
Sharen bangun terlambat. Ini gara-gara semalam dia tidak bisa tidur karena mendapatkan respon dingin dari Dave.
Hanya mengacak-ngacak sereal yang baru saja dia buat untuk sarapan. Dia kesal, sekaligus penasaran. Apa yang membuat Dave bersikap seperti itu?
Sharen berpikir keras, bagaimana caranya dia bisa dekat dengan Dave. Buntu, akhirnya Sharen memilih untuk meminta pendapat seseorang.
"Halo.., pagi bener udah telepon.."
"Ye.., udah hampir jam 9, bilang pagi. Kamu belum bangun? nggak ngantor..?",
"Disini masih jam 5 pagi Sha.., aku diindo bukan di Aussie..",
"Oh iya, aku lupa..
Ya udah sana, sholat dulu..",
"Iya.., ya udah makasih udah dibangunin..",
"Setengah jam lagi, aku telepon lagi..",
"Iya, bawel..",
Sharen memutuskan untuk menghubungi Tama. Ya, meminta masukkan. Sekedar ingin mendengarkan pendapat Tama saja, karena keputusan tetap ada ditangannya sendiri.
"Halo Tam..",
"Iya..apalagi..?",
"Aku mau cerita...",
Semalem aku nggak bisa tidur..",
"Kenapa..?",
"Tam, tau nggak..
kemarin aku kan minta nomor barunya. Dia nggak ngasih..eh tiba-tiba dia ngechat aku.., berarti dia masih ngesave nomorku kan..?",
"Ya, meskipun nggak ngesave pasti dia juga hafal nomor kamu, kan kamu masih pake nomor Indo, giman sih..",
"Iya sih..",
"Berarti nggak dingin lagi kan..?",
"Masih dingin..,
aku salah apa Tam..?"
"Astaga Sha.., kamu masih nggak nyadar salah kamu dimana?
Ya bener sih, kamu kan perempuan.
Perempuan emang nggak pernah salah..",
"Iya aku salah..",
"Terus, kamu maunya gimana sekarang? aku nanya coba.."
"Ya itu yang aku mau tanya sama kamu, aku harus gimana Tam..?",
"Ya kamu maunya gimana?
kalo nggak mau kehilangan untuk kedua kalinya, ya kamu usaha lah..",
"Gitu ya Tam..,
tapi aku dicuekin..",
"Ya mungkin dia udah capek, atau mungkin udah punya yang baru..",
"Tam.., jangan gitu..",
"Makanya kalo mau tau alasan dia, ya kamu nanya lah, ngobrol gitu. Kalo masih dicuekin, berarti usahanya harus keras..",
"Masa iya aku yang ngejar-ngejar..?",
"Ya nggak apa-apa, emangnya kenapa? Kan sekarang udah jamannya emansipasi wanita..",
"Harga diri ku nanti anjlok dong Tam..",
"Nanti kalo liat dia udah punya cewek, nanti sakit lagi..? mau kayak gitu? ya terserah kamu lah..",
"Ya udah, aku usaha dulu. Kalo aku ditolak, nanti aku ngadu ya sama kamu..?",
__ADS_1
"Intinya, semua tergantung kamu..",
"Hmmmm...,
doain ya Tam..",
"Iya pasti.., good luck..",
"Aku mau mandi dulu.., bye..",
Sedikit mendapatkan motivasi dari Tama. Tapi, apakah usahanya nanti akan mendapatkan sambutan?
"Bisa kita ketemu..?", pesannya kepada Dave.
Dengan wajah tanpa riasan dengan hanya menambahkan lipgloss pada bibirnya , Sharen keluar dari Apartementnya. Dia bermaksud pergi untuk membeli heels yang akan di kenakan nanti saat di sekolah. Salah satu barang yang wajib dia punyai.
Sharen melihat ke arah swalayan, dan tidak ada tanda-tanda kehadiran Dave. Masih pagi, tapi tetap saja pikirannya tertuju pada pemuda itu.
Sharen memilih untuk berjalan kaki menuju halte bus, dia memang akan pergi ke outlet brand ternama dengan menaiki bus. Sharen belum paham dengan jalanan di kota tersebut.
"Itu pegang Hape, tapi chatku nggak dibaca..", gumamnya ketika melihat Dave diseberang, berjalan menuju ke Swalayan. Dave juga tak sengaja melihat ke arahnya, mereka saling berpandangan. Namun, Dave langsung membuang pandangannya. Pemuda itu buru-buru masuk ke dalam.
Ternyata begini rasanya galau, apalagi di negara orang. Jika di rumah, dia bisa mendapatkan hiburan dari Jaz atau Ze, tapi disini dia hanya seorang diri. Ah, memikirkan Jaz atau Ze malah membuatnya menjadi kangen rumah.
Sharen beberapa kali memeriksa ponselnya. Berharap chat yang dikirimnya mendapatkan balasan dari Dave, tapi nihil. Justru ada beberapa pesan yang dia terima dari Mommy, Tama dan juga pegawai butiknya.
"Kenapa kamu berubah..?", gumamnya.
