
Penampilan Aira pagi itu, dari ujung kepala sampai ujung kaki mungkin jika ditotal jumlahnya, bisa untuk membeli sebuah mobil. Dari mulai dress, aksesoris, tas, hingga sepatunya berharga mahal dan berasal dari brand ternama. Namun, bagi istri seorang CEO, sebagai seorang sosialita seperti dirinya, penampilannya tergolong wajar. Tidak terlihat berlebihan justru terlihat elegan.
"Mommy mau kemana? kok cantik banget..?", tanya Sharen. Jujur, semenjak mommynya sembuh, ini kali pertama dia melihat Mommynya berdandan.
"Mommy mau ketemu sama temen-temen..",
"Javas antar ya mom..?",
"Nggak usah.., kan dianterin Dad.."
"Bilang aja mau kencan lagi..,
boleh kok mom.., tapi jangan kasih Sha sama Javas oleh-oleh adik ya..",
"Bawel ya anak perawan mommy..,
makanya kalo nggak mau adik, cepetan kamu nikah, biar mommy juga cepet punya cucu..",
"Javas duluan aja deh mom..",
"Kakak rela dilangkahin emangnya?",
"Rela kok.., asal kamu izin dulu..",
"Beneran ya?",
"Tapi ada syaratnya Vas.., kakak minta dibeliin rumah mewah..",
"Ogah kalo itu..",
"Ye.., dikasih cepet kok nggak mau..",
"Ya udah.., mommy berangkat dulu..,
kalian hari ini nggak ada kegiatan? nggak pacaran..?",
"Nggak mom..,kan udah semalem kencannya..",
"Javas? ",
"Nanti agak siangan deh mom..",
"Oke kalo gitu.., nanti pulangnya mommy bawain oleh-oleh..",
"Jangan adik ya mom..",
"Nggak...",
"Mommy.., kita berangkat sekarang..?", tanya Jaz yang tiba-tiba keluar dari dalam rumah bersama Daddynya.
"Loh.., si tuyul ikut juga?",
"Iya? kenapa? kak Javas iri ya..?",
"Halah.., iri kok sama kamu.., belum sunat juga..",
"Dad...", adu Jaz kepada Daddynya.
"Javas..!!! adeknya baru sembuh.., jangan digodain..",
Saat Aira dan Rendra serta Javas hendak keluar, dokter Kinara juga keluar mengenakan baju rapi.
"Bu Aira.., saya jadi izin hari ini ya Bu, insya Allah cuma sebentar saja..",
"Oh dokter jadi pergi kondangan sama pacarnya?"
"Nggak jadi Bu.., sama temen-temen aja jadinya..",
"Gitu ya? mau bareng sama kita nggak?"
"Nggak perlu Bu..,nanti dijemput temen saya di depan.."
"Kalo gitu kami duluan ya dokter.., hati-hati dijalan..",
"Makasih Bu..",
"Dok.., kalo nggak dijemput boleh kok pake mobilku..",
"Makasih mbak Sharen.., ini temen saya sebentar lagi sampe sini kok mbak, udah sampe gerbang komplek, lagi izin sama penjaganya..",
"Oke deh kalo gitu.., hati-hati..",
"Makasih mbak.., mari..", ucapnya berpamitan kepada Sharen, dan Kinara menganggukkan kepalanya tersenyum bermaksud berpamitan pula dengan Javas yang kebetulan masih berada di ruang keluarga.
Javas tidak membalas senyuman manis itu, wajahnya datar ketika menatap wajah Kinara yang kala itu cantik dengan make up tipisnya. Kinara sudah terbiasa dengan perlakuan dingin Javas kepadanya. Diantara penghuni rumah, hanya Javas yang bersikap acuh seolah tidak suka dengan kehadiran Kinara. Namun, Kinara mencoba berpikir positif, setidaknya dia tinggal di rumah megah ini hanya untuk sementara.
