
Tok..tok..tok.
"Masuk...", ucap Sharen.
Tidak tahu siapa yang mengetuk pintu kamarnya, karena Sharen sedang meringkuk di atas ranjangnya.
Sharen berbalik badan ketika mendengar suara gumaman Zee. Keponakannya itu memang sudah mulai mengoceh, dengan suara yang tidak bisa diterjemahkan kata.
"Ahmmmmmemmmmm.eeeemmmmm...",
Suara lucu Zee seketika mengubah moodnya yang sedang buruk.
"Halo keponakan gantengnya onty...", ucapnya dengan bangun dari tidurnya. Kedua tangannya terbuka, hendak membujuk Zee agar mau masuk di dalamnya.
Zee nampak senang ketika berada dalam gendongan Sharen. Bayi yang sebentar lagi berusia enam bulan itu bahkan mengagumi kecantikan Sharen dengan menyentuh wajah dengan tangan mungilnya.
"Ze kayaknya kangen sama mbak...",
"Iya ya Ze.., kangen sama onty...?",
Ze hanya terkekeh.
Memang, sejak tadi Sharen hanya mengurung diri di dalam kamarnya. Dia masih kesal dengan suaminya yang dianggapnya terlalu mementingkan pekerjaan dan mengabaikannya.
"Kamu mau pergi ya Na? rapi banget. Zee mau ditinggal? nggak apa-apa, biar dia sama kakak aja ya.., ada stok ASI kan buat dia..?",
"Na mau pergi, tapi ngajak Zee juga mbak..",
"Kemana..?",
"Ke Kantor, mau nganter makan siang buat mas Javas..
sekalian bareng yuk mbak..?",
"Nggak ah..",
"Kenapa? lagi kesel sama mas Nathan..?",
"Iya..
lagian... aku nggak masak.. apa yang mau di anterin buat suami?",
"Na juga nggak masak..
makanan yang Na anterin juga masakannya Bibik...",
"Javas nggak protes..?",
"Nggak..,
kan Na juga ngasuh Zee mbak. Kadang mau ditinggal sama susternya, kadang nempel sama Na terus.., jadi nggak bisa diprediksi. Mas Javas tau itu, dan dia maklum..",
"Javas sayang banget ya sama kamu Na..",
"Alhamdulillah,
Mas Javas udah banyak berubah mbak..",
"Syukur kalo gitu..",
"Ya udah, yuk mbak..sekalian bareng.
Minta Bibik nyiapin makanan buat mas Nathan...",
"Hmmmm.., gimana ya..
Zee, aunty ikut apa nggak usah aja..?", tanyanya pada Zee yang langsung direspon oleh bayi tersebut.
"Tuh kan.., Ze ngangguk mbak..",
"Pinter ya Na..",
"Iya dong, anak siapa dulu...
Jadi, gimana? mau ikut kan..?",
Sharen mengangguk setuju.
Ketiganya sudah berada di dalam mobil. Sharen, Kinara beserta putranya sedang dalam perjalanan menuju kantor Prime grup. Sepertinya, Zee memang sedang ingin bersama auntynya. Bayi itu berada di pangkuan Sharen dan saat ini dia terlelap tidur dalam dekapan Sharen.
"Tidur ya Na..", bisik Sharen.
"Iya mbak..,
tadi memang pagi buta udah bangun. Jadi ngantuk...",
"Hmmm.. anak pinter...",
"Udah pantes mbak..",
"Doain ya Na.., biar Ze ada temennya...",
"Aamiin..,
semoga cepatnya mbak...",
"Aamiin..
tapi aku maunya cewek aja..",
__ADS_1
"Kenapa mbak? kan biar Zee ada temen main sepakbola...",
"Mama Farah, pengen punya cucu perempuan, buat pengganti Mine...",
"Oh...", jawabnya singkat.
Mendengar nama Mine membuatnya ingat tentang kejadian beberapa bulan lalu yang membuatnya memilih pergi dari Javas. Kina tidak dendam, hanya sekedar ingat.
"Kenapa?
hmm kakak nggak maksud buat ingetin kamu..",
"Nggak apa-apa mbak..,
kalo dulu mas Javas nggak khilaf, mungkin dia nggak akan berubah. Mas Javas suami dan Papa yang bertanggung jawab buat Na sama Zee.., dia sayang sama kami..",
"Alhamdulillah Na..,
semua ada hikmahnya..",
"Makasih... dulu mbak udah ngerawat Kina sama Ze...",
"Sama-sama Na...",
Handphone Kina tiba-tiba berbunyi , dan ternyata Javas meneleponnya.
"Halo mas..",
"Sayang.., kak Sharen sama kamu? kata Mommy kalian pergi ke kantor. Ini udah sampai mana?",
"Ini udah sampe belokan lampu merah...,
ada apa mas..?",
"Berarti bentar lagi sampe kan? bisa nggak Hape kamu kasih ke kak Sharen. Mas daritadi telepon ke Hapenya tapi nggak diangkat..",
"Iya bisa..
Mbak Sharen lagi mangku Ze.., Ze nya lagi bobok mas..",
"Kasihin bentar hape kamu sayang..",
"Kenapa Na..? Javas cari kakak?",
"Iya mbak..",
Kinara menempelkan Hp miliknya ke telinga. Sharen.
"Kenapa Vas? hape kakak di tas.., lupa aktifin nada nya..",
"Kak.., Nathan kak..",
"Kakak cepetan ke sini aja, liat sendiri..",
"Nathan baik-baik aja kan Vas..?",
"Nggak kak..
nanti langsung ke ruang meeting ya..",
Javas tidak menjelaskan secara jelas dan terperinci mengenai keadaan Nathan sehingga membuat Sharen khawatir.
