Istri Pura - Pura ( Bukan Perawan Tua )

Istri Pura - Pura ( Bukan Perawan Tua )
Istri Javas


__ADS_3

Kinara tidak perlu lagi memperkenalkan diri, karena sebagian besar keluarga Rendra memang sudah mengenalnya. Hanya saja, statusnya kini berubah yang asalnya dokter keluarga menjadi keluarga. Kinara juga tidak kesulitan untuk menyesuaikan diri, karena keluarga Javas menerimanya dengan tangan terbuka.


"Halo kak...",


"Halo.., ini calonnya mas Kai kan ya?",


"Iya.., ini Chelsea..",


"Oh iya..,Chelsea.., maaf lupa. Saking banyaknya yang harus dihafalin..",


"Iya awal-awal dulu juga gitu kok kak.., tapi lama-lama juga hafal kalo udah ketemu..",


"Iya.., hehe..",


"Selamat atas pernikahannya kak, semoga bahagia selalu..",


"Makasih ya chel..",


"Aku bantu ya kak..",


"Iya silahkan..",


Mereka berdua sibuk, membantu orang catering untuk menyiapkan makanan.


Sebentar lagi, Chelsea juga akan melangsungkan pernikahan dengan Kai. Seperti Omanya, Chelsea kira juga dia yang akan menjadi menantu pertama di keluarga Widya Perdana, tapi ternyata salah.


"Lagi sibuk nyiapin acara nikahan ya chel?",


"Capek kak..,


udah disuruh sama WO sih, tapi tetep aja capek..


Oh iya.., berarti kak Kinara belum dapet kain seragam ya?",


"Ya belum.., kan aku murid baru..",


"Haha kakak bisa aja..


Besok-besok Sea beliin ya.., kalo udah ada nanti langsung dikirim ke rumah Budhe Aira..",


"Makasih ya Chel..",


"Iya kak sama-sama..",


Meskipun lumayan sering bertemu, namun baru pertama kali ini mereka berbincang. Biasanya hanya saling pandang dan senyum. Kinara dan Chelsea terlihat sangat akrab.


"Rasanya gimana kak?",


"Apanya Chel?"


"Pas kak Javas ijab qobul.., rasanya gimana?",


Kinara terdiam sejenak. Pernikahannya dengan Javas terjadi karena desakan keadaan. Bukan seperti pernikahan pada umumnya yang terjadi karena cinta dan rencana.


"Pasti deg-degan ya kak?",


"Iya itu udah pasti..",


Tidak ingin membahasnya secara gamblang, Kinara hanya bereaksi singkat.


Satu persatu keluarga berdatangan. Semakin siang semakin ramai. Memang hanya jamuan makan untuk menyambut keluarga datang. Tapi, keluarga Widya Perdana datang juga bukan tanpa tujuan. Mereka datang karena ingin mengucapkan selamat atas pernikahan Javas. Meskipun tahu jika Javas menikah dadakan dan tanpa persiapan. Calonnya saja bukan perempuan yang dipacari selama ini. Tapi, apapun itu pernikahan adalah sesuatu yang sangat sakral. Keluarga Perdana tetap berbahagia atas pernikahan Javas, menerima dengan tangan terbuka seorang perempuan bernama Kinara yang sah menjadi Istri Javas.


Kinara dan Javas menjadi orang yang paling dicari saat itu. Keluarga yang datang selalu mencari keberadaan mereka berdua.


"Udah deh.., kalian tuh duduk anteng disini aja. Jangan satu disini satu disana.., capek carinya..", ucap Vina yang menggandeng keponakannya dan menyuruhnya duduk disamping Kinara.


"Apaan sih te.., kan juga keliatan Javas lagi dimana..",


"Udah duduk aja kak..daritadi Tante liat Kinara juga sibuk bantuin..., biar dia istirahat juga. Kan udah ada orang catering juga..",


"Iya deh iya...",


Javas memang sudah tidak lagi jutek kepada Kinara. Mungkin, wajah Kinara yang membuatnya iba kemarin, berhasil melunturkan kegalakkannya.


"Mas Javas, ngerokok?",


"Iya sesekali aja.., kenapa? nggak boleh..?",


"Bukan nggak boleh, tapi nggak sehat..",


Javas langsung berhenti dan mematikan putung rokoknya.


