
Hari ini Vano mengantarkan kakak sepupunya ke sekolah modelling. Jaraknya yang dekat membuat mereka memutuskan untuk berjalan kaki.
"Kenapa kak..?", tanya Vano yang melihat Sharen menoleh ke sisi kanan. Bukan berjalan memandang ke depan.
"Nggak apa-apa..",
"Kakak mau ke swalayan itu..?", tanya Vano yang akhirnya mengerti apa yang dilihat oleh Sharen.
"Nggak.., tadi malem kakak udah belanja ke sana..",
"Sendirian Kak..?",
"Iya..kamu balik hotel, kakak langsung keluar..",
"Kak.., Vano kan udah bilang.., kalo kemana-mana bilang sama Vano. Biar Vano yang nganter.. Kalo Daddy tau, nanti disangkanya Vano nggak ngejagain kak Sharen...",
"No.., kan cuma kedepan ke seberang tuh...",
"Ya tetep aja kak, Vano kan khawatir..",
"Kamu khawatir atau takut kalo Daddy tau..?",
"Ya.., dua-duanya lah...",
"Nggak apa-apa, kakak bisa jaga diri kok, kamu jangan khawatir...",
"Inget pesen Vano ya, kalo kemana-mana bawa kartu identitas.., jangan sampe nggak...",
"Iya adekku yang ganteng...",
Setelah berjalan selama 10 menit lamanya, akhirnya mereka sampai di sekolah, tempat Sharen menuntut ilmu nanti. Ya, bukan seperti sekolah pada umumnya, ini adalah tempat seperti kursus untuk memperdalam Sharen dalam ilmu modellingnya. Sharen juga hanya mengikuti kelas hanya 4 hari dalam seminggu.
"Permisi..
Mbak mau ambil schedule atas nama Sharen",
"Darimana..?",
"Indonesia...",
"Oke..tunggu mbak..",
Sharen endapatkan jadwalnya dalam 2 Minggu kedepan.
"Kayaknya kakak harus belanja lagi deh No..",
"Mau beli apa..?",
"Beli high heels 12 centi...",
"Busyettt.. itu sepatu atau egrang..",
"Seumur-umur kakak juga nggak pernah pake setinggi itu, mentok juga di 7 atau 10 centi aja..",
"Ya udah, yuk..",
"Nggak usah, kita balik ke Apartement aja.., kamu kan nanti sore mau flight..",
"Iya..sejam lagi Icha juga sampe di Apartement kakak.., dia mau nganter ke Airport..",
"Oke.., kita beli bahan makanan, mau nggak? kakak masakin..",
"Kakak kan nggak boleh masak sama Mommy Aira..",
"Kalo masak spaghetti aja kan nggak apa-apa.., lagian kalo kamu nggak bilang juga Mommy nggak bakalan tau..",
"Kakak lupa kalo di Apartement ada CCTV di semua ruangan kecuali kamar sama kamar mandi..?",
"Hehehe iya..
Tau tuh, Daddy juga aneh pake dipasang CCTV segala..",
"Ya nggak apa-apa, biar Daddy bisa ngawasin anaknya, kakak juga nggak macem-macem..",
"Nggak lah, kakak mah lempeng..",
Sesampainya di swalayan yang luasnya kecil, Sharen mengedarkan pandangannya. Berharap, ada sosok yang tadi malam tidak sengaja dia temui, yang sepertinya dia bekerja di tempat ini.
"Butuh apa lagi kak? tepung sebelah sana, disini sayuran, disana buah, pojok sana ikan segar..",
"Hmmm..nggak apa-apa..",
Kecewa, Sharen tidak bertemu dengan seseorang yang dia ceritakan pada Tama. Tapi, dia akan mencobanya nanti.
Tadi malem dia baru masuk, berarti mungkin shift malem kali ya. Coba nanti malem aku ke sini lagi deh.
Icha, sudah berdiri di depan pintu Apartement Sharen. Rupanya, dia sudah lebih dahulu datang.
"Udah lama ya nunggunya, maaf ya kakak nganter kak Sharen dulu..", ucap Vano dengan meletakkan tangannya di atas kepala Icha, dan mengelusnya pelan..",
"Iya nggak apa-apa kak..",
"Itu apa Cha?", tanya Sharen.
"Ini makanan buat makan siang kita, ini nasi Padang...",
"Emang disini ada yang jual..?",
"Ada kak..",
"Yah, padahal kakak mau masak loh..",
"Bisa dimasak kapan2 kak..",
Kali ini Vano yang melayani dua ratunya. Dia mengambilkan piring dan sendok untuk Icha dan Sharen.
