Istri Pura - Pura ( Bukan Perawan Tua )

Istri Pura - Pura ( Bukan Perawan Tua )
Bersama


__ADS_3

Seseorang mengetuk pintu kamar. Sharen yang sedang bercermin di depan meja riasnya, berteriak untuk mempersilahkan masuk.


"Lah.., si tuyul...",


"Halo kak..",


"Halo..,


Hmmmm.., kamu kok nggak sekolah? bolos ya..?",


Jaz duduk dipinggir ranjang sambil memperhatikan Sharen yang sibuk berdandan.


" Jaz libur hari ini..",


"Kok bisa..?",


"Iya miss-missnya pergi, nganterin lomba..",


"Kamu nggak ikut lomba?",


"Nggak..Jaz males..",


"Waduh..., gaya bener ya kamu...",


"Jaz kan udah gede..",


"Tapi belum berani sunat..",


"Biarin aja, kenapa..",


"Kamu kok tumben kesini..? mau ngajakin kakak sarapan? bentar ya..", ucap Sharen dengan mengoleskan lipstik di bibirnya.


"Jaz kesepian kak..",


"Loh..mommy kan ada..",


"Mommy udah pergi..",


"Oh iya kan ada janji sama Mama Farah..,


kamu kok nggak ikut..?",


"Nggak ah, Jaz pengen di rumah aja..,Jaz bosen kalo ikut Mommy, pasti pulangnya lama banget..",


"Bosen..? tapi kalo ke mall, nggak bosen ya..",


"Nggak dong, apalagi kalo dibeliin mainan..",


"Kakak juga mau pergi Jaz ke butik..,


Mending kamu sama Kak Kina aja sana, main sama baby Ze..",


"Kak Kina sama Ze juga pergi, ikut mommy..",


"Oh kina ikut ya....,


ya udah kamu mau ikut kakak ke butik..?",


"Nggak ah..",


"Terus ngapain kamu kesini..?",


"Ka-aaak....", ucapnya dengan bernada.


"Apa? mau dibeliin mainan..? itu loh mainan kamu udah seruangan sendiri Jaz...",


"Kak Nathan mana..?",


"Kamu kesini, mau nyari kak Nathan..?",


"Iya..


Mau Jaz ajak main...",


"Kak Nathan kan pergi kerja, sama Kak Javas juga..,


oh ya, kemarin nggak pamit kamu ya..",


Jaz menggeleng.


"Besok baru pulang..",


"Hmmm gitu..


katanya udah jadi pengantin, kok kak Nathan sama kak Sha nggak serumah, tuh kayak Kak Javas sama Kak Kina..,kenapa kak?",


Bingung menjawabnya. Sharen saja tidak tahu, nanti setelah Nathan pulang, mereka akan tinggal serumah atau seperti biasa. Tinggal di rumah orang tua masing-masing.


"Hmmm..nggak tau..liat nanti Jaz..",


"Kak Nath, disini aja kak. Biar Jaz ada temennya, yah..?",


"Belum tau juga..",


"Coba Jaz tanya Daddy ya..", ucapnya polos.


"Daddy emangnya ada dimana?",


"Di halaman belakang, lagi buka laptop...",


"Ya udah, yuk tanya sama Dad...",


Mereka berdua turun. Sebenarnya, Sharen memang ingin menanyakan ini. Perihal, tempat tinggalnya bersama Nathan nanti.


"Daddy.....", teriak Jaz, yang langsung lari mendekati Daddy nya yang langsung merespon suaranya.


"Jangan lari, jatuh nanti...",


Sharen berjalan menyusul Jaz.


"Daddy lagi apa..?",


"Nggak apa-apa..",


"Itu siapa Dad? kok ada bayi...", tanya nya menunjuk ke layar laptopnya.


"Itu kak Javas..",


Sharen yang penasaran, langsung mendekat dan ikut melihatnya.


"Daddy baru buka-buka foto ya Dad..",


"Iya Sha.., Daddy lagi nostalgia sama masa kecil kalian..",


"Foto Jaz, ada Dad?",


"Ada dong..,


semuanya ada disini..",


"Dad.., kenapa kak Nathan nggak tinggal disini Dad? kan katanya udah jadi pengantin sama kak Sha..",


Daddy melihat ke arah Sharen yang langsung menaikkan bahunya.


