
Weekend adalah salah satu waktu dimana keluarga Rendra Perdana bisa kumpul bersama. Ya, tidak ada kegiatan bekerja atau sejenisnya. Kecuali, ada hal yang membuat mereka untuk pergi keluar rumah.
"Akhirnya, ngumpul juga anak-anak mommy. Vas.., ada acara hari ini?", tanyanya pada putra kesayangannya. Mengapa Javas yang ditanya terlebih dahulu ? karena putranya sudah menikah jadi urusannya berbeda dengan Sharen yang masih single, dari Jaz yang masih balita.
"Nggak mommy..
Sayang hari ini nggak pengen kemana-mana kan?",
"Nggak mas, dirumah aja..",
"Sharen?",
"Di rumah aja deh mom, Sharen masih lemes rasanya..",
"Kalo Jaz?",
"Mau ajakin kak Javas naik motor gede, keliling komplek..",
"Wah..asyik tuh..",
"Lah, kapan kakak bilang gitu ke kamu?",
"Kan kak Javas bilang, kalo Jaz libur mau diajakin naik motor..",
"Kan kakak cuma bilang gitu aja..",
"Janji itu hutang loh kak..",
"Hissss..tuyul....
iya-iya, nanti abis kita sarapan kak Javas ajak keliling deh..",
"Hore..., gitu dong..
Sama kak dok juga ya kak..",
"Iya sama kak dok..",
Begitulah Javas. Meskipun dia terlihat dingin kepada Jaz, namun segala permintaan Jaz pasti akan dia penuhi.
"Cuma dad yang nggak ditanyain sama mommy..", protes Daddy Rendra.
"Kan mau kemana, juga mommy ikut, mommy mau kemana juga Daddy ikut, iya kan?",
Sharen dan Javas saling pandang, dengan kompak menggelengkan kepalanya. Sedangkan Kinara dan Jaz hanya menyengir kuda.
"Dad sama mommy nggak apa-apa, mau romantis-romantisan, tapi satu.....aja yang Sharen minta. Jangan punya adik lagi ya Mom..Dad...",
"Jaz pengen punya adik kok kak...",
"Jangan, kalo kamu punya adik, nanti nggak dibeliin mainan lagi, nggak bakalan dimanja sama mommy sama Daddy..", ucap Javas.
"Eh.., tuyul.., mending kamu minta kak Javas sama kak Kina aja dedek bayinya..", kali ini Sharen ikut menggoda adiknya.
"Emang bisa kak..?", tanya Jaz.
"Bisa dong...",
"Ya udah, minta kak Javas sama kak Kina aja kalo gitu..",
"Tenang, nanti kak Javas proses ya..., oke..",
"Mas.. ih... ",
"Apa sih sayang..",
"Malu dong..",
Selesai sarapan bersama, mereka lanjut berkumpul di teras rumah. Sekedar ngobrol, serta menikmati cemilan. Tidak ada agenda khusus hari ini. Kecuali, Javas dan Kinara yang membawa Jaz untuk keliling komplek.
"Gimana kerjaannya sweety?",
"Lancar Dad.., tapi kadang susah bagi waktunya. Butik atau Prime..",
"Konsen dibutik aja sayang, kan Prime udah ada Javas..",
"Iya sih mom, ya kalo bosen di butik ya ke Prime kalo bosen di Prime ya ke butik..",
"Mau liburan lagi?", tanya Dad.
"Nggak Dad, kayak pengen sekolah lagi..",
"Hah? mau kemana? keluar negeri? jangan ya sayang, sekolahnya di indo aja deh..",
"Mommy kamu tuh khawatir kalo punya mantu bule...",
"Ya nggak gitu mas.., anak perempuan satu-satunya, ya harus di sayang-sayang...",
"Iya mommy kan baru wacana aja..",
Nathan:
Sha, dirumah?
Bella Luna:
Kak, bisa ketemu?
Pas banget, kenapa mereka pada ngechat? Barengan pula.
Bella Luna:
Ketemu? dimana? ada apa Lun?
Nathan :
Di rumah
Keduanya ternyata fast respon, langsung membalas ketika Sharen mengirimkan chatnya.
Bella Luna:
Di Cafe Ladies, bisa kak? Luna pengen ngobrol tentang kak Nathan
Nathan:
Aku mau kerumah ya..
Sharen mengabaikan chat dari Nathan, karena dia lebih tertarik dengan Luna yang tiba-tiba meminta untuk bertemu. Apalagi, ini menyangkut soal Nathan. Ada apa? Padahal, selama berpacaran dengan kakaknya dulu, mereka jarang sekali chat, apalagi sengaja bertemu seperti ini.
