
Javas masih mengenakan pakaian yang sama. Semenjak pagi, memang dia belum pulang ke rumahnya. Dari rumah sakit, rumah Mine, pemakaman, sampai balik ke rumah Mine lagi. Malam ini, tahlilan hari pertama meninggalnya Mine sudah selesai di selenggarakan. Javas masih berada disana. Rasanya, Mine masih ada disini. Javas masih belum percaya jika Mine sudah meninggalkannya.
"Vas.., mau Tante ambilin bajunya Nathan? Kamu nggak gerah?",
Javas menggeleng.
"Nggak usah Tante..",
"Vas.., Tante ada sesuatu buat kamu..",
"Apa Tante..?",
"Sebentar ya..",
Tante Farah terlihat tegar. Beliau sudah bisa menerima kenyataan jika putri kesayangannya sudah meninggalkannya.
Tante Farah memberikan sebuah kota kecil pada Javas.
"Waktu Mine masih sadar, dia ngasih itu ke tante. Katanya, buat kamu..",
"Kenapa Mine nggak ngasih langsung ke Javas Tan?",
"Mine bilang, Tante yang harus ngasih ke kamu. Tunggu dia sembuh. Ternyata, ini maksudnya sembuh...",
"Makasih Tante..",
"Tante baru tau, istri kamu hilang. Tante minta maaf ya Vas, ini gara-gara Tante juga..",
"Semua udah jalannya Tante.., Javas yang salah. Javas terima..",
"Tante mungkin jahat, tapi Tante bersyukur udah bisa penuhi keinginan terakhirnya Mine, buat bisa sama kamu. Tante janji Vas, nanti Tante akan bantu kamu buat nemuin Kina..",
"Makasih, tapi nggak perlu Tante, nggak ada petunjuk satupun tentang hilangnya Kina..",
"Tante doain semoga Kina cepet ketemu ya..",
"Makasih..
Tante..kayaknya Javas mau pulang aja. Besok Javas kesini lagi Tan..",
"Makasih Vas.., kamu udah ada di saat terakhirnya Mine..",
"Sama-sama Tante..",
Selesai membersihkan badannya, Javas merebahkan badannya di atas ranjang. Dia membuka kotak yang dari Mine. Isinya, ternyata surat.
Halo kak Javas....
Kalo kak Javas baca surat ini, mungkin Mine udah nggak ada disini. Mine udah pergi ke tempat yang lebih indah.
Mine mau cerita...
Waktu pertama kali tau kalo Mine sakit, Mine sedih. Nggak tau kenapa Mine langsung kepikiran sama janji-janji kita. Janji selalu bersama saat suka dan duka. Dan, Mine yang ngingkari janji itu kak. Mine terpaksa pergi, tanpa Kak Javas tau saat itu kalo Mine sakit. Mine nggak mau kak Javas sedih, sedangkan Kak Javas lagi bahagia, karena Tante Aira udah bangun lagi. Tante Aira sembuh, eh malah Mine yang sakit.
__ADS_1
Mine sengaja minta Mama Papa nggak kasih tau siapa-siapa, termasuk kak Javas. Maunya, Mine kembali...Mine udah sembuh dan kita bisa sama-sama lagi. Tapi salah. Penyakit jahat ini, terus menyerang Mine. Sekuat tenaga Mine lawan, demi kak Javas, demi Papa Mama juga kak Nathan. Tapi, Mine nggak sanggup.
Mine minta pulang karena tau waktu Mine nggak lama lagi. Mine pengen ketemu sama kak Javas, laki-laki yang sampai saat ini masih sangat amat Mine sayang&cinta. Mine pengen kak Javas selalu ada di sisi Mine sebelum Mine pergi.
Mine mau ngucapin terima kasih ke kak Javas. Disaat-saat terakhir Mine, kakak mau nemenin. Walaupun mungkin, istri kakak pasti keberatan karena waktu kakak banyak tersita untuk Mine.
Mine udah tau kalo kak Javas udah nikah sama dokter Kina. Ternyata istri Kakak adalah Perempuan cantik, cerdas, sopan, lemah lembut, mandiri, berbanding berbalik dengan Mine. Waktu itu, Mine nggak sengaja denger obrolan suster sama dokter yang periksa Mine . Mine shock, kaget, juga sedih. Kenapa dokter kina? tapi, mungkin ini udah takdirnya. Tapi, Mine juga bahagia kak. Karena, sebelum Mine pergi, Mine udah tau siapa perempuan yang mendampingi kak Javas. Dan dia perempuan yang layak untuk menjadi istri kakak. Yang paling penting untuk Mine, kak Javas bahagia meskipun bukan sama Mine.
Maafin Mine yang memilih pura-pura nggak tau tentang pernikahan kakak & dokter Kina. Mine juga nggak cerita ke Mama atau Papa tentang ini. Kenapa kak Javas nggak cerita aja? Kak Javas takut Mine sedih ya? Kak Javas mau menjaga perasaan Mine?
Mine egois kak, Mine takut kak Javas menjauh. Mine cuma mau kak Javas ada di samping Mine tanpa memikirkan perasaan istri kakak. Sampaikan maaf mine untuk kak Kina ya kak. Mine nggak punya niat untuk merebut, atau minta untuk berbagi. Mine cuma mau pinjam kak Javas, hanya sebentar saja sampai saatnya tiba.
Oh ya, ini gelang yang pernah kakak kasih sebelum Mine pergi. Kakak bilang, ini salah satu simbol cinta kakak untuk perempuan yang sangat kakak cintai. Mine kembaliin.., tolong kasih untuk kak Kina. Mine tau kak Javas sangat mencintai kak Kina....
