Istri Pura - Pura ( Bukan Perawan Tua )

Istri Pura - Pura ( Bukan Perawan Tua )
Kesan


__ADS_3

Javas kembali kedalam kamarnya. Dilihatnya, Kina yang sedang bercengkerama dengan putranya. Mereka sudah mempunyai baby sitter, tapi putranya itu sangat jarang dipegang oleh Surti. Mandi pun biasanya Kina atau Javas yang melakukannya.


"Anak ganteng..., jangan cepet gede ya nak. Terus aja jadi bayi, biar Mama bisa terus nimang-nimang kamu kayak gini..


Gimana bisa Mama pisah sama kamu ya..., kamu dunia nya Mama sekarang. Kamu kan anak Mama ya, mana bisa jadi anaknya Omy sama Ody...


Zeev anak Mama kan...?",


Tidak ingin membahas alasan Kina yang batal untuk berpisah dengannya. Javas hanya menikmati pemandangan yang membuatnya berkali-kali mengucapkan syukur.


Javas hanya berdehem, dan membuat Kinara menoleh ke arahnya.


"Kenapa?",


"Nggak apa-apa sayang.., mas mau bilang terima kasih.."


"Buat..?",


"Karena kamu udah mau bertahan.."


"Hmmmm...",ucapnya dingin.


Kinara memberikan Ze kepadanya.


"Mau kemana?",


"Mau ambil bajunya Ze, tadi dia gumoh.., nih liat. Daster Na kena...",


"Kekenyangan..",


"Kayaknya gitu, tiap dilepas dia nangis. Tapi, malah gumoh..",


Javas tersenyum. Ya, percakapan mereka memang belum berjalan normal. Tapi, Javas tidak ingin mempermasalahkannya. Tahap demi tahap dan mungkin akan membutuhkan waktu yang lama bagi Kina untuk bisa bersikap normal kepadanya. Tidak masalah, Javas akan terus bersabar.


Keesokan harinya...


"Anak Papa udah ganteng..,


minta ne*nen dulu sama Mama ya..Papa mau mandi dulu...",


Javas memberikan putranya kepada Kina untuk disusui.


"Udah Kina siapin bajunya..", ucap Kina.


Meskipun masih bersikap dingin, tapi sebuah kemajuan, Kina melakukan kewajibannya untuk menyiapkan kebutuhan suaminya.


Javas tersenyum. Akhirnya dia mendapatkan perhatian dari istrinya.


"Makasih sayang..,


disiapin baju apa?",


"Baju pergi..",


"Mas nggak mau pergi sayang...",


"Hari ini Ze jadwal imunisasi. Mas nggak mau nganterin..?"


"Mas tau, tapi kan bisa dokternya disuruh kesini aja.., nggak perlu repot-repot ke rumah sakit.


"Kina bosen di rumah..


Ya udah deh, Kina sama Mamang aja..",


"Jangan ngambek.., belum 40 hari Na..,nggak bagus kalo kita ngajakin Ze keluar rumah..",


"Kata Mommy boleh, asalkan langsung pulang, nggak kemana-mana..",


"Kamu udah tanya mommy..?",


Kina mengangguk.


"Ya udah, tunggu mas mandi ya..",


"Nggak usah kalo nggak ikhlas nganterin..",


"Kok ngomongnya gitu..? iya kamu emang masih marah sama mas, tapi jangan suuzon terus..., kan mas udah janji sama kamu, mas udah berubah, kamu sama Ze jadi prioritas mas sekarang..",


"Ya udah, cepetan mandi nya..",


Bukannya bergegas masuk ke kamar mandi, Javas justru memperhatikan si kecil Ze yang terlihat nikmat menyus*u ibunya.


"Kenapa?",


"Enak banget ya Ze...",


"Enak lah..",


"Jangan dihabisin ya ganteng. Ini tetep punya Papa. Ze cuma pinjem aja..",


"Mas.., ngomong apa sih...",


"Cantik banget kalo cemberut gitu..", Javas mencuri satu ciuman pada pipi istrinya.


