
Kinara dan Javas juga si kecil Ze masuk ke dalam kamar. Canggung bagi Kina, rasanya sama seperti saat pertama kali dia masuk, dulu ketika baru menjadi istri Javas.
"Kenapa?", tanya Javas yang melihat istrinya merasa ragu.
"Nggak apa-apa...",
Benar apa kata mommy. Di kamar mereka ternyata sudah ada box bayi serta rak kecil yang bersisi perlengkapan Ze. Popok, baju ganti, minyak telon, bedak bayi, selimut, susu formula, pokoknya lengkap.
Bersyukurnya Kina, mempunyai ibu mertua yang sangat perhatian kepadanya.
Kinara melihat-lihat isi kamar.
"Masih sama seperti dulu sayang, nggak ada yang mas rubah sedikitpun...", ucap Javas yang sedang menimang-nimang Ze.
"Hmmm,, ",
"Cuma skincare kamu aja yang mas buang, karena udah ada yang expired..",
"Iya..",
"Ze.., bilang ke Mama nak, biar marahnya ilang ya. Papa kangen sama Mama...",
Kinara tidak menghiraukan ucapan Javas, dia duduk di bibir ranjang.
"Ze udah bobok.., sini tiduran aja mas..",
"Bentar lagi, dia kayaknya masih mau ditimang-timang...",
"Nggak capek..?",
"Sama sekali nggak.., mas seneng.., ternyata Ze tau kalo selama ini dia nggak pernah ketemu sama Papanya. Sekalinya ketemu, langsung nempel kayak gini..",
Memang benar, Ze sepertinya sudah hafal bau Papanya. Dia menangis jika Kina yang menggendongnya. Sebaliknya, Ze sangat kalem jika sudah berada di dekapan Papanya. Ze hanya mau dengan Kina, itupun saat dia haus.
"Kalo mas besok berangkat kerja, Ze gimana?",
"Emangnya siapa yang mau kerja? nggak ada..",
"Mas nggak kerja..?",
"Siapa juga yang rela ninggalin anak ganteng sama istri cantik kayak kamu..",
"Alah..gombal..",
"Mas pengen maen sama Ze.., urusan kerjaan gampang. Kan bisa dikerjain di rumah, sambil ngasuh Ze..",
"Tapi kan nggak selamanya gitu kan..?"
"Siapa bilang? orang suami kamu ini bos..jadi bebas mau handle kerjaan dimana aja..",
"Sombong...",
"Fakta...",
"Na ngantuk mas..",
"Ya udah tidur..",
"Mau ganti piyama dulu.., masih sama kan tempatnya?",
"Mas kan udah bilang tadi, nggak ada yang berubah dari kamar ini sayang..",
Meskipun masih bersikap dingin, tapi Javas yakin istrinya akan memaafkannya. Kinara juga berangsur luluh, tidak ketus saat masih berada di rumah sakit.
"Boleh nggak, kalo Kina tidur dulu..",
__ADS_1
"Tidur aja sayang, biar Ze sama Papanya..",
"Kalo nanti Ze haus, bilang ya mas..",
"Nanti kalo Ze haus, nanti mas langsung bukain pabriknya..",
"Hah.., jangan macem-macem..", ucap Kinara dengan menutup dadanya.
"Kenapa sayang? Malu? kayak anak perawan aja..", ucap Javas yang kembali menggodanya. Kinara yang kesal, langsung tidur dengan membelakangi Javas.
Kinara yang belum tidur, mendengar jelas ucapan Javas yang mencoba bercakap dengan putranya. Ze sepertinya kembali terjaga. Ya, seharian ini memang dia terus tidur.
"Anak Papa yang ganteng.., kangen ya sama Papa..
Kamu sama Mama ngumpet dimana sih? Papa cari kemana-mana tapi nggak ketemu..",
Ze menggeliat..
"Kenapa? capek ya tidur terus.. mau maen sama Papa, iya..?
Besok pagi kita jalan-jalan ya, keliling rumah Omy sama Ody...",
Rasanya damai, ketika mendengar suaminya berbicara kepada Ze, ya meskipun bermonolog karena Ze belum bisa berbicara. Melihat pun mungkin masih belum bisa.
Kinara bangun, dan suaminya masih terlelap. Kinara memang bangun lebih awal, karena dia tidak mendapatkan jam malam. Semenjak Ze lahir, memang Javas lah yang selalu piket untuk menjaga putranya. Kinara hanya bangun jika sudah waktunya menyusui Ze.
Kinara menoleh ke samping. Ze berada ditengah-tengah mereka. Lucunya, posisi Ze seperti bayi yang membalas pelukan Javas. Mereka tidur berhadapan dengan posisi Ze yang menghadap ke arah Papanya.