"Lah..,ini kan ada spaghetti.., kenapa beli lagi kak..?",
"Hah..? masa sih..",
"Huum tuh, ada dua malah..",
"Hehe kakak lupa kalo semalam udah beli..", bohongnya.
Padahal, Sharen tadi ke swalayan memang ingin bertemu dengan seseorang.
"Buat Icha aja, mau nggak..? Icha ngekost disini..?",
"Iya kak.., deket kampus..",
"Kalo Icha tinggal sama kak Sharen aja, mau nggak...?",
Icha lantas melihat ke arah Vano.
Vano menaikkan bahu, tanda tidak tahu jawabannya, mungkin terserah pada Icha.
__ADS_1
"Hmmm.., Icha di kostan aja deh kak,
Sayang, udah diperpanjang 3 bulan lagi..",
"Gitu ya,
3 bulan lagi aja ya, tinggal disini..",
"Iya nanti Icha pikir dulu..
makan yu kak..",
Sharen kembali berkomentar tentang Icha kepada Vano , ketika Icha masuk ke dalam kamar mandi .
"Pilihan Tante Vina, kayaknya tepat banget ya No..",
"Iya.., Vano nggak mau salah pilih lagi kak, makanya Vano nurut aja..",
"Beruntung kamu dapetin Icha..",
"Alhamdulillah..
Senakal-nakalnya Vano, tapi pengennya punya istri yang Sholehah kak..",
"Aamiin...",
"Nurut sama orang tua, itu kuncinya...",
Sharen kembali teringat dengan keputusannya yang selalu menolak keinginan Daddynya. Andai saja......., tapi ya sudahlah. Namanya juga pembelajaran hidup, tidak ada penyesalan yang datangnya di awal.
Sharen dan Icha mengantarkan Vano ke Bandara, menggunakan mobil banana milik Sharen. Ya, Sharen menamai mobilnya Banana, karena warnanya yang mirip kulit pisang.
"Vano masuk dulu ya kak..,
Kakak hati-hati..., kalo belum hafal jalan, minta tolong Icha nunjukkin ya...",
"Iya..kamu juga hati-hati..",
"Cha..kak Vano flight dulu ya
kamu baik-baik disini ya sayang, cepetan kelarin skripsi biar kita cepet nikah. Kak Vano balik lagi kesini 3 bulan lagi, buat jemput kamu sama kak Sharen.
Kalo kamu butuh sesuatu, kamu hubungin kak Sharen aja ya. Kalo kamu kesepian, maen aja ke Apartementnya kak Sharen..",
"Iya Kak..
I'll Miss you...",
"I Miss you too.., jangan nakal disini ya..", cubitnya pada hidung mancung sang kekasih. Tidak ada kontak fisik seperti cipika cipiki atau cium kening. Vano terlihat sangat menghargai Icha.
Sharen merasa gemas melihat kelakuan sepasang kekasih itu. Mereka berdua terlihat saling menyayangi.
"Kak Sharen juga gitu ya, kalo butuh bantuan, hubungi Icha aja..", pesan Vano.
"Iya..
Good bye, boy....",
Sharen sudah akrab dengan Icha, ya meskipun Icha terlihat pendiam, tapi dia juga banyak bicara jika sudah mengenal lawan bicaranya.
"Cha..nama kamu siapa?
Aisyah, Eliza, Rossa, atau siapa..?",
"Aisyah..?",
"Iya...",
"Islami banget ya namanya,
kamu juga sholehah..",
"Aamiin,
makasih kak...",
"Kakak boleh nanya-nanya ke kamu nggak?"
"Iya..boleh..",
"Apa yang buat kamu mau dijodohin sama Vano..?",
"Awalnya Icha nolak..",
"Kenapa..?",
"Belum siap kalo abis kuliah disuruh nikah..",
"Terus, akhirnya mau, kenapa?",
"Karena ibu kak..,
Ibu meyakinkan kalo Kak Vano itu yang terbaik buat Icha,
Icha nurut, yakin kalo doa orang tua itu pasti diijabah..",
"Kamu sayang sama Vano..?",
"Sayang...,
kak Vano baik, perhatian, dia juga menghargai Icha...",
"Percaya kalo dia setia sama kamu..?",
"Percaya kak..",
Dari Vano dan Icha, Sharen belajar jika tidak ada salahnya menuruti keinginan orang tua. Ya, tapi mungkin tidak berlaku bagi dirinya. Karena hampir saja dia terjebak oleh laki-laji pilihan Mommy. Tapi, tidak dengan pilihan Daddy yang sebenarnya adalah pilihan yang terbaik baginya.
"Kak Sharen mau mampir..?",
"Boleh..",
Mereka sampai di sebuah rumah, tempat Icha tinggal. Tidak seperti kost-kostan, karena memang ini sebenarnya adalah rumah tinggal yang disewa oleh Icha dan teman-temannya.