"Kenapa? kok Jaz tanya kayak gitu? disuruh kak Sha..?",


"Nggak Dad.., Sha nggak bilang apa-apa ke Jaz..",


"Kan harus tinggal serumah Dad..",


"Iya nanti..


Jaz, mau nggak ikut Daddy ke rumahnya Oma? kita naik mobil merah kak Javas, atau mobil biru punya Daddy?",


"Hmmmm...", Jaz nampak berpikir.


"Mobil biru Daddy aja ya..", jawabnya.


"Oke.., sekarang Jaz bilang ke Mamang ya, minta tolong dipanasin mobilnya...",


"Oke Dad..,


tapi beneran kita ke rumah Oma ya..",


"Iya..,


kita ke rumah Oma..",


"Asyik...Jaz ke Mamang dulu ya Dad..",


Daddy tersenyum melihat kepolosan putra bungsunya. Daddy sepertinya ingin berbicara serius dengan Sharen.


"Kamu pengen ngomongin soal ini, Sha..?",


"Tadinya sih nggak, tapi jadi kepikiran lagi...",


"Daddy nggak pernah larang kalian untuk tinggal bareng.., semua kembali ke Nathan. Dia kan suami kamu..",


"Iya Dad, Nathan kayaknya juga masih pengen kayak gini dulu, tinggal masing-masing...",


"Diskusikan dulu sama dia, mau kamu gimana?",


"Daddy nggak apa-apa kalo Sharen keluar dari rumah ini?",


"Kamu tau kenapa awalnya Daddy minta Nathan nyembunyiin pernikahan kalian?",


"Enggak Dad...",


"Karena Daddy belum siap kehilangan anak perempuan Daddy satu-satunya. Makanya Daddy langsung bawa pulang, setelah Nathan mengucapkan ijab qobul. Daddy masih pengen liat kamu ada di rumah ini, Sha. Daddy belum siap melepaskan kamu untuk Nathan...",


Sharen tersenyum sambil melihat Daddy nya yang terlihat berkaca-kaca saat mengucapkannya.


"Sekarang Daddy udah siap kehilangan Sharen..?",


"Bukan kehilangan kamu, tapi tanggung jawab seorang ayah untuk anak perempuannya. Daddy udah kasih tanggung jawab untuk jaga, ngelindungin, membahagiakan kamu...",


"Kenapa tiba-tiba Daddy mengumumkan pernikahan Sharen Dad? bukannya awalnya Daddy mau nunggu sampe Sha dan Nathan menikah secara resmi..?",


"Karena Nathan menepati janjinya sama Daddy. Nggak pernah sekalipun dia menyinggung pernikahan kalian yang disembunyikan. Dia nggak pernah mendesak Daddy untuk berbicara sama kamu tentang pernikahan ini. Nathan, laki-laki yang bertanggung jawab Sha, dia selalu berpegang apa yang sudah menjadi janjinya..",


"Itu yang buat Daddy akhirnya mengumumkan pernikahan Sha, Dad..?",


"Iya sayang...,


Daddy sudah tenang, melepaskan kamu..",


"Makasih Dad, sudah memilih Nathan untuk menjadi suami Sharen..",


"Kamu yang pilih sendiri, bukan Daddy..",


"Iya, karena Sha baru sadar setelah waktu yang begitu panjang Dad..",


Sharen berdiri dari duduknya, lalu memeluk Daddynya.


"Makasih Daddy...",


"Sama-sama sayang..


Bahagia selalu, sama Nathan ya..


bilang ke Daddy kalo Nathan sudah nggak mencintai kamu. Daddy yang akan datang ke dia, dan meminta kamu kembali...",


"Iya Dad.., makasih..",


Ditengah suasana haru yang menyelimuti keduanya, Maid datang.