Tidak perlu membangunkan Javas untuk menunaikan ibadah solatnya, karena sebentar lagi alarm jam weker disamping Javas akan berbunyi.
"Udah bangun...?",
"Udah..",
"Mas solat dulu...",
"Kok nangis sayang.., cup..cup..Mama kan mau nyusuin kamu...",
Javas sudah selesai, dan langsung menghampiri putranya yang menangis kencang.
"Kenapa? marah ya?", Javas menggendong Ze dan menimang-nimangnya. Tak sampai 30 detik, Ze berhenti menangis.
Kinara merasa bersalah, tapi sedikit kesal karena putranya tampaknya lebih dekat dengan suaminya, dibandingkan ibunya.
"Mas kan udah bilang, kalo Ze tidur nggak usah diusik, dia marah kan?",
"Ya kan udah waktunya minum susu mas..",
"Kalo dia haus, pasti bibirnya ngecap-ngecap, kalo nggak ya nangis.., kalo dia anteng, berarti dia emang pengen tidur..",
"Kina kan Mamanya, jadi Kina tau apa yang harus dilakuin buat dia..",
"Iya, tapi mas kan Papa nya.., mas juga tau sayang..",
"Iya deh..",
"Kamu tau kenapa Ze nempel banget kayak gini..?",
"Apa? mau bilang? kalo selama ini dia nggak pernah ketemu sama Papanya, gitu kan?",
"Iya.., dia kangen sama Papanya.., anak kecil itu perasa loh Na.., jadi kalo dia deket sama mas, kamu jangan cemburu. Ini kan gara-gara kamu juga..",
"Mas mau bahas itu sekarang? ",
"Nggak sayang, mas tau kamu belum mau..",
__ADS_1
"Kina mau mandi, sekalian pumping..",
"Kalo pumping disini, emangnya kenapa?",
"Mas bisa liat..",
"Mas udah liat semuanya sayang.. jalan lahirnya aja, mas masih hafal bener bentuknya..",
"Mulai deh mesumnya..",
Javas tersenyum licik ketika dia merasa menang menggoda istrinya. Kinara, terlihat mati kutu tak berdaya.
Pagi ini, suster datang untuk memandikan serta memberikan perawatan untuk Ze.
Javas sudah mahir mengganti popok, menimang, menggendong serta menghafal kebiasaan-kebiasaan Ze. Satu hal yang belum bisa dia lakukan adalah memandikan putranya. Dan, pagi ini Javas meminta suster untuk mengajarinya.
"Kepalanya dulu pak.., diusap seperti ini. Disampoonya cukup 2 kali sehari nggak apa-apa, paling cuma bau keringat aja...",
Javas dengan seksama memperhatikannya.
"Emangnya mas mau mandiin sendiri..?",
"Iya..kenapa nggak..",
Javas sepertinya benar-benar ingin menebus waktu yang hilang.
"Sini Vas..kalo kamu mau gantian sarapan..", ucap Ody Rendra yang ingin menggantikan Javas untuk menggendong Ze.
"Nangis nggak Dad? Daddy bisa gendong bayi..?",
"Anak Daddy ada 3 Vas.., masa iya nggak bisa gendong bayi..",
"Biar Kina aja Dad..",
"Nggak usah.., Dad udah selesai sarapan, kalian kan belum...",
Ze berpindah tangan dari Javas ke Daddy Rendra. Dan, Ze juga tenang dalam gendongan Daddy Rendra.
"Tuh, kan mau..",
"Bawa ke depan yuk Dad, Jaz pengen maen..",
"Ayok.., kita taruh stoller aja ya Jaz...",
"Eh tuyul..kamu nggak sekolah..?",
"Nggak dong, hari ini libur. Missnya pergi..ada rapat katanya..",
"Oh gitu..
Jagain Ze ya Jaz..",
"Siap kak Vas..",
Ze dibawa keluar oleh Daddy Rendra dan Jaz. Saatnya Kinara dan Javas menikmati sarapan mereka.
"Na.., 3 hari lagi acara Aqiqahan Ze ya..",
"Iya mom..",
"Mau pilih hampers yang kayak gimana Na? ini kakak ada pilihannya", kata Sharen.
"Terserah aja mbak...Kina ngikut..",
"Benaran? ",
__ADS_1
"Iya..Kina serahin semuanya ke mommy sama Mbak Sharen. Kina ikut..",
Ya, Kinara sepertinya enggan untuk dilibatkan terlalu jauh. Tidak ingin dipusingkan mengenai pernak pernik Aqiqahan Ze. Ada sesuatu yang lebih penting baginya, yaitu menemukan cara agar ASI nya lancar.