
Nathan harus menelan kekecewaannya. Dia tidak mendapatkan satu petunjuk pun, baik dari maid, security, driver atau pekerja yang lain. Mereka benar-benar bungkam, atau memang tidak tahu kemana Daddy Rendra membawa istrinya. Nathan ingin bertemu dengan Sharen. Dia menyesali perbuatannya dan ingin meminta maaf secara langsung.
Nathan kembali ke rumah sakit, menengok Mamanya, sekaligus ingin bertanya dimana Daddy Rendra. Mustahil jika Papanya tidak tahu keberadaan mereka.
"Mamah tau kemana Daddy bawa istri Nathan mah..?", tanyanya tanpa basa-basi saat dia sudah berada di rumah sakit.
"Bukannya tanya keadaan Mamah, malah tanya kayak gitu..", ucap Papa Aldo.
Sementara Mama Farah terlihat iba dengan
Nathan. Rasanya tidak tega, tapi Mama Farah juga sudah berjanji kepada Rendra dan Aira untuk tidak memberitahu tentang keberadaan Sharen. Termasuk, tentang kehamilan Sharen. Keluarga Sharen memang meminta untuk merahasiakan dari Nathan. Untuk apa? biar Sharen sendiri yang mengatakannya. Itu permintaan langsung dari Sharen.
"Mama nggak tau Nath...
bibir kamu kenapa? abis berantem sama siapa..?",
"Nathan dipukul sama Javas...",
"Itu belum setara sama apa yang dialami Sharen..., biarin aja Javas emang mau balesin sakit hati kakaknya. .",
"Nathan rela Pah, mau dipukul Javas, Daddy, Jaz, bahkan Papah kalo mau pukul Nathan juga silahkan, tapi tolong kasih tau dimana Sharen..",
"Kamu kan suaminya, kenapa malah tanya sama Papah-Mamah..",
"Nomor Nathan udah diblok Pah..
Sharen, Daddy, Mom, Javas, Kina, bahkan Jaz aja udah blok nomornya Nathan..",
"Siapa suruh kamu pergi nggak pamit, ngasih kabar juga nggak. Hape juga sengaja dimatiin. Udah merasa dibutuhin kamu..?",
"Nggak Pah,
Nathan cuma cari ketenangan...",
"Seenggaknya kamu bilang Nath..,
bukan buat anak orang tiap hari nunggu kamu pulang. Sharen sampe kurus. Lupa makan, tidur juga jarang.., itu karena mikirin kamu...!!",
"Nathan khilaf Pah...",
"Terlambat Nath..,
kalo Rendra udah turun tangan, ya abis kamu...",
"Nathan bakal hadepin Pah, gimanapun nanti. Asalkan, Sharen bisa maafin Nath...",
"Kamu apa nggak inget susahnya dapetin hati anaknya? kamu bela-belain nunggu sampe Sharen putus sama pacarnya. Kamu juga pake macarin anak orang buat nutupin kalo kamu ada rasa sama Sharen.
Sekarang udah dapetin orangnya, tapi kamu tinggal gitu aja..
Ya udah ini resikonya. Papa Mama nggak mau bantu kamu kali ini. Kamu usaha sendiri aja..",
"Nathan cuma pengen tau, dimana Sharen. Udah itu aja Pah. Nathan bakalan berjuang sendiri...",
"Papah nggak tau..., kamu cari tau sendiri aja..",
Nathan putus asa. Dia yakin kedua orang tuanya menyembunyikan informasi tentang. Sharen. Namun, sayangnya Nathan tidak bisa mengorek informasi tersebut.
"Nathan pulang dulu...",
Entah pulang kemana yang dia maksud. Apartement atau rumah kedua orang tuanya. Mama Papanya hanya diam. Mereka sudah terlanjur kecewa. Namun, sebagai seorang ibu, Mama Farah masih menggunakan nalurinya.
"Pah.., apa nggak kasian sama Nathan? liat wajahnya Pah, dia kayak ya capek banget. Pasti semalaman nggak tidur karena mikirin istrinya..",
__ADS_1
"Ngapain juga kasian.., ini semua kan karena ulahnya sendiri. Kamu inget nggak? gimana susahnya kamu bujuk Sharen buat sarapan..? kamu sampe nangis-nangis dulu, baru menantu kamu itu mau makan. Padahal, waktu itu udah ada cucu kita di perut dia. Gimana kalo kita telat tau kalo Sharen lagi hamil? apa nggak hilang cucu kita..?",
"Iya.., Sharen sampe segitunya mikirin Nathan ya Pah. Tapi, Nathan juga kasian Pah..
apalagi kalo sampe dia tau kalo sebenernya Sharen lagi hamil..? pasti dia cari istrinya sampe ketemu...",
"Mamah jangan sampe keceplosan. Biar Sharen aja yang bilang sendiri ke Nathan...
Rendra janji mau nemuin Nathan, tapi setelah kondisi psikisnya Sharen bener-bener stabil...",
"Iya Pah, Mama ngerti..