"Maaf pak,.. mbak Sharen....",


"Iya Bik.., ada apa?",

__ADS_1


"Itu non.., Bibik disuruh bilang ke bapak. Den Jaz katanya mau cepet-cepet ke rumah Oma...",


"Iya, sebentar lagi bik. Bilang sama dia..",


"Iya pak, permisi...",


Jaz rupanya sudah tidak sabar diajak jalan-jalan dengan mobil sport kepunyaan Daddynya. Anak ini memang dari kecil sudah menyukai hal yang berbau otomotif.


"Sha, mau ikut Daddy ke rumah Oma..?",


"Nggak Dad, Sha mau ke butik..., tapi mau sarapan sebentar..",


"Nyetir sendiri..",


Sharen menggeleng.


"Dianterin Mamang, Nathan nggak ngebolehin nyetir kalo nggak urgent banget..",


"Bagus deh kalo gitu..


Ya udah, Daddy pergi duluan. Kasian adik kamu udah nunggu..",


"Iya Daddy..hati-hati..


Hari ini, belum ada komunikasi intens antara Sharen dan suaminya. Pagi buta tadi, Nathan sudah pamit untuk pergi ke lokasi untuk meninjau pembangunan proyek Prime grup.


Sharen pergi ke butik, seperti ucapannya pada Daddy. Dia diantar oleh Mamang.


"Mang, nanti jemputnya nunggu callingan dari Sha ya..",


"Ini ditinggal aja mbak?",


"Iya ditinggal aja..


makasih ya..",


"Sama-sama mbak..",


Rupanya, kehadirannya dibutik sudah ditunggu oleh para pegawai yang ingin berkonsultasi mengenai jahitan yang sedang mereka kerjakan. Saat ini, mereka memang sedang sibuk-sibuknya mengerjakan pembuatan baju seragam keluarga untuk acara pernikahan Sharen.


"Ada ukuran yang kayak nggak sinkron gitu mbak.., nggak sesuai rumusnya.., ini di sesuaian rumus, atau sesuai sama ukuran?",


"Oh iya, si Tante itu emang rada gemoy orangnya. Jadi, mungkin emang dibikin gitu.., nanti ya aku tanyain ke orangnya aja..",


"Secepatnya ya mbak..",


"Oke..",


"Terus yang punya saya itu kurang ukurannya Jaz.., kata Ibu Aira.., ukurannya mau dibuat agak gede, tapi sampe sekarang belum dikasih..",


"Iya, kalo punya Jaz sih gampang. Nanti aku ukur di rumah ya.., paling ditambahin 2 centi, cukup sih..",


"Iya mbak..",


Pernikahan yang tinggal menunggu waktu, memang hanya dipersiapkan dengan waktu yang singkat. Untungnya, untuk hal yang paling ribet dan agak sulit adalah menyebar undangan. Daddy menggunakan acuan daftar tamu yang diundang saat pernikahan Kai dulu. Jadi, tidak perlu repot lagi mencari alamat tujuan. Kalaupun ingin menambahkan tamu, paling hanya sedikit.


Untuk WO? tenang saja, semua bisa dilakukan jika ada uang. Ya, di dunia ini memang apa-apa memerlukan uang. Persiapan singkat, menyebabkan WO memasang tarif lebih mahal dari biasanya. Itu jelas tak mengapa untuk keluarga Rendra Perdana dan besannya.


"Sayang...",


"Hmmm.., udah di hotel ya..",


"Udah..barusan aja mandi...,tapi sayangnya sendirian karena nggak ada yang mau ngajakin mandi bareng..",


Sharen nampak malas menanggapi godaan dari suaminya. Menyesal rasanya, saat dia sengaja menggoda Nathan untuk mengajaknya mandi bersama. Ternyata, godaan itu justru berbalik kepadanya. Senjata makan tuan.


"Itu lagi dibahas..",


"Loh iya, sedih loh aku. Ngajak mandi barengnya batal..",


"Nath.., udah deh jangan dibahas lagi..",


"Kenapa? udah cari tau rasanya gimana? sakit..?",


"Iya...",


"Kan belum nyoba, gimana bisa tau rasanya.."


