
Dia menerima panggilan video dari Nathan dengan posisi tidur. Sharen menangis tanpa suara, dia hanya mengeluarkan air matanya.
"Kamu nangis..? ya udah, udahan aja kalo gitu.., mas tutup...",
Sharen menggeleng.
"Nggak mau ditutup..?",
Sharen menggeleng kembali.
"Kalo gitu, jangan nangis lagi...",
Sharen mengusap air matanya. Dia merespon Nathan, meskipun Sharen masih diam.
"Mas minta maaf..,
mungkin kata maaf aja nggak akan cukup untuk menebusnya sayang, tapi mas cuma punya itu...",
Sharen enggan menjawab, dia hanya diam. Tapi, dia tetap menatap Nathan.
"Kamu masih nggak mau ngomong ga sayang..? ya udah nggak apa-apa..
Mas selama ini emang salah sama kamu, mas ninggalin kamu gitu aja.., mas emang pengen menghindar waktu itu. Mas pengecut sayang..
mas ngilang karena selama ini pergi umroh..., mas butuh ketenangan. Kamu tau kenapa mas uring-uringan? bukan hanya karena kamu sembunyiin tes itu dari mas. Tapi, mas juga kecewa sama diri sendiri, karena nggak bisa bahagiain kamu.., mas merasa gagal jadi suami Sha...
Mas bukannya nggak bersyukur punya istri kayak kamu, tapi mas yang merasa nggak bisa jadi suami sempurna buat kamu..
Maafin mas Sha..",
Kali ini, justru Nathan yang menangis. Dan, Sharen juga tidak kuasa menahan air matanya. Mereka menangis bersama.
"Maafin mas Sha.., maaf...
mas nggak bermaksud ninggalin kamu.., mas khilaf sayang...",
Melihat suami istri itu meluapkan kerinduan dan kesedihannya, Tama akhirnya memilih untuk keluar dari kamar Tama.
"Hape nya biar disini aja Nath, gue bisa pake whatsapp web nanti...", ucapnya.
Tama pergi keluar menuju kamarnya.
"Buka blok nya sayang..,
mas mohon..., izinin mas ketemu sama kamu...",
Sharen menggeleng.
"Kamu masih marah ya? kamu trauma? kamu takut ditinggal mas lagi..? nggak akan sayang.., mas janji...
buka bloknya ya...",
Sharen masih kukuh. Dia terus menggeleng, dan akhirnya Nathan menyerah. Dia tidak ingin memaksa Sharen.
"Kamu ngantuk..? mau tidur..?",
Sharen mengangguk.
"Ya udah, tidur aja.., nggak usah dimatiin ya. Mas mau liat kamu...",
Nathan memandangi Sharen yang sudah terlelap. Andai saja Sharen berada didekatnya sudah pasti Nathan akan memeluknya. Sayangnya, Sharen berada di balik layar. Nathan yang juga mengantuk akhirnya mematikan panggilan teleponnya. Nathan tidur.
Hari berganti, namun langit masih gelap. Sedari tadi ponsel Tama terus saja berdering. Nathan terganggu, dan memeriksa siapa yang menghubungi Tama. Ternyata, Javas. Sedikit ragu, namun Nathan akhirnya menjawab telepon dari Javas.
"Tam, cepetan kesini... Jaz sama Zee muntah-muntah...,Kinara nangis terus, aku bingung...",
"Ini Nathan Vas..,
Jaz sama Zee kenapa..?",
"Kok bisa lu..? Tama mana..?",
"Ada di kamarnya..
Aku kesana Vas....?",
"Nggak perlu..",
"Vas..kamu boleh marah tapi, ini bukan saatnya. Aku kesana sekarang...",
Nathan bergegas bangun, namun lagi-lagi dia merasakan mual dan muntah. Ini sudah menjadi ritual paginya beberapa hari ini.
Setelah melakukan ibadah pagi, Nathan langsung menuju ke hotel tempat Javas menginap. Namun, sebelumnya Javas menyempatkan mengirim pesan kepada Tama.