Ini adalah perjalanan perdana bagi Rendra, Aira juga Jaz. Mereka bertiga bepergian tanpa di temani oleh pegawainya baik sopir, baby sitter atau pengawal pribadi. Aira dan Rendra ingin menyenangkan hati Jaz, mengajaknya bepergian, seperti yang mereka lakukan saat Sharen dan Javas saat kecil dulu.
"Kita mau kemana mom..?",
"Ke hotelnya Daddy..",
"Hotel? ngapain sayang..?",
"Kita ke acara ulang tahun, ya mom?",
"Nggak.., mommy ada arisan sebentar sama temen-temen mommy.., nanti disana Jaz sama Dad dulu ya, mommy cuma bentar kok, paling 1 jam..",
"Oke mom..",
__ADS_1
"Tau nggak, nanti disana ketemu sama Tante Farah, ada Tante Erna juga.., ada Tante Rizka, mamanya Azka, temen sekolah kamu..",
"Azka diajak nggak mom..?",
"Kayaknya nggak deh sayang..",
"Yah..",
"Kan Jaz nanti sama dad dulu..",
"Abis ini kita kemana mom?",
"Pergi beli mainan . Jaz.., bebas beli apa aja..., apa yang Jaz mau, apa yang Jaz pengen, mommy beliin.., Jaz mau jalan-jalan kemana aja...Dad sama Mom anterin. Jaz mau makan es krim? pizza? boleh..., asalkan Jaz seneng hari ini..",
"Asyik.., beneran ya mom..",
"Beneran sayang..",
"Oke deh mom.., makasih mom...dad..", ucap Jaz yang awalnya berdiri lalu kembali duduk dijok belakang.
"Sama-sama sayang..",
"Sayang.., ada Erna?",
"Iya.., kenapa? mas pengen ketemu..?",
"Bukan gitu.., tapi mas udah tau disana kamu mau ngapain. Udah deh, nggak usah cari perkara lagi..",
"Siapa juga yang nyari perkara, orang dia duluan. Udah tau Aira lagi sakit, bukannya doain, bukannya support tapi malah godain suami Aira. Dikiranya Aira nggak bangun lagi? dikiranya Aira meninggal? terus dia yang gantiin Aira , gitu? mengkhayal..",
"Ya ini salah mas juga, karena ladenin dia..", ucap Rendra dengan gentlenya.
"Mas udah minta maaf sama Aira, dan itu cukup. Kalo dia? boro-boro datang minta maaf, lewat chat sekedar ngucapin Alhamdulillah karena Aira udah sadar aja..., nggak. Temen macam apa itu?",
"Ya nggak tau.., itu kan temen kamu..",
"Temen mas juga kan?",
"Mas nggak mau berantem lagi, sayang. Iya.., terserah kamu mau ngomong apa. Yang penting kamu tau kalo mas ini cuma cinta sama kamu..",
Rendra mengalah, demi menurunkan emosi Aira yang tiba-tiba memuncak. Kini, mereka bertiga tiba di sebuah hotel milik Prime grup. Kedatangan Rendra yang begitu mendadak, sedikit menimbulkan kepanikan pegawai yang ada disana.
"Selamat siang, pak..Bu..?",
"Siang.., kami mau ke ruang pertemuan yang udah dibooking atas nama ibu Rizka..",
Pegawai tersebut langsung sigap melayani istri dari CEO tempatnya bekerja. Sedangkan Rendra dan Jaz langsung menuju lobby untuk menunggu Aira.
"Perlu kami bukakan kamar pak..?",
"Oh.., nggak perlu. Ibu Aira cuma sebentar. Saya sama Jaz nunggu disini aja..",
"Tolong satu botol air mineral untuk saya, sama 1 cup es krim buat anak saya..",
"Baik pak.., saya permisi dulu..",
Aira masuk ke dalam ruangan yang sudah dipesan oleh satu temannya. Ini, pertama kalinya mereka bertemu dengan teman kampusnya dulu setelah dia sadar dari komanya. Meskipun Aira tidak lulus kuliah dan bukan seorang sarjana, tapi dia tetap dimasukkan ke dalam grup fakultasnya. Teman-temannya tetap menghargai Aira, mungkin juga karena mereka tau suami Aira bukan orang sembarangan.