"Ya pokoknya sakit..",


"Makanya dicoba dulu, nanti baru bisa tau..",


"Tau ah, nggak mau bahas lagi..",


"Ya udah nggak usah bahas lagi, kamu nanti jadi ngambek..",


"Kapan pulang..?", rengeknya.


"Besok sayang, paling sore dari sini...",


"Hmmmm.. tapi pulang besok kan?",


"Iya sayang..


kenapa? kangen ya?",


"Iya lah.., pasti...",


"Gimana hari ini di butik..?",


"Sangat sibuk Nath, oh ya gaun aku besok jadi dong..",


"Pasti bagus..",


"Iya dong, yang make aja cantik..",


"Istriku emang cantik banget...",


"Tadinya, mamah Farah sama Mommy mau mampir tapi nggak jadi, karena mereka lanjut ketemu pengrajin souvenir..",


"Loh.., kamu nggak ikut..?",


"Iya sih, asal kamu nggak protes aja nanti kalo nggak sesuai..",


"Nggak Nath.., aku percayain sama mereka..",


"Pinternya...",


Keesokan harinya,


Lagi-lagi, Sharen menjadi orang terakhir yang muncul di meja makan. Bukan karena terlambat bangun, tapi karena dia terlebih dahulu mengangkat panggilan video dari suaminya.


"Pagi semua..",


"Pagi..


Kok udah rapi?",


"Mau ke butik mommy..",


"Oh..,


ya udah, makan dulu sayang..",


"Mom.., bajunya Jaz mau dibuat agak besar dari ukuran sebelumnya?",


"Oh iya, mommy lupa ngasih tau..


Ditambahin 3centi ya dari ukurannya..",


"Kanan kiri?",


"Nggak.., keliling aja Sha..",


"Berarti 1setengah centi ya..",


"Iya itu maksudnya..",


"Jaz.., emangnya kamu udah gede ya...",


"Iya tuh liat, udah gemoy gitu..",


"Jaz kan udah gede emang, iya kan mom..?",


"Seragam dia juga udah naik satu size tuh Sha.., kemarin baru beli..",


"Perasaan kemarin baru jadi bayi kayak Zee deh..",


"Enak aja, Jaz aja udah sekolah, bentar lagi SD..",


"Wah.., adiknya kakak udah gede aja ya. Bentar lagi sunat dong..",


Jaz langsung terdiam mendengar kata sunat. Sama halnya dengan Sharen jika mendengar kata mandi bareng. Kata itu sepertinya menjadi momok mematikan bagi mereka berdua.


"Nanti dulu aja lah Sha, Mommy masih nyiapin acara kamu.., jadi nanti-nanti aja sunatnya..",


"Di barengin aja, gimana mom..?",


"Jaz nggak mau sunat...!!


Dad.., kak Sha tuh...", adunya pada Daddy.


"Sha.., udah jangan digodain terus..",


"Hehehe..",


"Jaz mau berangkat sekarang aja kalo gitu.."


Jaz pamit dengan Daddy, Mommy, Kina kecuali dengan Sharen. Jaz merajuk.


"Lah..ni bocah, digodain gitu aja langsung ngambek. Awas ya Jaz..., nggak kakak beliin es krim lagi loh..",


"Biarin wle...,


Jaz udah dibeliin sama Kak Kina..",


Jaz langsung berlari keluar rumah dengan menggendong tasnya diikuti oleh mbak Sus yang memang masih mendampingi Jaz sekolah.


Sharen yang tidak sabar, mencoba gaunnya. Sampai menunggui pegawainya yang sedang mengerjakan finishing gaun pengantinnya. Padahal, pegawainya tadi sudah bilang jika akan mengantarkan ke ruangan, begitu gaunnya sudah selesai.


"Masih belum ya..?",


"Bentar lagi mbak...",


"Lama banget..",


"Saya grogi lho ditungguin kayak gini..",


"Jangan grogi.., udah lanjutin aja..",


Tiga puluh menit kemudian, gaun yang akan di pakainya dalam acara resepsi selesai. Sebenarnya , ada beberapa gaun lagi yang akan dipakainya. Tapi, menurut Sharen ini adalah gaun yang paling spesial untuknya.


"Mbak ke ruang fiitting ya.., bantuin aku ngepas..", ucapnya pada salah satu pegawainya.