"Kok dimatiin?",


"Katanya nggak sehat?",


"Iya emang nggak..",


Javas dan Kinara duduk berdampingan di tengah-tengah keluarga besar Perdana. Sesekali ikut tertawa ketika ada topik pembicaraan yang terdengar lucu.


"Na.., suami kamu ambilin makan dulu..", ucap Aira kepadanya.


"Iya Bu..",


Kinara berdiri dari duduknya, namun sebelum mengambil makanan, dia bertanya dulu kepada Javas.


"Mau makan apa mas?",


"Nggak usah.., nanti aku ambil sendiri aja..",


Javas sudah terbiasa hidup mandiri. Rasanya aneh ketika mau makan saja harus dilayani seperti ini


"Saya ambilin...",


"Ya udah..",


"Mau makan apa mas ?",


"Terserah kamu ..",


Kinara menyodorkan satu piring kepada Javas, diatasnya sudah ada nasi beserta lauk pauknya.


"Kamu nggak.?",tanyanya ketika melihat Kinara yang datang hanya dengan membawa piring untuknya.


"Nanti aja.., ini Jaz minta disuapin..",


"Emang susternya kemana..?",


.


" Kok bengong? nih makannya mas..", ucapnya menyodorkan kembali piring yang dibawanya.


"Ini minumnya mas..", ucapnya meletakkan satu botol air mineral di meja depan Javas.


"Sus Sri kemana? kok kamu yang nyuapin Jaz?",tanyanya lagi.


"Ada.., tapi Jaz minta disuapin sama saya..",

__ADS_1


"Dasar tuyul.., ada aja kelakuannya..",


"Namanya juga anak kecil..",


Ada satu hal yang menggelitik ketika para bujang berkumpul dengan Javas, satu-satunya cucu laki-laki yang sudah menikah.


Terutama, Rai yang memang penasaran.


"Kenapa tiba-tiba Kakak nikahin dia?",


"Ya..,kasian.., kamu udah tau ceritanya kan?",


"Udah..",


"Ya udah, nggak usah dijelasin lagi. Terlalu dramatis kalo diceritain..",


"Yakin, karena kasian? bukan karena ada rasa?",


"Sebagai seorang laki-laki, aku nggak tega liat perempuan di gituin..,


"Nggak..nggak..,Rai yakin bukan itu alasannya.


Kalian percaya? percaya Van..?", tanya Rai kepada Vano.


"Ya nggak lah.., itu cuma alasannya kak Javas aja. Aslinya emang kepengen memiliki..", jawab Vano mengeluarkan pendapatnya.


"Kalian ngomong gitu, karena kalian nggak punya saudara perempuan..",bela Javas.


"Tetep nggak percaya kak.., liat istri kakak..",


tunjuk Rai kepada Kina yang asyik bercengkerama dengan Chelsea, Zoya dan Jaz.


Javas enggan menoleh, tetep stay cool pada posisinya. Namun, Rai langsung memalingkan wajah Javas menghadap ke arah Kinara.


"Nggak sopan lu..", tangkisnya pada tangan Rai.


"Makanya liat baik-baik..",


Javas akhirnya mengalah dan menghadap ke arah Kinara, menatapnya dari kejauhan..


"Nih udah liat.., kenapa?",


"See? gimana? cantik kan? nggak kalah cantiknya sama si bule Chelsea..",


"Cantik itu selera..",


"Nggak usah diplomatis.., bilang aja cantik. Udah..",


"Iya..iya.. cantik..", Javas mengakuinya meskipun dengan paksaan.


"Mungkin kalo aku diposisi Kak Javas kemarin juga ngelakuin hal yang sama. Kapan lagi coba nemu yang kayak gitu. Cantik, lembut, pinter, sayang anak kecil. Asli..kak Javas beruntung dapetin dia..",


"Dia yang beruntung dapetin aku..",


"Udah kak..akuin aja kalo emang udah tertarik dari awal..", kali ini si calon pengantin Kai yang menyahut.


Javas tersenyum tipis, sedikit tersipu.


"Pantesan..., waktu aku bilang mau deketin dia, kak Javas langsung berubah mukanya. Jadi anyep..", sahut Rai.


"Nggak usah macem-macem.., dia..., udah punya kakak...",


"We...., akhirnya mengakui....",ucap Rai dengan bertepuk tangan. Aksi Rai otomatis mencuri perhatian keluarga yang lain.


