
Daddy Rendra masih menutupi berita kehamilan Dewi, baik dari istri juga putrinya. Bahkan Daddy meminta Javas untuk tidak menceritakan kepada Mommy juga kakaknya. Biarlah, ini mereka akan tahu dengan berjalannya waktu. Lagipula, Daddy juga benar-benar berkomitmen untuk mengakhiri usahanya menjodohkan Sharen dengan Nathan.
"Dad..nanti Mommy mau Sharen mau jalan-jalan ya..",
"Sha udah sembuh..?",
Sharen mengangguk.
"Bagi uang dong, sayang..", ucap Mommy merayu suaminya.
"Mas nggak ada cash sayang..,
kalian mau beli apa sih? Credit card kamu kan unlimited? kartun debit, emang nggak ada saldonya..?"
"Hehe iya nanti mau pake Credit card aja.
Mau jalan-jalan aja ke mall. Beliin Jaz sama Ze mainan, Sha juga kan mau beli keperluan buat ke Aussie mas..",
"Ya udah, beli aja..",
"Makasih sayang..
hari ini mas ngantor?",
"Ngantor.., ada yang perlu di urus juga..",
"Ya udah mas.., nanti Aira susul ya.
Sekalian Jaz biar ke kantor..",
V
"Mau ngapain?",
"Gitu banget sih, kan mau nyemangatin Daddy..",
"Iya sayang.. boleh..
nanti ke kantor aja..",
Wajah Sharen sudah terlihat segar. Cantik menggunakan dress panjang selututnya. Hari ini, dia diajak oleh mommy untuk pergi ke mall.
"Na..keperluan Ze yang abis, apa aja?",
"Diapers mom..",
"Itu aja? parfum? minyak telon? bedak..?",
"Masih ada mom..paling sampe semingguan aja..",
"Ya udah, nanti sekalian mommy beliin..",
"Makasih mom..",
"Tante kamu, jadi kesini..?",
"Jadi mom.., dijemput sama mamang. Paling, nanti siang sampe sini..",
"Oke sayang..Mommy pergi dulu..
Ze ganteng, cucunya Omy.., Omy pergi dulu ya. Nanti Omy beliin mainan..", ucap mommy.
"Bye Ze ganteng..
Aunty juga mau pergi ya..
Mmmmmmm... wanginya...", cium Sharen pada keponakannya sebelum dia pergi.
Bukan bermaksud menebus kesalahannya dengan membelikan Sharen barang yang dia inginkan. Tapi, Mommy hanya ingin Sharen melupakan perihal Satria. Sekaligus Mommy juga ingin menunjukkan kepada putrinya, jika masih ada Mommy dan Daddy yang selalu ada untuknya.
"Nggak usah deh Mom, koper Sha kan masih banyak..",
"Ini yang keluaran baru, mau nggak?",
"Nggak perlu deh mom..
Sha minta tas aja, boleh..?",
"Boleh, kan daritadi Mommy udah nawarin kamu.."
Sharen sumringah. Padahal, tas yang dimintanya juga bukan tas berharga puluhan juta, tapi ratusan.
"Kina sekalian dibeliin nggak mom..?",
"Boleh.., tapi model lain aja. Kina nggak suka model itu, kekecilan. Apalagi, ada Ze..",
"Iya deh, nanti Sharen pilihin...",
Memasuki satu persatu outlet. Hari ini Mommy benar-benar ingin memanjakan Sharen. Membiarkan putrinya untuk memilih apapun yang dia mau. Tas, baju, sepatu, skincare, hingga make up. Tak masalah, yang penting Sharen senang.
"Udah..? mau apalagi sayang..?",
__ADS_1
"Mommy nggak beli..?",
"Nggak.., hari ini khusus kamu. Mommy besok-besok aja, sekalian mau belanja sama Daddy...",
"Oke.., Sharen udah mom...",
"Ya udah, yuk..sekarang giliran Jaz sama Zee. Kita ke toko mainan..",
Memilihkan mainan yang cocok untuk Jaz dan Ze. Untuk Jaz mereka memilihkan mainan yang tidak berbahaya. Sedangkan Zee dibelikan mainan yang juga bisa menstimulus motoriknya.
"Kita ke swalayan ya..,
sekalian belanja...",
Mommy mendorong troly belanjannya. Memasukkan barang untuk kebutuhan mereka. Tak lupa juga membelikan diapers untuk cucu tampannya.
"Sekalian 2 box aja kali ya Sha..",
"Jangan banyak-banyak mom.., Ze kan cepet gedenya. Sekarang aja udah pake ukuran S, padahal dia newborn..",
"Iya sih, mommy beliin buat kebutuhannya sebulan aja kalo gitu..",
"Oke mom...",
Tidak sengaja, mereka bertemu dengan Farah yang saat itu ditemani oleh Dewi. Mereka bertemu saat sama-sama memilih sayuran.
"Far...",
"Lho Ra.., ketemu disini...",
"Iya..kamu belanja juga..?",
"Iya...",
"Halo Tante..., mbak Sharen...", sapa Dewi.
Sharen tetap tersenyum manis, begitu pula dengan mommy.
Mata mommy memicing ketika melihat barang belanjaan Farah.
"Far.., kok ada Pre*nagen? siapa yang hamil...? kamu...?", tanya Aira.
"Hmmmm bukan...
Itu punya Dewi..",
"Mbak Dewi hamil..?", tanya Sharen. Entah kenapa saat bertanya, perasaannya tidak karuan.
Hati Sharen perih, seperti teriris saat mendengar jawaban dari Dewi.