Andai aja Mamah nggak sakit, pasti Sharen udah tinggal di rumah kita. Pasti Nathan sama Sharen udah baikkan lagi..",
"Ini yang namanya takdir. Mungkin ini emang pelajaran buat Nathan, biar dia lebih dewasa lagi..",
Nathan mengemudikan mobilnya ke kantor Prime. Nathan ingin menemui Tama, karena Nathan yakin. Tama pasti tau sesuatu.
"Pagi pak..", sapa Resepsionist dengan ramah.
"Tama udah sampe belum..?",
"Belum pak..",
Nathan menanggapinya hanya dengan mengangguk. Dia menunggu kedatangan Tama di kursi lobby. Selama 20 menit menunggu, akhirnya Tama datang.
"Tam....",
Mendengar suara yang tidak asing, yang beberapa Minggu ini tidak dia dengar, membuat Tama terperanjat.
"Nath...",
"Tam, kita bisa ngobrol nggak..",
Mereka berdua mengobrol di luar gedung Prime.
"Aku nggak peduli kamu mau mukul, atau ngeluarin sumpah serapah. Tapi, please Tam. Kasih tau aku dimana Sharen...",
"Sharen..? bukannya abis sakit dia di rumah orang tuanya..?",
"Sakit..?.istriku sakit Tam..? sakit apa..?",
"Shock karena ditinggal sama lu, Sharen bahkan sampe didampingi psikiater, Sharen trauma karena lu..",
"Sharen depresi Tam..?"
"Yang gua tau gitu..,
keluarganya nggak mengizinkan ada orang yang jenguk Sharen...",
"Kamu bener nggak tau dimana Sharen?",
"Sorry Nath, gua nggak tau...",
"Kasihani aku Tam..",
"Lu sakit ya Nath..?",
"Sakit..kalo sampe Sharen nggak bisa aku temuin..",
"Lu sakit serius Nath? kenapa sampe botak kayak gini..",
"Aku ngilang karena cari ketenangan. Aku balik umroh...",
__ADS_1
"Lah..lu Umroh..? ",
"Iya..aku pergi karena umroh..",
"Ya..mau lu umroh, haji, liburan terserah lu dah. Tapi, minimal ngabarin sama istri.., jangan ditinggal gitu aja..",
"Iya..aku tau salah Tam..",
Nihil, Nathan belum juga menemukan satupun petunjuk tentang keberadaan istrinya. Nathan meninggalkan kantor Prime grup.
"Kamu tidur sendiri aja ya.., biar Jaz sama mbak Sus aja..",
"Iya mom..",
"Kamu istirahat dulu aja.., pasti capek kan..?",
"Iya mom, pengen rebahan..",
"Dua jam lagi, Mommy bangunin kamu. Kita makan siang sama-sama ya..",
"Iya mom...",
Sharen merebahkan badannya. Sekujur tubuhnya terasa sangat pegal. Efek penerbangan atau memang kondisi fisiknya yang belum pulih.
Sharen memeriksa ponselnya. Fotonya bersama Nathan, masih terpampang di layar pengunci ponselnya. Sharen mengingat Nathan, spontan dia mengelus perutnya.
"Sabar sayang, kita akan ketemu sama Ayah, tapi nggak sekarang. Ibu masih butuh waktu...",
Sharen mengaktifkan kembali ponselnya dari mode pesawat ke mode normal. Dia mendapatkan pesan dari Tama dan Javas. Namun, Sharen lebih tertarik membuka notifikasi pesan dari Tama.
"Sha..,udah sampe?
Dia kembali Sha, Nathan barusan tanya tentang keberadaan kamu..",
Sharen buru-buru membalas pesan dari Tama.
"Tam.., jangan sampe kamu bilang kalo aku lagi hamil ya..,
aku nggak mau sakit hati denger dia nggak ngakuin anak ini..",
"Tenang aja, aku nggak bilang apa-apa kok..
kamu have fun disana ya..",
"Nathan sehat kan Tam..?",
"Sehat, tapi mungkin akalnya yang nggak waras. Parkiran Prime grup udah kayak sirkuit aja buat dia, kenceng banget bawa mobilnya setelah nggak ada satu orang pun yang mau ngasih tau dimana kamu..",
"Aku pengen ketemu, tapi belum siap..",
"Nggak apa-apa Sha..,
kamu butuh ketenangan. Nggak usah ngurusin bapaknya, yang penting anak kamu sehat..",
"Makasih infonya ya Tam...",
"Sama-sama..",
Sharen galau ketika mengetahui jika Nathan sudah kembali. Dia terus menatap sebuah foto pernikahannya di ponselnya.
"Andai kamu tau Nath, aku sangat rindu. Kamu bahkan nggak tau kan? ada anak kita di dalam perut aku..,
Aku nggak mau sakit hati lagi Nath, aku nggak mau denger kamu nggak ngakuin anak ini. Lebih baik, memang kamu nggak usah tau kalo aku lagi mengandung anak kita...",
__ADS_1
Sharen mengelus perutnya. Esok hari, dia akan melakukan chek up untuk mengetahui perkembangan janinnya.
"Semoga di dalam sana, kamu tumbuh dengan baik ya Nak..",