"Udah buka segel belum?", tanya Vano berbisik.


"Gimana rasanya kak?",


"Pasti belum? ini kakak nikahnya beneran loh nggak pura-pura..",


"Kamu pikir kakak lupa? kakak juga sadar nikahin dia..",


"Ya udah tunggu apalagi? hajar aja udah..",


"Kalo pun udah, kakak juga nggak bakal ngomong sama kamu.., nggak ada untungnya. Makanya kalian nikah, biar ada lawannya, tuh kayak si Kai, diem-diem menghanyutkan. Bentar lagi nikah dia.., calon istrinya cantik..",


Diantara mereka berempat, Kai lah yang paling anteng dan kalem. Rai dan Vano mempunyai sifat yang sama, ramai, konyol dan banyak bicara. Sedangkan si pengantin Javas, dia cool. Sekalinya bicara biasanya langsung Mak jleb, cenderung nyelekit.


"Kak Javas bayar mahal buat dapetin dokter Kinara, rugi kalo dianggurin..", celetuk Rai


Mimik muka Javas berubah menjadi garang. Javas tersinggung dengan ucapan Rai. Jika bukan sepupunya, mungkin sudah mendapatkan bogem mentah dari Javas. Tidak ingin menyalurkan kekesalannya, Javas berdiri dari duduknya. Namun, sebelum itu Javas berucap dengan kata-kata penuh penekanan.


"Kalo kakak mau lampiasin nafs*u, kakak bisa aja nyewa Pela*cur.., bukan nikahin dia..Kinara jauh lebih berharga dibandingkan uang semilyar..",


Javas meninggalkan para sepupunya dan memilih untuk menghampiri Kinara yang sedang asyik bermain dengan Jaz dan Zoya, dengan ditemani oleh Chelsea.


"Makanya punya mulut tuh disekolahin.., jangan asal nyablak aja..", omel Kai pada adiknya.


Kai ikut menyusul dan duduk disamping Javas.


"Kak..,nggak usah dengerin kata-kata Rai sama Vano. Mereka emang gitu, mulutnya nggak bisa dikontrol.."


"Kakak tau niatnya bercanda, tapi nggak usah bilang kayak tadi, keterlaluan. Itu sama aja dia ngerendahin istri kakak..",


"Iya kak.., Kai ngerti.


Maafin Rai sama Vano ya..",


"Hmmmm..",


Chelsea yang kepo langsung bertanya pada Kai.


"Kenapa By..?",


"Nggak ada apa-apa.., biasa. Obrolan laki-laki..",


"Pasti gara-gara Rai, kak Javas jadi bete gitu mukanya..",bisik Chelsea.


"Iya.., kamu tau sendiri dia kayak gimana..",


Hari sudah beranjak sore, satu persatu keluarga berpamitan pulang. Tak terkecuali dengan keluarga Revan yang melanjutkan perjalanan ke rumah Ibu Fafa.


"Tante.., makasih..", ucap Kinara yang baru saja diberikan satu buah paper bag dari Fafa sebagai hadiah pernikahannya.


"Iya sama-sama.., rukun-rukun ya kalian..",


"Iya Bun.., makasih..", jawab Javas.


"Makasih Oma..,untuk kehadirannya., untuk doanya. Sehat terus Oma..",ucap Kina.


"Makasih cucu Oma.., jadi istri yang baik buat cucu Oma.., semoga kalian cepet ngasih Oma cicit..",


Kinara tersenyum, tapi salah tingkah. Sedang Javas seperti biasa, cool tidak berekspresi.


"Nis.., titip Oma ya..", ucapnya pada Nisa, sahabatnya .


"Iya.., tenang aja..., bahagia terus ya Na...",

__ADS_1


"Aamiin, makasih doanya..",


Javas yang masuk kedalam kamar, dibuat heran oleh banyaknya hadiah yang diberikan keluarganya tadi.


"Ini semua buat kita?",


"Iya mas..",


"Padahal nggak dirayain ya..",


"Iya..",


Kinara mengambil sesuatu dari meja dan memberikannya pada Javas.


"Ini apa?",


"Yang merah dari Oma, yang hitam dari Tante Vina...", jawabnya menjelaskan kepada Javas.


"Isinya?"