Sharen deg-degan. Berdoa dalam hatinya semoga gaun yang dirancangnya ini akan pas dibadannya agar tidak perlu lagi untuk menjahit ulang.


"Wah.., cantik banget mbak...",


"Iya..udah pas ya..",


Sharen melihat dirinya dicermin. Sharen tersenyum merekah, bukan hanya karena tubuhnya yang indah dibalut dengan gaun yang sangat cantik. Tapi, ada seseorang yang terlihat sangat terpesona melihatnya.


Seseorang itu, langsung memeluknya dari belakang, mengecup pundaknya yang polos tanpa penghalang.


"Cantik banget istri aku...",


Sharen mengelus kepala Nathan yang mendarat di pundaknya.


"Katanya pulang nanti sore? kok udah sampe aja..?",

__ADS_1


"Iya sayang.., biar surprise...",


"Ih.., suka banget buat kejutan...",


Nathan melepas pelukannya, dan Sharen membalikkan badannya. Giliran Sharen yang memeluk Nathan, dengan mengalungkan kedua tangan dileher suaminya.


"Aku kangen banget...",


"I Miss you, my love...",


Keduanya berciuman singkat. Masih sadar jika saat ini mereka berada di butik. Pegawai yang membantu Sharen tadi juga sadar diri, mereka keluar dari ruangan fitting begitu mengetahui kedatangan Nathan.


"Kamu masih ingat nggak..?",


"Apa sayang..?",


"Ini gaunnya aku buat, dari bahan yang kamu beliin dulu, buat aku..?",


"Iya..? ",


"Lupa..?",


"Nggak lupa tapi berubah jadi bagus banget..",


"Iya kan ini rancangan aku....",


"Sayang..


boleh nggak pundak sama dadanya ditutup aja..., aku aja belum liat, masa yang lain dikasih liat juga..",


Sharen tersenyum.


"Iya, ini nanti ada tambahan lagi kok, ada lengannya panjang, pundaknya juga nggak bakal keliatan, apalagi dadanya.., emang belum selesai karena aku yang udah nggak sabar nyobanya...",


"Masih banyak kerjaan di sini..?",


"Nggak ada..",


"Pulang yuk..,


mandi bareng..",


"Nath.., ih nakal..",


"Kan kamu yang ngajakin...",


"Udah batal Nath..",


"Pulang yuk sayang...",


"Kemana?",


"Rumah, kemana lagi..",


"Ya udah, aku lepas ini dulu..,


kamu keluar dulu, tunggu di ruangan ku aja..",


"Kenapa emangnya kalo disini..",


"Aku malu..",


"Ini suami kamu Sha.., pake malu segala..",


"Udah deh.., keluar dulu ya...",


Sharen menuntun suaminya keluar. Dia lalu memanggil pegawainya untuk kembali membantunya.


Sudah berganti pakaian dengan apa yang dipakainya tadi. Sharen dan Nathan keluar dari butik.


"Kok udah ada mobil kamu Nath..?",


"Iya, tadi aku minta tolong buat dianter kesini..",


Nathan melajukan kendaraannya keluar dari butik. Tujuan Nathan bukan ke rumah, malah membelokkan mobilnya ke sebuah supermarket mini.


"Kok kesini? mau beli apa..?",


"Beli aja sesuka kamu, aku mau makan masakan kamu hari ini..",


"Kamu belum makan siang..?",


Nathan menggeleng.


"Ya Allah, Nath.., ini udah jam 2 siang, tapi belum makan? kalo aku masak, kelamaan lagi.., kita jajan aja ya..?",


"Ya udah, belanja dulu aja sayang, nggak apa-apa aku nungguin kamu masak..",


"Ya udah, masak yang simple-simple aja ya..",


Memasukkan satu persatu sayuran serta belanjaan yang lainnya ke dalam keranjang yang dibawa oleh Nathan. Keduanya sudah dikasih untuk membayar belanjaan mereka.


"Udah cukup..?",


"Udah..",


"Mau bayar pake cash mbak..?",


"Pake kartu aja mbak..,


ini..",


"Nggak..pake ini aja mbak..",


Keduanya sama-sama menyodorkan kartu debit masing-masing.