Javas sudah siap, memakai pakaian yang sudah Kina siapkan untuknya.

__ADS_1


"Kita sarapan dulu ya.., Ze kasihin ke Surti dulu..",


"Iya..",


Javas dan Kinara menuju ke ruang makan. Sudah ada Mommy, Daddy dan uncle Jaz yang hari ini berangkat sekolah pada jam siang.


"Pagi kak Kina, pagi kak Javas...",


"Pagi ganteng..",


"Tumben.., nyapa kakak..", ucap Javas.


"Kalo nggak disapa, nanti protes...",


Javas mengedarkan pandangannya. Matanya berpusat pada Kursi Kinara yang terlihat kosong.


"Kak Sha udah pergi? jadi kencan dia? sepagi ini..?",


"Ada tuh, di ruang tamu.., nunggu jemputan..", sahut mommy.


"Pagi banget kencannya..",


"Katanya sekalian sarapan...", jawab Mommy lagi.


Daddy berdiri dari duduknya.


"Mau kemana mas..?",


"Bentar sayang..",


Daddy rupanya pergi menghampiri Sharen yang terlihat cantik dengan penampilan sopannya pagi itu. Celana jeans dengan kemaja bewarna soft denim.


"Sha...",


Sharen sedikit kaget dengan kehadiran Daddynya. Sharen memang sedang serius dengan ponselnya.


"Dad....",


"Belum dateng?",


"Belum..kejebak macet Dad...",


"Janjian jam berapa emangnya..?",


"Harusnya jam 8 udah sampe sini..",


"Ini udah hampir jam 9, tapi dia belum juga dateng.."


"Iya..kejebak macet Dad..",


"Ke dalem dulu yuk. Sarapan bareng...",


"Belum laper Dad...",


Kruk..kruk..kruk..


Sharen nampaknya memang tidak bakat untuk berbohong, karena perutnya sendiri yang memberikan buktinya.


"Tuh, udah bunyi kan perutnya. Sarapan dulu...",


"Tapi, Dad.., kan Sharen mau sarapan sama Satria. Kalo Sha makan di rumah, masa iya nanti makan lagi.., kan Sha lagi diet..",


"Nggak usah diet, anak Dad udah cantik.


Makan sedikit aja, buat ganjel perut. Dad nggak mau kalo kamu sakit.., ayok..


Mau jalan sendiri, atau Daddy gendong..?",


"Malu sama Jaz..,


Sha jalan sendiri aja...",


Dari ketiga anaknya, memang Daddy selalu memberikan perhatian ekstra pada Sharen. Bukan berarti pilih kasih. Hanya saja, Sha mendapatkan perhatian khusus. Dia anak perempuan dari Rendra Perdana sekaligus jcucu perempuan satu-satunya dari Widya Perdana.


"Katanya nggak sarapan..?",


"Batal Jaz, perut kak Sha udah keroncongan..", ucap Daddy.


"Satria belum dateng ya Sha..?",


"Kena macet mom..",


"Ya udah, kamu makan dulu aja..",


Menikmati sarapan bersama selama 30 menit. Sepuluh menit menikmati makanan dan sisanya mengobrol. Tapi, Satria juga tak kunjung datang


"Hari ini Ze imunisasi ya. Jadinya gimana? dokter kesini atau mau kerumah sakit?", tanya Mommy mengawali pembicaraan.


"Mau ke rumah sakit aja Mom..


Boleh mom? nggak apa-apa Ze di bawa ke rumah sakit?",


"Nggak apa-apa, bismillah aja.., yang penting niatnya baik...",


"Javas khawatir aja..",

__ADS_1


"Abis imunisasi langsung balik. Lagian kan nggak perlu antri. Dokternya udah tau kalian siapa..",


"Iya mom..",


Ze nyaman dalam dekapan sang Mama. Lebih memilih untuk bergantian menggendong Ze. Javas juga tidak keberatan sama sekali ketika dia harus membawa tas yang berisi keperluan Ze.