Ketemu kapan Lun?
Jam 10, bisa nggak kak?
Bisa.., kakak siap-siap dulu.
"Mom..Dad..Sharen ke kamar dulu ya.., mau siap-siap..",
"Siap-siap? mau kemana? kencan? sama Tama?", tanya Mommy to the point. Aira berkeinginan agar putrinya itu segera memiliki kekasih, pengganti Bian.
"Kok Tama..?",
"Terus siapa? kamu punya kenalan baru? siapa sayang? kenalin dong sama mommy Daddy..",
"Nggak ada mommy.., Sharen mau ketemuan sama Luna..",
"Luna? adik Bian? pacarnya Nathan?", tanya Mommy memastikan.
"Iya bener, anaknya Tante Ernest..",
"Ada apa sayang?",
"Kenapa Luna tiba-tiba ngajak ketemuan?", kali ini Daddy yang bertanya.
"Ngajak makan aja, kan ada tongkrongan baru Dad..",
"Dimana?",
__ADS_1
"Cafe ladies..",
"Oh..ya udah. Dianterin mamang aja ya..",
"Iya dad..,lagian Sha emang males nyetir..,
Sharen siap-siap dulu..", ucapnya.
Setelah Sharen masuk ke dalam, barulah Aira berbicara tentang kekhawatirannya.
"Mas.., Luna kenapa tiba-tiba pengen ketemu Sharen? atau jangan-jangan mau ngelabrak mas? gara-gara kemarin Nathan seharian sama Sharen?",
"Apa salahnya? Nathan sama Sharen dari kecil udah bareng, bahkan saat mereka berdua masih ada di perut, juga udah bareng-bareng...",
"Mas ngerasa kan? kalo Nathan tuh kayak suka sama Sharen?",
Rendra hanya tersenyum.
"Berani Luna nyakitin Sharen, mas juga akan bertindak sayang. Nggak boleh ada yang nyakitin Sharen.., cukup kakaknya..",
"Terus itu gimana? Sharen kan mau ketemu..",
"Mudah-mudahan emang cuma mau makan bareng. Ada sopir yang bisa ngawasin sayang, jangan khawatir..",
"Iya mas..beneran jangan sampe Sharen kenapa-napa ya mas.., kasian.., dia masih nggak enak badan..",
"Iya sayang..",
Sharen dengan penampilan girly-nya. Dress selutut Q-labels hasil karyanya, serta flat shoes dengan tas selempang bermerk Her*mes . Dia terlihat sangat cantik dan manis.
"Sha pergi dulu Dad.., mommy...",
"Iya sayang, hati-hati..
Emang mau pake mobilnya Jaz?", tanya mommy ketika mobil Alphard milik Jaz yang terlihat sudah siap di halaman.
"Hehe..iya.., pinjem dulu mommy..., nanti bilang Jaz ya..",
"Iya nggak apa-apa sayang..",
"Udah punya sangu belum?", goda Daddy nya.
" Udah.., tapi kalo Daddy mau nambahin sih nggak apa-apa..",
"Minta sama mommy...",
"Hehe nggak deh dad, Sha punya uang..",
"Beneran mau sangu? mommy ambilin Sha..?"
"Nggak mom..,bercanda.
Sharen pergi dulu.., takut Luna udah nungguin..",
"Iya sayang..",
"Mau nitip sesuatu..?",
"Nggak sayang..",
"Ya udah kalo gitu..,
Bye mom..bye dad..",
Lihatkan? betapa disayanginya Sharen oleh kedua orang tuanya. Dad Rendra dan Mommy Aira memang sangat terlihat memanjakan Sharen. Meskipun, seringkali Sharen yang justru protes karena merasa kedua orang tuanya overprotective kepadanya.
Setengah jam berlalu sejak kepergian Sharen, sebuah mobil sedan berwarna silver masuk ke halaman rumah.
"Ini siapa mas?",
Rendra tersenyum tipis.
"Owalah.., Nathan...", ucap Aira lagi, ketika pengemudi tersebut turun dari mobilnya.
"Pagi om...
"Duduk Nath..",
"Terima kasih Tante..",
"Udah sarapan belum? masuk gih, sarapan dulu..", tawar Aira.
"Terima kasih Tante, tapi Nathan udah sarapan di rumah..",
"Owh...ya udah, minum aja kalo gitu ya..."
