
Nathan mendekap erat perempuan yang tidur nyenyak dalam pelukannya. Dia pandangi lekat-lekat istrinya yang sudah memberikan kesempatan kedua untuknya. Bersyukur, Nathan masih bisa mendampingi dan terus memberikan cintanya untuk perempuan yang sudah sangat lama dia kagumi.
"Tidur yang nyenyak sayang..", Nathan menyematkan satu buah ciuman di kening istrinya.
"Iya Daddy...", jawab Sharen yang ternyata mendengar ucapannya, dan itu membuat Nathan kembali berucap.
"Ini suami kamu sayang, bukan Daddy..",
"Daddy....", ucap Sharen lagi. Kali ini, dia membawa tangan suaminya ke atas perutnya.
"Anak kita?",
"Hmmmm....", jawab Sharen dengan mata yang masih terpejam. Entah ucapannya dilakukan dengan sadar atau tidak. Tapi, sepertinya panggilan "Daddy" untuk Nathan juga terdengar pas dan lucu.
"Daddy...., boleh juga...", gumamnya.
Nathan lantas menyusul Sharen, melanjutkan tidurnya yang semalaman sudah sangat berkurang.
Sebenarnya, mata Nathan-lah yang berat dan susah sekali untuk diajak kompromi. Namun, dia justru yang bangun terlebih dahulu. Sharen masih terlelap dari tidurnya.
Melepas pelan tangan istrinya yang melingkar dipinggangnya. Dengan pelan juga, Nathan turun dari ranjang dan bergegas ke kamar mandi.
Membutuhkan secangkir kopi untuk menghilangkan rasa kantuknya yang sebenarnya masih ada. Nathan membuat kopi untuk dirinya sendiri.
Namun, di saat dia sedang mengaduk kopi sepasang tangan melingkar di perutnya. Diikuti oleh sebuah kepala yang bersandar di punggungnya.
"Yank....", ucapnya dengan parau, khas suara bangun tidur.
Nathan tersenyum, namun masih dalam posisi yang sama.
"Kok nggak bangunin aku yank? aku belum ibadah...",
"Tadinya mau bangunin, tapi kamu kayaknya pules banget tidurnya. Sekarang ibadah dulu sayang...",
"Kamu udah..?",
"Udah..baru aja..",
"Enak banget bau kopinya.., kamu mau...?",
"Nggak... aku mau susu ya yank..",
"Iya.., mas buatin..
kamu ibadah dulu.., buruan. Keburu waktunya habis...",
"Makasih cintaku..",
Nathan kembali tersenyum, mendengar rayuan kecil dari istrinya.
Kehamilan Sharen memang masih tergolong muda. Namun, rasanya sudah tidak sabar melihat anaknya lahir di dunia ini. Penasaran, mirip Nathan atau justru fotocopy-an dari Sharen?
Tapi, yang jelas Nathan sangat yakin, jika anak yang sedang dikandung Sharen berjenis kelamin perempuan. Jika kebanyakan orang menginginkan anak pertama berjenis kelamin laki-laki, berbeda dengan Nathan yang justru ingin anak pertamanya adalah perempuan. Alasannya? karena Nathan tidak ingin menciptakan saingannya sendiri. Mitosnya karena anak laki-laki cenderung dekat dengan ibunya. Dan Nathan sepertinya belum ingin berbagi meskipun dengan putranya sendiri. Tapi, apapun jenis kelaminnya, Nathan pasti akan menjadi ayah yang baik dan berwibawa untuk anak-anaknya.
Sharen menyusul Nathan di Sofa dan langsung merebahkan tubuhnya, menggunakan kedua paha suaminya sebagai bantalan tidur.
