
"Yang bagus, merk apa Tan? ini apa itu sih?",
"Dua-duanya bagus, cuma anak-anak sukanya sama merk ini yang varian lavender deh Na..katanya lebih wangi..",
"Oh oke.., yang ini ya..,
Tissuenya yang mana?",
"Pase*o aja udah.., lebih lembut..",
"Oke..",
"Pewanginya..",
"Campur aja Na..",
Kinara yang sedang memilih barang belanjaan terperanjat karena namanya yang tiba-tiba disebut oleh seorang anak.
"Dokter Kinara...!!!!!!",
Kok kayak suaranya Jaz.
Spontan Kinara menoleh ke belakang dan benar. Memang suara Jaz.
"Halo kak dok..kita ketemu lagi deh..",
"Jaz..kok disini?",
"Kan ini tokonya kakek..",
"Oh ini punya kakek ya..",
"Siapa Na?",
"Ini Jaz, bungsunya Bu Aira..",
"Owalah adiknya mas Javas ya..
Halo ganteng..",
"Halo....
Kak dok ngapain disini?",
"Belanja dong..",
"Wah..banyak banget...",
"Iya..ini belanjaan Tante..",
"Kak..mau itu..", ucap Jaz yang menunjuk Snack yang tempatnya ada di rak paling atas.
"Sini-sini..biar Tante aja yang gendong..", ucap Tante Tia.
Dengan digendong oleh Tante Tia, Jaz mengambil beberapa Snack yang dia mau.
"Udah Jaz?",
"Udah.., nih mbak..", Jaz memberikan Snack yang dipilihnya kepada pegawai yang menemaninya tadi.
"Jaz....!!!", ucap Javas.
"Halo kak.., Jaz disini..", jawabnya dengan "bye-bye", kepada kakaknya.
Wajah Kinara yang awalnya berseri, kini berubah menjadi layu, takut dan terlihat gelisah. Mungkin, karena sebelum pergi kemarin, Javas sempat mengomel padanya.
"Oh disini sama Mas Javas..",
"Tante disini ya...",
Tuh kan, Javas terdengar sangat ramah kepada Tante Tia. Kalau sikap kepada Kinara, nanti pasti berbeda 180 derajat.
"Iya..ini belanja..", jawabnya.
"Banyak banget Tante.., troly nya sampe penuh..",
"Iya mas.., belanja bulanan.., buat anak kost juga..",
"Jaz kamu turun dulu ya.., sana ke om Didik aja. Jajannya udah?",
"Udah kak.., tuh..",
"Wah satu keranjang penuh, kamu mau ngerampok kakek?",
"Kakek kan bilangnya boleh ambil semua Jaz.., kenapa? kak Javas iri ya?",
__ADS_1
"Astaga bocil..",
"Hehehe..lucunya..., turun dulu ya. Kamu berat loh nak..", ucap Tante Tia sambil menurunkan Jaz dari gendongannya.
"Jaz mau makan jajan dulu..", Jaz langsung berlari menuju meja om Didik yang berada di dekat kasir.
"Silahkan Tante dilanjutin aja belanjanya..",
"Udah selesai mas.., tinggal ke kasir aja..",
"Tante mau kerja ya? kok pake seragam suster..?",
"Nggak mas.., saya udah pulang, shift malam. Tadi dijemput Kina, langsung kesini..",
"Oh gitu..",
"Tan..Tante.., bantuin.., berat ini..", ucap Kina yang mengeluh karena kesulitan mendorong trolynya yang penuh dengan belanjaan.
"Oh iya.., maaf Na.., ya Allah Tante sampe lupa..",
"Makanya makan yang banyak, biar kuat..", ucap Javas yang langsung mengambil alih troly yang didorong oleh Kinara.
"Mas.., jangan..kok malah mas Javas yang dorongin..",
"Nggak apa-apa , yuk Tante..",
Kinara bersungut-sungut ketika Javas meledeknya. Bukan Kinara tidak kuat, tapi belanjaannya memang sangat banyak.
Javas kembali berbincang dengan Tante Tia, entah apa yang mereka bicarakan. Karena Kina berjalan dengan memberi jarak. Dia malas jika harus berdekatan dengan Javas. Ujung-ujungnya dia dimarahi atau dibully.
"Tante kok belanjanya disini?",
"Iya mas.., kan deket dari rumah sakit. Lagian kalo beli di pusat kotanya tante, malah kejauhan. Maklum kan rumahnya dipinggiran. Jadi, ya disini.., dikota seberang..",
"Langganan disini?",
"Iya mas.., kalo belanja memang disempetin pas pulang kerja..",
"Lebih efisien ya Tante..",
"Iya mas..,
berapa mbak?", tanya Tante Tia kepada kasir.
"Semuanya satu juta tujuh ratus dua puluh ribu rupiah..",
Tante Tia memberikan belasan uang bewarna merah, namun langsung ditepis oleh Javas.
"Mbak nggak usah.., nih mbak pake kartu saya..", ucap Javas kepada kasir dengan memberikan kartu debit miliknya.
"Loh mas..",
"Tante simpen aja uangnya..",
"Mas tapi ini banyak, ini kan buat anak kost juga..",
"Uangnya simpen aja Tante..",
"Mas..saya jadi nggak enak..",
"Anggap aja sebagai ucapan terima kasih karena Tante udah langganan di tokonya kakek..",
"Ya Allah mas.., makasih ya. Semoga rejekinya lancar..",
"Aamiin..makasih doanya Tante..",
"Na.., malah digratisin sama mas Javas, piye nduk..?", ucapnya pada Kinara yang sedang asyik mengobrol dengan Jaz.
