Istri Pura - Pura ( Bukan Perawan Tua )

Istri Pura - Pura ( Bukan Perawan Tua )
Tentang Perasaan


__ADS_3

Di sebuah ruangan, dua laki-laki yang bersahabat lebih dari 30 tahun itu sedang berdiskusi tentang pekerjaan. Sebenarnya ada 2 orang laki-laki yang harusnya bergabung bersama mereka. Namun, sayangnya Javas masih belum aktif di perusahaan karena cuti dalam rangka menyambut kelahiran putra pertamanya. Laki-laki yang satunya, entah ada dimana dia sekarang. Tidak ada yang bisa menghubunginya.


"Close ..,


jalankan sesuai yang kita sepakati ya Al..",


"Oke Ren...,


aku siapin semuanya...",


"Nathan masih belum bisa dihubungi..?", tanya Rendra.


"Terakhir dua hari yang lalu.., lagi camping...kayaknya susah sinyal..",


"Oh.., ya udah mungkin dia butuh waktu...",


"Kamu percaya kalo Nathan lakuin itu?",


"Dewi jadi tinggal di rumah kamu..?",tanya Rendra mengalihkan pembicaraan.


"Nggak.., dia tetap di Apartement nya Nayhan. Aku larang Farah bawa Dewi ke rumah. Sebelum Nathan benar-benar ngakuin kalo itu anaknya.


Kamu percaya kalo itu anak Nathan Ren..?"


"Aku kenal baik sama putra mu itu. Dia anak baik, penurut, tapi dia juga manusia biasa. Dia bisa melakukan salah dan khilaf...",


"Pantesan Nathan milih buat pergi Ren..., dia kayaknya juga malu sama kamu..",


"Malu kenapa? aku santai kok..",


"Kamu bilang apa ke dia..?",


"Ya aku cuma bilang kalo aku masih percaya sama dia, tapi aku nggak percaya lagi kalo dia bisa jagain Sharen, udah itu aja..",


"Ya mungkin, gara-gara itu juga Ren.


Aku tau betul, Nathan dari dulu tergila-gila sama putrimu..",


"Putriku emang cantik Al...


Aku udah nggak mau lagi paksa dia buat bisa sama Nathan. Biar Sharen pilih pasangannya sendiri..kalo emang jodohnya Nathan, ya nanti juga ada jalannya sendiri..",


"Kalo Nathan nggak mau tanggung jawab, gimana Ren? Nathan nggak mau pulang... Aku minta dia tunangan dulu, sampe nunggu bayi itu lahir biar bisa tes DNA.., tapi Nathan nggak mau..",


"Kenapa..?",


"Kalo Nathan tes DNA, itu sama aja Nathan mengakui kalo pernah tidur sama Dewi. Nathan nggak pernah sama sekali Pa.., gitu katanya Ren..",


Rendra mengangguk.


"Ya udah..bener..",


"Aku cuma khawatir aja kalo sampe Dewi nanti lapor polisi...",

__ADS_1


"Nggak mungkin, mana mungkin dia berani. Kalo lapor polisi, berarti dia juga harus punya bukti kan? Nih.., pake aja buat senjata kamu..", ucap Rendra dengan memberikan satu buah flashdisk kepada Aldo.


"Ini apa Ren..?",


"Rekaman suara Nathan sama Dewi.., dengerin aja..",


"Oke..", Aldo menancapkan flashdisk tersebut pada laptopnya.


"Aku keluar dulu ya Al, mau makan siang. Udah ditungguin sama Aira di bawah...",


Tidak hanya istrinya, melainkan menunggu bersama-sama dengan Jaz dan juga Sharen. Aira menyambut kedatangan suaminya dengan sebuah kecupan.


"Lama sayang..?",


"Nggak mas, 10 menit yang lalu..",


"Kok cuma Mommy aja yang dicium? Jaz nggak..?",


"Iya sini..Daddy cium...",


"Gitu dong Dad...",


"Kak Sharen, nggak protes..?",


"Nggak lah Dad., Sharen kan udah gede...",


"Hmmm..padahal dulu kamu juga sering protes kayak Jaz gitu...",


"Emang iya, Dad..?",


"Hmmm.. kamu tuh selalu cemburu kalo Daddy deket-deket sama Mommy. Maunya Daddy sama kamu terus...",


"Kan Daddy cinta pertamanya Sharen..",


Mereka berempat makan siang bersama di salah satu restoran yang berada di hotel milik Prime grup. Ya, meskipun kurang lengkap karena ketidakhadiran Javas yang sedang bucin-bucinnya pada Ze. Tapi, tidak mengurangi rasa kebahagiaan mereka. Akhir-akhir ini Daddy dan Mommy memang banyak menghabiskan waktu bersama Sharen. Karena lusa, Sharen akan bertolak ke Aussie.


