
Pagi ini, Om Rendra tiba-tiba menghubungiku. Beliau, memintaku untuk menemani putri kesayangannya menghadiri undangan Pernikahan salah satu kolega Prime grup, kebetulan aku juga mengenalnya. Tanpa berpikir panjang, aku sudah pasti akan menyanggupi permintaan Om Rendra.
Aku menuju ke rumah Om Rendra dengan semangat. Sebentar lagi, aku akan bertemu dengan pujaan hatiku. Gadis yang sudah sejak lama aku cintai.
Kedatanganku, rupanya disambut oleh Om Rendra yang sudah menunggu kehadiranku.
"Pagi om...", sapaku yang langsung memberikan salam untuknya.
"Pagi Nath...,
Kalian perginya pake mobil Om aja..",
"Iya om..,
mobil yang mana om? biar Nathan siapin..",
"Yang mana aja, pilih yang kamu mau...",
"BM*W boleh nggak om?", tanyaku. Sengaja aku memilih mobil mewah itu diantara deretan koleksi mobil mewah om Rendra yang lainnya. Aku penasaran ingin mencobanya.
"Boleh Nath.., pake aja. Kuncinya minta aja sama mamang..",
"Iya om.., makasih..",
"Om masuk dulu, Queen baru siap-siap...",
Queen, seperti namanya yang artinya adalah ratu. Dia gadis yang menjadi ratu di hatiku, yang nantinya menjadi ratu di rumahku, serta ratu yang akan menjadi ibu dari anak-anakku kelak. Namun, sayangnya ratuku itu masih belum bisa menerima dan membalas cintaku. Dan, sampai saat ini aku masih memperjuangkannya.
Aku menunggunya di dalam mobil. Sengaja, karena memang dia tidak tahu jika sopir yang akan mengantarkannya adalah aku. Queen juga tidak tahu jika aku akan menemaninya nanti.
Tidak lama menunggu, akhirnya dia keluar dengan balutan dress yang kali ini terlihat sangat sopan. Ya, Queen ku ini memang kerap kali berpakaian cukup sexy, dan jujur aku tidak suka. Tapi, aku memakluminya karena dia memang seorang model. Tak mengapa, aku akan mengajarinya cara berpakaian yang benar setelah dia menjadi istriku nanti.
"Mang.., ke gedung ini ya...", ucapnya dengan memberikan undangan tersebut kepadaku. Gadisku terlihat sangat sibuk ketika aku meliriknya. Dan, dia masih belum sadar jika orang yang duduk di belakang kemudi adalah aku.
"Mang.., tau alamatnya kan..?"
"Tau non...",
"Oh ya udah..
Eh.....",
Queen langsung melihatku, mungkin ingin memastikan jika benar ini adalah aku, bukan sopirnya.
"Nathan......",
"Hehe.. halo cantik...",
__ADS_1
"Kok bisa kamu...?",
"Bisa..., aku jadi sopir kamu hari ini...",
"Nggak jelas deh, udah aku mau turun aja..",
Terlambat, aku mengunci pintu belakang dan mulai melajukan kendaraan. Dia, sepertinya kaget mungkin bercampur kesal. Aku melihatnya dari balik kaca. Sungguh, dia terlihat sangat cantik. Yang membuat aku senang sekaligus bahagia adalah ternyata dia masih memakai kalung yang aku berikan untuknya. Kalung dengan liontin hati yang sengaja aku minta dipahatkan inisial nama kami, NS. Nathan dan Sharen.
Sudah lama rasanya, aku tidak duduk dekat seperti ini dengannya. Semenjak kepergian ku ke Aussie. Aku semakin menyadari jika Queenku semakin cantik.
Queen bersikap lebih kalem hari ini. Tidak banyak mengomel, sepertinya lebih jinak. Atau, mungkin juga dia sudah lelah menghadapi sikapku yang semakin hari semakin agresif kepadanya. Jangan salahkan aku, ini semua ajaran dari Daddynya yang memintaku untuk terus mendekati putrinya sampai aku bisa mendapatkan hati dan cintanya.
Kenapa? karena om Rendra memang sudah sangat mengenalku. Baik dan buruk, luar dan dalam. Yang paling penting, beliau tau jika aku memang tulus mencintai putrinya, bukan karena ada apanya. Tapi, aku mencintai Queen apa adanya. Tidak ada laki-laki yang memahami dan mengenal Queen dengan baik dan benar, selain aku.
Sepanjang pesta, aku terus menjaganya, dari mata orang-orang yang melihatnya dengan pandangan yang tak biasa. Rasanya, ingin sekali mencolok matanya dan mengatakan jika aku adalah pangerannya.
Aku terus menempelnya, meskipun dia sedang berbincang dengan seorang kolega. Ya, aku tentu saja mengenalnya. Bukan bermaksud bersikap posesif, tapi karena aku melihat ada noda di dress bagian belakangnya. Sepertinya, gadisku ini sedang mengalami siklus haidnya. Aku tentu saja mengkhawatirkan keadaannya. Keluar darah sedikit saja, rasanya sakit. Apalagi, sebanyak itu. Pasti dia merasa kesakitan.