Astaga, apalagi ini.
Javas ikut menenteng kantong belanjaan, dan membantu Tante Tia memasukkan ke mobil bermerk Honda yang bewarna putih.
"Mas..sekali lagi, terima kasih ya mas..",
"Sama-sama Tante.., yang nyetir siapa?",
"Kina dong mas.., kan dia yang jemput saya..",
"Oh..", ucap Javas keheranan.
"Kak dok..Jaz di belakang aja ya..", ucap Jaz yang menggandeng tangan Kinara.
"Boleh.., Jaz izin dulu gih..", ucap Kina.
"Heh tuyul, kamu mau kemana?",
__ADS_1
"Ikut kak dok.., kan Jaz udah bilang pengen maen. Pengen makan disana..",
"Astagfirulloh..anak ini bener-bener ya. Ngeselin..",
"Boleh mas?",tanya Kinara.
"Bentar-bentar saya tanya mommy dulu..",
"Nggak usah.., pasti Bu Aira bolehin.., biar Jaz sama kami mas.."
"Jangan Tante. , Jaz tadi kan sama saya.., pulang juga harus sama saya..",
"Pokoknya Jaz mau ikut kakak dokter..", ucapnya lalu masuk ke mobil bagian belakang.
"Udah mas.., nggak apa-apa, pasti Tante jagain.., atau mas Javas ikutin dari belakang?",
"Saya pake motor Tante nggak pake helm..",
"Ya udah, mas Javas ikut aja kalo gitu.., motornya tinggal sini..",
"Nggak Tante.., saya nanti pulangnya gimana?",
"Dianter sama Kina..",
Sesekali Javas bertanya kepada Tante Tia karena dia memang belum paham jalan di kota kakeknya. Jaz berada di kursi belakang bersama Kinara. Dia seperti raja yang sedang menikmati jamuan. Dengan lahapnya makan jajan yang dia ambil dari toko kakeknya.
Mereka berempat, akhirnya sampai di rumah Kinara. Javas memarkirkan mobil di depan rumah kost milik nenek.
"Ini rumahnya kak Dok?",
"Bukan.., itu disitu..",
"Kok kak Javas parkir mobilnya disini?",
"Disana nggak bisa.., terlalu mepet sama jalan.., tuyul..cerewet banget..",
"Ayo kak..kita turun..",
Jika Javas dan Tante Tia menyeberang dengan masing-masing membawa kantong belanjaan. Lain halnya dengan Kinara yang mengikuti Jaz yang justru malah menghampiri anak kost yang sedang bergerombol di teras rumah.
"Mbak Kina.., ini siapa?",
"Anaknya majikan..",
"Mbak Kina pacarnya beneran baru?",
"Tapi gantengan yang sekarang asli mbak.., keliatan kaya pula..",
"Ssstttt..jangan ngawur..
Jaz ngapain mau disini? rumah kak dok kan disitu..",
"Jaz mau disini ah, sama kakak-kakak cantik..",
"Ayo maen di dalam yuk..sama kakak..",
Kinara membiarkan Jaz bermain bersama anak kost yang rata-rata berstatus sebagai pelajar SMA. Namun, Kinara tetap mengawasi, tidak meninggalkan Javas begitu saja.
Keinginan Jaz untuk makan di rumah Kinara akhirnya terwujud. Bahkan bonusnya, dia bisa disuapi oleh dokter Kinara yang sebentar lagi akan keluar dari rumahnya.
"Jaz, kamu makan sendiri aja.., biar kak dok bisa makan juga..",
"Nggak mau, Jaz pengen disuapin..",
"Nggak apa-apa mas.., nanti Kina kan bisa makan habis nyuapin Jaz..", sahut Tante Tia.
Sementara, ini adalah kali keduanya Javas diberikan jamuan makan siang oleh nenek juga Tante Kinara. Ini semua memang gara-gara Jaz yang ngotot ingin main dan makan siang di rumah Kinara.
Mengapa keluarga Kina sangat baik kepada Javas? Apalagi Tante Tia yang terlihat sangat menyukai Javas. Apakah Tante ingin menjodohkan Javas dengan Kina? Tentu saja tidak. Tante Tia cukup tahu diri jika Javas adalah anak dari pemilik rumah sakit tempatnya bekerja. Itu berarti, Javas adalah putra dari bosnya. Sepertinya wajar jika seorang pegawai ingin menjamu keluarga bosnya dengan sangat baik.
"Tante..nek..terima kasih sudah dijamu lagi...",
"Sama-sama mas.., makasih sudah mau mampir kesini lagi..",
"Maaf ya nek.., Tante...kalo adik saya ini bikin gaduh..",
"Namanya juga anak kecil mas.., wajar..",
"Jaz..pamit dulu sama Tante sama Nenek..",
Meskipun jahil, dan terlihat nakal. Tapi, Jaz selalu menurut.
"Nek.., Jaz pulang dulu ya. Makasih ya nek.., makanannya enak banget..",
"Sama-sama cah bagus..",
__ADS_1
"Makasih ya Tante.., kapan-kapan Jaz kesini lagi ya..",
"Shuuuuttt..ngawur aja..", ucap Javas.