Istri Pura - Pura ( Bukan Perawan Tua )

Istri Pura - Pura ( Bukan Perawan Tua )
Aturan


__ADS_3

Sharen duduk dengan memasang wajah dinginnya. Tama tidak bisa menebak apa yang terjadi. Bisa karena Sharen berdebat dengan baja hitam melalui chat, karena sedari tadi Sharen serius dengan ponselnya. Atau, bisa karena Sharen yang cemburu karena kedatangan Dewi yang mencari Nathan di kantor. Coba Tama mau mencari tahu.


"Kenapa? kok cemberut..? berantem sama Suzu*Ki Satria..?",


"Emangnya dia motor..?", jawab Sharen dengan jutek.


"Berantem sama Satria baja hitam?",


"Ih..., kalo nyebut nama orang yang bener, kenapa sih Tam..?", cubit Sharen pada lengan Tama yang sedang serius menyetir.


"Aduh..


Iya-iya, kenapa? tadi katanya mau dijemput Satria? kenapa sekarang berubah..?",


"Nggak mood..dianterin aja sama kamu..",


"Hmmmm..gitu.."


Dari jawaban Sharen, menyiratkan jika dia tidak sedang bermasalah dengan Satria. Berarti benar dugaan Tama, jika Sharen berubah dalam mode reog nya karena kedatangan Dewi. Coba Tama pastikan, ya..?


"Sha.., Dewi..siapa...?",


Sharen menoleh. Matanya memicing menandakan dia tidak suka dengan pertanyaan yang ditujukan Tama untuknya.


"Ya nggak tau lah, kamu tanya aja sama Nathan...",


"Kalian kan sahabatan, siapa tau kamu kenal. Temen, sepupu, saudara jauh, atau siapa gitu..?"


"Aku baru liat juga.. nggak tau itu siapa..",


"Apa, mungkin pacar barunya Nathan , ya Sha..?"


Sharen mengembuskan nafasnya kasar.


"Aku nggak tau Tam.., kamu tanya sendiri aja sama orangnya. Jangan tanya sama aku..",


"Kalo emang Dewi itu pacar barunya Nathan, berarti dia udah nggak ada perasaan dong sama kamu, bener kan?",


"Nggak tau Tam, udah deh nggak usah tanya tentang Nathan. Aku nggak tau apa-apa..",


Dasar Tama, bukannya berhenti untuk tidak menanyakan tentang Nathan, Tama malah tambah bersemangat.


"Sha, kalo beneran Nathan udah punya pacar, kamu gimana?",


"Aku timpuk loh Tam..",


"Aku kan cuma nanya.., kamu gimana?",


"Ya nggak gimana-gimana, emang aku harus gimana coba? larang dia? emang aku siapanya..?"


"Sha..masih ada waktu. Belum terlambat Sha.. jangan sampe kamu nyesel. Jangan sampe kamu kehilangan dia...",


Kali ini Sharen diam.


"Coba diturunin egonya Sha.."


"Apaan sih, nggak...",


"Kamu terlalu gengsi untuk mengakui kalo kamu juga punya perasaan sama dia...


Nathan udah capek Sha ngejar-ngejar kamu, tapi yang dikejar malah ngejar yang lain..",


"Nggak ada yang nyuruh..."


"Kamu tau lagu bang haji Rhoma kan?


Kalau sudah tiada baru terasa...bahwa kehadirannya sungguh berharga..",


"Malah dangdutan...",


"Ya aku kan cuma ngingetin kamu..


karena aku pernah diposisi kayak gitu..",


"Hah..?",


"Aku pernah kehilangan cewek yang bener-bener sayang sama aku. Waktu dia ada, aku cuek, tapi waktu dia hilang, aku nyari dia. Aku sampe mohon-mohon sama dia buat mau balikan sama aku.., padahal aku tau dia udah punya pacar waktu itu..",


"Terus..?",


"Dia nolak.., karena dia emang udah punya komitmen sama cowok lain. Disitu aku sadar kalo dia emang bener-bener cewek yang setia sama komitmennya. Bertahun-tahun aku nunggu dia putus sama cowoknya..",


"Terus.., gimana?",


"Setelah dua tahun aku nunggu, akhirnya dia putus. Dan, disitu aku ngejar dia lagi..",


"Diterima..?",


"Diterima lah...", ucap Tama sambil memukul setir yang tanpa sengaja menyebabkan klakson mobil berbunyi.


