
"Javas udah berangkat?",
"Udah.., ke bengkel katanya mas.."
"Baru jam segini, ada apa, tumben. Ada apa sayang?",
"Kan dia bagi waktu mas, katanya habis dari bengkel langsung ke kantor..",
"Anak kita semakin bisa diandalkan.., perkembangan dia jauh.., sangat pesat Ra.",
"Syukurlah kalo gitu mas..
Sepi ya mas, Sha lagi liburan, Javas kerja, Jaz sekolah.., tinggal kita berdua. Bentar lagi mas juga ke kantor..",
"Kamu mau ikut?",
"Nggak.., andai aja Sha sama Bian nggak putus, mungkin Aira mau desak biar mereka cepet nikah. Biar rumah kita rame ..",
"Udah pengen punya cucu?",
"Iya.."
"Kalo punya anak lagi aja, gimana? masih bisa kan?",
"Mas..mau kehilangan Aira lagi? nggak trauma ya mas?"
"Astaga sayang, kamu kok ngomongnya gitu. Seandainya kamu emang hamil lagi, mas juga bakalan bener-bener jaga kamu.., nggak ada kejadian jatuh dari tangga lagi, mas nggak sanggup tanpa kamu..",
"Aira kira kita yang bakalan mantu duluan, nggak taunya Revan sama mbak Fatma dulu..",
"Jodoh nggak ada yang tau.., nggak usah paksa anak-anak buat nikah kalo mereka belum siap. Apalagi Sharen juga keliatannya mau nikmatin hidupnya, Javas juga masih nunggu Mine selesai kuliah..
Kai kapan nikahnya?",
"Empat bulan lagi, bulan depan tunangan dulu..",
"Berarti Kai jodohnya udah sampai, anak kita belum. Santai aja sayang..,
"Iya.. Aira berdoa semoga anak berjodoh dengan jodoh yang sebenarnya. Terutama, Sharen.. mas tau nggak doa Aira buat Sharen itu apa?",
"Apa emangnya?",
"Semoga Sharen nggak ditaksir sama bule, kalopun ditaksir, semoga anak kita nggak mau. Aira nggak pengen punya menantu import mas.., maunya asli pribumi aja.."
"Kalo jodoh ya emang bule, gimana? kita mau larang?",
"Makanya Aira berdoa biar nggak dapet jodoh bule mas...",
"Semoga aja nggak.., mas rasa ribet juga..apalagi Sha itu anak perempuan mas satu-satunya..mas larang dia jauh.., kalo nikah juga nanti biar dia cari rumah yang deket sama kita..",
"Mas Aira pengen ketemu sama Mama. Boleh?",
"Boleh.., mau sekalian bareng mas?",
"Iya.., Aira ganti baju dulu..",
"Jaz gimana nanti?",
"Dari sekolah biar langsung nyusul ke rumah Revan mas..",
"Oke.., kamu siap-siap dulu aja..",
__ADS_1
Setelah mengantar istrinya ke rumah Revan, Rendra langsung mengarahkan mobilnya ke Prime grup. Rendra masih menjalankan perannya sebagai pemimpin perusahaan, namun hanya sekedar mengawasi. Karena, sedikit demi sedikit, step by step kursi kepemimpinan akan diambil alih oleh Javas, segera. Semua keputusan sudah mulai dipegang oleh Javas.
"Bos.., saya mau izin cuti..", ucap Aldo yang langsung menyodorkan kertas berisi surat permohonan cuti yang sudah dia buat.
"Berapa lama?",
"Satu bulan..",
"Mau naik haji?",
"Hah..? gimana bos..?",
"Satu bulan kayak orang mau naik haji aja.."
"Mau nganter Farah, nyusul Yasmine..",
"Selama itu?",
"Sekalian liburan Ren..",
"Ada yang kamu sembunyikan Al..?",
"Nggak ada Ren..",
"Mine sama Nathan baik-baik aja kan disana?",
"Baik Ren.."
"Tapi kalian balik lagi ke indo kan Al?",
"Ya balik lah Ren..",
"Kasian Farah, tiap hari nangisin anaknya. Visanya udah jadi, Farahnya pengen cepet-cepet dianter. Lusa kami berangkat..",
"Tiket udah beres semua Al?",
"Udah.., dibantu sama asistenku..",
Tidak ada yang janggal, tidak ada pula kecurigaan kepada Aldo. Selama puluhan tahun bekerja kepadanya, Aldo adalah satu-satunya orang yang Rendra percaya. Selain kinerjanya yang bagus, Aldo juga mempunyai loyalitas yang sangat tinggi, baik kepada Perusahaan maupun kepada dirinya pribadi. Memberikan waktu satu bulan untuk bebas tugas dari pekerjaannya,adalah salah satu penghargaan kecil bagi Aldo.