Mommy tersenyum canggung. Tidak perlu ditanyakan, Mommy Aira dan Sharen juga sudah pasti tahu siapa ayah dari bayi yang dikandungnya.
"Far.., aku nggak tau loh..harus bilang selamat atau bilang kayak gimana ke kamu...",
"Hehe iya aku ngerti...",
"Terus kapan resminya?",
"Lagi disiapin Ra...",
"Kalo butuh bantuan, bilang aja ya Far.., aku pasti bantu..",
"Iya Ra..makasih..",
Sepanjang perjalanan pulang, Sharen terus saja diam, dia shock. Ternyata, sebentar lagi dia akan kembali menjadi aunty. Bukan anak Javas , melainkan anak Nathan.
Mommy sepertinya juga enggan membahas kehamilan pacar Nathan. Dia dan Rendra memang sudah sepakat untuk tidak menggali lebih jauh tentang Nathan atau Satria. Membiarkan Sharen untuk bahagia dengan dunia jomblonya.
"Sha... kok diem terus? kenapa.?",
"Nggak apa-apa mom..",
"Kayaknya mommy nggak jadi ke kantor. Mau langsung pulang aja, nanti sore Daddy minta dijemput aja..",
"Oke mom..",
Sharen kembali mengunci mulutnya di dalam mobil. Dia kembali berbicara ketika melihat Tama yang duduk di teras rumahnya.
"Tam..., udah lama?",
"Nggak..baru setengah jam yang lalu..",
"Kenapa nggak telepon?",
"Nggak apa-apa, tadi abis ngobrol juga sama Javas..
Tante...", sapanya pada Aira.
"Eh ada Tama..
Tante masuk dulu ya Tam..",
__ADS_1
"Iya Tante silahkan...",
"Tam.., mau disini apa ngobrol didalem..?",
"Disini aja deh Sha..",
Cukup lama mereka berdua terdiam, sekitar 3 menit lamanya. Namun, akhirnya Tama yang membuka obrolan.
"Kamu udah sehat? kok keluar..?"
"Iya udah Tam, udah segeran. Aku diajakin mommy jalan-jalan, sekalian belanja keperluan ke Aussie..",
"Kamu mau ke Aussie..?",
"Iya.., tadinya masih 2 mingguan lagi, tapi kayaknya mau re-schedule aja deh..",
"Berubahnya..?",
"Mau aku cepetin aja..., paling seminggu lagi..",
"Ngapain kesana..? mau menghindar dari ini semua..?",
Sharen menggeleng.
"Aku mau liburan, mau nerusin kuliah disana, sambil cari kampus yang cocok, rencananya aku mau sekolah modelling dulu..",
"Udah kamu pikirin mateng-mateng?",
"Iya udah.., aku pengen hidup tenang disana. Tanpa harus dikejar-kejar soal jodoh..",
"Oke..,
aku bakalan kangen sama kamu...",
"Nyusul dong..nanti aku beliin tiket..",
"Ribet ngurus visanya...",
"Nggak kok..gampang.., nanti biar dibantu sama orang kantor..",
"Iya deh, nunggu cuti aja..,
Sha kamu udah tau, tentang...",
"Iya udah..",
"Dari siapa?",
"Tadi di mall aku ketemu sama Tante Farah..",
"Aku juga nggak nyangka Sha..",
"Namanya juga manusia, ada khilafnya..",
"Kamu nggak apa-apa?",
Sharen menggeleng dengan senyum tipisnya.
"Kayaknya udah terlambat Tam.., aku memang bodoh selama ini. Tadinya sebelum aku pergi, aku mau mengakui semuanya ke dia. Nggak peduli aku sama dia bisa sama-sama atau nggak, yang penting dia tau. Tapi, setelah tau faktanya, aku urungkan. Ada perasaan perempuan lain yang harus aku dan dia jaga, apalagi dalam keadaan hamil..",
"Kalo sebenarnya bukan seperti yang kita duga, gimana Sha..?",
"Apanya?",
"Dia bilang ke aku, kalo denger sesuatu yang belum pasti kebenarannya, lebih baik tanya ke dia langsung..",
"Maksudnya..?",
"Mungkin dia udah feeling aja. Mungkin itu bukan anaknya, tetapi semua orang menganggap bahwa itu anaknya...",
"Maksud kamu, Dewi bukan perempuan baik-baik gitu?",
"Ya nggak gitu, siapa tau ini cuma salah paham aja..",
"Dia mau nikah Tam.., Tante Farah tadi yang bilang sendiri..dia harus tanggung jawab..",
"Kita nggak tau gimana yang sebenarnya kan?",
"Tam.., bisa nggak mulai sekarang jangan bahas tentang dia lagi? apapun itu. Aku mau buka lembaran baru..",
"Oke kalo itu mau kamu..
Aku masih berusaha positif thinking ke dia. Sebelum aku dengar kebenaran itu dari mulutnya..",
"Ya tanya aja langsung..",
"Dia tiba-tiba menghilang.., nggak bisa dihubungi sama sekali...",
"Dia mau lari dari tanggung jawab..?",
"Nggak mungkin dia kayak gitu, aku tau siapa dia.., mungkin dia sama kayak kamu. Butuh waktu sendiri buat merenungi apa yang terjadi..",
__ADS_1
Sharen mengangguk. Pilihannya saat ini, hanya tidak ingin mndengar apapun tentang Nathan. Mungkin tentang pernikahannya nanti. Itulah mengapa, Sharen juga memutuskan untuk mempercepat kepergiannya ke Aussi.