"Tama.., apaan sih..",

__ADS_1


"Aku seneng banget Sha, akhirnya perjuanganku nggak sia-sia..",


"Oh, jadi kamu sekarang udah punya pacar..? siapa..?",


"Kan kamu kenal..",


"Beneran masih sama Lisa..?",


Tama mengangguk.


"Oh my God..",


"Baru 6 bulan yang lalu aku balikan Sha.., aku kehilangan dia karena kebodohanku..",


"Kamu selingkuh..?",


"Waktu bokap usahanya jatuh, dan aku nggak punya apa-apa, Lisa yang ada disamping aku. Tapi, justru aku nyia-nyiain dia. Aku merasa nggak pantes sama dia, dan minta hubungan kita berakhir. Ya, akhirnya aku nyesel. Sayangnya aku datang ke dia disaat dia udah punya komitmen sama cowok lain..",


"Itu sih kamu aja yang bodoh.."


"Ya kayak kamu..",


"Nathan lagi.., udah deh berhenti bahas dia, aku capek..",


"Iya iya.."


"Lisa tau kalo kamu kerja sama aku..?",


"Tau.., nggak ada yang aku sembunyiin dari dia.."


"Berarti kamu nolak aku, karena Lisa..?"


"Ya jelas lah, meskipun kamu sama Lisa, cantikan kamu. Tapi aku cintanya sama dia, bukan sama kamu..",


"Ckckcckck..., nasib-nasib.."


"Ya udah, ayo turun. Udah sampe nih.."


"Kamu ikut turun juga?",


"Iya lah, aku juga laper..."


"Nanti mejanya jangan deketan ya Tam..",


"Bodo amat lah, suka-suka aku...",


Begitulah Tama, sangat santai menghadapi Sharen yang notabene adalah bosnya. Tanpa mengindahkan perkataan Sharen, Tama justru memilih meja yang berjarak dua meja dari meja yang Sharen tempati. Otomatis, obrolan Sharen dan Satria juga masih bisa Tama dengar dengan jelas.


"Baru sepuluh menit yang lalu..",


"Sorry ya, agak lelet tadi..",


"Its oke..nggak apa-apa..,


Aku udah pesen tadi, kamu pesen dulu..,


mbak...", Satria memangil waitress.


"Kenapa aku nggak dipesenin juga Sat?",


"Aku kan nggak tau selera kamu Sha.., daripada kamu nggak cocok nanti..",


Ya, tapi kan kamu bisa inisiatif tanya sama aku di Chat, Sat..


Atau kamu pesennya nunggu aku sampe,,


"Ya udah, pesen ini aja deh mbak. Minumnya orange jus..",


Sharen memberikan buku menu kepada Waitress.


"Kenapa mendadak tiba-tiba nggak pengen dijemput? padahal aku tadi udah otw ke kantor, kamu bilang udah otw kesini, eh malah aku yang nyampe duluan..",


Sharen memang tadi berbohong, dia berkata pada Satria kalau sudah berada dijalan menuju Cafe. Padahal, Sharen masih berada di lobby kantornya. Tiba-tiba Sharen tidak mood.


"Sekalian jalan Sat..",


"Dianterin sama sopir?",


"Iya..",


"Jujur, aku nggak nyaman loh kamu dikawal kayak gini..",


"Kenapa..?"


"Ya, merasa nggak bebas aja, merasa diawasi. Boleh nggak kalo besok-besok kita ketemuan, nggak usah bawa asisten atau sopir kamu itu.."