"Tam, hape Lu ada di resepsionist ya.., gue titipin disana.., Javas bilang Jaz sama Zee muntah-muntah. Gue nyusul mereka ke hotel. Kayaknya mau dibawa ke rumah sakit. Kalo lu udah bangun, cepetan nyusul..",
__ADS_1
Dalam waktu lima belas menit, Nathan tiba di hotel. Ketika masuk ke kamar, Jaz sudah tidak sadarkan diri. Terlalu banyak memuntahkan isi perut yang bercampur dengan cairan tubuh. Sedangkan Zee terus-terusan muntah, dan membuat Kinara yang sedang hamil, menangis histeris. Dia juga dokter, tapi rasa paniknya sampai menghilangkan ilmu yang dia punya. Kinara nampak ditenangkan oleh Sharen yang kala itu masih menggunakan piyama tidurnya.
"Ayo cepetan bawa ke rumah sakit Vas..",
"Zee muntah terus Nath..",
"Ada kain? kalo nggak selimut deh, itu dipake aja dulu.., biar nggak kececer muntahnya..",
"Jaz..bangun..
ini kak Nathan, ayo..bangun Jaz..", Nathan berusaha menyadarkan Jaz tapi tidak berhasil.
Javas membopong Zee.
"Sayang, kamu disini dulu ya sama Kak Sharen.., mas bawa Zee ke rumah sakit dulu..",
"Kinara ikut mas..",
"Disini aja dulu, ini darurat. Kamu nggak bisa lari-larian.., kamu lagi hamil.., sama kak Sharen aja ya..",
Kinara akhirnya menurut.
Nathan membopong Jaz dan Javas membopong Zee. Lantas, membawa keduanya ke rumah sakit. Untungnya, pihak hotel dengan gercepnya memberikan pelayanan untuk mengantarkan ke rumah sakit.
Sesampainya disana, Javas dan Nathan membawa Jaz dan Zee langsung ke IGD.
"Kenapa pak..?",
"Ini anak dan adik saya, muntah-muntah terus..."
Javas dan Nathan nampak gelisah, apalagi Jaz yang sudah tidak sadarkan diri.
"Mereka kenapa Vas..?",
"Keracunan jajanan kayaknya Nath..,
mereka abis makan coklat, kayaknya udah expired..",
"Bawa dari rumah..?",
"Nggak.., beli di sini..",
"Daddy sama Mommy udah dihubungi?",
"Udah.., tapi mungkin mereka ke hotel. Aku belum ngasih tau kalo aku bawa ke sini. Aku panik, mana Kinara nangis. Jaz udah pingsan..
"Ya udah, nanti kan Kinara sama Sharen pasti ngasih tau..",
"Pak, silahkan diisi administrasinya..",
Salah satu suster memanggil Javas untuk mengisi formulir data diri pasien.
"Nath, tolong jagain mereka dulu..",
"Iya Vas.."
Cukup lama, dokter memeriksa dan menangani Zee dan Jaz. Hingga, setengah jam kemudian, Daddy dan Mommy datang bersama Kinara dan Sharen.
"Vas.., gimana sama Jaz? ", tanya Mommy dengan mata sembabnya.
"Zee gimana mas..?", tanya Kinara.
"Jaz tadi udah pingsan Mom, Zee masih sadar tapi udah lemes banget...,
mereka lagi diperiksa di dalam..",
"Ya Allah, gimana mas..?", Mommy yang menangis, langsung ditenangkan oleh Daddy.
"Baru diperiksa, kamu yang tenang..", jawab Daddy.
"Zee pasti bakalan sembuh kan mas..?",
"Pasti sayang...", Javas memeluk Kinara.
Sharen yang sedang duduk di kursi, langsung dihampiri oleh Nathan.
"Sayang..., kamu baik-baik aja kan..?",
"Iya...", akhirnya Sharen bersuara, meskipun hanya mengucap satu kata.
Tiba-tiba, dokter keluar.
Daddy, Mommy, Javas, Kinara, Nathan dan Sharen mendekat ke pintu.
"Gimana dok..?", tanya Mommy tidak sabaran.
