
"Waalaikumsalam..", jawab Nenek dan Kinara kompak.
"Ini siapa? temen kamu ya nduk?",
"Hmm.., bu..bukan nek..
Ini anaknya majikan Kina.., mas ada barang saya yang ketinggalan?",tanyanya kepada Javas.
"Owalah.., anaknya ibu Aira ya nduk..",
"Iya Nek..., saya Javas..", ucapnya memperkenalkan diri. Bersalaman serta mencium tangan sang nenek. Meskipun terlihat garang, tapi Javas terlihat begitu sopan kepada nenek Kinara.
"Cah bagus.., yang nganterin Kina?",
"Iya..,
Saya cuma mau pamit saja nek.., cucunya sudah saya antar dengan selamat..",
"Terima kasih ya cah ganteng, cah bagus...,
masuk dulu ya. Makan siang dulu.., nenek udah masak tadi..",
Kinara membelalakkan matanya. Bisa-bisanya, Nenek malah mengajak Javas makan? padahal baru saja hatinya merasa lega, tapi sekarang malah mau jantungan lagi.
Jangan mau mas Javas.., jangan mau..
"Makasih nek.., saya langsung saja. Sudah ditunggu Dad sama mom.., dirumahnya kakek..",
Alhamdulillah, mas Javas nolak..
"Padahal nenek udah masak banyak.., tadi katanya Kina dianter sama sopir, ini kok malah anak majikannya yang nganter..",
"Mommy saya bukan majikannya dokter Kina, tapi pasiennya..",
"Iya wis nggak apa-apa, sama aja. Kan Kina sama-sama kerja.., makan dulu ya cah bagus..,anggep saja ini ucapan terima kasih nenek karena udah nganterin Kinara..",
"Nek.., mas Javas mau buru-buru ke rumah kakeknya, udah ditungguin sama Ibu, bapak sama adiknya. Lagian, mas Javas nggak cocok makan disini, makanannya terlalu sederhana..", ucapnya menurunkan nada bicaranya.
"Mau sederhana, mau mewah yang penting kan bersih, halal.. mau ya cah ganteng?",
Tidak bisa Kinara sembunyikan jika saat ini dia berwajah gelisah. Takut, jika Javas akan menerima ajakan sang Nenek.
Javas melihat wajah Kinara yang terlihat asam, tapi justru ini yang membuatnya akhirnya menerima ajakkan nenek. Javas tersenyum sinis melihat Kinara.
"Iya Nek..",
Aduh.., mas Javas pake terima ajakkannya nenek. Gusti, paringi keselamatan..
"Nah gitu.., nyenengin orang tua itu pahala. Mari masuk.., ya Allah kok ada bocah ganteng kayak gini..", ucapnya sambil menepuk-nepuk lengan Javas.
Kinara lagi-lagi dibuat pusing oleh sang nenek yang justru terlihat sok akrab dengan Javas. Padahal, Javas orangnya dingin, galak dan senang sekali mengeluarkan kata-kata seperti pisau, tajam.
"Nah ini rumahnya Kinara, saya disini cuma numpang. Ini rumah peninggalan almarhum ibunya. Semenjak Kinara kuliah dikota, rumah ini kosong, jadi nenek yang nempatin..",
"Nenek tinggal disini sendirian?",
"Iya.., nenek sebenernya tinggal di samping rumah.., ada anaknya nenek, tantenya Kinara..
Oh iya nduk.., coba panggilin Tante, biar kesini. Bilang aja ada tamu agung..",
"Adanya mas Javas nek.., bukan Agung..", ucap Kinara, malas.
"Iya maksudnya tamu istimewa..",
"Iya.., Kina panggil Tante dulu..",
Sementara Kinara keluar untuk memanggil tantenya, Neneknya langsung membawa Javas ke ruang makan.
"Rumahnya sederhana ya mas.., kalo rumahnya cah bagus sudah pasti mewah ya. Tapi memang begini keadaannya. Ayo duduk..",
"Iya Nek.., nggak apa-apa.., rumahnya kakek juga kayak gini..",
"Nenek ambilin nasi ya..",
"Makasih nek..",
Memang sebuah menu sederhana ala rumahan. Sayur asam, ayam goreng, sambal, tempe goreng, tahu tempe, ikan asin, serta kerupuk.
"Ini masakkannya tante sama nenek..",
"Iya Javas makan ya nek..",
"Nenek buatin teh hangat dulu, yang banyak makannya biar sehat..",
Tidak risih, Javas terlihat biasa saja. Sedikit canggung tentu saja iya, tapi tidak menunjukkan sama sekali rasa arogannya, meskipun saat ini dia makan ditempat orang yang status ekonominya jauh di bawahnya.
