
Semalaman menangisi nasibnya. Sedang berduka, membutuhkan sandaran dan pegangan. Tapi, suaminya memaksa pergi. Sudah tahu dengan tujuan apa, padahal Kinara sudah melarangnya. Tapi, Javas tetap bersikeras untuk pergi.
"Loh..suami kamu mana Na?", tanya Tante Tya yang pagi-pagi sudah berada di rumahnya.
"Nggak tau..", jawabnya singkat.
"Kalian berantem? kenapa itu mata sampe bengkak gitu? kamu nangis?",
"Nggak kok, cuma kelilipan aja Tante..",
Tante Tya tidak ingin mendesaknya terlalu jauh. Tahu jika keponakannya berbohong. Tapi, sebagai orang yang sudah pernah merasakan asam garam, manis pahitnya rumah tangga, Tante Tya tentu memaklumi. Pertengkaran diantara suami istri itu wajar. Apalagi, Kinara dan Javas belum lama mengenal hingga akhirnya Javas membuat keputusan untuk menikahi keponakannya.
Kinara sendiri tidak pernah bercerita sedikitpun tentang Javas. Apalagi, tentang Mine. Kinara menutup rapat-rapat rahasia rumah tangganya. Cukup keluarga Javas yang tahu, pihak keluarganya jangan. Kinara tidak ingin Tante nya, keluarganya yang satu-satunya dekat dengannya menjadi khawatir.
"Na.., acara 7 hariannya nenek udah Tante urus. Kamu nggak usah khawatir...",
"Makasih ya Tante..., nanti Na ganti uangnya..",
"Nggak usah.., Tante masih ada..",
"Jangan gitu, Tante kan juga punya kebutuhan buat nyekolahin adek-adek..",
"Patungan aja gimana?",
"Nggak usah, pokoknya Na bayarin semuanya..",
"Tante sebenarnya udah bayar DP nya, baru 20%, sisanya kamu. Gitu aja ya? uang Tante nggak usah diganti. Gimanapun juga nenek kan ibunya Tante. Jadi, tanggung jawab Tante juga kan?",
"Iya udah kalo gitu, nanti Na transfer aja ya..",
"Iya Na, makasih ya..",
"Sama-sama..
Tan..Na ke kamar dulu ya..pusing rasanya..",
"Kamu sakit? makanya jangan kebanyakan nangis. Jadi pusing kan..?",
"Nggak kok..",
"Tante mau ke pasar bentar.., mau nitip sesuatu nggak?",
"Nggak Tan..., makasih..",
"Sarapan dulu, minum obat terus istirahat..",
"Iya.., hati-hati ya..",
Javas ternyata menepati janjinya untuk kembali. Masih memakai pakaian yang sama dengan tadi malam saat dia meninggalkan Kinara. Itu tandanya, dari rumah sakit Javas langsung tancap gas untuk menemui istrinya. Tanpa, mengetuk pintu kamar. Javas langsung masuk ke dalam kamar, karena yakin istrinya berada di dalam.
"Na..sayang..", ucap Javas yang dengan lembut menyentuh tubuh istrinya yang berbaring miring membelakangi posisinya.
Bukan sebuah jawaban, tapi isakan yang dia dengar. Kinara menangis.
"Sayang.., kamu nangis..?", tanyanya.
"Kenapa mas balik lagi kesini? bukannya udah milih dia? atau mau ambil baju? ambil aja..",
"Kamu ngomong apa sih?",
"Kina udah siap jadi janda..",
"Istighfar sayang..,
mas tau kamu marah, mas tau mas salah. Kamu cuma cemburu sama dia...",
Kinara membalikkan badannya dan duduk di atas ranjang.
"Cemburu?!! mas tega bilang gitu sama Na? ini bukan masalah cemburu, tapi ini tentang tanggung jawab mas sebagai suami Na.. Mas boleh aja seenaknya sama Kina. Setiap mas salah, mas selalu minta maaf dan Kina selalu maafin...
