
"Na.., udah mandi?",tanyanya kepada Kina yang sedang membereskan tempat tidur. Javas memang baru saja kembali, pagi tadi dia sudah sampai ke toko kakeknya untuk mengecek persiapan renovasi.
"Udah mas.., kenapa?",
"Abis sarapan, kita pulang..",
"Pulang..? kemana mas? rumah bapak ibu?",
"Rumah siapa?",
"Rumah mom dad maksudnya..",
"Iya.., kenapa?",
"Kenapa apanya mas?",
"Kamu nggak apa-apa kan? keberatan nggak kalo masih tinggal di rumah mom sama dad..",
"Nggak apa-apa.., lagian barang-barang Kina masih disana mas..",
"Atau kamu mau tinggal pisah dari mom dad?",
"Kenapa gitu?", Kinara berbalik tanya.
"Ya kalo orang udah nikah kan biasanya pengen tinggal mandiri..",
"Kina ngikut aja, terserah mas Javas..",
"Aku belum punya rumah Na.., adanya cuma Apartement..",
"Mau tinggal di Apartement juga nggak apa-apa mas..",
Tapi terlalu banyak kenangan aku sama Mine, disana Na..,
"Nggak usah, di rumah Dad sama Mom aja..",
"Ya udah kalo gitu..",
"Aku mandi dulu...",
"Iya mas..",
Javas masih dalam posisinya. Sepertinya, Kina ini memang tidak peka. Padahal, Javas menginginkan sesuatu.
"Katanya mandi? mas Javas mau ngeliatin Kina beberes?",
"Kamu bisa nggak, nyiapin?",
"Nyiapin? apa? ",
"Nyiapin..., e....ehm...",ucap Javas yang memang tidak menjelaskan apa maksudnya. Namun, Kinara sepertinya paham.
"Oh.., baju ganti?"
"Iya..", jawab Javas singkat.
"Iya mas.., bentar..",
Kinara membuka koper Javas yang memang belum dibongkar kembali. Mengambil satu kaos bewarna putih yang berada di dalam koper paling atas serta bawahan celana pendek. Kinara lantas menaruhnya di atas tempat tidur. Membawa handuk dan menaruhnya di dalam kamar mandi.
"Udah mas..
Tapi ada satu yang belum..",
"Apa?",
"Dalemannya..", jawab Kinara malu-malu.
"Oh..,oke.., aku bisa ambil sendiri..",
"He'em..",
Kinara yang berniat untuk membantu menyiapkan sarapan, langsung diusir oleh Bi Surti, nama maid yang bekerja di rumah Kakek Hendra.
"Nggak usah, mbak ke depan aja.., biar Bibik yang ngerjain, ini udah selesai kok..",
"Ini Kina bantuin ke depan ya lauknya..",
__ADS_1
Kinara memang sudah terbiasa membantu pekerjaan rumah. Apalagi statusnya yang saat ini menjadi seorang menantu, tidak nyaman jika hanya duduk berpangku tangan.
Tidak ada yang bersuara ketika sedang menikmati sarapan. Kecuali, Jaz yang memang sesekali membutuhkan bantuan mommynya.
Javas mengawali pembicaraan ketika mereka sudah selesai makan.
"Mom.., Dad.., Javas sama Kina mau pulang duluan..",
"Kenapa son?"
"Kalian mau honeymoon..?",
"Nggak mom.., ada yang harus diurus mom..",
"Bukannya hari ini...harusnya kamu...", ucap Aira yang tidak meneruskan bicaranya, karena teringat pada perempuan yang duduk disamping Javas. Aira hampir saja keblabasan bicara.
"Apa mom..?",tanya Javas.
"Nggak apa-apa..",
"Kak Javas pulang, mau nyusul kak Mimin ya?",
Dasar Jaz, anak kecil itu keceplosan. Padahal, Aira tadi sudah berhasil menahan bicaranya. Tentu, jangan salahkan Jaz. Anak itu belum tau betul arti dari sebuah pernikahan. Yang Jaz tau, Javas dan Kinara sudah pernah menjadi pengantin. Tapi, tidak paham jika Kakaknya dan kakak dokter itu kini sudah berstatus sebagai suami dan istri.
"Mbak Sus...,nih Jaz udah selesai. Tolong dong ajakin main, atau jumpa penggemar juga nggak apa-apa. Kayaknya juga udah ditungguin sama ibu-ibu..", ucapnya.
Jika tidak segera "menyingkirkan" putra bungsunya, akan semakin berbahaya. Mendengar obrolan orang dewasa dan Jaz pasti nyeletuk dan bukan tidak mungkin akan membuat suasana kurang mengenakkan.
Aira tidak enak hati pada Kina. Tapi, sepertinya menantunya bersikap biasa saja. Mengunyah makanan dan tanpa menunjukkan ekspresi yang aneh. Berbeda dengan Javas yang melirik Kina, namun langsung memusatkan pandangannya ke makanan ketika tau Kina tidak bereaksi.