__ADS_1
"Susunya diminum dulu sayang...",
"Nanti dulu, masih panas kan..?",
"Nggak kok, udah hangat...",
"Iya tunggu dingin dulu..",
"Kamu nggak laper..?",
"Laper yank...
kan aku juga harus minum obat, jadi harus makan..",
"Ya udah, yuk ke bawah...",
"Delivery aja deh yank, aku mager banget..",
"Katanya mau jalan-jalan juga..?",
"Nggak jadi...
pengen disini aja..",
"Ya udah, kamu mau makan apa..?",
"Pengen masakan Indonesia aja..",
Nathan membukakan gerai yang menjual makanan Indonesia dan bisa dipesan online. Agak sedikit terkejut dengan pesanan Sharen yang melebihi kapasitas. Bukan masalah dengan uang yang harus dikeluarkan, tapi apakah makanan yang istrinya pesan nanti akan habis dimakannya?
"Buat kamu sama aku yank..",
"Sebanyak ini?",
"Iya..
aku 3 porsi, kamu 1..",
"Habis sayang..?",
"Habis.., kan itu yang 1 makanan pembuka, yang 1 makanan inti, yang 1 bubur buat dessertnya. Yang buat kamu 1 aja makanan beratnya. Cukup kan..?",
"Iya..cukup..",
"Kok..mukanya kayak gitu yank? kenapa? khawatir ya aku makannya banyak nanti gendut? nanti jadi nggak cantik, kamu nggak tertarik lagi? nggak cinta lagi sama aku..?",
"Kamu ngomong apa sih? kan mas cuma bahas makanan, kenapa sampe kemana-mana..",
"Terus kenapa mukanya kayak kaget gitu..?",
"Ya kan porsi makan kamu nggak kayak biasanya, jadi mas heran..",
"Yank.., aku lagi hamil anak kamu loh. Aku makan juga bukan buat aku aja kok, buat baby nih di dalem perut...
lagian, yang pengen makan banyak juga anak kamu kok bukan aku...",
__ADS_1
Nathan merasa lucu dengan istrinya yang terus-terusan mengelak.
"Iya sayang..iya..mas tau kok..
nggak apa-apa kalo kamu pesen banyak, mas malah seneng, jadi baby nya cepet gede.. kalian sehat terus..",
"Ya udah, jangan gitu lagi mukanya..",
"Nggak sayang...",
"Sekarang kamu harus biasa-in, kalo istri kamu pesen makanan banyak ya bukan buat istri kamu aja, tapi baby yang mau..",
"Iya sayang..,
pokoknya Daddy turutin semua maunnya baby..",
"Kok Daddy yank..?",
"Kan kamu sendiri yang bilang..Daddy..",
"Kapan...?",
"Tadi, waktu kamu tidur..
kamu nyuruh tangan aku ngelus perut kamu, terus bilang..Daddy...",
"Emang gitu ya yank..?",
"Iya...",
"Kamu mau dipanggil Daddy yank..?",
"Mau.., biar berwibawa kayak Daddy Rendra..",
"Kalo gitu.., aku dipanggil mommy aja ya yank.., biar manjanya kayak Mommy Aira..",
"Boleh.. manjanya aja ya yang mirip, kalo ngambek sama marahnya jangan..",
"Kenapa gitu..?",
"Mommy Aira kalo ngambek sama marah itu nyeremin.., main kabur-kaburan aja..",
"Iya nggak.., yang kayak Mommy kan justru kamu. Kabur, nggak ngasih kabar apa-apa ke istrinya..",
"Udah dong sayang..jangan diinget-inget lagi..
kan mas udah minta maaf...",
"Iya Daddy...",
Nathan terlihat geli dengan jawaban Sharen. Tapi, itu terdengar sangat lucu dan menggemaskan. Membayangkan anaknya nanti memanggilnya Daddy.
"Mommy Sharen.. i love you...",
"I love you too, Daddy Nathan..",
__ADS_1
Keduanya lantas tertawa bersama. Akhirnya mereka menemukan panggilan untuk anaknya yang masih dalam kandungan. Meskipun menjiplak kedua orang tuanya, namun ada harapan dari keduanya. Semoga kedepannya, rumah tangga mereka tetap utuh meskipun badai menerjang. Seperti rumah tangga Daddy dan Mommy yang tetap berlayar meskipun badai sempat melanda.