra dan putrinya di teras rumahnya.
"Halo om..,apa kabar?", ucap Bian basa-basi.
"Baik.., gimana perjalanannya?",
"Alhamdulillah lancar..,
__ADS_1
Halo Tante..",
"Bian.., tambah ganteng aja..", puji Aira.
"Tante bisa aja.., calon mantu ya tan..",
"Nggak semudah itu..", tepuk Rendra pada bahu Bian.
"Ayo masuk..makan malam dulu.., Tante udah siapin..", ucap Rendra kemudian.
Makan malam bersama, sudah layaknya keluarga ditemani oleh pasangan dari masing-masing anaknya.
"Mau tambah lagi Bi..?", tanya Aira.
"Makasih Tante.., udah kenyang..",
"Mine.., mau tambah lagi nggak sayang?",
"Makasih Tante.., Mine lagi diet..",
"Siapa yang nyuruh diet? Javas?",
"Nggak Tante.., Mine emang pengen diet. Badannya rasanya berat..",
"Masih remaja, nggak perlu diet.., Tante malah suka liat badan kamu berisi gitu..",
"Iya Tante.., tapi Mine dietnya diawasin sama dokter gizi kok, nggak asal diet..",
"Oh ya bagus kalo gitu..",
Rendra mengajak Bian berbicara berdua, empat mata di ruang kerjanya. Wajah Sharen khawatir, takut jika nanti Daddy nya akan memberikan pertanyaan berat kepada Bian. Sharen menunggu Bian di ruang keluarga, bersama Mommy, Javas juga Yasmine.
"Tenang aja.., Dad nggak akan apa-apain Bian..",
"Nggak akan sayang.., percaya sama mommy..",
Siapa yang tidak was-was berhadapan langsung dengan Rendra. Laki-laki yang notabene adalah Daddy dari perempuan yang dicintainya. Namun, Bian berusaha untuk tenang dan santai. Dari awal, Bian sudah diterima baik oleh Rendra dan Aira. Hanya saja, memang masih dilarang untuk menjadikan Sharen sebagai kekasihnya.
"Apa yang membuat kamu tertarik sama anak om?",tanya Rendra tanpa basa-basi
"Semua yang saya cari ada di dalam diri Sharen. Saya menerima kelebihan dan kekurangan dia, Sharen pun sebaliknya..",
"Padahal anak om itu manja.."
"Nggak om.., mungkin dia bersikap seperti itu hanya dengan keluarganya.., Sharen dewasa om..",
"Kamu nggak tertarik sama perempuan disana? padahal banyak bule cantik, pastinya. Temen kuliah kamu..?",
"Selera saya lokal om, bukan interlokal..",
"Ada-ada aja.
Gimana kuliah kamu..?",
"Lancar om, ini sudah semester akhir..",
"Rencana kamu selanjutnya, apa?",
"Mau lanjut kuliah S2 om.., makanya saya berharap Sharen diizinkan untuk kuliah di Aussie juga. Biar saya ikut jaga dia..",
"Nggak bisa.., Sharen masih tetap stay, kuliah disini. Om nggak bisa lepasin anak perempuan om satu-satunya.., mungkin nanti kalo memang dia mau S2, baru boleh kuliah di luar..",
"Om masih belum percaya sama Bian?",
"Seberapa serius kamu, sama anak om?",
__ADS_1
"Sangat serius om..",
"Kalo om minta nikahin Sharen, kamu siap?",
Deg...,
Sebuah pertanyaan yang tidak pernah Bian sangka sebelumnya. Dia memang mencintai dan sangat menginginkan Sharen untuk menjadi pendamping hidupnya, namun tidak secepat ini.
"Saya belum siap om..", jujur Bian.
"Katanya kamu serius?",
"Saya serius.., tapi kalo untuk ke jenjang pernikahan, saya belum siap..",
"Kenapa?",
"Hidup saya masih bergantung sama uang yang dikasih sama Papi. Saya belum berpenghasilan.., jadi bagaimana saya mau menghidupi Sharen kedepannya? Apalagi, dari kecil Sharen sudah terbiasa hidup mewah..",
"Soal materi? Om bisa kasih buat kalian..",
"Suami yang berkewajiban menafkahi istrinya. Alangkah bangganya Bian, kalo bisa menafkahi istri dengan hasil keringat sendiri..",
"Jadi kamu belum siap? berarti cuma main-main sama Sha?",
"Justru Bian mau minta izin sama om..",
"Izin untuk memacari anak perempuan om. Hehe.., padahal barusan om udah ngasih penawaran buat nikahin Sha..tapi kamu tolak..",
"Bukan nolak om.., tapi emang Bian belum punya materi buat menafkahi Sharen nantinya. Bian juga perlu waktu untuk mempersiapkan diri untuk menjadi pemimpin keluarga...",
"Berapa lama?",
"Setidaknya sampe Bian S-1, nanti Bian langsung cari kerjaan, nabung buat lamar anak om..",
"Kamu tahu? om memang selektif memilih calon pendamping anak-anak om, terutama buat Sharen. Kalo kamu memang serius sama Sha, itu artinya kamu udah siap memikul tanggung jawab berat. Sha anak perempuan om, dia anak tertua. Kalo kamu jadi pendamping Sharen nantinya, bukan hanya Sha aja yang kamu lindungi. Tapi, adeknya, om sama Tante Aira juga. Selain itu, kedepannya Sha yang akan mengambil alih Prime grup, dan itu sudah jadi PR suami Sharen nantinya. Om masih punya Javas, tapi passion anak laki-laki Om, bukan disitu. Javas sama keponakan om lainnya, cuma bantu Prime, tapi Sha tetap pemimpinnya. Kamu sanggup Bi?",
"Saya sanggup Om..",jawabnya mantap.
"Kalo liat dari jawaban-jawaban kamu tadi, om bisa nilai kalo kamu itu laki-laki yang bertanggung jawab. Tapi, om nggak mau dengar hanya sekedar kata, tapi fakta...",
"Baik..om bisa pegang kata-kata saya..",
"Om menjaga Sharen seperti om menjaga Tante Aira. Sharen adalah perempuan yang menjadi prioritas Om, setelah Tante Aira sama Oma Widya, tentunya. Sekali saja om denger kamu nyakitin hati anak Om, jangan harap Om akan ngasih kesempatan lagi buat kamu..",
"Saya sudah lama dekat dengan Sha, Om bisa tanya sendiri sama Sha.., apa pernah saya nyakitin dia?",
"Om pegang kata-kata kamu..",
"Jadi, gimana om? diizinin?",
"Oke.., om percaya sama kamu, tapi masih belum 100%..",
"Saya boleh pacarin anak om?", tanya Bian memperjelas pertanyannya.
"Boleh.., tapi om tetap ngawasin kalian..",
Bian tersenyum lebar, akhirnya dia bisa meluluhkan hati calon ayah mertuanya.
"Makasih om..",
"Jaga kepercayaan yang om kasih sama kamu..",
"Pasti om..
Setiap bab, pasti ada point yang pengen Author sampaikan, jadi jangan diskip baca. Yang masih penasaran, Aira kenapa? sabar ya. Belum sampai kesana soalnya.
__ADS_1