"Sementara Javas masih tinggal di rumah Mom sama Dad ya.., nggak tau sampai kapan..",
"Nggak apa-apa, Dad memang ngelarang kalo kalian mau keluar rumah..",
"Makasih dad..,
Uang Javas belum cukup kalo beli rumah..",
"Mau rumah dimana? atau mau bangun dari nol?",
"Kalo butuh sesuatu, bilang sama Dad.., pasti Dad bantu Son..",
"Iya Dad..makasih..",
Pamit kepada Mom , Dad serta kakek. Kecuali Jaz yang memang sedang bermain di rumah tetangganya.
"Hati-hati.., nggak usah ngebut. Sampe rumah langsung ngabari",
"Iya mom..",
"Kina pamit mommy..",
Aira tersenyum, karena baru saja dipanggil mommy oleh menantunya. Ternyata, Javas sudah menyampaikan kepada istrinya.
"Iya.., hati-hati ya Na...",
Kina mengangguk.
"Pamit dad..",
"Harus banyak sabarnya kalo sama Javas ya..",
Javas tidak mendengar ucapan Daddynya, karena dia sedang sibuk memasukkan barang bawaan mereka.
"Kina pamit dulu ya kek, jaga kesehatan..",
"Hati-hati cu...
Kamu juga sehat terus, jangan ditunda-tunda, kakek pengen liat cicit, mumpung kakek masih ada..",
Kinara bingung harus menjawab apa. Dia hanya memilih untuk tersenyum.
Kinara melambaikan tangannya sebagai tanda perpisahan kepada keluarga suaminya. Javas melajukan kendaraannya keluar dari halaman rumah kakek.
Kinara sudah mulai terbiasa menghabiskan waktu bersama Javas. Memang, sudah melunak dan bisa berkomunikasi tanpa berkata tajam padanya. Namun, Javas adalah seseorang yang sulit ditebak.
"Na.., mau mampir ke rumah nenek nggak?",
__ADS_1
"Nggak usah mas kayaknya..",
"Kok kayaknya? emangnya kamu nggak kangen?",
"Kangen, tapi tadi pagi udah video call kok. Nenek juga udah biasa Kina tinggal..",
"Ya udah, berarti kita langsung pulang ya..",
"Iya mas..",
"Nggak mau mampir kemana, gitu?",
"Nggak mas..",
Menikmati perjalanan berdua sebagai seorang suami istri. Javas dan Kina pagi itu tidak sengaja mengenakan pakaian serba putih. Terlihat cocok dan serasi.
Tidak ada yang berbicara. Javas yang saat itu mengenakan kacamata hitamnya terlihat stay cool, sedangkan Kina duduk dengan sedikit merebahkan tubuhnya. Kina lelah, badannya pegal. Hal ini sudah biasa dia alami jika sedang mengalami siklus haid.
Mobil Javas berhenti karena traffic light menunjukkan warna merah. Seperti biasa, pedagang langsung berhamburan menawarkan barang dagangannya.
Kina membuka kaca pintu mobilnya ketika ada yang mengetuk. Tidak disangka, ternyata Kinara kembali bertemu dengan Kakek yang tempo hari dia beli dagangannya.
"Wah, ketemu sama mbak sama masnya lagi..",
"Oh kakek yang dulu ya..bawa apa kek?",
"Ini ada buku mbak, mau?",
"Boleh kek..",
"Buku apa mbak?",
"Apa aja kek..",
"Yang ini saja ya mbak..",ucapnya memberikan satu buah buku kecil kepada Kinara.
"Makasih kek.., kembaliannya buat kakek aja..",
"Semoga cepat diberikan momongan mbak, jadi keluarga sakinah, pernikahannya langgeng sampai tua nanti..",
Kinara hanya tersenyum tanpa mengucapkan kata "Aamiin", seperti yang dia lakukan tempo hari. Kinara buru-buru menutup kaca mobil ketika Javas melajukan mobilnya.
"Tumben..",
"Apa mas..?",
"Tadi kan udah didoain, kenapa nggak bilang Aamiin..",
"Kina udah bilang aamiin kok..",
"Masa.. aku kok nggak denger?",
" Di dalam hati mas...",
"Ngeles..",
"Hehehehe..",
"Dikasih buku apa?",
Kinara terbelalak ketika dia membaca judul buku yang baru dibelinya.
"Nama bayi laki-laki dan bayi perempuan modern ", ucap Kina.
"Hah?",
"Kina kan tadi cuma bilang apa aja. Kina emang nggak butuh buku, niatnya cuma beli aja..",
"Makanya kalo mau beli tuh yang jelas Na..",
"Namanya juga buru-buru mas, keburu lampu ijo kan..",
Javas terdiam.
Kemarin waktu ketemu sama kakek itu, didoain nikah, eh aku nikah beneran sama kina. Barusan ketemu, didoain punya anak. Apa jangan-jangan?
Javas tidak meneruskan ucapannya dalam hati. Dia buru-buru sadar dan langsung kembali berkonsentrasi menyetir. Namun, sempat menoleh ke samping kirinya. Kina ternyata sedang membaca buku yang baru saja dia beli. Kina terlihat tersenyum manis.
__ADS_1