Istri Pura - Pura ( Bukan Perawan Tua )

Istri Pura - Pura ( Bukan Perawan Tua )
Itu kamu..


__ADS_3

Ini udah nggak flashback lagi. Kalo ada yang lupa, baca aja bab "dia" ya.


"Makasih Tam, terus kamu pulangnya gimana?", tanya Sharen ketika mereka sudah sampai di rumah. Mereka berdua memang mengendarai mobil milik Sharen. Baiknya, Sharen masih memikirkan cara bagaimana Tama untuk bisa kembali ke kantor.


"Gampang, aku udah pesen taksi online..",


"Maaf ya, udah ngerepotin kamu..",


"Nggak apa-apa, kamu kan emang bos aku..",


"Apa mau mampir dulu aja Tam?",


"Nggak deh.., nih taksinya udah Dateng.."


"Oh ya


Tam.., lusa ada acara tunangannya kak Gladya, kamu datang ya?",


"Aku datang..? kan nggak diundang Sha..",


"Iya.., kan kamu datengnya sama aku. Jemput ya Tam, aku pengen ngerasain naik mobil kamu lagi..",


"Modus.., bilang aja mau ditemenin sama Tama..",


"Hehe iya..",


"Oke.., aku jemput. Kamu nggak bareng sama keluargamu aja?",


"Mom dad Jaz paling udah duluan, kalo aku bareng 1 mobil Javas istrinya , udah pasti aku jadi obat nyamuk. Males...",


"Makanya punya pacar...",


"Lah kamu diajakin pacaran nggak mau..",


"Ogah.., aku nggak mau jadi daging cincang ya. Udah ya Sha.., aku duluan..",


"Iya Tam, hati-hati...",


Sharen masuk ke dalam rumah, setelah memastikan Tama pergi. Jadwalnya hari ini sedikit kacau. Belum menyempatkan diri ke butik mengambil dress kepunyaan mommy dan Kina, karena merasa sangat malas. Kepalanya mendadak pusing. Dan, untungnya ada asistennya yang baik hati mau mengantarnya pulang. Meskipun, Sharen tau jika Tama bekerja bukan hanya untuknya, tapi juga pada secret admirernya.


"Loh..kalian udah pulang?", tanyanya ketika dia mendapati adik dan iparnya sedang makan siang.


"Iya mbak..,


Mbak Sharen, mau gabung makan bareng-bareng mbak..?",


"Nggak deh, makasih. Aku kesini mau ngambil air putih aja kok..",jawabnya.


Sharen yang terlihat berbeda, membuat hati Kina bertanya-tanya. Adakah kesalahan yang dia buat, sehingga membuat kakak iparnya terlihat jutek seperti ini?


"Oh ya, Na..nanti ada orang butik yang nganter dress. Yang satu punya kamu, yang satu punya mommy. Tolong yang punya mommy, langsung suruh maid buat simpan di kamar. Punya kamu, terserah deh. Oh ya langsung coba ya Na, kalo ada yang kurang pas, kamu bilang aja sama kakak..",


"Iya mbak...",


Sharen pergi meninggalkan Javas dan Kina. Memastikan kakak iparnya pergi, Kina bertanya pada suaminya.


"Mas.., mbak Sharen kenapa? kok judes.."


"Palingan juga capek sayang..",


"Kita punya salah ya mas? atau Kina? atau mas yang punya salah..?",


"Salah apa, orang kita udah beberapa minggu nggak pulang..",


"Hmmm, tapi mas liat kan tadi? mbak Sharen nggak kayak biasanya..",


"Kak Sharen paling lagi suntuk sama kerjaannya. Dia capek..",


"Mas sih, nggak berangkat terus..",


"Udah nggak usah dipikirin. Lanjutin makan gih..",


Kina yang merasa memang ada yang kurang beres dengan kakak iparnya, mencoba untuk mencari tahu. Memberanikan diri untuk menghampiri Sharen yang berada di dalam kamarnya.


Kinara masuk setelah mendapatkan persetujuan dari Sharen.


"Mbak Sharen, kenapa?"


"Nggak apa-apa Na..",


"Mbak Sharen sakit?", tanyanya. Saat ini Sharen memang berbaring di tempat tidurnya sambil memeluk guling. Masih menggunakan pakaian yang dikenakan saat bekerja tadi.

__ADS_1


"Pusing dikit...",


"Mau Kina periksa mbak..?",


"Boleh Na..",


"Kina ambil alat di kamar dulu mbak..",


Kina segera memeriksa kakak iparnya. Mengecek menggunakan stetoskop serta tekanan darahnya.