"Nggak juga..udah biasa. Ini baru hari ketiga..jadi masih banyak..",
Dan, aku sedikit lega saat mendengar jawabannya.
Bolehkah aku merasa jika Queen sudah sedikit membuka hati untukku? Ya, memang hanya karena dia memilih untuk duduk disampingku saat perjalanan pulang. Padahal, aku sudah membukakan pintu belakang untuknya. Tapi, dia justru memilih untuk duduk di depan bersamaku. Bukankah ini sebuah kemajuan? Meskipun belum signifikan.
Aku terus saja menggodanya dan masih berusaha untuk membujuknya. Hmmm, lebih tepatnya memintanya untuk membuka hatinya untukku. Dan, apa jawabannya? masih sama. Dia masih terus saja enggan untuk menanggapinya. Tak apa Queen, aku akan terus menunggu sampai kamu berkata, yess.. aku mau.
"Nath.., makasih ya.., aku masuk dulu.., jasnya aku cuci dulu ya Nath..."
"Iya.., nanti kalo udah kering kasih tau ya, aku ambil aja kesini..",
"Halah modus..", ucapnya dengan keluar lalu dia berlari kecil masuk ke dalam rumahnya. Aku tersenyum melihat tingkahnya yang menggemaskan.
Kalian pikir aku tidak was-was? Untung saja, jok kursi disampingku masih bersih dan mulus. Sedikit saja terkena noda, aku yang akan menanggungnya. Ya, walaupun itu gara-gara Queen, tapi aku yang meminjam mobil milyaran ini dari Om Rendra. Tentu saja, aku yang akan bertanggung jawab sepenuhnya.
Setelah aku memarkirkan mobil ke garasi, memberikan kunci pada mamang, aku bergegas untuk pulang. Kegiatan hari ini sudah cukup. Meskipun terasa singkat, tapi akan menjadi kenangan indah yang akan selalu aku ingat.
Aku memandang ponselku dengan wajah berseri-seri. Dengan merebahkan badan di ranjang, aku memandang potret ku bersama Queen yang tadi sempat kami ambil di lokasi acara. Tadi para tamu undangan diharuskan berfoto, sebelum masuk ke dalam gedung. Dan, kebetulan temanku bekerja di EO yang memandu acara. Aku memintanya untuk mengirimkan hasil foto kami. Dan, hasilnya seperti yang kalian bayangkan. Kami nampak serasi sudah seperti pasangan sungguhan.
( Sayangnya Author belum nemuin visual yang sreg ya, jadi nggak dimasukin fotonya.)
Aku baru tahu dari mamang, jika aku adalah satu-satunya orang yang diizinkan om Rendra untuk mengemudikan mobil kesayangannya tadi. Demi apapun, aku hanya iseng meminjam mobil tersebut. Aku memang ingin menaikinya, penasaran saja bagaimana rasanya mengendarai mobil yang harganya menyentuh angka hampir 8M. Aku atau Papa memang tidak mempunyai mobil semahal itu. Ya, meskipun kami mampu membelinya, tapi rasanya sayang saja jika uang sebanyak itu digunakan hanya untuk membeli sebuah mobil.
Aku menjadi tahu, jika Om Rendra memang sudah percaya penuh kepada ku. Jangan pikir, aku tidak berjuang untuk mendapatkan restunya. Aku tetap meminta izinnya kala itu, saat Om Rendra tahu jika aku adalah orang dibalik hadiah-hadiah yang Sharen terima selama ini.
"Saya memang mencintai Sharen Om.."
"Kenapa dengan cara seperti ini Nath? kenapa nggak kamu ungkapin?",
__ADS_1
"Sharen masih sama Bian, Om.., Nathan nggak mungkin masuk di antara hubungan mereka...",
"Kalo boleh jujur, Om lebih suka kamu yang jadi menantu Om, dibandingkan Bian..",
"Makasih om..
Biar seperti ini dulu om.., biar Sharen bahagia dengan pilihannya. Kalo memang Bian berjodoh, Nathan ikhlas ngelapasin Sharen..",
"Nath..Nath.., kenapa nggak coba dulu..?",
"Nggak Om..Sharen berhak bahagia dengan pilihannya...",
"Oke..kalo itu mau kamu...",
"Izinkan Nathan melindungi Sharen om.., mungkin untuk saat ini belum bisa jadi pasangan. Tapi, suatu saat nanti jika Tuhan berkehendak, Nathan yakin pasti akan ada jalannya. Nathan cuma minta restunya om Rendra...",
"Om percaya sama kamu Nath...",
Dan, semenjak saat itu aku selalu berdoa pada Tuhan. Agar, Sharen dan Bian bisa putus hubungan entah dengan cara apa. Meskipun, sebenarnya aku mempunyai senjata pamungkas untuk memisahkan mereka. Namun, aku berbaik hati untuk tetap menyimpannya. Akan menjadi luka yang sangat dalam bagi Queen, jika aku menunjukkan kepadanya.
