
"Udah bangun ya...",
"Mom..., Mama Farah sakit apa..?",
"Sama kayak kamu...",
"Hamil...? Sharen mau punya adik ipar..?",
"Bukan..
maksud mommy..Mamah Farah kecapekan.., dia drop...",
"Gara-gara ikut nungguin Sharen ya..",
"Ya bisa juga..",
"Kasian...
Oh ya.., Hape Sharen mana mom..?semenjak di rumah sakit, Sharen sama sekali nggak pegang hape...",
"Buat apa sih? mom malah seneng, jadi kamu bisa istirahat..",
"Mau nanyain keadaan Mamah Farah.
Jadi, mana mom hapenya?",
"Mommy nggak tau. Kan yang bawa ke rumah sakit, Javas..
kalo kamu mau nelpon Farah, nih pake hape mommy aja..",
"Boleh..?",
"Boleh sayang,
nih pake aja.."
Sharen mencari kontak Mama mertuanya. Dia segera meneleponnya.
"Halo...",
"Pah.., ini Sharen...,
Mamah mana? gimana keadaannya Pah..?",
"Mamah nggak apa-apa, cuma telat makan sama kurang istirahat...",
"Kecapekan nungguin Sharen ya..",
"Nggak.., emang Mamah suka gitu.., lupa minum vitamin aja.
Kamu gimana? udah baikan kan?",
"Udah Pah..,
ya udah, kalo Mamah udah bangun. Tolong bilangin kalo Sharen telepon ya Pah..",
"Iya.., nanti Papah sampein..",
Lega, karena Mamah Farah hanya kurang fit. Sama seperti dirinya. Mungkin juga sama, Mamah Farah memikirkan keberadaan Nathan.
"Sha..,
Dad ngajakin ke Spore...",
"Kapan Mom..",
"Besok pagi-pagi kita berangkat..",
"Kok dadakan Mom..?",
"Iya..nganterin Oma kontrol. Seharusnya Om Revan sama Tante Fafa yang nganterin, tapi Om Revan ada dinas kantor, jadi nggak bisa..",
"Sha dirumah aja ya..",
"Kata Daddy kamu harus ikut...",
"Kan Sharen harus bedrest..",
"Bisa pake kursi roda, kan disana juga nggak ngapa-ngapain. Itung-itung liburan.., sekalian periksa baby juga ya..
Jaz ikut juga.., pasti kamu seneng nanti. Biar anak kamu juga happy..",
"Oke..
Berapa lama..?",
"Seminggu atau dua Minggu..",
"Hmmm..kayaknya asyik deh mom..
tapi, beneran kan? Sharen nggak apa-apa kalo ikut..?",
"Nggak apa-apa..,
Kata dokter, nggak boleh kecapekan. Yang paling penting harus makan sama minum vitamin tepat waktu..",
"Oke mom..",
__ADS_1
"Nanti packing dibantuin sama bibik ya..
kamu nggak boleh packing sendiri. Mommy harus nyiapin bajunya Daddy sama Jaz. Jadi, mommy nggak bisa bantu..",
"Iya mom..nggak apa-apa..",
Sharen menghubungi adik iparnya melalui line telepon rumahnya. Sayangnya, Javas sedang bermain dengan Zee.
"Ada di depan tuh mbak..,
ada apa..?",
"Na..kamu ikut ke Spore juga..?",
"Nggak mbak.., di rumah..",
"Yah..kirain ikut.
Ikut aja yuk..",
"Mas Javas banyak kerjaan mbak, kasian..
next time kalo perut kita sama-sama gede, gimana? itung-itung baby moon..",
"Boleh..
ide bagus..oh ya Na aku telepon tuh mau nanyain hape aku.., ada di Javas kan?",
"Kalo itu nggak tau mbak, nanti Na sampein mas Javas aja ya...",
"Oke..,
kakak udah berhari-hari nggak pegang hape.., kan besok juga udah pergi..",
"Iya mbak, nanti Na tanyain ya..",
"Makasih Na..",
Javas kembali ke kamar dengan menggendong Zee yang terlelap.
"Yah.., kok tidur mas..",
"Kecapekan kayaknya..",
"Padahal belum mandi..",
"Nggak apa-apa, kasian sayang...",
"Hmmmm..iya deh..
"Ada apa..?",
"Nyariin hapenya..",
"Oh... iya emang mas yang pegang...
mas ke kamarnya..
"Mas ke kamar Kak Sha dulu ya..",
"Iya mas..",
Javas mengambil tas, yang tempo hari di pakai kakaknya saat pingsan di kantornya.
Javas menuju ke kamar Sharen.
"Kak...",
"Masuk aja Vas..",
Sharen sedang bersama Maid untuk packing baju bawaannya.
"Lagi packing ya..",
"Iya...
Kamu bawa hape kakak..?",
"Bawa..,
nih sekalian sama tasnya..",
"Makasih ya Vas...",
"Iya sama-sama..",
Sudah lama rasanya tidak menyentuh benda ini. Sharen memeriksa ponselnya.