"Enak ya, nyaman Cha..",
"Alhamdulillah kak...",
"Disini orang Indonesia semua..?",
"Iya kak, lingkungan disini orang Indonesia semua sih rata-rata. Di depan sana ada kostan cowok, temen-temen satu kampus sama Icha juga...",
"Hmmm, pantesan kamu nggak mau kakak tawarin tinggal di Apartement..",
"Iya kan Icha udah terlanjur bayar kak, patungan. Sayang aja.., terus kalo disini lebih deket sama kampusnya Icha..",
__ADS_1
"Iya sih...",
Sharen mondar mandir di dalam Apartementnya. Sambil menggigit jarinya, dia berpikir. Haruskan dia kembali ke Swalayan untuk bertemu dengan pemuda itu lagi..?
Memakai Coat karena udara diluar dingin. Nekad, akhirnya Sharen memutuskan untuk pergi. Jika tidak bertemu, Sharen akan bertanya pada teman-temannya yang berada disana.
Entah dengan tujuan apa, yang jelas Sharen ingin sekali bertemu dengan pemuda itu.
Mendorong pintu kaca untuk memasuki Swalayan, Sharen justru berpapasan dengan pemuda itu. Sayangnya, dia berjalan menuju keluar, membuat Sharen kembali mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam. Sharen memutar balik tubuhnya, dia kembali keluar.
"Tunggu.....", teriaknya.
Hanya ada pemuda itu, tapi sialnya teriakan Sharen sama sekali tidak digubris. Sharen berlari untuk menjangkaunya.
"Tunggu....", ucapnya tepat di belakang pemuda itu.
Pemuda itu menghentikkan langkahnya. Dia berbalik menghadap Sharen. Namun, sama sekali tidak berucap apapun. Dia hanya memandang Sharen dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Kenapa nggak berhenti..?",
"Ada apa..?",
"Aku mau mengucapkan terima kasih, karena kemarin bantuin beresin belanjaan...",
"Oh...", jawabannya singkat.
"Oh ya, kita belum kenalan...",
"Aku Vanya...", ucap Sharen mengulurkan tangannya.
Pemuda itu mengerutkan dahinya.
"Vanya...?",
"Iya..Belvanya..",
Pemuda itu tersenyum smirk.
"Tangan aku nggak dijabat..?",
Pemuda itu, menjabat tangan Sharen dengan menunjuk name tag yang dikenakannya.
"Dave.....??",pertegas Sha.
"Iya..,
udah kenalan kan..?",
"Hmmmm...,
boleh minta nomor ponsel..?",
Dave hanya tersenyum, dia justru meninggalkan Sharen.
"Dave.....tunggu..",
Dave terus berjalan menjauhi Sharen. Gadis itu enggan untuk mengejar Dave kembali karena teringat dengan pesan Vano untuk tidak berjalan sendiri pada malam hari. Sharen memutuskan untuk kembali ke Apartementnya.
Sharen baru merasakan, rasanya diabaikan. Rasanya ingin marah, tapi mungkin ini balasan yang harus dia terima.
Ponselnya berdering, dan panggilan itu dari Tama.
"Halo.., lagi apa Sha..",
"Lagi kesel...",
"Kenapa..?",
"Aku dicuekin..",
"Sama siapa..?",
"Dave...",
"Kok bisa.., cewek secantik kamu, dicuekin..?",
"Huum...
Dingin banget...",
"Iyalah, disini aja dingin apalagi disana..",
"Bukan itu maksudnya, tapi Dave..",
"Sabar Sha..,
Mungkin harus kamu yang ngejar...",
"Cckckckck..",
"Semuanya ada dikamu...",
"Padahal aku pengen ngobrol sama dia...",
"Masa gitu aja nyerah..",
"Iya-iya....,
kamu ngapain telepon aku..?",
"Ya aku pengen denger perkembangannya aja..",
"Tuh, tadi aku udah cerita kan?",
"Hehe iya udah..
besok aku telepon kamu lagi ya..",
"Oke..aku mau tidur ..",
Sharen menarik selimutnya, meletakkan ponselnya di atas nakas. Baru lima menitan dia letakkan, ada sebuah notifikasi chat. Dari nomor baru, dan itu nomor Aussie.
"My number, Dave...",
Sha mengucek-ngucek matanya, untuk memastikan dia tidak salah membaca. Tapi, matanya masih normal.
"Lagi apa..?", balasnya tanpa basa-basi.
"Mau tidur, besok kerja.
Good night...",
Sharen kembali merengut. Baru saja ingin mengawali obrolan, tapi sudah mendapatkan balasan seperti itu.
"Good night, sweet dream..",
__ADS_1