Hati mas dimana sih? Nenek sakit dan mas nggak pernah sekalipun jenguk, sampe nenek meninggal. Inget mas, minta maaf sama orang yang udah meninggal itu nggak bisa, udah telat..",
"Mas minta maaf sayang.., mas tau mas salah..",
"Na bosen dengernya mas..Na memang ngizinin mas untuk ketemu sama dia, tapi nggak gini. Bukan ngasih semua waktunya mas ke dia..,sedangkan kina apa? cuma sisanya...",
"Waktu mas emang selama ini banyak kesita buat dia, tapi cuma sementara sayang. Waktu mas selamanya buat kamu..",
__ADS_1
"Sementara? sampai kapan? sampe dia meninggal? mas tau dia bakalan meninggal?
Kina..sakit mas...sakit..., Kina udah nggak sanggup lagi.., mending kita pisah..", ucapnya dengan nada bicara yang mulai meninggi dan bergetar.
"Sampe kapan pun mas nggak akan ninggalin kamu..",
"Kita pisah aja mas.., setelah 7 harian nenek.., silahkan mas gugat cerai Na.., atau kalo mas nggak mau, biar Na yang gugat mas..",
"Nggak akan..., mas sayang sama kamu..",
"Stop...!!! udah cukup mas..sampe sini aja..Hati kina sakit..kina udah nggak sanggup lagi...", ucapnya sembari menangis.
"Sayang.., kamu boleh marah, tapi bukan kayak gini.., kita obrolin baik-baik..",
"Kinara........
sampai kapanpun, kamu istri mas..",
Kinara membuka matanya, menaikkan pandangannya ke atas, melihat wajah suaminya yang terlihat frustasi.
"Lepasin Kina mas..",
"Nggak.., nggak ada sedikitpun niat buat mas mengakhiri pernikahan kita..",
"Na yang akan gugat cerai..",
Javas menggelengkan kepalanya.
"Kamu lagi emosi, mas tau itu. Mas salah, mas minta maaf..", ucapnya. Javas langsung keluar dari kamar Kinara.
"Mas Javas...
mas..kita belum selesai mas...", panggil Kinara dengan setengah berteriak.
Namun, Javas tidak menggubris ucapan Kinara. Lebih baik dia pergi, untuk menghindari istrinya yang terus-terusan memprovokasi dirinya untuk mengucapkan talak. Javas tidak ingin berpisah. Kesalahannya memang banyak, tapi dia akan memperbaikinya.
Javas kebetulan bertemu dengan Tante Tya yang baru saja menghentikan sepeda motornya.
"Lho..mas Javas..",
"Iya mas.., mas Javas mau kemana?",
"Pulang ke rumah Mommy sama Dad dulu..",
"Hati-hati mas.., kayaknya lagi capek..",
"Iya Tante .., semalaman nggak tidur..., Tante permisi dulu..",
"Iya mas.., hati-hati..",
Tidak ingin terlalu bertanya lebih dalam. Tante tetap berdiri sampai mobil yang dikendarai oleh Javas menjauh.
"Baru aja nenek pergi, mereka malah berantem. Kayaknya, masalahnya agak berat. Kina nangis, mas Javas juga keliatan bingung. Semoga masalahnya cepet selesai deh..", gumam Tante Tya.
Setiap hari, Sharen dan Jaz berkunjung ke rumah Kinara. Sharen selalu mengikuti pengajian perempuan yang , sedangkan Jaz kecil sebagai wakil keluarganya mengikuti acara pengajian laki-laki.
Sharen yang sudah selesai mengikuti acara pengajian perempuan, dan saat ini dia membantu di belakang untuk pengajian laki-laki.
Tidak menjumpai kehadiran adiknya, Javas. Sharen bertanya kepada Tante Tya.