"Saya belum buka mas.., coba mas Javas aja yang buka.., kalo diliat-liat sih perhiasan..",


"Kenapa dikasih ke aku?",


"Ya kan, keluarganya mas Javas yang ngasih..",


Yang dibuka pertama kali oleh Javas adalah kotak warna merah pemberian Oma.


Kilauan cahaya langsung terpancar dari satu set perhiasan yang ternyata adalah isi dari kotak tersebut. Kalung, gelang, cincin serta sepasang anting.


"Wah mas.., bagus banget..",


"Ini buat kamu, kok dikasih ke aku..?",


"Biar mas Javas tau


Mahal banget ya mas pasti..",


"Kayaknya sih gitu., nih..", Javas memberikannya kembali kepada Kinara.


"Bagus banget...",


"Suka?",


"Bagus gini, siapa yang nggak suka..?",


"Ya udah pake aja..",


"Ini buat saya ya mas?",


"Terus buat siapa? buat aku? masa iya aku pake kalung, gelang kayak gini..?",


"Saya nggak pernah pake perhiasan mahal kayak gini.., nggak pantes kayaknya..",


"Kalo belum dipake, gimana tau pantes nggaknya?",


"Hmmm..terlalu mahal..., saya simpen aja ya mas..",


"Ya udah, terserah kamu.."


Hadiah dari Tante Vina ternyata adalah sepasang jam tangan couple yang tak kalah mahalnya. Javas sumringah, karena dia tau jam tersebut berharga fantastis.


"Akhirnya, ada juga yang buat aku.., nih satu buat kamu Na..",


"Makasih mas..


Oh ya, dari Tante Fafa ngasih tas perempuan.., buat saya mas?",


"Yang nikah kan aku, kamu istri aku. Ya udah, berarti itu buat kamu kan? masa iya buat mommy..",


Sebuah kalimat yang sebenarnya bisa diartikan jika Javas benar mengakui jika Kinara adalah istrinya.


"Kamu dikasih banyak hadiah ya sama orang-orang..",


"Iya mas.., buat mas Javas cuma jam tangan ya? eh nggak..itu ada kemeja kok..",


"Bukan gitu.., aku malah nggak ngasih apa-apa sama kamu..",


"Mas Javas sudah ngasih lebih....dari apa yang mereka kasih. Saya nggak tau mau bilang apalagi ke mas Javas..",


"Kamu bisa nggak, bilangnya jangan saya tapi aku.


Aku berasa bapak-bapak kalo ngobrol sama kamu..",


"Saya belum terbiasa mas..",


"Ya udah, biasain dari sekarang..",


"Iya mas..",


"Oh ya.., tadi mommy protes..",


"Saya ngelakuin kesalahan? apa mas?",


"Tuh kan gitu lagi..",


"Kina salah apa mas?",


"Nah.., itu kan lebih enak di denger..",


"Iya mas..terus kenapa?",


"Mulai sekarang biasain kalo manggil mommy, ya mommy..bukan ibu. Mommy berasa jadi nenek-nenek katanya., Dad juga.., jangan dipanggil bapak, karena Daddy menolak tua..",


"Kina belum biasa.., canggung rasanya..",


"Makanya dibiasin.., aku udah bilang ya sama kamu. Jangan sampe mom sama dad protes lagi..",


"Iya mas.., kina ngerti..",


"Kamu mau tidur?",


"Nggak.., ini mau beresin dulu..",


"Ya udah aku mau keluar, ada om Didik mau konsultasi soal tokonya kakek..",


"Iya mas..",


Membersihkan bungkus bekas kado, serta membereskan hadiah pernikahannya dengan menatanya dengan rapi. Kinara akhirnya memutuskan untuk tidur.


Javas kembali masuk ke dalam kamar, setelah hampir satu jam lamanya mengobrol dengan Om Didik. Javas melihat Kinara yang sudah terlelap tidur.


Javas naik ke tempat tidur, namun sebelum memejamkan matanya, dia melihat ke samping. Seorang perempuan cantik, yang tidur tanpa suara dengkuran. Perempuan yang kini resmi menjadi istri seorang Javas Perdana.


"Selalu cantik..", pujinya.


"Aku nggak tau dimana muara pernikahan yang kita jalani. Maaf Na, sampai saat ini masih ada dia di dalam hatiku...", ucapnya lirih.

__ADS_1


__ADS_2