"Gimana sayang..? udah siap semua..?",


"Udah Dad, tinggal hari H nya aja..",


"Kamu ditemenin sama Vano dulu ya, Daddy sama Mommy lagi ngurus visanya Jaz . Kalo udah jadi, Dad, Mommy juga pasti ke sana..",


"Iya nggak apa-apa Dad, Sha kan udah mandiri..",


Sharen menolak untuk membawa asisten untuk menjadi teman tinggalnya. Jadilah, sementara waktu, Sharen akan didampingi oleh Vano yang masih memiliki visa izin tinggal di Aussie. Vano juga hanya beberapa hari disana, untuk membantu mengurus kepindahan Sharen ke Apartement baru.


Yang menjadi galau dengan kepergian Sharen bukan hanya orang tua atau keluarganya saja. Tapi, ada Tama yang terlihat sedih dengan kepindahan Sharen. Hampir setiap hari dia datang ke rumah, hanya sekedar untuk mengobrol dengan Sharen.


"Kalo cinta, bilang dong Tam, jangan kayak gini..", goda Sharen.


"Ye.., udah dibilang berapa kali sih. Aku nggak cinta sama kamu..",


"Lha, terus kenapa kamu kesini terus..? nih juga pake bawa martabak sama kue Bandung segala. Kayak laki-laki yang nyogok orang tua ceweknya biar dibolehin malam mingguan..",

__ADS_1


"Sialan lu..


Aku bawain kamu, karena tau. Nanti disana kamu nggak bisa makan jajanan kayak gitu...",


"Bisa aja lu..


Tam, kalo aku ke Aussie, kamu udah tau mau ditempatin ke divisi apa sama Daddy? nggak mungkin kan? kalo kamu mau jadi sopir pribadi terus..? atau mau jadi sopir pribadinya Jaz aja..?",


"Nggak deh, Jaz aja kalo sama aku suka usil..",


"Terus? mau dibagian apa? biar aku yang bilang sama Daddy..",


"Hmmmm... nggak apa-apa nih aku ngomongnya ke kamu..?"


"Ya.., ngomong aja..


kenapa?",


"Aku disuruh gantiin posisinya Nathan...",


"Oh...",


"Nggak mau bahas dia lagi..?",


Sharen menggeleng, dia menunduk.


"Sebenarnya aku sedih kamu mau pergi, tapi disatu sisi aku juga seneng. Apalagi, kamu perginya di hari H, saat dia tunangan..jadi kamu nggak perlu liat moment itu..",


Sharen menegakkan pandangannya.. melihat ke arah Tama.


"Tante Farah yang cerita..beliau tanya ke aku dimana Nathan, karena sampe sekarang dia nggak bisa dihubungi. Tante Farah udah nyiapin semuanya, padahal Nathan sampe sekarang pun nggak tau dimana..",


Sharen diam.


"Jangan sedih ya, yakin abis ini ada laki-laki yang jauh lebih baik dari Nathan..",


"Aku nggak mikirin itu lagi Tam.., ya mungkin emang dia bukan jodoh aku. Disaat dia ada, aku nggak sadar kalo aku juga menginginkan dia. Di saat dia udah sama perempuan lain, hati aku sakit. Tapi, aku udah ikhlas kok..mungkin ini cara Allah buat nunjukin kalo aku sama dia memang bukan jodoh..",


"Aku selalu doain kamu, Nathan semoga kalian bahagia dengan jalan hidup masing-masing..",


"Iya..makasih ya Tam..",


"Aku nggak akan bahas dia lagi.., sesuai permintaan kamu..",


"Lusa, ikut nganterin aku ke bandara ya..",


"Iya..pasti..",


Sharen tidak ingin mendengar apapun mengenai Nathan, tapi nyatanya dia mendengarkan dengan seksama saat Tama berbicara tentang Nathan.


"Aku memang bodoh Nath, selalu memungkiri perasaan ku ke kamu. Andai kamu tau, aku juga punya perasaan yang sama. Sayangnya, gengsi ku terlalu besar. Satu yang harus kamu tau, semua itu aku lakukan untuk menjaga perasaan mama kamu yang berulang kali berucap, jika nggak mau kalo kita ini punya hubungan lebih dari ini. Perasaan Mommy, yang selalu mewanti-wanti harus punya ibu mertua yang sayang sama aku. Ini bukan tentang perasaanku atau perasaan kamu Nath. Tapi, perasaan banyak orang yang harus aku jaga, terutama Mama dan Mommy ku sendiri.


Nath, aku pergi ya. Semoga kamu bahagia dengan kehidupan kamu yang baru. Semoga suatu saat nanti kita bisa bertemu dalam kondisi yang jauh lebih baik dari ini...", Sharen berucap dengan memegangi potretnya bersama Nathan.

__ADS_1


( Pengen banget dikasih foto mereka berdua, tapi takut review nya lama )


__ADS_2