Siapapun yang melihatnya sudah pasti akan berpikir jika mereka mempunyai sebuah hubungan lebih dari persahabatan. Bian dan Gladys memang terlihat bersikap biasa saja saat mereka bertemu. Tapi, diluar itu? mereka terlihat sangat mesra, peduli satu sama lain dan saling memberikan perhatian.
Sampai suatu saat aku yang tidak sengaja melihat mereka sedang berciuman saat keduanya ada di salah satu club di Aussie, tempat mereka menuntut Ilmu. Brengsek bukan? bahkan itu mereka lakukan saat Bian dan Queen baru saja jadian. Aku tidak habis pikir apa yang dipikirkan oleh Bian. Dia memacari Queen ,tapi dia juga bermain di belakang bersama Gladys. Bukan hanya Queen yang dikhianati, tapi Vano kekasih Gladys.
Pintarnya, aku merekamnya dengan jelas dan menggunakannya senjata untuk melemahkan Bian.
"Gila ya kamu Bi.., ini apa..?", aku menunjukkan videonya bersama Gladys.
"Darimana kamu dapat?",
"Aku liat sendiri.., kamu udah gila, kamu mainin Sharen...",
Bian tentu saja tidak berkutik, karena bukti itu sudah jelas adanya.
"Aku udah jadian sama Luna..., sekali aja kamu sakitin Queen, hal yang sama juga akan terjadi sama Luna...", ucapku mengancamnya.
Bian tentu saja tidak akan mau melepaskan Queen begitu saja. Selain ancaman dariku, aku yakin Bian juga segan dengan Om Rendra. Jadi, aku berkesimpulan jika selama ini Bian memang sengaja menunggu Queen untuk memutuskan hubungan dengannya.
Doaku ternyata di dengar oleh Tuhan. Saat aku pergi untuk menemani Mine, aku mendengar kabar jika Queen sudah memutuskan hubungan dengan Bian. Ingin kembali, tapi aku juga tidak bisa meninggalkan Mine seorang diri. Untungnya, aku mempunyai Tama yang kapan saja bersedia membantuku.
Dan, setelah restu dari Om Rendra kudapatkan. Aku kira, perjuanganku akan mudah, tapi aku salah. Aku bukan hanya harus menaklukkan hati Queen yang masih saja dingin. Tapi ada dua perempuan lagi yang hatinya harus aku taklukkan.
Yang pertama Mamaku. Mama Farah yang sudah sejak lama mengetahui jika aku menaruh rasa pada Queen. Beliau, senang saat aku berpacaran dengan Luna. Dari dulu, Mama selalu berpesan. Carilah pasangan yang sepadan. Mama hanya tidak ingin aku dipandang sebelah mata oleh keluarga pasanganku kelak. Aku seorang laki-laki, jadi sudah sepantasnya aku yang kelak menanggung kebutuhan istriku. Ya, tanpa dijelaskan oleh Mama, akupun tau akan kewajibanku. Saat aku meminta izin pada Mama untuk mendekati Queen, beliau sempat melarang ku. Aku dan Queen memang berbeda kasta. Ya, meskipun hidupku juga bergelimang harta, tapi tidak sekaya keluarga Rendra Perdana. Tapi, kalau untuk menghidupi Queen dan memberikan uang bulanan aku masih sanggup memfasilitasi hidupnya dengan kemewahan. Mencoba meyakinkan Mama, tapi beliau masih memberikan lampu kuning. Antara iya dan tidak.
Yang kedua Tante Aira. Semenjak Tante Aira tahu jika aku mendekati putrinya. Beliau memang tidak langsung memberikan penolakan. Sama dengan Mama, Tante Aira juga sepertinya masih fifty-fifty memberikan restunya kepadaku. Berbeda dengan Mama, alasan Tante Aira adalah menghindari suara atau gosip orang-orang yang sudah pasti akan menganggap Queen merebutku dari Luna. Padahal, jika tante Aira tahu jika selama ini aku berpacaran dengan Luna adalah bentuk perlindunganku untuk Sharen. Bisa dibilang, keputusan ku memacari Luna juga untuk menutupi hubungan gelap antara keponakannya dengan mantan calon menantunya. Aku masih berbaik hati bukan? tidak membukanya di depan Tante Aira. Coba jika aku melakukannya, sudah pasti Tante Aira akan marah besar pada keponakannya.
Aku tidak patah arang, aku sudah mengantongi izin dan restu dari Om Rendra. Jika dipersenkan suara dan keputusan Om Rendra 80% dominan dan tidak akan ada yang berani menentangnya. Lambat laun aku yakin restu dan izin itu akan ku dapatkan dari Tante Aira.
__ADS_1
Aku tetap berusaha memperjuangkan cinta Queen untukku. Pantang menyerah dan tetap bersabar, agar keajaiban itu cepat datang. Queen menerima ku sehingga kami bisa hidup bersama.