"Mas.., mamah ngeluh dadanya sakit..", ucap Aira diujung telepon dengan nada panik.
"Sesak nafas Ra?",
"Iya agak berat nafasnya mas..",
"Mas kesitu sayang..",
Oma Widya diperiksa oleh dokter. Dan, mengatakan jika kondisi Oma Widya drop dan harus dirawat intensif di rumah sakit. Faktor usia adalah salah satu penyebab utamanya. Dan, ini sangat wajar.
"Kita langsung bawa Mama ke Spore aja Van...",
"Iya kak.., pesawat biar diurus sama Rizky..",
Oma Widya dibawa ke Spore dengan menggunakan jet pribadi. Kenyamanan menjadi alasan utamanya.
Meskipun berat, tapi Aira harus tetap tega meninggalkan putra bungsunya. Aira ikut mendampingi Oma Widya ke Spore, bersama Rendra, Revan Fafa serta Kai dan Rai. Javas yang berhalangan ikut karena harus memegang kendali Prime grup.
"Mommy nemenin Oma dulu ya sayang.., Jaz disini sama kak Javas dulu, oke?",
"Oke mom.., Jaz disini nggak akan nakal..",
__ADS_1
"Beneran ya, awas aja kamu nggak nurut sama kak Javas..",
"Bawel..",
"Dasar tuyul..",
Setelah mengantarkan rombongan keluarganya ke bandara, mengantarkan Jaz ke rumah, Javas langsung kembali menuju Prime grup. Disana, dia sudah ditunggu oleh setumpuk berkas yang membutuhkan tanda tangan persetujuannya.
"Sebelah sini ya om..", ucapnya berbicara pada Aldo, calon mertuanya.
"Besok lusa om mau antar Tante Farah ke Aussie..",ucap Aldo yang bermaksud memberitahu Javas secara langsung, meskipun Aldo sudah mendapatkan persetujuan dari Rendra.
"Kok mendadak om.., Mine baik-baik aja kan?",
"Visa Tante Farah jadi lebih cepat Vas.., jadi pengen buru-buru ketemu sama Mine, kangen katanya..",
"Jam berapa om?",
"Penerbangan malam..",
"Javas bisa titip barang buat Mine?",
"Oke.., bisa Vas..",
"Berapa lama disana om?"
"Kurang lebih satu bulan.."
"Kok lama banget om?"
"Daddy mu belum bilang?",
"Javas belum sempet ngobrol, hari ini juga Dad udah keburu ke Spore..",
"Jangan khawatir, asistent om udah paham kerjaan apa yang biasa om pegang.., kalo butuh sesuatu, kamu minta aja sama dia..",
"Iya om..",
Javas sedikit ngilu memikirkan pekerjaannya beberapa hari kedepan. Tidak ada Queen, Daddy, Tante Vina yang juga ikut ke Spore. Ditambah lagi Om Aldo yang akan pergi mengantarkan istrinya ke Aussie. Javas benar-benar seorang diri.
Bukan Dad atau Mom, tetapi orang pertama yang dihubungi oleh Sharen ketika dia sampai adalah Nathan.
Nath, aku udah sampai dengan selamat. Aku udah di Apartement.
Setelah mengirim pesan untuk Nathan, Sharen bergegas merapikan bawaannya. Satu bulan ke depan, dia akan tinggal di New Zealand.
Have fun, sayang...
Be Happy always..
Sebuah chat dari Nathan yang membuat Sharen membulatkan matanya. Sharen beruang kali membaca balasan dari Nathan, dia kira salah membaca. Berulang kali mengecek apakah memang pesan itu dari Nathan, atau dari Bian?
Sayang..?
Apa?
Kamu salah kirim ya Nath? kamu chatan sama Luna juga..?
Menunggu hampir 30 menit, tapi tidak ada balasan chat dari Nathan. Sharen lantas memberi kabar kepada mommynya jika dia sudah sampai dengan selamat.
Spoiler di IG yak..
__ADS_1