"Iya Tante..",
"Sharen baru aja keluar Nath..",
"Keluar om? loh katanya tadi di rumah. Keluar sama siapa om? kemana?", tanyanya.
"Satu-satu dong Nath tanya nya. Sharen emang tadi di rumah, tapi tiba-tiba Luna pacar kamu ngajakin ketemuan.."
"Luna Tante? ngajak Sha ketemu?"
"Iya.., loh Tante kirain kamu tau..",
"Nggak Tante..",
"Ketemuan dimana Tante?",
"Cafe apa mas tadi?", tanya Aira kepada suaminya.
"Cafe ladies..",
"Disana? Nathan susulin mereka aja kalo gitu Om, Tante..",
"Loh Nath, belum juga diambilin minum.., udah pamit aja..",
"Iya Tante, lain kali saja..",
"Jangan sampe anak om kenapa-napa Nath..", ucap Rendra ketika Nathan berpamitan.
"Iya om..
permisi..",
Nathan terlihat buru-buru masuk ke dalam mobilnya. Saat keluar, dia berpapasan dengan Javas yang membonceng Kina dan Jaz.
"Kak Nathan...", teriak Jaz. Dan Nathan yang mengejar waktu, hanya meresponnya dengan membunyikan klakson mobilnya.
Nathan berkendara dengan kencang. Tapi, sayang, saat urgent seperti ini, keadaan jalan justru sangat ramai.
"Sial.., kenapa rame banget...",
Sementara itu, Sharen sudah sampai di Cafe. Dia mencari-cari keberadaan Luna yang katanya sudah sampai sejak 10 menit yang lalu.
"Mbak reservasi atas nama Luna, dimana?",
"Oh Luna, di meja B 22, di lantai atas mbak.."
"Oke.., makasih..",
Sharen menghampiri Luna yang terlihat sedang menikmati makannya. Kebetulan hanya ada Luna yang ada di lantai 2.
"Lun..",
"Duduk kak..",
"Maaf ya udah nunggu lama..",
"Nggak apa-apa, Luna juga lagi makan. Kakak mau pesen apa?",
"Nggak deh, nanti dulu..",
Luna meminum orange jus yang dipesannya. Dia mengakhiri makannya dengan mengelap mulutnya dengan tissue.
__ADS_1
"Kok nggak dihabisin? lanjutin aja Lun..",
"Nggak apa-apa kak..",
"Mau ngobrolin Nathan? soal apa? ada yang kamu tanyain tentang dia?",
"Iya kak..
Luna sama kak Nathan udah putus..", ucapnya to the point.
"Putus..? karena apa?",
"Karena kak Sharen..",
"Karena kakak? kenapa Lun? kakak nggak ngapa-ngapain, kakak nggak tau apa-apa..",
"Kemarin kakak seharian sama kak Nathan kan? kemana? nemenin kak Nathan resmiin bisnis barunya kan kak? bisnisnya pun dikasih nama Queen, nama kak Sharen. kak Nathan nggak mau angkat telepon dari Luna, chat pun nggak dibaca, apalagi video call, nggak direspon sama sekali..",
"Kakak nggak tau Lun..",
"Kakak sadar nggak, kak Sharen itu satu-satunya orang yang jadi penghalang hubungan Luna sama kak Nathan..?"
"Maksud kamu apa Lun? kakak nggak ngerti. Kakak nggak pernah pengaruhi Nathan. Dulu, jam kerjapun kakak nggak pernah larang dia buat telepon kamu...",
"Emang Luna yang bodoh kak. Persahabatan antara laki-laki dan perempuan, emang nggak ada yang namanya murni sahabat. Salah satunya pasti ada yang baper. Luna bodoh udah percaya sepenuhnya sama kak Nathan.., tapi dia justru menyalahgunakan kepercayaan yang Luna kasih..",
"Kakak bantu biar kalian balikan ya.
Kalo soal kemarin, emang kakak sama dia lagi sama-sama, dia ngajak kakak karena ditempat itu ada Tama, asisten kakak..",
"Nggak perlu kak.., karena di hati kak Nathan emang nggak pernah ada Luna. Sharen..Sharen..Sharen.., kuping Luna sampe bosan dengar nama itu..,tiap kali Luna sama Kak Nathan kencan, nggak pernah sekalipun nama itu nggak disebut, selalu ada nama Sharen yang keluar dari mulutnya...",
"Lun...",
"Kak Nathan punya rasa sama kak Sharen..., lebih dari apa yang Luna kira kak.."
Sharen diam.
"Luna kecewa kak..kecewa..", ucapnya menitikkan air matanya.
"Lun.., jangan nangis.."