Kak Javas...
Mine cuma mau bilang, kalo Mine sangat cinta sama Kakak, nggak peduli mungkin rasa yang kakak punya bukan lagi untuk Mine. Nggak apa-apa, Mine akan bawa rasa ini sampai Mine mati. Mine harap dan berdoa semoga Kak Javas selalu bahagia. Jangan sakitin kak Kina ya kak.., bahagian dia seperti dulu kakak bahagia Mine waktu kita masih bersama.
Mine tunggu kakak di surga ya. Semoga suatu saat nanti kita bisa bertemu kembali.
Selamat tinggal kak, Mine sayang Kakak..
Begitu isi surat yang Mine titipkan melalui Tante Farah. Ternyata, selama ini Mine sudah tahu tentang pernikahannya.
"Mine..maafin Kakak yang nggak nunggu kamu. Tapi, Kina udah jadi takdir kakak Mine.., terima kasih kamu sudah mengerti...",
Javas memegang gelang yang dia berikan untuk Mine. Sekarang, gelang itu kembali kepadanya. Mine menitipkannya pada Javas untuk dia berikan untuk Kina, istrinya.
Flashback
Mine tertidur setelah meminum obat.
"Pak Javas, disitu saja nggak apa-apa. Kami hanya periksa mbak Mine saja..",
Sepertinya suara dokter yang biasanya menanganinya.
"Nggak apa-apa dok, saya mau keluar sebentar. Silahkan kalo mau periksa Mine..",
Ingin membuka matanya, tapi rasanya sangat berat. Mine sudah bangun tapi, matanya sepertinya masih enggan membuka.
"Dok.., itu suaminya dokter Kina kan?",
"Shuttttt...",
"Kenapa dok..?",
"Jangan ngomongin mas Javas sama dokter Kina disini sus...",
"Kenapa?",
"Mbak Mine nggak tau kalo mas Javas sama mbak Kina udah nikah..", bisik dokter tersebut. Meskipun berucap dengan sangat pelan, namun telinga Mine masih bisa mendengarnya.
"Oh..kenapa sih dok..?",
__ADS_1
"Karena......",
Suara keduanya menghilang.
Jasmine membuka matanya. Dia yakin, apa yang di dengarnya barusan bukanlah mimpi atau halusinasi. Mine mendengarnya dengan jelas. Jadi, Javas sudah menikah dengan dokter Kina? Bagaimana bisa?
Pantas saja, setiap kali menemaninya. Javas terlihat gelisah. Selalu saja melihat waktu melalui jam tangannya. Setiap ditanya, Javas hanya menjawabnya singkat.
"Kakak cuma mau mastiin kamu minum obat tepat waktu.., jangan sampai telat..",
Tidak hanya itu yang membuat Mine yakin jika Javas memang sudah menikahi dokter Kina. Javas juga sering terlihat mengecek ponselnya, seperti sedang menunggu kabar dari seseorang.
"Iya sayang, mas pulang. Tunggu ya..",
Sebuah ucapan yang malam itu Mine dengar dengan jelas. Javas berbicara dengan seseorang melalui ponselnya saat dia keluar dari kamar rawatnya.
Bahkan, cincin yang selama ini Javas pakai, ternyata adalah sebuah cincin pernikahan. Cincin yang Mine kira hanya sebuah aksesoris semata, ternyata adalah simbol dari sebuah pernikahan.
Ingin memastikan sekali lagi. Mine mencoba bertanya, meskipun tidak secara langsung. Mine ingin memancingnya.
"Kak.., dokter Kina, cantik ya..",
"Iya cantik..dia baik", ucap Javas dengan sumringah.
"Udah punya pacar kak?",
"Ya nggak lah..",
"Kenapa? kan dokter Kina cantik..",
"Emangnya kalo cantik gampang gitu punya pacar?",
"Ya bisa aja..
Kayaknya dokter Kina cocok deh sama Kak Nathan, gimana kak?",
"Nggak cocok...",
"Terus cocoknya sama siapa?",
"Kamu bukan biro jodoh Mine..,nggak usah jodoh-jodohin segala..",
"Hmmm.., ya udah deh kalo gitu..",
Javas keluar dari kamarnya. Meskipun hanya sebentar, tapi sudah cukup bagi Mine. Bertemu dengan Javas adalah sebuah kewajiban yang tidak bisa dia lewatkan.
Suara mobil terdengar terparkir di depan. Entah kenapa, setiap kali ada mobil yang terparkir disana. Mine selalu membayangkan, suatu saat nanti mobil milik orang tuanya juga akan berhenti disana untuk menjemputnya pulang.
Mine membuka gordyn, ingin melihat pasien yang malam ini pulang. Tapi, menunjukkan sesuatu yang selama ini ingin Mine pungkiri, tapi inilah kenyataannya. Dengan jelas, Mine melihat Javas yang tengah membopong dokter Kina, masuk ke dalam mobil. Mine melihatnya dengan seksama. Terlihat jelas, jika apa yang dilakukan Javas adalah bentuk rasa cintanya.
Mine memilih untuk menyembunyikannya. Mine sedih, tapi juga mencoba berbesar hati. Javas berhak meneruskan hidupnya.
"Mine ikut bahagia kak.., tapi maaf. Mine memilih berpura-pura untuk tidak mengetahuinya. Mine butuh kak Javas..",
__ADS_1