Istri Pura - Pura ( Bukan Perawan Tua )

Istri Pura - Pura ( Bukan Perawan Tua )
Maaf Sayang


__ADS_3

Sepanjang perjalanan menyusul istrinya, Javas berdoa. Semoga Kina tidak ada maksud lain dibalik izinnya untuk ziarah ke makam ibu dan neneknya. Javas takut, jika Kina kabur seperti dulu. Ketakutan Javas jelas saja bertambah, apalagi Kina membawa Zee putra kecilnya. Meskipun, kepergian Kina kali ini benar-bener diantar oleh driver, Suster Zee, juga tetap diawasi oleh orangnya. Tapi, Kina lebih pintar dari yang Javas bayangkan.


Javas, sepertinya bisa bernafas lega kali ini. Saat sampai di rumah lama Kina, mobil yang membawa Kina terparkir disana. Ada si kecil Zee yang bermain di teras rumah bersama suster.


"Anak Papa...", Javas menghampiri Zee yang disambut oleh tawa Zee yang terlihat senang melihat kedatangan Papanya.


"Pap...pap...",


"Mama mana sayang..?", tanyanya. Sayangnya, anak kecil itu tidak merespon ucapannya. Zee kembali berkonsentrasi dengan mainannya.


"Mbak Kina ada di kost-kostan den..",


"Ngapain sus?",


"Lagi tengok-tengok aja katanya...",


"Oh, saya susul dulu.


Titip Zee ya..,


oh ya, driver dimana?",


"Cari warung, katanya mau beli rokok..",


"Oh..ya udah..",


Dengan berjalan kaki, Javas menuju ke kost-kostan yang letaknya diseberang rumah.


"Na...",teriak Javas memanggil istrinya.


Karena suasana sepi, Javas langsung masuk ke dalam menuju belakang. Keadaannya lumayan berantakan karena ada beberapa box disana.


"Na...",


"Eh ada mas ganteng..", ucap salah satu anak kost.


"Loh..mas udah sampe..?",


"Udah...,lagi ngapain?",


"Ini lagi ngerapihin dapur mas..",


"Ini apa..?",


"Iya itu ada rak buat bumbu, ada rak piring, ada tutup kulkas, banyak..",


"Kamu yang beli..?",


"Iya.., online mas...


kalian lanjutin ya, itu ada panduan gambarnya. Mbak ke depan dulu...",


Javas jadi merasa bersalah. Sepertinya memang Kina benar-benar menginginkan rumah.


"Na...", ucapnya.


"Ya mas..", jawabnya berbalik badan.


Tiba-tiba Javas memeluk Kina.


"Maaf ya, belum bisa bahagia-in kamu...",


"Kenapa ngomong gitu mas..?",


"Mas nggak bisa keluar dari rumah sayang.., nggak bisa ngajak kamu tinggal di rumah kita sendiri..",

__ADS_1


"Iya Kina tau, kenapa?",


"Kamu pengen banget punya rumah sampe-sampe mau nata ulang dapur kost-kostan..?",


"Nggak gitu mas, kemarin anak-anak kost itu bilang katanya pengen dapurnya di fungsiin lagi. Selama ini kan mereka makannya catering. Pengen sesekali masak.., gitu..",


"Gitu..?",


"Iya.., ya emang Kina yang beliin perintilannya, biar estetik gitu. Kalo mereka kan ngertinya pacaran, jadi mana tau..",


"Maaf ya sayang...",


"Nggak apa-apa mas..",


"Mbak ini...",


Tiba-tiba ada salah satu anak kost yang memergoki mereka.


"Cieh.., mesra banget...sampe pelukan gitu, mas Javas kangen sama mbak Kina ya..?",


Spontan, Javas melepas pelukannya.


"Hehe maaf..., jangan pengen ya, kamu masih sekolah..


kenapa?",


"Mbak itu tinggal di pasang aja, harus dipaku..., tapi susah..",


"Mau dibantuin..?", tanya Javas.


"Boleh mas..",


Javas menjadi tahu, menata rumah memang hal yang menyenangkan. Seperti ada kepuasan tersendiri. Selama ini yang Javas tahu hanya mengerjakan tugas di depan laptop.


Kina menyuguhkan satu cangkir white coffe untuk suaminya. Mereka mengamati Zee yang sedang asyik dengan mainannya.


"Untung mainannya dibawa mas, jadi dia anteng..",


"Kalo diliat-liat, Zee udah gede ya sayang..",


"Iya mas udah, bentar lagi kan setahun..",


"Mau dirayain dimana ulang tahunnya?",


"Dimana aja, di rumah juga boleh..",


"Sayang.., kayaknya Zee udah pantes punya adek deh..",


"Masih kecil mas..",


"Loh nggak masalah, kan malah sekalian ngebesarinnya..",


"Na pikir-pikir dulu deh..


kayaknya Na belum siap bagi kasih sayang mas..",


"Iya nggak apa-apa..


Mang....", ucap Javas ketika melihat drivernya yang kembali.


"Ya den...",


"Mamang balik aja.., sama mbak sust.."


"Baik den...",

__ADS_1


Kina dan Javas pulang, nanti setelah Tante Tya pulang bekerja. Sudah sampai disini, dan sepertinya sayang jika tidak bertemu dengan tantenya itu.


"Sayang...", ucap Javas ketika menyetir dalam perjalanan pulang.


"Ya mas..",


"Tadi mas sempet bilang sama Daddy..",


"Soal apa?",


"Rumah...",


"Mas..., kenapa sampe ke Daddy sih...",


"Ya nggak apa-apa..",


"Daddy marah ya mas..?",


"Nggak sayang..


katanya wajar, dulu juga Mommy kayak gitu...",


"Terus..?",


"Katanya Daddy mau ngasih solusi..


tapi kita juga nggak bisa keluar dari rumah..",


"Loh.., terus..?",


"Nggak tau..


sabar ya.., kita tunggu aja dari Daddy...",


"Mas..kalo emang kita nggak dibolehin keluar dari rumah, ya nggak apa-apa. Kina ngerti kok mas..",


"Iya sayang..


maaf ya..",


"Apa sih, minta maaf terus..


Kina nggak apa-apa.., mungkin Kina kurang syukur ya mas, udah dapat mertua baik, tinggal di rumah gedongan, tapi masih aja ngerasa kurang..",


"Kamu tau kan? kalo mas sayang banget sama kamu, sama Zee juga. Jadi, sebisa mungkin mas akan bahagiain kalian..",


"Makasih sayang...", ucapnya dengan mengecup pipi suaminya.


Javas salting.


"Mas jadi pengen cepet-cepet sampe rumah..",


"Kenapa mas..?",


"Mau produksi adek buat Zee..",


"Nakal...",


"Mau ya..",


"Kan Na belum setuju..",


"Harus setuju.., ya kan Ze...",


Zee merespon ucapan Papanya dengan bertepuk tangan, tertawa memperlihatkan gigi kelincinya.

__ADS_1


__ADS_2