
Rumah besar Aira terasa sepi setelah kedua anaknya pergi menjalani aktivitas masing-masing. Padahal, hari ini adalah weekend yang baik Sharen maupun Javas seharusnya tetap berada di rumah. Namun, sedang ada kegiatan dikampusnya, sementara Javas ada event di sekolahnya. Aira memang 100% menjalani perannya sebagai ibu rumah tangga. Rendra memang tidak memperbolehkan istrinya bekerja. Aira hanya diizinkan bekerja membantu usaha butik milik Oma Widya, itupun hanya untuk urusan urgent saja. Selebihnya, sudah ditangani oleh Sharen dan Zara. Sepupunya yang memang dipercaya oleh Oma Widya.
Suasana rumah Aira sedikit berbeda kali ini. Ada si kecil Zoya, putri pertama dari Arif dan Zara. Bertahun-tahun menikah, atas restu yang Maha Kuasa, akhirnya tiga tahun yang lali Arif dan Zara diberi kepercayaan oleh Tuhan, untuk menimang seorang anak. Tanpa campur tangan dari dokter, kehamilan terjadi secara alami. Ini berkat kesabaran Arif dan Zara yang tanpa mengenal lelah.
Hari itu, Zara memang menitipkan putrinya kepada Aira. Zara harus menemui kolega untuk memperbesar jaringan bisnis butik. Sama seperti Aira dulu, Zara memang tidak memakai jasa baby sitter. Dia akan membawa serta anaknya jika bekerja di butik. Aira tentu saja menyambutnya dengan senang hati. Hitubg-hitung sebagai hiburan untuknya dan Rendra.
"Mbak.., tiap hari dititipin sama aku aja.., nanti kalo mbak Zara pulang, dijemput lagi Zoya nya...",
"Jangan lah Ra.., nggak enak sama kamu..dibutik aja dia seneng loh..",
"Nggak apa-apa aku malah seneng ada temennya.., iya kan mas.",
"Iya sayang..",
"Emangnya Zoya nggak rewel ya Ra disini..?",
"Nggak.., dia anteng....",
"Sekali lagi makasih ya Ra.., maaf banget jadi ngerepotin..",
"Nggak kok mbak..beneran aku seneng ada Zoya..",
"Aku pamit dulu ya.., kayaknya mas Arif juga udah sampe depan..",
"Abis ini mau kemana? pulang?",
"Balik ke butik lagi..",
"Arifnya kok nggak disuruh masuk..",
"Buru-buru.., di bengkel juga rame katanya. Mbak sama Zoya pamit dulu ya.
Zo.., Salim dulu sama aunty Aira sama om Rendra..",
"Yah.., kamu mau balik ya? padahal aunty seneng banget kamu disini.., kapan-kapan maen kesini lagi ya..",
"Iyah.., bye nty..",
"Bye-bye sayang..
Hati-hati ya mbak..",
"Iya Ra.., pamit dulu ya,
Mari Ren..",
"Mari...", ucap Rendra.
Rumahnya kembali sepi.
"Sepi lagi mas..",
"Anak kita udah gede, mereka udah punya kegiatan masing-masing. Harusnya dulu kita kejar setoran buat produksi adiknya Javas, punya anak 6 atau 7 gitu.."
"Hmmmmm..,banyak banget...",
__ADS_1
" Biar nggak sepi kayak gini, sayang..",
" Iya, lagi berasa kalo anak-anak udah gede..",
"Mau jalan-jalan aja nggak sayang? ",
"Kemana?",
"Sejalannya aja. Apa mau kerumah Revan?",
"Boleh mas.., mereka di rumah?",
"Di rumah, emang mau kemana? kalo mereka pergi juga, biasanya mamah ke sini. Ini nggak ada, berarti mereka di rumah..",
"Nanti kalo anak-anak pulang gimana?",
"Biar aja.., udah gede juga..., atau kalo mau biar mereka nyusul..",
"Ya udah.., Aira ambil tas dulu ya..",
"Nggak usah dandan.., kelamaan..",
"Nggak..gini aja udah cantik. iya kan mas?",
"Istri mas emang yang paling cantik.., nggak ada duanya lagi..",
"Makasih sayang..",
"Kiss dulu..",
"Mmmuaaach...", cium Aira pada pipi suaminya.
"Ayo mas..",
"Ke hotel aja yok..",
"Ada tamu ya? nggak jadi kerumahnya mamah?",
"Check in...minta paket honeymoon..",
"Mas..", ucap Aira manja dengan senyumnya yang malu-malu.
"Kamu cantik banget..",
"Udah deh.., nanti malem aja olahraganya, sekarang jalan-jalan dulu..",
"Ayo cantik..",
Hendak keluar, saat sampai di depan pintu. Ponsel Aira berdering. Sebuah panggilan dari nomor yang tidak dikenalnya.
"Halo...",
"...............",
"Iya bener.., ini saya Aira. Mommynya Javas.., anak saya kenapa pak? anak saya baik-baik aja kan?",
__ADS_1
"...............",
"Astagfirulloh...",
"Siapa sayang? Javas kenapa?", tanya Rendra khawatir..",
Sesaat setelah berucap, tubuh Aira melemah. Pandangannya kabur, berkubang-kunang. Kepalanya menjadi berat, dan akhirnya Aira tumbang. Dia pingsan.
"Eh..eh..sayang...",
Untungnya dengan sigap Rendra menangkap tubuh istrinya sehingga tidak terjatuh. Rendra berteriak memanggil-manggil Maidnya.
"Bik..Bik.., tolong...",
Panggilan ponsel Aira masih tersambung, dan Rendra langsung mengambil alih.
" Halo..dengan siapa ini?",
"Kami dari kepolisan pak.., saat ini anak anda Javas, sedang berada disini. Kami meminta kehadiran orang tua Javas untuk menjemputnya...",
"Anak saya kenapa pak..?",
"Javas terkena Razia balap liar..",
"Oke.., nanti saya kesana..",
Rendra membawa Aira, menidurkannya di Sofa. Dengan dibantu oleh Maid, Rendra mencoba menyadarkan istrinya. Tapi, Aira tidak kunjung membuka matanya. Aira malah mengigau, memanggil-manggil putranya.
"Javas..., vas..Javas...",
"Sayang.., ayo buka mata..",
"Javas.., Javas..",
"Pak..sebaiknya nona Aira dibawa ke rumah sakit..",
"Iya..suruh sopir nyiapin mobil Bik..",
"Baik pak..",
Rendra meraih ponselnya, dia mencoba menghubungi seseorang dan beruntungnya direspon dengan cepat.
"Halo Al.., Javas ada di Polres. Tolong urusin.., minta bantuan pengacara Prime kalo perlu..",
"Javas ada di kantor polisi? kenapa?",
"Kamu urus aja Al.., aku mau ke rumah sakit sekarang..",
"Javas ada di kantor polisi, tapi kamu mau ke rumah sakit? gimana sih Ren?",
"Aira pingsan, tadi dia yang dihubungi sama polisinya. Aira shock..",
"Oke..oke.., aku urus sekarang, tenang aja..",
"Tolong ya Al.., makasih sebelumnya..",
__ADS_1
"Oke.., urus aja istri kamu..",
Dengan segara, Rendra membawa istrinya ke rumah sakit agar segera mendapatkan perawatan.