"Kak.., Javas mau ngomong..",
"Iya.., apa..?",
"Maaf kalo lancang, tapi Javas harus lakuin..",
"Apa..?",
"WhatsApp , telepon, IG, Twitter, facebook semua medsos punya Nathan, udah Javas blok..",
__ADS_1
"Vas.., kenapa? ini hape punya kakak..",
"Iya..Javas tau.., tapi ini demi kebaikan kakak..",
"Gimanapun juga Nathan itu suami kakak.., ayah dari anak yang Kakak kandung..",
"Iya..Javas tau itu..
Javas tau Nathan yang menyakiti, tapi Nathan juga yang jadi obatnya. Kakak sadar nggak? Kakak terlalu cinta sama dia, itu yang buat dia seenaknya aja ninggalin kakak..
Nathan obat, tapi kalo kakak minum obat iu terlalu banyak, justru nanti akan berubah jadi racun kak, toxic....",
"Maksud kamu apa sih Vas..? kamu mau kakak pisah sama Nathan, gitu maksudnya..?",
"Nggak..,
tapi Javas pengen kakak berpikir jernih aja. Kakak butuh ketenangan, coba deh kakak rileksasi dulu. Nikmatin waktu tanpa Nathan, manjain, senengin diri sendiri, konsentrasi sama baby yang kakak kandung. Kalo Nathan emang punya niat baik, pasti dia nanti yang balik nemuin kakak...",
Sharen tampak berpikir.
"Javas cuma pengen kakak bahagia, itu aja kok. Javas nggak nyuruh atau pengen kakak pisah, tapi Nathan emang udah keterlaluan..",
Sharen mengangguk.
"Mulai sekarang, kakak pikirin diri sendiri aja, sama baby. Buat diri kakak happy ya. Nanti kalo di Spore nggak boleh sedih-sedih lagi..",
"Iya Vas makasih..",
"Silahkan kakak unblok semua,
tapi ingat kak. Obat nggak boleh dikonsumsi terlalu banyak, nanti yang ada malah overdosis, jadi racun buat diri sendiri...",
"Iya kakak tau..
makasih Vas..",
"Kak Sha harus happy ya..", Javas mencium kepala kakaknya sebagai tanda kasih sayangnya.
Javas benar, Sharen tidak perlu menangisi Nathan lagi. Sekarang, ada baby yang jauh lebih penting untuk menjadi prioritasnya.
"Mas udah jelasin sama kak Sharen tadi..",
"Jelasin kalo sebenarnya Daddy berniat buat ngejauhin mbak Sharen sama mas Nathan.
Mas Nathan udah ketemu..?",
Javas mengangguk.
"Jadi, bener itu tujuan mbak Sharen diajakin ke Spore mas..?",
"Iya itu salah satunya..",
"Mas tau nggak..? perempuan lagi hamil, jauh dari suaminya, itu berat banget mas. Kalian jahat kalo sampe ngelakuin itu..",
"Sayang..
please stop ya.., nggak usah dibahas lagi. Mas minta maaf kalo dulu kamu terpaksa ninggalin mas karena mas lebih mentingin orang lain..",
"Belum juga ngomel, udah diultimatum..",
"Tuh kan, kamu emang bener mau bahas..",
"Mas emang nggak ada cara lain?",
"Biar kak Sharen happy. Mas sama Dad nggak nyuruh mereka pisah, tapi semua keputusan ada di Kak Sharen.., ke Spore buat nenangin diri, itu aja kok..",
"Mas Nathan juga bakalan kesini kok, dia itu cinta banget sama Mbak Sharen..",
"Mas sih udah tau, kalo kamu ada dipihaknya Nathan. Mas juga udah blok nomor Nathan, medsos Nathan di hape kamu..",
"Hah...?",
"Jangan coba-coba unblok ya sayang, awas aja..",
"Mas..nggak sampe sgitunya.., semuanya kan bisa diomongin..",
"Nathan bisa seenaknya, kita juga bisa..",
Sementara itu,
Nathan baru saja sampai di Apartementnya. Dia deg-degan ketika berada di depan pintu. Akhirnya, dia kembali dan bisa melihat wajah istrinya lagi.
"Assalamualaikum..
Sha..., sayang...",
Nathan mencari-cari keadaan Sharen, di setiap sudut Apartement, tapi tidak ketemu.
Melihat keadaan Apartement yang berdebu, Nathan bisa menyimpulkan jika sudah berhari-hari istrinya tidak berada disana.
Nathan segera mengaktifkan ponselnya kembali.
Mencoba menghubungi nomor istrinya tapi selalu gagal.
"Kok nggak bisa sih..",
Notifikasi pesan satu persatu bermunculan, Namun, Nathan mengabaikannya. Dia masih berusaha untuk menghubungi istrinya.
__ADS_1