__ADS_1
"Pasien sudah kami tangani. Muntahnya sudah berhenti, pasien atas nama Jaz juga sudah siuman. Sebentar lagi dipindahkan ke kamar rawat...",
"Alhamdulillah...", ucap mereka serentak.
Kini, Jaz dan Zee sudah dipindahkan ke kamar. Dan, mereka ditempatkan di satu kamar yang sama.
Daddy dan Mommy tidak menghiraukan keberadaan Nathan disana. Mereka tidak melarang, atau menolak. Tapi, juga tidak menyapa. Karena, ada hal yang jauh lebih penting sekarang, yaitu kesehatan Zee dan Jaz. Urusan Sharen, nanti dulu. Toh, mereka dari awal memang menyerahkan semuanya ke Sharen.
"Na.., Sha.., kalian sarapan dulu aja ya..", ucap Mommy.
"Kina nanti aja Mom...",
"Sekarang Na, mumpung Zee masih tidur..,
kamu juga Sha..",
"Ayo sayang, kamu sarapan dulu ya..
anak kamu bukan cuma Zee aja, ada yang didalam perut juga..",
"Tapi mas..",
"Disini udah ada Daddy sama Mommy, nanti kita gantian sarapannya.
Kak Sha juga ya..",
Mereka berempat keluar dari kamar.
"Kakak mau balik hotel aja Vas..", ucap Sharen. Dia sepertinya kurang nyaman dengan suasana rumah sakit.
"Ya udah, biar dianterin Nathan ya kak. Atau nunggu Tama kesini..?",
"Biar sama aku aja Vas..,
Mas antar ya sayang...",
Sharen diam, sepertinya dia tidak menolak dengan permintaan Nathan.
Dan, akhirnya Nathan mengantarkan istrinya ke hotel dengan menggunakan taksi.
"Mas ikut ke dalam ya sayang..",
Sharen mengangguk.
"Aku mau sarapan dulu...",
"Iya aku temenin..",
Nathan menemani istrinya sarapan. Dan apa yang terjadi? Sharen justru kembali mengeluarkan makanan yang baru saja dia makan. Ini, membuat Nathan khawatir kepadanya.
"Kamu sakit...?", tanya Nathan ketika membantu Sharen memijat halus tekuk leher istrinya.
"Nggak...",
"Mas antar ke kamar ya..",
"Aku mau makan roti aja..",
"Iya.., kamu tunggu di kursi aja ya, mas yang ambilin..",
Nathan merasa ada yang disembunyikan oleh Sharen. Entah apa, tapi Nathan yakin ada sesuatu.
Nathan mengantarkan Sharen ke dalam kamarnya. Sharen hendak menutup pintu kamarnya, namun dicegah oleh Nathan.
"Sayang, izinin mas nemenin kamu ya. Mas khawatir...",
Sharen diam. Dia langsung masuk ke dalam kamar tanpa menutup pintunya, dan Nathan akhirnya masuk.
"Kamu butuh sesuatu? obat..? mas beliin?",
"Nggak usah, aku udah punya..",ucapnya. Sharen mengambil tempat obatnya.
"Mas ambilin air.., kamu duduk aja..",
Sharen meminum satu persatu obat, kalo tidak salah ada 4 obat yang diminumnya.
"Udah..?",
Sharen mengangguk.
"Aku mau tidur..",
"Iya sayang.., tidur aja.., mas nggak akan ganggu..",
Nathan memang tidak ingin membahas masalah rumah tangga mereka kembali. Melihat respon Sharen yang sudah mulai ada peningkatan, membuatnya semakin yakin jika hubungannya akan segera membaik. Hanya butuh waktu dan kesabaran ekstra.
__ADS_1
Sementara istrinya tidur, Nathan mengamati satu persatu obat yang tadi diminum oleh istrinya. Satu obat tanpa kemasan, dan tiga obat lainnya yang berkemasan lengkap dengan dosis dan merk-nya. Nathan yang penasaran, akhirnya membrowsing satu persatu obat yang barusan diminum oleh Sharen.