"Luna sakit setelah tau semuanya kak...",
"Kakak minta maaf..",
"Jaga kak Nathan baik-baik kak, jangan ada lagi Luna-Luna selanjutnya, yang jadi korbannya kak Nathan..", Luna berdiri hendak meninggalkan Sharen, namun Sharen mencegahny.
"Lun.., dengerin kakak dulu ya. Kakak bantu kamu..",
Plak.....
Luna justru menampar pipi Sharen.
"Luna stop!!!!", ucap Nathan yang tiba-tiba datang.
"Ini nggak seberapa sama sakit hati yang Luna rasain kak..", ucap Luna pada Sharen.
Luna berjalan, melewati Nathan. Namun, tangannya justru di cegah oleh Nathan.
"Kamu apain Sharen?",
"Tampar..., kak Nathan nggak liat..",
"Keterlaluan kamu Lun..",
"Keterlaluan? siapa? aku apa kamu Nath? aku sudah tau dari kak Bian, kamu pacarin aku cuma jadi jaminan aja kan? kak Bian nyakitin Kak Sharen, kamu pun balas dengan menyakiti aku? iya kan Nath..? jahat kamu.., padahal aku nggak tau apa-apa..",
Nathan enggan menjawab, dia melepaskan tangan Luna, lalu menghampiri Sharen.
"Kamu lebih pilih kak Sharen, daripada aku kak..", ucapnya dalam hati. Luna meninggalkan Nathan dan Sharen setelah puas menumpahkan kekecewaannya dengan menampar Sharen.
Sharen berdiri dengan menundukkan kepalanya. Tangan kirinya memegang pipi, bekas tamparan Luna. Bahunya bergetar, Sharen menangis.
"Sha...", ucap Nathan, dia langsung memeluk Sharen yang menangis.
"Jangan nangis lagi Sha..",
"Kalian putus, kenapa aku yang disalahin?",
"Maaf Sha..",
Sharen melepas pelukannya.
"Maksud omongan Luna tadi apa? kamu pacari dia sebagai jaminan? apa Nath? kenapa dengan Bian?",
"Jangan dengerin..",
"Kenapa Nath? jelasin sama aku..",
"Nggak ada apa-apa Sha..",
"Bohong...",
"Sha..",
"Jangan sentuh!!!",
"Sha.. aku minta maaf..",
"Kenapa Nath? kenapa..?",
"Sha...",
"Jelasin sama aku..!!!",
"Oke..oke..dengerin aku ya...
Semenjak aku tau kamu pacaran sama Bian, emang aku deketin Luna. Akhirnya kita jadian.., bukan karena aku sayang sama dia. Tapi, aku cuma mau ngelindungin kamu. Bian berani macem-macem sama kamu, aku pun bisa ngelakuin hal yang sama ke Luna. Bian bisa buat kamu bahagia, akupun bisa buat Luna bahagia. Aku cuma mau liat kamu bahagia Sha..",
"Kenapa kamu ngelakuin itu?",
"Karena aku...., aku sayang sama kamu..., lebih dari sahabat..., aku cinta sama kamu Sha...",
Mendengar ungkapan perasaan dari Nathan, Sharen justru kembali terisak.
"Sha....",
"Kamu jahat Nath..jahat....",
"Nggak Sha.., aku sayang sama kamu..", Nathan memeluk kembali Sharen, namun kali ini lebih kuat dari sebelumnya.
"Kamu jahat Nath..kamu mainin perasaan Luna, kamu jahat Nath..jahat...jahat Nath...", ucap Sharen menangis, sambil memukul-mukul tubuh Nathan.
"Aku sayang kamu.., nggak peduli kamu balas atau nggak, aku juga nggak peduli kamu punya pacar, aku cuma pengen lihat kamu bahagia Sha.., maafin aku..", Nathan mencium pucuk kepala Sharen.
"Lepasin aku Nath..",
"Janji habis ini jangan hindari aku ya..",
"Lepasin Nath..",
"Oke..oke...",,
Nathan menyeka air mata Sharen.
"Kamu jahat Nath..jahat..",
"Iya aku jahat Sha..",
"Bunga, coklat, makanan yang aku suka, aksesoris, hadiah-hadiah itu, aku tau itu semua dari kamu Nath..",
"Kamu sudah tau?",
"Aku nggak suka cara kamu kayak gitu..kamu pengecut...!!!!", ucap Sharen yang langsung berlari meninggalkan Nathan.
"Sha...
__ADS_1
tunggu Sha.., aku bisa jelasin...",