Istri Pura - Pura ( Bukan Perawan Tua )

Istri Pura - Pura ( Bukan Perawan Tua )
Cafe


__ADS_3

"Kenapa tadi malem pulang duluan Sha? ada yang ganggu?", tanya mommy Aira.


"Nggak mom.., Sha nggak betah.., gendang telinga Sha lama-lama pecah..,musiknya kenceng banget, bising..",


Aira dan Rendra bertatapan dan saling melempar senyum.


"Kan mommy udah bilang, nggak usah kesana..., tau sendiri kan?",


"Iya mom.., kalo kayak gini kan udah nggak penasaran..",


"Sha..


Kamu lagi deket sama Tama?",


"Kenapa mommy tiba-tiba tanya gitu?


"Tanya aha..


Kalian pacaran?",


"Belum....ya deket aja, temen ngobrol temen sharing, temen curhat..",


"Belum, berarti akan..?",


"Mommy nggak setuju?",


"Setuju, mommy sih terserah kamu aja..",


"Sha masih seneng sendiri.."


Enggan untuk mendesak Sharen terlalu dalam, Aira akhirny mengalihkan topik pembicaraan mereka..",


"Gaun mommy, udah jadi belum?",


"Gaun? buat ke acaranya kak Dys?",


"iya..",


"Hari ini juga jadi, nanti Sha bawa ya mom sekalian fitting..",


"Asyik...


dibikin sederhana tapi tetep elegant kan?",


"Iya.., tenang aja, pasti bagus kok


Ini Javas sama Kina, kapan pulangnya? Gaun Kina juga nanti selesai mom..",


"Hari ini pulang kok, tadi Jaz udah video call si Kina..",


"Hmmm.., ya udah


Sha pergi dulu mom...",


"Oke sayang hati-hati..",


"Pergi dulu Dad..",


"Nyetirnya hati-hati..",


"Dad nggak ngantor hari ini?",


"Nggak, mau nemenin mommy.., mau belanja katanya, sekalian mau ke rumahnya budhe Sof...",


"Oh gitu.., oke...",


Sharen keluar untuk pergi bekerja. Iba, ketika Sharen terlihat seperti memendam sesuatu. Tertangkap jelas oleh pandangan mommy. Sebagai seorang ibu, perasaannya memang sensitif jika menyangkut putra putrinya.


"Liat sendiri kan anak kamu? dikasih kebebasan dikit aja, dia malah yang nggak nyaman. Pergi ke club' malam, malah pulang duluan..",


"Iya..,


mas tapi Sharen kayak sedih ya. Kenapa?",


"Kenapa nggak kamu tanya ke dia?",


"Kan Sharen mau kerja mas..",


"Ya udah, nanti ditanya lagi kalo udah sampe rumah..",


"Apa dia sedih gara-gara Gladys mau tunangan sama Bian, mas?",


"Bisa jadi, bagaimanapun juga Sharen sama Bian ada hubungan bertahun-tahun. Mereka putus, tiba-tiba Bian ada hubungan sama kakak sepupunya Sha.., ya bisa kamu bayangin..",


"Kasian Sha..",


"Nggak usah dipaksa kalo dia nggak mau dateng ke acaranya Gladys..",


"Tapi dia pengen dateng katanya mas..",


"Ya udah..",


"Apa kita jodohin Sha aja ya,


mas kan punya temen banyak, kali aja ada anak temennya yang cocok sama dia..",


"Sharen cantik.., dia kaya, anak mas sempurna. Kenapa kamu kepikiran buat jodohin dia? kamu pikir anak kita nggak laku? dia masih pengen sendiri, bukan berarti dia nggak mau punya pasangan. Sha, lebih berhati-hati sekarang...",


"Aira kan khawatir mas..",


"Mending kamu ganti baju sekarang, katanya mau pergi? jadi nggak?"


"Nanti bayarin ya mas...",


"Iya.. mau belanja apa emangnya?",


"Hehehehe...pokoknya bayarin ya..",


"Iya sayang..",


"Oke..janji loh ini.


Kalo gitu, Aira ke kamar dulu mau siap-siap..",


"Nggak usah dandan cantik-cantik...",


"Iya mas...",


...****...


Queen Sharen sudah tiba di kantornya. Dia segera menuju ke ruangannya. Penasaran, akan mendapat kejutan apalagi dari secret admirernya pagi ini.


