Istri Pura - Pura ( Bukan Perawan Tua )

Istri Pura - Pura ( Bukan Perawan Tua )
Perlahan


__ADS_3

Kinara dan Javas, sampai di rumah sakit milik keluarga Perdana. Dengan sigap, Javas langsung membukakan pintu mobil untuk istri dan putranya.


"Awas pelan-pelan..",


Javas membantu Kinara yang kepayahan turun dari mobil karena menggendong Ze.


"Tasnya Ze mas..",


"Iya nanti mas yang bawa...",


Javas memarkir mobilnya di depan loby. Tanpa perlu repot-repot memindahkan mobilnya ke tempat parkir, petugas keamanan dengan cepat langsung mengambil alih mobil Javas.


"Sini tasnya mas..",


"Nggak usah, mas aja yang bawa..",


"Nggak malu..?",


"Ngapain malu..? udah yuk ke dalem..",


Mereka berdua berjalan beriringan dengan tangan Javas yang merangkul pundak istrinya.


Petugas dan pegawai rumah sakit yang memang sudah tau siapa mereka, tersenyum serta sedikit menundukkan kepalanya ketika berpapasan dengan Javas.


"Sus..atas nama Zeev Allafta Perdana..",


Javas berbicara pada suster ketika mereka sudah berada di depan poli anak.


"Baik pak.., sebentar dokternya baru ada pasien. Mohon tunggu sebentar..",


"Nggak usah antre kan?",


"Iya pak tidak perlu, tapi mohon maaf di dalam dokternya baru ada pasien..",


"Oke..",


Tumben pengertian, sepertinya Javas sudah mulai mempunyai stok kesabaran.


"Antre dulu ya mas..?",


"Nggak.., tapi di dalam baru ada pasien. Abis ini dipanggil..",


"Hmmm..gitu..",


"Ze tidur..?",


"Hehe iya...


Bentar lagi paling juga bangun..", jawab Kinara. Tubuh Ze memang ditutup rapat oleh selimut, hingga Javas juga tidak melihat muka putranya.


"Ze masih bisa nafas kan..?",


"Bisa mas...nih...", Kinara memperlihatkan muka Ze yang ternyata sudah membuka matanya. Bayinya ini memang anteng, tidak rewel.


"Lho..anak Papa udah bangun...?",


Ze tersenyum.


"Emang udah bisa liat ya sayang..?",


"Bisa, tapi masih kabur. Kan masih 2 minggu. Jadi kalo liat mas ya burem gitu..",


"Papa ganteng kayak gini, mas burem..?


Bisa liat jelas, kapan?",


"Minimal kalo udah sebulan atau 40 hari..",


"40 harinya kapan?", tanya Javas dengan tatapan nakalnya. Alah, Kina sih sudah tahu maksud pertanyaan Javas.


"Masih sebulan lagi..",


"Mana ada, kan ini udah 2 Minggu, berarti 3 mingguan lagi kan?",


"Ya nggak tau, itung aja sendiri..", jawab Kinara yang mulai kesal.


"Jangan cemberut, jadi makin cantik, mas makin gemes sama kamu..",


"Tau ah..",

__ADS_1


"Iya iya..kamu emang masih marah, kapan ilangnya sih sayang..?",


Belum sempat untuk menjawab, tapi suster sudah memanggil nama Ze untuk masuk ke dalam.


"Selamat pagi, bapak ibu...",


"Pagi dok..",


"Hari ini jadwal imunisasi ya..",


"Iya dok..",


"Baik..


yuk anak ganteng sama Bu dokter dulu.., kita timbang dulu ya..",


Zeev diletakkan diatas timbangan. Bayi itu diam, tanpa menangis. Hanya saja tubuhnya yang menggeliat-liat.


"Wah.., sudah naik 5 ons ya..., nyusunya kuat ya Bu..?",


"Iya dok..",


"Pantesan tambah berat ya Ze....", ucap Javas.


Kinara terlihat sangat senang ketika mendengar perkembangan putranya. Dari berat badan, tinggi badan serta lingkar kepala yang menunjukkan pertumbuhan normal dan baik untuk bayi seumurannya.


"Nah.., sekarang kita suntik dulu ya..",


"Mas aja yang nemenin, Kina nggak tega..", kata Kina pada suaminya.


"Ya udah...",


Javas mendampingi putranya yang akan disuntik imunisasi, sedangkan Kinara memilih menjauh agar tidak melihatnya.


Oeeekk...oeeekk...


Ze menangis ketika tubuhnya mulai disuntik. Tapi, hanya sesaat. Karena langsung digendong dan ditenangkan oleh Javas.


"Cup..cup..cup..


anak pinter anak kuat, nggak apa-apa. Cuma sakit sebentar aja kok...,


"Sama mas dulu aja..., Kina nggak tega gendongnya...",


Mereka keluar dari rumah sakit dengan posisi Ze yang digendong oleh Papanya. Sedangkan Kinara berganti membawa keperluan Ze.


