Istri Pura - Pura ( Bukan Perawan Tua )

Istri Pura - Pura ( Bukan Perawan Tua )
Vid-Call


__ADS_3

Sharen sudah berhenti menangis. Saat ini dia sudah sampai di hotel, menuju ke kamar.


"Kak.., mau langsung ke kamar atau ketemu Kinara sama Zee dulu..?",


"Mau ke kamar aja..",


"Oke..",


Javas dan Tama yang membawa kopernya mengantarkan Sharen menuju ke kamarnya yang terletak persis di depan kamar Kinara dan Zee.


"Istirahat ya, nanti mommy Daddy ngajak keluar sama-sama kak..",


Sharen menganggukkan kepalanya. Sharen melihat Tama dengan pandangan yang berbeda. Sepertinya Sharen ingin mengobrol dengannya.


"Javas keluar dulu ya..,


ayo Tam..",


Sharen mengantarkan adik dan asisten itu keluar dari kamarnya. Memastikan Javas masuk ke kamar, Sharen memanggil Tama.


"Tam...",


Tama berbalik badan dan kembali menghampiri Sharen.


"Kenapa Sha..? butuh sesuatu..?",


"Nathan sakit..?",


"Kayaknya kurang enak badan..


Nggak usah pikirin dia, nanti biar aku aja yang urus..",


"Nathan udah ketemu Daddy?",


"Aku nggak tau Sha.., nanti aku tanya sama dia ya..",


Sharen mengangguk.


"Kalo kamu belum siap ketemu sama dia, nggak usah dipaksa. Tapi, kalo kamu emang mau ketemu, aku anterin sekarang juga. Nggak usah takut sama Javas atau Om Rendra. Kalian suami istri Sha.., ini masalah rumah tangga kalian..",


"Aku belum siap Tam..",


"Belum siap, tapi kamu khawatirin keadaan dia..?",


Sharen mengangguk.


"Rawat dia ya Tam..,


atau kamu tinggal sama dia aja..",


"Aku kesini, buat nemenin Javas Sha..,


ikut jagain kamu juga, apalagi Javas juga nggak ngajak susternya Zee. Tadi keponakan kamu rewel banget di pesawat.., mana mamahnya lagi hamil..


kasian Javas..",


"Aku ngrepotin Javas sama kamu ya Tam..",


"Bukan gitu.., tapi Nathan pasti juga bisa jaga diri dia sendiri. Palingan juga masuk angin.., aku tengok dia ya nanti..",


"Iya Tam, makasih..",


"Inget ya..


kalo kamu emang mau ketemu dia, bilang sama aku. Nggak usah takut sama Javas atau Daddy kamu..",


"Tapi, aku emang belum siap ketemu dia lagi..


aku takut..", ucap Sharen dengan memegangi perutnya.


"Kamu kan belum kasih tau dia..",


"Aku takut dia nggak terima anak ini..",


"Enak banget jadi Nathan..


giliran bikinnya rajin, masa udah jadi tapi dia nggak seneng..


tenang aja Sha, nanti aku kasih perhitungan kalo sampe Nathan nggak ngakuin anak itu..",


"Makasih Tam..",


"Aku ke kamar dulu ya Sha.., mau tidur bentar. Tadi aku bangun sebelum subuh..",


"Iya Tam..


selamat istirahat..",


"Kamu juga..",


Nathan terus mencoba menghubungi Tama, setelah panggilan ke sekian puluh, akhirnya teleponnya di jawab juga.


"Kenapa baru diangkat Tam..?",


"Gue nganter Sharen dulu ke kamarnya..",


"Gue percaya banget sama lu, jangan sampe lu macem-macem..",


"Gila lu.., gue cuma nganter koper doang..",


"Iya-iya


Tam.., Sharen beneran depresi..?",


"Hmmm karena lu.., dia trauma",


"Dia takut liat gue..?",

__ADS_1


"Ya kayak tadi...,


lu kayak monster buat dia, nyeremin..",


"Bilang ke Sharen, gue nggak akan ninggalin dia lagi..",


"Iya, tapi lu marah-marah sama dia, uring-uringan terus..",


"Nggak Tam..


gue nggak akan lakuin itu lagi...",


"Selamat berjuang lagi deh..


dan kali ini tanpa sponsor dari Om Rendra..",


"Iya gue tau..


gue tetep berusaha..",


"Lu sakit..?",


"Kurang enak badan aja dari kemarin.


Tiap pagi sama malem, gue muntah..lemes banget rasanya..lu perhatian banget...",


"Tadi Sharen tanya gitu sama gue..


liat lu pucet, mana rambut udah kek modelan biksu gitu.., kayak sakit parah...",


"Iya ini kan rambut karena cukur waktu umroh kemarin..",


"Kalo gue sih tau, Sharen kan nggak..",


"Kenapa nggak lu jelasin sama dia..?",


"Lu kan suaminya, bukan gue..",


"Mana bisa gue jelasin ke dia Tam? nomor gue di blok..",


"Nanti gue ngasih hp gue ke dia...


biar lu bisa komunikasi sama dia..",


"Serius Tam?",


"Iya.., tapi nanti ya..nanti..


gue mau tidur dulu..,ngantuk banget..",


"Oke.., gue tunggu kabar lu..