Diatas meja kerja hanya ada tumpukkan berkas yang hari ini harus dia periksa. Tidak ada kotak, bucket bunga atau sesuatu yang biasanya sudah tergeletak di atas meja kerjanya.


"Tumben nggak ada..",


Sharen duduk, karena masih penasaran dia membuka laci mejanya satu persatu. Siapa tahu, diletakkan di dalam meja laci. Namun, sayangnya tidak ada juga.


"Nggak ada juga.., berarti hari ini nggak dapet..", ucapnya.


Sedikit kecewa, namun Sharen tidak ingin berlarut-larut. Dia segera menyalakan laptop miliknya. Membuka sebuah file dan memeriksa berkasnya satu persatu.


Tok..tok..tok...

__ADS_1


"Masuk Tam..",


Tama masuk ke dalam ruangan Sharen dengan tangan kosong.


"Mau ambil berkas?",


"Iya..., baru ditanda tangani?"


"Sebagian udah, kemarin. Tuh yang disitu..",


"Oke..aku bawa dulu Sha..",


"Tam, hari ini aku nggak dapet kiriman ya?",


"Nggak ada...",


"Kenapa?",


"Tunggu aja..


kayaknya ada surprise yang lain.."


"Surprise yang lain? apa?",


"Ya tunggu aja...",


"Gitu deh..


Oh ya Tam, aku siang nanti ada janji sama temenku.., di Prime nggak ada meeting kan?",


"Temen? siapa?"


"Ririn.., aku mau bahas Q labels...",


"Mau ditemenin?",


"Nggak usah deh, kamu disini aja...",


"Oke Sha..,


Apa aku anterin aja nanti dijemput lagi?"


"Nggak usah, makasih Tama..",


"Yakin sendiri?",


"Iya yakin..",


" Ketemuannya dimana?",


"Nggak tau, terserah Ririn sih, dia juga belum ngasih kabar lagi..",


"Ya udah kalo nggak mau dianterin..,


Aku keluar Sha.."


" Oke Tam..",


Sharen memberikan tanda tangan satu persatu pada berkas yang Tama tumpuk di meja kerjanya.


Lima belas menit kemudian, ponselnya berbunyi dan ternyata itu dari Ririn. Teman sekaligus partner bisnisnya itu memberikan lokasi tempat mereka akan melakukan pertemuan.


"Loh..loh kok disini...", ucapnya.


Sharen lantar menelepon Ririn.


"Halo..",


"Iya Sha.., gimana?",


"Yah.., Sha aku udah terlanjur pesan tempat sama makanan juga. Aku udah otw nih..",


"Owalah.., oke deh..


Kabari kalo udah sampe..",


"Kamu belum otw?"


"Belum.., aku nunggu kamu aja kalo udah sampe..",


"Iya.., udah..berarti masih lama dong.."


"Hehe iya tunggu aja ya.. aku selesain kerjaan disini dulu..",


"Oke..",


Sharen bergegas menyelesaikan pekerjaannya di Prime grup. Merasa tidak enak jika Ririn harus menunggunya terlalu lama. Bagaimanapun, dia harus profesional dalam bekerja.


"Tam.., aku pergi dulu ya.


Nih berkasnya udah aku tanda tangani semua..",


"Kok repot-repot di bawain kesini..?",


"Nggak apa-apa, aku pergi dulu..",


"Ada yang ketinggalan nggak?"


"Nggak sih..",


"Oke..hati-hati Sha..


Oh ya ketemuannya dimana?",


"Di cafe..",


"Cafe mana?",


"Deket sini...


udah ya aku pergi dulu. Nggak enak udah ditungguin sama Ririn.."


Tidak membutuhkan waktu lama untuk berkendara. Sharen akhirnya sampai di Cafe tersebut. Sharen masuk, langsung menuju ke meja yang sudah Ririn sebutkan sebelumnya.


"Lama ya Rin..",


"Nggak kok.., baru setengah jam..",


"Itu namanya lama. Maaf ya, jalannya agak macet.."


"Nggak apa-apa..",


"Mau bahas apa?",


"Gini Sha, koleksi Q-labels yang outer itu kan udah launching dan ternyata banyak peminatnya, terutama kalangan muda.."


"Wah, beneran Rin?",


"Huum.., desainnya unik jadi ada daya tarik tersendiri.., nah kalo kemarin kan kamu buatnya outernya 2 in 1 gitu kan, bisa jadi outer bisa dipake kayak gamis..",


"Iya.., ada usulan lagi?"