"Owalah.., ini ya kenapa nenek minta Tante kesini.., ada tamu ternyata..",ucap Tante Kinara, yang belum Javas ketahui siapa namanya.
Javas mengunyah habis makanan yang telah terlanjur masuk ke dalam mulutnya.
"Oh.., iya Tante..",
"Lanjutin mas..",
"Iya Tante..",
"Na.., kamu belum makan kan? ayo sekalian makan. Kalo Tante udah, nenek yang belum..",
Gimana bisa makan, udah nggak selera..
__ADS_1
Nenek meletakkan segelas teh hangat yang beliau buat untuk Javas.
"Ibu.., juga makan..",
"Iya..ini mau makan..
Kina.., kamu juga makan Yo nduk..",
"Nanti aja nek..",
"Nggak boleh gitu, nanti maghnya kambuh..",
Kinara akhirnya ikut makan, meskipun makanan yang dia makan rasanya hambar dan anyep. Ini semua bukan salah makanan atau yang memasak, tapi kesalahan dari lidahnya yang tidak bisa menjalankan fungsinya dengan baik.
Mereka berempat tetap berada di meja makan, dengan posisi Javas yang duduk disamping nenek, depan Javas adalah Tante Tia, serta dokter Kinara yang duduk disamping tantenya.
"Maafin kalo selama ini cucu nenek kerjanya nggak bener ya mas..",
Javas hanya tersenyum.
"Ternyata, mas Javas nggak segalak yang diceritakan Kinara..", ucap neneknya lagi.
Kinara memejamkan matanya. Rahasianya sebentar lagi akan terbongkar. Kina memang pernah bercerita kepadanya neneknya jika dia mendapatkan perlakuan tidak mengenakkan dari Javas.
"Galak? memangnya dokter Kinara, cerita apa aja nek?",
"Dia cerita kalo mas Javas itu galak, suka marah-marah, suka ngomel, suka ketus. Tapi, keluarganya mas Javas baik banget, cucu saya diperlakukan udah seperti keluarga. Bu Aira juga baik banget..",
"Iya.., saya kan mantan preman nek.., makanya galak..", ucapnya sambil melihat ke arah Kinara yang langsung tertunduk ketika sadar dia sedang ditatap tajam oleh Javas.
"Sopan, baik begini kok preman....", ucapnya mengelus-elus pundak Javas.
"Bu Aira udah sehat ya mas?",
"Alhamdulillah sudah..",
"Setelah Bu Aira, Kinara katanya diminta ngontrol keadaan neneknya mas ya?",
"Nenek...? Oma maksudnya?"
"Iya.., kata Bu Aira gitu..",
"Tante sama nenek pernah ketemu sama mommy saya?",
"Belum pernah, tapi pernah video call-an berapa kali Bu? 2 kali ya waktu itu..",
"Iya.."
"Oh.., kok bisa nek?",
"Waktu itu nenek minta video call sama Kinara, kebetulan Kina lagi sama Bu Aira.., ya udah ngobrol mas..", sahut Tante Tia.
"Ibu Aira baik banget..mas Javas juga baik banget udah mau nganterin Kinara pulang..",
Obrolan mereka sempat terhenti, ketika Javas menerima telepon.
"Halo...",
"Sayang, udah sampe dirumahnya dokter Kinara?",
"Iya Mom.., udah sampe kok..",
"Kok nggak langsung kesini? kamu baik-baik aja kan? nggak apa-apa kan?",
"Nggak apa-apa, ini Javas disuruh mampir dulu sama neneknya Mom..",
"Oh gitu.., ya udah mommy lega. Mom Kira ada apa-apa..",
"Nggak mom..",
"Hati-hati ya sayang..",
"Iya mom..",
Javas menutup teleponnya. Lalu duduk kembali ke kursinya. Perabotan sisa makan sudah bersih, dibereskan oleh Kina dan tantenya.
"Tante tuh seneng loh mas, ada yang kayak gini..",
"Maksudnya kayak gini, gimana?",
"Ada yang nganterin Kina pulang, terus pamit baik-baik sama Nenek, sama Tante.., rasanya itu dihargai..",
"Emang biasanya nggak ada? bukannya dokter punya pacar?",
"Nggak ada.., pacar Kina itu kalo jemput ya diseberang jalan, kalo nganterin juga gitu.., nggak pernah mau ke rumah..",
"Tante.., udah nggak usah dibahas..",ucap Kina.