"Tekanan darahnya rendah mbak, pantesan pusing.."


"Hmm...."


"Kina beliin obat ya mbak..,


Mual juga nggak perutnya?",


"Nggak Na.., cuma pusing dikit aja. Pengen istirahat dulu..",


"Biar diambilin makan ya mbak, abis itu minum obat. Ini Na mau minta tolong mamang beliin..",


"Iya Na.., makasih..",


"Sama-sama.., mbak Sharen butuh sesuatu..?"


"Nggak butuh.., makasih..",


"Ya udah, Kina keluar ya mbak.."


"Iya Na..",


Selang berapa lama, ponsel Sharen berbunyi. Lagi-lagi dari Tama yang menanyakan keadaannya.


"Sha.., gimana keadaan kamu?"


"Tekanan darahku rendah..?",


"Kamu sakit ya? katanya nggak apa-apa tadi..",


"Iya aku sakit..sakit kepala, sakit mata, sakit hati, pokoknya sakit semuanya.."


"Bohong.., palsu..",


"Aku selalu ada buat kamu Sha, apapun keadaannya...",


"Iya udah, kesini..",


"Nggak bisa.., aku kirim makanan kesukaan kamu ya? mau..?"


"Nggak perlu..",


"Apa yang kamu rasain?",


"Dadaku rasanya sakit..",


"Mau ke rumah sakit nggak?",


"Mau nganterin.."


"Nggak.., tapi nanti bisa ketemuan di sana.."


"Aku telepon ya..",


"Aku ada dijalan Sha.. jangan dulu..",


"Padahal, aku pengen ngobrol sama kamu..",


"Iya nanti aja ya.."


" 🥺 ",


"Kenapa?",


"Jahat.."


"Siapa? ada yang jahatin kamu..?",


"Kamu yang jahat.."


"Tiap hari kan udah ditemenin, bilang orang jahat.."

__ADS_1


"Ya pokoknya kamu jahat. Titik..!!!",


"Iya-iya, aku jahat..


Kamu butuh apa Sha? aku bantu dari sini ya.."


"Nggak perlu, aku cuma butuh istrihat.."


"Ya udah, bobok ya.."


"Sok manis.."


"Emang aku manis..,


ya udah, kamu istirahat ya.."


"Kerjaan mu gimana?",


"Aman bos.."


"Hmmm ya udah..,


Oh ya.., besok kalo aku dapet bunga lagi, tolong kirimin ke rumah ya. Aku lagi nggak mood ke kantor.."


"Iya.., kamu suka bunganya..",


"Suka.., tapi paling suka baca ucapannya..",


"Kenapa?",


"Kata-katanya manis, romantis tapi sadis..",


"Kok sadis..?",


"Sampe sekarang aku nggak tau, maksud kirim hadiah-hadiah itu, buat apa?",


"Ya biar kamu seneng Sha..."


"Kenapa harus sembunyi-sembunyi..",


"Namanya juga secret, gimana sih.."


"Ya kan bisa terang-terangan..",


"Yang penting kamu bahagia..",


"Udah.., aku mau makan dulu..",


"Yang banyak ya, nanti langsung diminum obatnya. Istirahat yang cukup, jangan maen hape mulu.., kalo perlu disilent biar nggak ada yang ganggu kamu.."


"Iya makasih..",


Sharen meletakkan ponselnya di atas nakas. Dan, lagi-lagi dadanya bergemuruh. Ingin rasanya mengungkapkan kemarahannya, kekesalannya, kekecewaannya, tapi Sharen tidak bisa.


"Aku tau, barusan itu kamu, bukan Tama. Sampai kapan kamu mau kayak gini terus?",


Sementara itu, Tama yang sedang bertemu Nathan di Cafenya, langsung dicecar oleh Nathan.


"Kenapa Sharen balesinnya gini banget Tam?"


"Gini banget gimana?",


"Ya gini, chatnya aneh, kayak mendem sesuatu.."


"Apaan? itu mah biasa..",


"Atau jangan-jangan, dia ada rasa kamu Tam?"


"Kalopun ada, terus kenapa? masalah? lu kan yang nggak mau ngungkapin rasa, jadi jangan nyesel kalo nanti kena tikung..?"


"Kamu tega?",


"Tega sih nggak, tapi gua gregatan.., lu cinta, tapi nggak mau bilang. Kalo Sharen ada cowok, lu pasti sakit..",


"Udah resiko Tam.."


"Terserah lu...",


"Heh, mau kemana?",


"Balik ke kantor, gua banyak kerjaan..", ucapnya dengan meninggalkan Nathan keluar dari Cafe.

__ADS_1


__ADS_2