"Nah aku mau minta nih, desain sama payetnya sama persis kayak gitu, tetep dibuat outer, tapi bisa jadi kemeja bisa jadi outer pendek.., gitu..",

__ADS_1


"Hmm.., boleh juga.., bentar deh aku gambar dulu..",


Sharen serius menggambar pada i-padnya, mencoba untuk mem-visualisasikan sesuai dengan deskripsi Ririn.


"Nah.., gini kali ya Rin, jadi jangan ramplenya diilangin jadi lebih simpel, lebih sporty..",


"Boleh deh Sha..",


Waitress memberikan minuman sesuai apa yang Sharen pesan.


"Silahkan mbak Sharen..",


"Makasih mbak..",


"Lumayan lama nggak kesini..",


"Iya..lagi sibuk...",


"Permisi mbak..", ucap waitress tersebut.


"Kok mbaknya kenal sama kamu Sha, sering kesini?"


"Iya.., langganan disini..",


"Tapi kok tadi minta pindah cafe..",


"Nggak apa-apa, lagi males aja..,


Ya udah yuk lanjutin lagi...", ucapnya dengan menyeruput minuman pesanannya.


Sharen dan Ririn yang serius pada layar iPad, sampai tidak sadar ada seseorang yang berdiri di depan mejanya.


"Kak Sharen...", sapanya.


Sharen melepas pandangan dari layar, beralih memandang orang yang menyapanya.


"Kak.., disini..?",


"Luna..,


duduk Lun..",


"Nggak kak, makasih..


Kakak disini mau ketemu sama kak Nathan..",


"Nathan..?


Eee...nggak..nggak..aku lagi meeting, nih sama temenku. Emangnya Nathan pulang?",


"Iya pulang kak, setengah jam lagi mungkin sampe sini..",


"Oh..jadi kamu nunggu disini, gitu..?"


"Iya kak..,


Luna mau ke dalam dulu ya , Kak Sharen lanjutin aja. Selamat menikmati.."


"Iya Lun...",


Sharen menatap Luna yang menuju ke dalam Cafe, lebih tepatnya sebuah kantor kecil yang berada disana.


"Rin.., meetingnya lanjut di kantorku aja yok.."


"Ke butik..?"


"Ke Prime aja.."


"Kenapa Sha..?"


"Nggak apa-apa, panas disini..",


"Orang dingin kayak gini kok bilang panas..",


"Ayok cepetan deh.."


"Iya-iya.., aku minum dulu deh. Tuh, minuman kamu minum dulu..",


Setelah bersiap untuk pergi, Sharen menghampiri waitress yang tadi melayaninya.


"Mbak..billnya mana?"


"Seperti biasa, free mbak.."


"Mbak tapi kan ada temenku juga.."


"Nggak apa-apa mbak..",


"Ya udah, kalo gitu. Makasih ya mbak.


Ini..tips buat mbak ya..",


Sharen memberikan dua lembar uang seratus ribuan.


"Wah ..makasih mbak.."


"Sama-sama.., duluan ya mbak..",


Sharen melajukan kendaraannya. Ingin segera sampai di Prime Grup.


Seorang pemuda masuk ke dalam Cafe. Penampilannya kala itu mengenakan kemeja Hawai dengan celana pendek disertai dengan sepatu kets. Jika ditelisik lebih jauh, kulitnya terlihat lebih terang, dibandingkan beberapa bulan yang lalu. Wajahnya masih sama tampan seperti biasanya.


"Siang pak.."


"Siang.."


"Mbak Luna di dalam pak.."


"Oke..


Udah dikasih minum?"


"Udah pak..


Tadi bapak ketemu sama mbak Sharen nggak?",


"Sharen...?"


"Iya.., mbak Sharen baru aja keluar dari sini..,nggak ketemu di depan pak?",


"Nggak mbak..",


"Oh mungkin papasan..."


"Iya..,


mbak tolong bikinin lemon tea hangat ya, nanti antar ke ruangan..",


"Baik pak..",


Nathan mengeluarkan ponselnya dari dalam saku. Tidak perlu repot mencari kontak yang akan dia hubungi, karena sepertinya kontak tersebut dimasukkan dalam kontak pintasnya.


"Halo.."

__ADS_1


"Halo Tam...


............................",


__ADS_2