Sharen akhirnya mendapatkan heels yang di carinya. Memutuskan untuk memesan taxi supaya pulang lebih cepat. Sharen masih harus menjalankan satu misinya hari ini. Mendatangi Dave dan meminta untuk berbicara.
Setelah menaruh barang belanjaannya, Sharen bergegas menuju ke swalayan. Mencari-cari keberadaan Dave.
Sharen mendekati Dave.
"Silahkan...",
"Kenapa nggak balas chat aku..?",
"Mau butuh ikan apa?",
"Dave..., aku tanya..",
"Aku kerja..",
"Aku belum periksa hape..",
"Bohong...",
"Dave.., kamu duluan ya yang istirahat, nanti gantian sama aku..", ucap temennya.
"Oke...",
Dave melepas apron yang dipakainya. Tanpa menghiraukan keberadaan Sharen, Dave langsung berjalan ke arah keluar swalayan. Dengan sedikit tergesa, Sharen mengekor di belakang Dave yang berjalan cepat.
"Dave..tunggu...",
Dave masih terus berjalan.
"Dave...",
Sharen merengut, dia terus mengikuti Dave yang berjalan menuju kedai yang paling dekat dengan tempatnya bekerja. Sharen akhirnya menyerah.
"Dave.., aku capek...",
Ajaibnya, Dave langsung berhenti ketika mendengar rengekan Sharen.
"Waktu istirahatku cuma sejam.. kamu kenapa sih? ngikutin aku..?",
Sharen berlari kecil.
"Mau ngobrol sama kamu..., makan siang menjelang sore sama aku ya..",
"Aku belum gajian, nggak ada uang lebih buat traktir kamu..",
"Aku yang traktir..",
"Nggak usah, bayar sendiri-sendiri aja..",
Sharen duduk dihadapan Dave yang sama sekali enggan untuk menatapnya.
"Pesan steak 1, sama coffe latte 1...", ucap Dave yang langsung diikuti oleh Sharen.
"Aku juga....,
__ADS_1
jangan lupa billnya dibedain ya..",ucap Sha kembali. Dia menyindir Dave.
Dave masih terlihat cuek.
"Kamu kerja disana..?",
"Seperti apa yang kamu liat..",
"Iya aku liat kamu.., tapi kamu nggak liat aku..",
Dave langsung memandang ke arahnya.
"Tatapan itu masih sama..", batin Sharen dalam hati.
"Bekerja jadi pelayan swalayan? yang jagain ikan segar..? kenapa?",
"Buat nyambung hidup disini..",
"Kamu kenapa sih..?",
"Kamu yang kenapa? terus kenapa kalo aku kerja jadi pelayan? ada yang salah..?",
"Pelayan, tapi jam tangannya Hublot. Topinya pake LV, tuh ikat pinggang dari Gucci.., gaji setahun aja nggak bisa beli barang yang kamu pake..",
"Nggak usah cerewet.., tuh pesenannya udah dateng. Cepetan makan...",
Sharen tidak bisa mengunyah makanannya dengan benar. Dia terus memperhatikan Dave yang makan dengan lahap.
"Dave..",
"Makan cepatan, jangan bawel.., setengah jam lagi, aku kerja lagi..",
"Aku nggak mau makan..aku mau ngomong..",
"Terserah..",
"Semenjak kapan kamu ada di Aussie...?
Kenapa kamu tiba-tiba ngilang.., kenapa nggak ngabarin aku? kenapa kamu pake nama Dave..? kenapa kamu nyuekin aku..?",
"Itu pertanyaan apa rel kereta?",
"Pertanyaan yang sudah dari kemarin ada di otak aku...",
"Kamu butuh jawaban?",
"Off course..",
"Pertanyaan mana yang mau kamu pengen tau jawabannya?",
"Sejak kapan kamu disini?",
"Hampir dua Minggu..",
"Kenapa pake nama Dave..?"
"Itu emang nama ku kan?",
"Kenapa kamu ngilang..?",
"Ada atau nggak ada aku, nggak penting juga kan? aku kesini buat lupain semuanya..",
"Termasuk lupain aku..?",
"Salah satu wishlist aku..",
Saat mendengar itu, hampir saja air matanya keluar, tapi Sharen bisa menahannya.
"Kamu ngapain disini?",
"Aku sekolah modelling.., sama seperti kamu. Aku juga mau lupain semua, hidup baru disini. Tapi, ternyata aku salah. Kita justru bertemu disini..",
"Nggak ada yang salah, silahkan kamu jalani hidup kamu, hidup baru, liat kedepan jangan kebelakang..",
Sharen diam. Rasanya ingin menangis. Kenapa dia tega berbicara seperti itu? Benar kata Tama, dia sepertinya sudah lelah.
"Anggap aja kita nggak ketemu disini..",
Dada Sharen kembali bergemuruh.
"Aku mau balik kerja lagi..",ujarnya.
Sharen terpaku. Dia masih di tempat duduknya. Tak terasa, air matanya tumpah ketika melihat Dave dari balik kaca.
__ADS_1
"Kamu berubah..", ucapnya dengan menyeka air matanya.