"Mbak pake punya saya aja..


Nath ini kan kartu kamu..",


"Ya udah..",


"Pake ini ya mbak..


silahkan Pin nya..",


Keduanya keluar dari supermarket. Dan, lagi-lagi Nathan mengubah rutenya.


"Ini bukan arah ke rumah Daddy atau ke rumah Papah. Kita mau kemana lagi sih Nath..?",


"Ke Apartement sayang..",


"Ke sana..?",


"Iya..",


Sharen diam.


"Kenapa..?",


"Nggak apa-apa..",


Meskipun jarang di huni, tapi Apartement milik Nathan tetap bersih rapi dan nyaman.


"Tidur aja Nath, kalo capek..


aku masakin dulu ya.., sabar suamiku..",


"Nggak usah sayang..",


"Katanya laper..?",


"Aku udah pesen delivery, sebentar lagi juga dateng..",


"Terus, ini belanjannya buat apa dong..",


"Duduk sini.., aku pengen rebahan dipangkuan kamu..",


Sharen hanya menurut. Suaminya ini memang penuh kejutan. Di mulai dari kedatangannya yang tiba-tiba. Membawanya ke Apartement dengan tiba-tiba pula.


"Sha.., kamu keberatan nggak kalo kita sementara tinggal di Apartement?",


"Kita tinggal bareng..?",


"Iya sayang..",


"Nggak nungguin sampe nikah resmi..?",


"Nggak perlu, yang penting kan udah sah...",


"Daddy ya yang bilang ke kamu..?",


"Daddy? nggak..aku bahkan sama sekali nggak komunikasi sama Dad selama aku pergi.., kenapa? Daddy juga ngomongin soal ini..?",


"Iya..",


"Daddy ngelarang kalo kita tinggal bareng..?",


"Sama sekali nggak.., Daddy tergantung sama kamu Nath..",


"Kamu mau kan kalo tinggal disini dulu?",


"Mau...",


"Kita nggak mungkin tinggal di rumah Daddy, karena disana juga udah ada Javas sama istrinya. Aku nggak enak, hidup sama ipar itu banyak canggungnya...",


"Iya aku ngerti..",


"Kalo di rumahnya Papah, aku juga nggak mau. Aku pengen rasain hidup berdua sama kamu.., meskipun cepat atau lambat kita pasti nanti tinggal disana, karena aku anak satu-satunya. Tapi, kalo kamu mau kita punya rumah sendiri, juga nggak apa-apa. Tapi...ya kita perlu diskusi dulu sama Mamah Papah..",


"Nggak apa-apa kok kalo kita nantinya tinggal sama mereka. Kan emang kamu anak satu-satunya. Kecuali, kamu mau nambah istri lagi..",


"Satu aja belum dicobain..",


"Stop..aku nggak mau bahas itu lagi..",


"Cieh malu, kemarin aja sok-sokan ngajak mandi bareng..",


"Ya aku kira kan...


ah sudah lah...


aku cuma minta satu syarat kalo kita tinggal disini..",


"Apa sayang..?",


"Aku nggak mau ditinggal sendirian kalo kamu dinas, pokoknya aku harus ikut..",


"Iya, kalo keadaan memungkinkan pasti aku ajakin kamu kok.., oh ya besok kita ada undangan kondangan ke nikahannya anak relasi. Aku mungkin besok pulang agak sorean. Kamu siap-siap aja..",


"Iya.., ada dress code..?",


"Ada, nanti aku kirimin undangannya ke kamu ya..,


Javas, Daddy juga diundang.., Papah juga..",


"Hmm iya, tapi aku perlu bawa beberapa bajuku kesini Nath..",


"Iya sayang, nanti kita ke rumah Daddy, sekalian bilang ya..",


Sharen mengangguk.


Bel apartment berbunyi.


"Makanannya udah dateng..",


Nathan membuka pintunya lalu mengambil makanan yang sudah dipesannya.


"Aku siapin dulu ya..",

__ADS_1


"Makasih sayang..",


__ADS_2