
Keduanya sedang mengatur nafas. Baru saja melakukan kegiatan intim berdua. Di dalam satu selimut yang sama, Kinara memeluk posesif suaminya. Detakan jantung Javas yang tidak beraturan bisa di dengar jelas oleh Kinara karena kepalanya bertumpu pada dada Suaminya.
"Mas...", ucap Kinara mendongak melihat suaminya.
"Iya sayang...", jawab Javas yang asyik dengan ponselnya. Dia memeriksa email yang baru saja masuk.
"Mas...",
"Iya bentar sayang...", Javas buru-buru meletakkan ponselnya di atas nakas.
"Kenapa sayang..",
Kinara menangkup wajah suaminya menggunakan kedua tangan, menundukkannya lalu setelah terjangkau, dia mengecup bibir suaminya.
Senyum terukir dari bibir Javas, mendapatkan perlakuan istimewa dari sang istri.
"Kamu pengen lagi? nggak capek? tadi aja udah minta ampun pengen cepet-cepet udahan.."
"Pengen cium aja, nggak boleh?",
"Boleh.., lebih dari itu apalagi.. boleh banget...",
"Mas..",
"Iya sayang.., mau apa..?",
Hmmm, mungkin ini penyebab laki-laki, setiap habis bercinta langsung memilih untuk tidur. Karena mereka tau, perempuan akan mengeluarkan jurus merayunya ketika selesai melayani suaminya. Tidak dituruti, padahal si suami baru saja dimanjakan. Jika dituruti, juga belum tentu sejalan dengan suami.
Seperti yang dilakukan Kinara kali ini.
"Mas.., kita kan udah punya keluarga kecil...",
"Iya.., pengen nambah adik buat Ze...? boleh kalo kamu udah siap. Kalo mas sih siap-siap aja...",
"Bukan gitu..",
"Terus apa sayang..?",
"Mas.., nggak pengen ya bercinta di dapur..atau pas Kina masak, mas pelukin Kina..?",
__ADS_1
"Kamu mau? mas sih pengen..",
"Kita nonton TV bareng, abis itu tiba-tiba mas pengen, terus eksekusi Kinara saat itu juga.., asyik kali mas..",
"Hmmm, kan udah pernah waktu ai Apartement ...",
"Bercinta di ruang tamu, kita belum pernah..
mas pengen nggak sih..?",
"Kayaknya asyik ya..",
"Mas pulang dinas luar kota, Na nyambut mas. Tiba-tiba aja mas lepasin pakaian Kina, Kina nak*ed, mas bawa Kina ke atas ke kamar kita langsung bercinta..",
Javas tersenyum nakal.
"Iya.. terus..? ini fantasi kamu..?",
"Iya mas..
tapi kan nggak bisa kita lakuin..",
"Kita kan tinggal sama Mom Dad..,
bukan di rumah sendiri..",
"Mas tau arah omongan kamu..
kenapa harus muter-muter kayak gitu..",
Kinara diam.
"Kamu pengen, kita tinggal di rumah sendiri..? iya?",
Kinara mengangguk, dia lantas berkata,
"Tapi Kina tau itu nggak akan mungkin, iya kan?",
"Sebelum mas jawab, mas pengen tau kenapa kamu tiba-tiba pengen tinggal di rumah sendiri. Mommy habis negur kamu? soal apa? soal rumah tangga kita? kamu merasa mommy terlalu ikut campur? atau ada kata-kata mommy yang menyinggung hati kamu? soal pola asuh Zee? atau apa?",
__ADS_1
Kinara menggeleng.
"Mommy baik banget sama Na, nggak pernah ada kata-kata kasar atau nyakitin yang keluar dari mulut mommy..",
"Dari Dad?",
"Nggak ada..",
"Jaz..? dia kan masih kecil sayang, kalo dia ngomongnya ngelantur, anggap aja itu celotehan anak kecil. Jangan diambil hati..",
"Nggak mas, Jaz kan baik banget sama Na, dia aja yang sering belain Na kalo kita berantem..",
"Maid?",
"Nggak ada, mereka baik semua, dia bantu kerjaan di rumah ini..",
"Terus apa sayang..? alasan pengen rumah sendiri, tuh apa",
"Na pengen aja mas, pengen ngerasain punya dapur sendiri. Na yang ngatur kebutuhan dapur, makanan, belanjaan, semuanya. Ngerasain bayar listrik, bayar tagihan ini itu buat rumah. Na pengen jadi ibu rumah tangga seutuhnya. Selama ini kan kita numpang dirumah ini..",
"Jangan bilang numpang, semenjak mas lahir ini memang rumah mas. Dan, kamu istri mas.. jadi ini rumah kamu juga..",
"Bukan gitu maksudnya, selama ini kebutuhan rumah kan udah dipenuhi sama Mommy Daddy. Kita berdua cuma ngeluarin duit buat susu, Pampers sama bayar susternya Zee. Selebihnya, nggak kan? masih ditanggung semuanya sama Mom Dad..",
"Kamu tau nggak..? bukannya mas nggak mau keluar dari rumah ini. Tapi, Mom sama Dad emang pengennya kita masih tetap tinggal di rumah ini. Kak Sha udah diboyong sama suaminya, dan Nathan juga nggak mungkin mau tinggal di rumah ini. Itu artinya, mas anak laki-laki satu-satunya yang bisa diandal-in di rumah ini. Kalo ada apa-apa sama Mom Dad, kan nggak mungkin Jaz yang turun tangan. Dia masih kecil..., jadi Mas anak tertua yang bertanggung jawab. Emang ada banyak orang di rumah ini, tapi kan mereka orang lain. Masih tetap nyaman kalo ada keluarga sendiri..",
Kinara sudah tidak berkutik. Yang diucapkan Javas memang benar adanya.
"Dad emang pernah nawarin mas buat beli rumah, tapi Dad udah berubah pikiran, apalagi sekarang udah ada Ze. Mana mau Dad sama Mom jauh sama cucu pertamanya? laki-laki ganteng pula..", lanjutnya lagi.
"Ya udah deh..",
"Mas harap kamu nggak kecewa, jangan tersinggung sayang.., kamu di rumah ini bukan sekedar menantu, tapi kamu udah dianggap sebagai anak..",
"Iya Na ngerti..", ucapnya. Kinara kecewa, jelas. Tapi, apa mau dikata. Bukankah sebagai seorang istri, dia harus menurut kepada suaminya.
"Na mau mandi dulu..", ucapnya. Dia berdiri menutupi tubuh polosnya dengan selimut. Otomatis, tubuh polos Nathan kini tidak berpenghalang.
"Nggak sopan banget jadi istri..", ucapnya pelan dengan menutupi kema-luannya dengan kedua tangannya.
__ADS_1