"Mbak.., mas Nathan kenapa?",
"Nggak tau Na.., suami kamu nggak ngomong..",
Mereka akhirnya sampai di kantor Prime grup. Tahu Sharen sedang panik, Kinara mengambil putranya dari pangkuan Sharen.
"Biar Zee sama Kina mbak..",
"Makasih ya Na..",
Sharen segera berlari ketika pintu mobilnya terbuka. Dia menuju ke ruang meeting lantai atas, tempat Nathan berada.
Dari luar memang tampak lengang, karena ruang meeting adalah salah satu ruangan di Prime yang kedap suara. Tanpa mengetuk pintu atau meminta izin, Sharen langsung masuk.
"Kamu tau nggak?? Sharen itu istri sah saya.., tapi kamu udah ngata-ngatain dia kayak gitu...!!!!", ucap Nathan.
Nathan tampak sangat emosi, dia bahkan sampai dipegangi oleh dua orang, yang satu Tama, yang satu lagi entah siapa.
Sedangkan Javas, dia dan security berdiri di sisi kanan dan kiri seorang laki-laki yang entah itu siapa.
"Lepasin aku Tam, aku pengen hajar orang yang udah dengan beraninya nulis artikel kayak gitu..",
"Santai bro..
kita selesain dulu ya..",
"Nggak bisa..,
aku nggak terima istriku dilecehin kayak gitu. Lepasin aku Tam..",
"Sabar bos..sabar.", ucap laki-laki yang ikut memegangi Nathan.
Nathan terus meronta, dan akhirnya dia berhasil melepaskan diri.
"Aku masih nggak terima..",
Tahu, tidak bisa menembus pertahanan Javas dan security tersebut. Nathan mengambil sebuah kursi yang hendak dia lemparkan ke jurnalis tersebut.
__ADS_1
"Nathan....!!!!
Stop Nath...", ucap Sharen.
"Alhamdulillah, kamu datang tepat waktu Sha. Ini daritadi suami kamu nggak tau kesurupan setan apa...", ucap Tama yang penampilannya terlihat acak adul.
"Sayang....", ucap Nathan yang akhirnya melemah. Dia menurunkan kursi yang sudah diangkatnya.
"Jangan lakuin itu Nath..,
kita perlu bicara...", Sharen keluar dari ruang meeting yang langsung diikuti oleh Nathan.
"Tam.., kamu urusin dia.
Terusin laporan ke polisi, dan aku nggak akan pernah cabut laporan...",interupsinya pada Tama.
Sharen masuk ke dalam ruangannya dulu, ruangan yang saat ini berubah menjadi ruangan Nathan.
"Aku nggak nyangka kamu kayak gitu..",
"Iya maaf..",
"Kamu nggak seperti Nathan yang aku kenal..", ucap Sharen. Air matanya akhirnya pecah.
"Jangan nangis sayang...",ucap Nathan yang langsung memeluk Sharen yang sedang menangis.
Beberapa detik yang lalu, Nathan sangat murka. Emosinya meledak-ledak sehingga membuatnya lupa daratan. Dia hampir saja mencelakai dan menganiaya seseorang. Namun, ketika melihat Sharen. Nathan akhirnya melembut, dia menuruti perkataana Sharen tanpa bernegosiasi terlebih dahulu.
"Maaf sayang...",
"Aku takut liat kamu..",
"Kenapa?",
"Kamu ngamuk kayak tadi..",
"Itu karena dia yang udah nulis berita murahan tentang kamu..",
"Kalo aku nggak dateng, apa yang akan terjadi Nath? kamu mau jadi tersangka karena aniaya orang..?",
"Dia yang mulai.., kalo dia nggak ngeluarin artikel kayak gitu, mana mungkin aku mau hajar dia..? Aku nggak bisa baca komentar negatif tentang kamu.., aku sakit Sha..",
"Tapi, lebih sakit aku Nath..
Kalo kamu dipenjara, gimana sama aku..? kamu mau biarin aku sendirian? aku nggak bisa.., aku nggak sanggup..",
"Iya sayang...
maaf...",
"Jangan kayak gitu lagi, jangan bertindak bodoh Nath...",ucapnya dengan menatap dalam Nathan.
"Iya..aku janji...,
maaf udah buat kamu nangis..", Nathan mengusap air mata Sharen.
"Kamu masih emosi..?",
"Nggak..",
"Minum dulu...", Sharen mengambil air putih yang berada di meja, lalu memberikannya pada Nathan.
"Makasih sayang..",
"Aku bawain kamu makanan, tapi masih di bawah..",
"Masak sendiri..?",
"Nggak.., Bibik yang masak..",
"Kirain kamu yang masak..",
"Maaf ya nggak dimasakin..",
"Kita makan di luar aja ya, sekalian pulang..",
"Terus makanannya gimana?",
"Biar Tama aja yang makan...",
"Abis makan, kita pulang..?",
"Iya..",
"Kan belum jam pulang..",
"Udah diizinin sama Javas..,
itu kan yang kamu mau..? ngabisin waktu sama kamu sebelum kita pulang ke rumah masing-masing..?",
Sharen mengangguk.
"Aku turuti sayang..
maaf ya, tadi pagi kita berantem kecil..",
Sharen kembali mengangguk.
Keduanya keluar dari Prime grup, mencari tempat makan dan kembali ke Apartement.
__ADS_1