"Udah mau gendong belum..?",


"Iya, siniin..


Kalo Ze masih digendong, nanti mas nyetirnya gimana?",


"Mas bisa kok sambil nyetir..",


"Nggak..nggak..,


siniin Ze nya...",


Kinara sedikit kesal, karena melihat suaminya yang sibuk dengan ponsel, padahal dia sedang menyetir.


"Balas Chat siapa sih?",


"Temen sayang..",


"Penting banget? emang nggak bisa nanti ya?",


"Nggak kok, ini udah..


jangan cemburu..",


"Bukan perkara cemburu, tapi mas lagi nyetir..ada Ze loh mas..",


"Iya sayang, ini udah lho..",


Bukannya langsung pulang menuju rumah, Javas justru mengambil jalan berlawanan.


"Loh, mau kemana?",


"Ke mall sebentar..",

__ADS_1


"Mau belanja? atau mau apa?",


"Ini rekan bisnisnya mas ngajak ketemu, bentar... 10 menit aja sayang, kamu tunggu di mobil aja ya. Kasian Ze kalo ikut masuk..",


"Hmmmm..",


Entah sepenting apa rekan bisnisnya hingga Javas rela untuk bertemu.


"Tunggu dulu ya sayang..", ucap Javas yang langsung turun dari mobilnya dengan tergesa-gesa.


Kinara menunggu diparkiran, untungnya Ze dalam keadaan tidur. Mesin mobil juga dalam keadaan menyala, sehingga tidak membuat keduanya gerah karena AC tetap menyala.


Javas ternyata menepati janjinya, tidak kurang dari 10 menit dia kembali ke dalam mobil.


"Bentar kan..?",


"He'em...",


"Kita pulang sekarang...",


Seperti malam-malam sebelumnya, Ze tetap tidur di dalam kamar mereka, bukan di kamar bayinya.


Setiap di taruh di atas tempat tidur, Ze selalu menangis. Nampaknya bayi itu sedang ingin tidur di dalam box bayinya.


"Akhirnya tidur juga..., mama tidur juga ya sayang...?",


Jam menunjukkan pukul 9, Ze sudah terlelap. Begitu pula dengan Kinara yang sudah ingin beristiragat.


Javas yang sebelumnya bersama Daddynya untuk membahas pekerjaan, masuk ke dalam kamarnya. Dilihatnya putranya yang sudah terlelap, juga istrinya yang sudah memejamkan mata.


"Na.., udah tidur sayang..?", tanya Javas yang ikut berbaring di samping istrinya


"Hmmmm....",


"Padahal mas mau ngomong sama kamu..",


Kinara membuka matanya. Pandangan mata mereka saling beradu. Jantung Javas berdegup kencang saat bertatapan dengan Kinara dengan jarak dekat seperti ini. Sudah lama rasanya, mereka tidak berada dalam posisi sekarang ini.


"Kina ngantuk..",


"Happy anniversary sayang...", ucap Javas. Dia meraih tangan Kinara, lalu memasukkan sebuah cincin di jari Kinara. Masih dalam posisi berbaring.


"Seharusnya seminggu sebelum Ze lahir , tapi nggak apa-apa telat ngasih kamu hadiah, mas cuma mau ngucapin aja..., usia pernikahan kita udah setahun. Makasih kamu udah lahirin anak ganteng kita, makasih kamu masih mau bertahan dengan pernikahan kita yang banyak banget rintangannya..


Tadi mas ngajakin kamu mall, buat ambil cincin ini. Cincin yang udah mas pesen dari lama..",


"Makasih...",ucap Kinara yang melihat cincin berlian yang kini melingkar di jarinya.


"Kamu suka..?",


Kina justru balik bertanya pada suaminya.


"Mas sayang nggak sih sama Kina?",tanyanya. Kinara melihat mata Javas dengan serius.


"Sayang banget,  sayang..",


"Mas cinta nggak sama istri mas..?",


"I love you, so much Na..,


mas nggak tau gimana jadinya kalo kamu beneran minta pisah sama mas..",


Javas memeluk istrinya, dan tidak ada penolakan. Kina justru menenggelamkan wajahnya pada dada Javas. Sepertinya gunung es sudah mulai mencair.


"Kamu udah maafin mas..?",


"Dikit...",


"Terus..?",


"Udah nikmatin aja..", ucapnya mempererat pelukannya pada Javas.


"Ya udah, tidur sekarang. Tengah malam nanti kamu pasti kebangun buat nyusuin Ze..",


"He'em..",


Javas mencium pucuk kepala istrinya, dia lantas ikut menyusul Kina untuk beristirahat. Namun, sebelumnya Javas berkata dalam hatinya.


"Terima kasih ya Allah, akhirnya Engkau mendengarkan doa hamba-Mu ini...",

__ADS_1


__ADS_2