"Kok bisa? emangnya nggak pernah izin kalo mau pergi? kalo pulang juga nggak dianterin?",
"Nggak pernah, ya pulangnya dianterin tapi cuma sampe di depan situ, tempat mas parkir mobil..",
"Oh.., gitu ya Tante..",
"Mungkin karena dia orang kaya ya, nggak sebanding sama kami yang sederhana. Tapi, sekaya-kayanya pacar Kina, lebih kaya mas Javas ya, rumah sakit punya, mall punya, hotel juga ada..",
"Tante kok tau?",
"Wong saya ini perawat di rumah sakit keluarga Perdana kok mas..",
__ADS_1
"Oh.., rumah sakit yang disini?",
"Iya mas.., makanya saya tau..",
"Iya Tante.., kebetulan punya rumah sakit disini, istrinya Daddy juga orang sini juga..",
Nenek dan Kinara hanya menjadi pendengar. Tante Tia justru yang terlihat sangat komunikatif.
"Maaf ya mas, saya kok malah jadi curcol. Gimana saya ya, saya Tante, tapi pengganti ibunya Kina juga. Kalo ada yang nyakitin Kinara , saya ya ikut sakit...",
Javas memang tidak tahu maksud Tante Tia sebenarnya. Tapi, yang Javas bisa nilai adalah Tante Kinara tidak suka dengan hubungan Kinara dan pacarnya.
"Kina itu temennya banyak, sering pada nginep juga disini. Tante seneng kalo rumah ini rame..tapi sekarang jadi sepi karena udah pada kuliah, ada yang nikah juga...",
"Sudah punya kehidupan sendiri-sendiri ya Tante..",
"Iya mas..",
Tante Tia, bercerita banyak. Bukan Kinara atau keluarganya lagi, tapi tentang suka dukanya menjadi tenaga medis di rumah sakit milik keluarga Perdana.
"Saya mau pamit dulu, Tante..nek..",
"Iya mas..sekali lagi terima kasih sudah nganterin cucu saya..",
"Makasih mas, maaf kalo Tante banyak ngomong ya..",
"Nggak apa-apa Tante..",
Javas menyalami Tante dan Nenek satu persatu.
"Makasih jamuannya ya nek.., Tante..",
"Sama-sama mas..",
"Nduk, cah ayu.., mas Javasnya dianter dulu sana..",
"Iya Nek..",
Kinara mengantarkan Javas, mereka berdua menyeberang jalan menuju mobil Javas yang diparkir.
Javas masuk ke dalam mobilnya, sedangkan Kinara berada di luar.
Suit..suit..suit..
Ada sekumpulan remaja perempuan yang melihat mereka dari atas rumah yang Javas pakai halamannya untuk parkir. Mereka menggoda Kinara dengan berteriak.
"Wah.., mbak Kina pacarnya baru.., gantengnya mbak...",
Kinara menaruh telunjuknya di depan bibirnya mengisyaratkan agar mereka berhenti menggoda.
"Siapa mereka?",
"Anak kost mas..",
"Kok kenal sama anda?",
"Iya itu kost-an punya nenek..
Mas makasih..", ucapnya lalu menundukkan kepalanya.
"Ternyata, anda sering menjadikan saya bahan gosip..",
"Mas. , bukan gitu..",
"Bukan gitu gimana? orang jelas-jelas tadi ceritanya nenek kayak gitu.., sering ghibahin saya.."
"Cuma sekali aja mas cerita sama nenek, itupun karena mas Javas habis marahin saya..",
"Berarti bener kan, pernah ghibahin saya...",
"Sekali doang..",
"Yang penting pernah kan?",
"Iya mas..",
"Nah gitu, jawab kayak gitu aja muter-muter..",
"Maaf..",
"Premannya mau pergi dulu..",
"Iya hati-hati mas..",
"Oh berarti kamu sebut saya preman?",
Kinara membekap mulut dengan telapak tangannya.
"Bukan gitu-bukan gitu..",
"Dasar kamu ya..",
Javas memutar balik mobilnya, lalu saat berada di persis ditempat nenek dan Tante Tia berdiri, Javas membunyikan klaksonnya sambil melambaikan tangannya.
Kinara sampai saat ini heran. Javas seperti mempunyai dua kepribadian. Terlihat baik kepada semua orang kecuali kepadanya. Dan, terlihat sangat galak dan dingin hanya kepada dirinya. Apa yang salah?
Author update lagi nih..
Seneng banget 🤗 karena kolom komentarnya rame...🤩
__ADS_1