Aira disambut oleh teman-temannya dengan antusias. Bahkan ada yang terharu, karena melihat Aira yang bisa hidup kembali normal. Tak terkecuali dua orang yang bersikap biasa saja terhadapnya. Yang satu adalah Farah. Ya, istri dari Aldo itu memang sering bertemu dengannya. Apalagi, sekarang status mereka adalah calon besan. Dan yang satu lagi adalah Erna. Sahabatnya itu hanya diam mematung ketika teman yang lainnya menyambut kedatangan Aira dengan heboh. Erna yang duduk dipojokkan malah terlihat menyibukkan diri memainkan gadgetnya.
Aira duduk di kursi tengah, diapit oleh Farah juga Rizka yang menjadi ketua arisan.
"Jadi, gimana untuk putaran arisan baru yang selanjutnya? iurannya berapa nih?",
"Sejuta aja deh.., nggak usah banyak-banyak..",
"Yah, sejuta mah banyak. Gimana kalo 500ribu aja? lumayan loh dapetnya..",
"Jadi gimana? deal segitu?",
"Aku sih setuju aja..",
"Gimana yang lainnya?",
"Aku sih setuju..",
"Aku sih mas anang..",
"Maksudnya?",
"Aku sih iyes.., gitu maksudnya..",
"Owalah...",
Hahahahaha..
Mereka tertawa serempak.
"Oh iya.., aku mau usul nih.., gimana kalo kita arisan tas branded juga?",
"Hmmm.., aduh.., pengeluaran lagi banyak loh sist..",
"Ya nggak maksa kok, kalo mau ya ayok.., bikin..",
"Coba tanyain satu-satu dulu deh..",
Rizka sebagai ketua Arisan bertanya satu persatu anggotanya. Dan sebagian mereka mau ikut.
"Aira gimana? ikut?",
__ADS_1
"Kayaknya aku nggak ikut deh.., tas branded ku udah banyak. Aku juga sekarang jarang pergi, mau dipake kemana? lagian koleksinya anakku juga banyak, aku bisa pinjem ke dia..", ucap Aira dengan sombongnya. Dia memang sengaja berucap seperti itu, agar ada seseorang yang terusik dengan ucapannya.
Sayangnya, ucapan Aira yang terdengar sombong itu, tidak berlaku untuk teman-temannya. Karena mereka tahu, apa yang diucapkan Aira bukan bualan, tapi fakta.
"Owh gitu.., oke nggak apa-apa. Namanya juga Bu CEO,, koleksinya banyak, duitnya juga nggak berseri. Bagi satu lah Ra.., buat aku..", ucap Rizka.
"Kamu mau Riz?",
"Beneran mau lah kalo dikasih..",
"Kalo mau, ke rumah aja..",
"Beneran Ra?",
"Aku aja kemarin abis di kasih Di*or sama Aira...",
"Hehe maaf ya Far, lain kali dikasih yang baru deh..",
"Nggak apa-apa Ra, kalo kamu bosen, kasih lagi aja, bekas nggak apa-apa, toh masih bagus..",
"Beneran aku ke rumah ya Ra?",
"Bener.., yang lainnya juga boleh kok ke rumah. Aku tuh loyal kalo sama temen. Aku punya sesuatu yang bisa aku bagi, pasti aku bagi. Kecuali berbagi suami.., iya kan Er..?", sindir Aira.
"Hah.., apa?",
"Kamu nggak denger ya? aku tuh suka berbagi kalo sama temen, kecuali berbagi suami.., bener kan?",
Erna menaikkan bahunya sinis.
"Ra.., jangan mulai", bisik Farah.