"Tan.., Javas balik kapan?",
"Semalem pergi, tadi pagi balik ke sini lagi, tapi pergi lagi. Kayaknya Kina sama Javas lagi berantem mbak..",
"Keterlaluan, berantem sih berantem, tapi kenapa nggak mau ngikutin pengajian?",
"Nggak apa-apa, dia tadi udah izin sama Tante kok..namanya juga rumah tangga mbak, ya gitu..",
Pantas saja, Sharen melihat wajah Kina yang mendung. Jadi, bukan hanya karena berduka, tapi karena juga sedang bertengkar dengan adiknya.
Lalu, dimana adik iparnya? Kina langsung mengurung diri di kamar setelah acara pengajian perempuan selesai.
Ini adalah hari ke 10 meninggalnya nenek. Sejak pertengkaran hari itu, Javas sangat kesulitan berkomunikasi dengan Kinara yang mengabaikan semua telepon dan chatnya. Dan, hari ini Javas kembali bermaksud untuk mengunjungi istrinya, lebih-lebih jika Kinara berkenan untuk kembali ke rumah hari ini.
"Mas Javas..", sambut Tante Tya yang terlihat bersih-bersih halaman.
__ADS_1
"Tante.., sendirian aja..",
"Iya..,
bisa ngobrol sebentar mas..?", tanya Tante Tya.
"Iya Tante..",
Tante Tya dan Javas duduk di kursi teras.
"Mas Javas sama Kinara, berantem ya?",
"Iya Tante.., Tante tau masalahnya?",
"Kina nggak pernah cerita tentang rumah tangganya... Tapi, mungkin dia marah karena mas belum sempet jenguk Nenek, sampe nenek nggak ada..",
"Iya Tante, Javas minta maaf.., Javas salah, dan Javas akuin itu..",
"Semenjak ibunya meninggal, Nenek yang ngerawat Kina. Udah anggep nenek sebagai ibunya sendiri..., Kina marah. Ya wajar mas.. ibaratnya mas boleh nyakitin Kina, tapi jangan nenek..",
"Javas tau Tante..",
"Apalagi, orang yang pengen banget nenek temuin waktu sakit, ya mas Javas..",
"Niat Javas, pagi itu udah mau ke sini, nengok Nenek Tan, tapi takdir berkata lain. Nenek udah keburu nggak ada..",
"Iya.., namanya umur siapa yang tau mas..
Kina orangnya lembut, dia sangat sabar, tapi kalo udah marah, susah bujuknya. Kalo dia marah, berarti dia bener-bener hilang kesabaran..",
"Javas udah buktiin sendiri Tante..",
"Ya begitulah mas.., jangan coba-coba bangun macan yang lagi tidur..",
"Iya Tante.., doain masalahnya cepet selesai Tante..",
"Iya mas.., Tante doain...",
"Kina mana Tante..?",
"Kina..? loh..., bukannya udah dijemput ya tadi pagi sama sopirnya mas Javas..?",
"Dijemput? sama mamang yang bisanya nganter Kina?",
"Nggak.., beda lagi mas..",
"Masa sih? kapan Tante perginya..?",
"Tadi pagi, jam 6an...",
"Berarti harusnya sih baru sampe rumah ya. Tadi, Kina bawa koper tan? ",
"Iya bawa koper yang dia bawa kesini.., coba aja ditelepon..",
"Nomornya nggak aktif Tan..",
"Oh gitu..",
Javas mencoba menghubungi rumahnya dan menanyakan keberadaan istrinya, namun Kinara belum juga pulang.
"Belum ada katanya Tante..",
"Paling sebentar lagi mas.."
"Tante pernah liat sopirnya?",
"Nggak mas, kan sopirnya mas Javas banyak..",
"Tapi kalo sopir yang sama Kina kan cuma satu aja Tante, yang kemarin ikut takziah kesini..",
"Iya tapi bukan yang itu mas yang jemput...",
"Tante tau, pake mobil apa?",
"Nggak tau mas.., Tante mana tau merk mobil..",
"Ya udah kalo gitu, Javas balik pulang aja.."
__ADS_1
"Hati-hati mas..",
Next bakalan pake alur mundur kayaknya ya.