Tam, gue mau kirim bunga ke Sharen ya..",


"Iya nanti gue kasiin...",


"Apa Tam..?",


"Dari Nathan...",


"Hmmm..makasih..",


Sharen membaca ucapan di kartu tersebut.


Sayang, maafin mas..


kita perlu bicara...,


mas mohon Sha..


"Kamu udah siap..?",


"Udah Tam..


aku masuk lagi ya..mau nyimpen bunganya..",


Sore itu keluarga Rendra Perdana berkumpul bersama. Mereka berjalan-jalan menikmati suasana senja di negara Singapore.


Yang terlihat paling bahagia adalah Zee. Dia yang tantrum, akhirnya bisa tertawa ketika bertemu kembali dengan Unclenya. Mereka bercanda bersama sambil menikmati jajanan.


"Sha.., kamu baik-baik aja kan..?", tanya Mommy.


"Baik mom...",


"Nggak boleh stress lagi ya..?",


"Iya mommy..",


"Kamu bawa vitaminnya kan..?",


"Bawa mom, nih di tas..",


"Habis makan jangan lupa di minum..",


"Mommy...",


"Iya..pengen sesuatu..?


pesen makan yang kamu pengen..",


"Tadi, Sharen udah ketemu Nathan..",


Sharen akhirnya berterus terang. Sharen ini masih labil. Ingin sekali bertemu dan mengobrol dengan Nathan, tap Sharen masih takut.


"Iya..terus...?",


"Nggak apa-apa..

__ADS_1


Sharen cuma bilang aja..",


"Kamu pengen ngobrol sama dia? pengen ketemu lagi..?",


Sharen tidak meresponnya. Dia melihat datar Mommynya.


"Kenapa..? iya? kamu pengen ketemu..?",


"Nggak mom..


Sharen takut..",


"Ya udah...", ucap Mommy. Sharen sebenarnya hanya mengetes. Bagaimana respom Mommy ketika tau Sharen sudah bertemu dengan Nathan. Tapi, nampaknya Mommy juga tidak mengizinkan jika Sharen bertemu kembali dengan suaminya.


Puas menikmati makanan malam bersama keluarganya. Akhirnya, mereka kembali ke hotel masing-masing. Jaz yang memang sudah terbiasa dengan Zee, memilih untuk tinggal satu hotel dengan Zee. Lagipula, suster Jaz bisa membantu untuk menjaga Zee. Jadilah mereka bertukar kamar. Tama pindah ke hotel Jaz dan kamar Tama di huni oleh Jaz.


"Nggak apa-apa nih, aku pindah hotel?",tanya Tama pada Javas.


"Its oke..


udah ada mbak sustnya Jaz, jadi bisa bantuin asuh Zee..",


"Oke kalo gitu...",


Tama berada di hotel yang sama dengan Nathan, dan ini kesempatan untuknya menepati janjinya pada Nathan.


"Nih..hape gue..", ucapnya ketika dia sampai di kamar Nathan.


"Makasih..",


"Tapi lu bilang dulu deh sama Sharen, takutnya dia nanti kaget..",


"Lu mau telpon atau chat? atau mau video call?",


"Video call aja kalo dia mau..",


"Oke..


aku telpon dia dulu..",


Tama menghubungi Sharen. Kebetulan malam itu sudah cukup larut. Tama kira Sharen sudah tidur, ternyata dia masih terjaga.


"Iya Tam...",


"Sha.., aku lagi sama Nathan..",


"Dia kenapa..?",


"Nggak kenapa-napa..,


Nathan pengen ngobrol sama kamu, mau Sha..?",


"Hmmmm..",


"Kalo mau, pake video call aja..,


tapi kalo nggak, pake chat..


tapi kalo kamu nggak mau, ya nggak usah.., dia juga nggak maksa..",


"Dia mau ngapain?",


"Mau ngobrol sama kamu..,


Sha.., masalah itu diselesain. Dengan kamu menghindar terus, nggak akan pernah ada ujungnya..


Nathan cuma mau jelasin aja ke kamu..",


"Ya udah..",


"Apa..? mau apa nggak?",


"Iya..mau..",


"Mau pake apa? video call, telepon atau chat..?",


"Video call..",


"Tapi, kamu jangan takut ya sama dia..",


"Nggak..",


"Janji..?",


"Iya..",


"Oke..


aku tutup dulu teleponnya...",


Nathan menerima ponsel Tama.


"Aku tungguin bentar, kalo Sharen histeris lagi, kamu langsung tutup ya..",


"Iya Tam...",


Tersambung, dan akhirnya kerinduan Nathan terobati meskipun hanya melihat wajah istrinya melalui ponsel.


"Sayang....", ucap Nathan.


Sharen diam, namun dia menatap Nathan.


"Kamu baik-baik aja kan..?", tanya Nathan.


Sharen justru terlihat mengeluarkan air matanya.


"Kamu nangis..? ya udah, udahan aja kalo gitu.., mas tutup...",

__ADS_1


__ADS_2