"Oh ya Er.., mas Rendra ada loh di lobby bawah, sama Jaz.., kamu nggak pengen ketemu?",
"Nggak lah, ngapain?",
"Beneran? nggak kangen ya kamu? ",
"Apaan sih Ra..",
"Kok sekarang nggak pernah kerumah, kenapa? karena tau nyonya rumah udah kembali ya..?"
"Nggak usah mulai Ra.., dari tadi aku cuma diem loh..",
"Yang mulai kan kamu.., perlu aku sebutin satu per satu?", Aira berdiri lalu berjalan menuju kursi paling ujung. Aira mengusir temannya yang duduk berhadapan dengan Erna. Kini, Aira duduk berhadapan dengan Erna.
"Kamu mau malu-maluin aku di depan teman-teman, gitu Ra? ",
"Loh siapa yang mau malu-maluin sih.., kan aku cuma bilang kalo mas Rendra ada di bawah..",
"Aku sama mas Rendra memang pernah deket, tapi sekarang udah nggak..",
"Pernah Deket atau kamu yang coba deketin suamiku?"
"Kalopun aku yang deketin dulu, kenapa suamimu mau? jangan salahin aku aja, tapi suamimu juga..",
"Nggak usah kamu ajarin, aku juga udah kasih pelajaran kok buat mas Rendra..dia udah minta maaf sama aku. Dan, hubungan ayah dan anak laki-lakinya sempet hancur, gara-gara kamu..",
"Kok aku?",
"Emangnya kamu pikir, aku nggak tau? kamu pernah bilang ke Javas kalo Daddynya pernah tidur sama kamu? Javas jadi benci sama Daddynya karena ucapan konyol kamu itu..",
Astaga
Astagfirulloh..
Ya Allah, Erna.., nggak nyangka aku..
Sabar Ra..
Terdengar ucapan dari teman-teman Aira yang mendengarkan adu mulut Aira dan Erna.
"Emang aku pernah tidur sama suami kamu.., coba tanya aja sama mas Rendra. Eh tapi, pasti dia nyangkal, karena takut sama kamu.."
"Gimana? enak kan? bisa buat kamu puas?",
"Banget Ra..",
"Syukur deh kalo gitu, berarti aku nggak salah pilih suami. Ganteng, kaya, udah gitu pinter di atas ranjang. Kamu bangga udah tidur sama suami dari sahabat kamu sendiri? "
Erna diam.
"Kok nggak dinikahin? kenapa? cuma test Drive aja ya?",
"Aira cukup...!!!!",
"Kok kamu nggak hamil ya Er? aku aja sekali berhubungan langsung hamil , lahir Javas, lahir Jaz juga ada karena kebobolan.., tapi mungkin anak laki-laki ku itu ada untuk melindungi mommynya dari manusia seperti kamu..",
"Cukup ya Ra..!!",
"Aku cuma mau denger ucapan permintaan maaf dari kamu, tapi kayaknya mustahil ya Er. Ya udah.., aku sadarin kamu aja biar nggak mimpi terus-terusan..",
Tanpa diduga, Aira mengguyur muka Erna menggunakan segelas orange jus yang ada dihadapannya. Aira benar-benar terlihat marah.
"Itu buat kamu, biar nggak mengkhayal menggantikan posisiku. Dan, satu lagi.., jangan jual cerita menjijikkan tentang suamiku yang mau tidur sama kamu. Karena itu nggak mungkin terjadi. Mas Rendra setia sama aku.., dan aku tau betul dia nggak pernah lakuin itu..",
Aira pergi keluar dari ruangan itu, meninggalkan Erna yang sudah terlanjur malu. Mereka yang ada disana sampai terpana melihat kemarahan Aira kepada sahabatnya sendiri.
Aira murka karena suaminya difitnah. Aira marah karena fitnahan itu membuat hubungan Javas dan Daddynya sempat renggang. Aira tidak terima keluarganya diusik.
__ADS_1