"Nggak bisa deh Sat, itu udah aturan dari Daddy.."


"Masa iya kalo nanti kita udah pacaran, tapi kamu masih diikutin kayak gini?"


"Ya paling dianterin aja, kan nggak apa-apa. Itu si Tama ikut masuk, karena dia juga butuh makan. Nggak apa-apa kan? Dia juga duduknya disitu, nggak ganggu juga..",

__ADS_1


"Ya udah, kalo emang itu peraturan dari orang tua kamu.., aku ngerti",


"Iya, dari Dad lebih tepatnya.."


Meskipun mengaku marah kepada Daddynya, tapi Sharen tetap mengikuti peraturan yang telah dibuat oleh Daddynya. Dulu saat berpacaran dengan Bian, Daddy tidak pernah seperti ini. Tapi, berbeda ketika saat ini dia sedang dalam tahap pedekate dengan Satria.


"Gimana kerjaan hari ini?"


"Seperti biasa, lancar Sat..


kamu..?",


"Sama..,tapi ada kendala dikit tadi. Tapi, udah bisa teratasi..",


"Hmm, syukur deh..",


"Oh ya,


aku baru tau dari Mami, kalo mas-mas yang pernah aku sapa di rumah kamu itu Nathan. Dia sahabat kamu, tapi naksir sama kamu, bener..?",


Sharen mengangguk.


"Kenapa nggak cerita..?",


"Nggak penting juga deh Sat..",


"Ya paling nggak kan kamu bilang.., waktu aku tanya sama kamu.."


"Mami kamu, tau dari Mommy aku ya..?"


"Huum.., mami aku juga kenal sama ibunya Nathan. Mereka kan sering kumpul..",


"Oh gitu..",


"Nanti kalo kita udah pacaran, jangan deket-deket sama Nathan ya..?"


"Kenapa?",


"Aku orangnya cemburuan, apalagi kalo tau dia ada rasa sama kamu..",


"Tapi, kan dia kerja juga di kantor Sat..",


"Ya kalian bisa bersikap profesional kan?",


"Bisa lah..


ya udah, nggak usah bahas dia lagi..bahas yang lain aja, bisa kan?"


"Hmmmm...


Kita makan dulu..",


Mereka melanjutkan obrolan ketika telah selesai menikmati makan siang mereka.


"Habis ini, mau nemenin aku ke mall nggak?", tanya Sharen.


"Ngapain..?",


"Ya belanja, ada skincare aku ada yang habis Sat..",


"Maaf Sha, tapi abis ini aku ada meeting dikantor..",


"Yah, ya udah deh kalo gitu..",


"Lain kali aja ya cantik..",


"Iya nggak apa-apa..",


"Sebenarnya aku kurang suka nemenin cewek ke mall..",


"Kenapa? takut kalo disuruh bayarin..?",


"Ya..salah satunya itu..",


"Hah...?",


"Bercanda..,


ya bukan gitu.., tapi kurang suka aja nemenin cewek belanja, aku kan nggak ngerti seleranya kayak gimana. Jadi, ya kalo mau pergi, pergi aja sendiri nggak apa-apa. Waktu ku terlalu berharga untuk itu..",


"Berarti emang nggak suka nemenin belanja, gitu ya..? bukan karena ada meeting..?",


"Kalo nggak ada meeting, pasti aku nemenin kamu kok.., tapi beneran ada meeting nanti Sha..",


"Iya nggak apa-apa..",


"Nih schedule ku..", Satria menunjukkan layar ponsel berisi jadwal kegiatan hariannya. Namun, Sharen juga enggan untuk membacanya dengan serius.


"Iya iya..",


"Jangan ngambek ya.., nanti cantiknya ilang..",

__ADS_1


Positifnya, Sharen menjadi tahu sikap Satria. Tapi, mereka kan baru pendekatan. Apakah tidak sebaiknya Satria menunjukkan perhatian meskipun dengan hal-hal kecil seperti itu?


__ADS_2