"Ze mau pergi ya..",


"Iya uncle, Ze mau disuntik..",


"Duh, kasian kak Na..,


kalo Ze nangis, gimana nanti?",


"Nggak apa-apa, Ze disuntik kan biar sehat.


Ze anak kuat, nangis juga paling sebentar aja..",


Mom, Dad, Jaz termasuk Sharen ikut mengantarkan Ze sampai teras rumah.


"Na, pergi dulu ya mom...",


"Iya.., hati-hati...",


"Pergi dulu Dad...",


"Hati-hati..


Ze cepet pulang ya...",


"Bye..uncle Jaz...",


Javas dan Kinara yang hendak berjalan menuju mobil, mendadak menghentikan langkahnya, ketika dua mobil masuk ke dalam halaman rumah mereka dengan beriringan. Mobil depan , milik seseorang yang sudah tidak asing. Dan yang dibelakangnya entah siapa.


Mommy melihat ke arah Daddy yang terlihat tersenyum, ketika salah satu pengemudi keluar dari mobilnya. Sedangkan Sharen langsung berekspresi aneh. Javas dan Kinara saling pandang.


"Halo kak Nath...", ucap Jaz ketika Nathan keluar dari mobilnya.


"Halo Jaz...


Selamat pagi Om, Tante, Vas, dok.., Selamat lagi Sha..",


"Pagi...


Duluan ya Nath...", jawab Javas.


"Mau kemana?",


"Ini mau ke rumah sakit, Ze mau imunisasi...",


"Oh..oke bro.


Hati-hati...",


Pengemudi yang mengendarai mobil belakang, keluar. Dia adalah Satria, orang yang sudah Sharen tunggu-tunggu kehadirannya.


"Selamat pagi...", ucapnya sopan.


"Pagi Sat...", jawab Mommy Aira.


"Maaf Sha, Tante, Om.., Satria telat. Macet banget tadi jalannya...",


"Iya nggak apa-apa..,


Kayaknya kita langsung pergi aja deh Sat..", ucap Sharen yang terlihat tidak nyaman dengan kehadiran Nathan disana.


"Saya mohon izin, bawa Sharen pergi keluar Om, Tante..."


"Iya Sat.., hati-hati ya..",


"Satria pamit dulu..", ucapnya bersalaman bergantian dengan Mom juga Dad.


"Ya sudah yuk Sat..." ucap Sharen. Tanpa melihat atau menyapa Nathan yang berdiri disana, seperti orang asing.


"Permisi om.., Tante..."


"Hati-hati ya..",


"Iya Tante..


Mari mas...", ucapnya dengan menyapa Nathan.


Tidak terlihat cemburu sedikitpun. Nathan justru membalas sapaan Satria dengan menepuk bahu pemuda itu.


"Hati-hati.., jaga Queen dengan baik.." ucapnya sambil tersenyum.


Ketiganya melihat kepergian Sharen dengan Satria sampai mobil yang dikendarai Satria keluar dari halaman rumah mereka.


"Oh iya, bentar Om berkasnya di mobil..", ucap Nathan.


"Mas pasti sengaja kan, nyuruh Nathan kesini.."


"Nathan sampe disini, setelah setengah jam yang lalu Dad nyuruh dia kesini. Satria? molor satu setengah jam dari jam yang udah disepakati, padahal Sharen udah janjian sama dia. Itu namanya nggak bisa nepatin janji. Laki-laki kayak gitu yang mau jadi suami dari anak kita?",


"Tapi kan kena macet mas..",

__ADS_1


"Harusnya dia tahu, kalo jam-jam pagi emang jam rawan macet. Dia bisa antisipasi sebelumnya, misalnya berangkat lebih awal...


Nath..., om tunggu di ruang kerja..", ucap Daddy setengah berteriak. Beliau lalu masuk ke dalam, meninggalkan istrinya yang masih berdiri mematung di teras rumah.


__ADS_2