
Javas sampai di rumah kakeknya. Kedatangannya sudah ditunggu oleh Keluarganya, terutama Jaz yang langsung berlari ke arahnya ketika Javas baru keluar dari mobilnya.
"Kakak...",
"Tuyul..,jangan lari...",
"Kak Vas kok lama banget...",
"Iya.., kan nganterin dokter..",
Javas langsung menggendong adiknya. Diteras ada kakek, Daddy dan Mommynya yang juga menunggunya.
"Assalamualaikum, kakek..",
"Waalaikumsalam..",
"Sehat kan kek..?",
"Alhamdulillah sehat..
darimana aja Cu? baru sampe, padahal kan nggak jauh..",
"Iya kek.., ngobrol dulu tadi..",
"Vas.., ayo makan dulu..",
"Udah mom..Javas udah makan..",
"Jajan ya tadi? dimana?",
"Ditawarin makan sama neneknya dokter Kinara.., udah nolak, tapi kasian..",
"Kak Javas makan di rumahnya kakak dokter ya.., kok nggak ngajak Jaz?",sahut Jaz.
"Kamu nggak mau ikut mobil kakak sih..",
"Yah..,
besok ajakin Jaz kerumahnya kakak dokter ya..",
"Ngapain?",
"Maen lah.., sama minta makan..",
"Astagfirulloh.., kamu tuh malu-maluin mom sama Dad aja..",ucap Javas yang menoyor pelan kepala adiknya.
"Vas.., jangan biasain gitu ke adeknya..",
"Hehe Iya Dad..abisnya anak Daddy maen cuma mau minta makan.."
"Hehehe.., kan masakkannya kak dokter enak. Kak Javas aja sering makan..",
"Apa? nggak pernah..",
"Kata sus Sri.., sandwich yang sering Jaz bagi buat kakak, itu buatan kak dok..",
"Ngawur..",
"Yah.., dibilangin nggak percaya..",
Sus Sri memang sudah bercerita kepada Jaz. Dan anak kecil itu sepertinya memang tidak bisa menyimpan rahasia meskipun dari awal sus Sri sudah memberitahunya.
Javas setengah tidak percaya dengan ucapan Jaz.
"Emang iya mom..?", tanyanya kepada sang mommy..",
"Iya.., katanya sih gitu..",
"Kok bisa sih..",
"Ya nggak tau..",
"Kak Javas, besok beneran ya kerumahnya kakak dokter.., Deket kan dari sini? Jaz pengen main..",
"Ngapain.., nggak usah..",
"Pokoknya besok anterin..",
"Bawel..",
"Asyik.., kak Javas mau nganterin Jaz..", ucapnya berlari ke dalam rumah.
Javas langsung bertanya kepada mommynya.
"Dokter Kina mau tinggal di rumah om Revan, mom?",
__ADS_1
"Iya.., ganti mantau Oma..",
"Oma kan udah sepuh, sering sakit kenapa nggak cari dokter yang udah senior aja. Kina kan belum lulus..",
"Dokter Kina kan cuma mantau.., cuma periksa aja son. Tadinya om Revan bilang ke Dad kalo mau cari perawat. Tapi, dad pikir sekalian aja cari dokter. Karena mommy udah nggak perlu lagi diawasin ya mending dokter Kinara aja,...",
"Gitu...",
"Kenapa?",
"Nanya aja..",
"Kalo gitu Javas mau masuk dulu ya..Javas tidur dikamar yang bisanya kan kek?"
"Iya cu.., kamarnya selalu dibersihin sama simbok..",
Keesokan harinya.
"Kek.., hari ini nggak mau ke toko?",
"Nggak cu..kan ada kalian..",
"Yah.., padahal Javas pengen ke toko..",
"Mau ngapain?",
"Liat-liat aja.., kayaknya asyik ya Kek kalo punya toko. Javas jadi pengen..",
"Buka bisnis baru?",
"Iya.."
"Ya udah kamu ke toko aja. Kan ada om Didik disana..",
"Iya kek.., bentar ah..nanti kalo Javas udah mandi aja..",
Jaz yang sedari tadi sibuk dengan mainan robot-robotannya langsung menyahut.
"Jaz ikut ya kak..",
"Ngapain? kan kakak mau ke tokonya kakek, kakak mau bantuin..",
"Kakek kan janji mau ngasih Jaz es krim.., boleh makan sepuasnya. Jaz juga boleh ngambil kinderj*y semaunya. Iya kan kek..",
"Oke..oke nanti ikut. Tapi, kak Javas nanti pake motor, nggak apa-apa?",
Lebih baik mengajaknya ke toko daripada Jaz memintanya mengantar ke rumah dokter Kinara.
"Jaz kan suka naik motor..",
"Bukan motor gede kayak punya kak Javas, tapi motor matic itu..",
"Nggak apa-apa, Jaz ikut..",
"Dad sama mom, kemana kek pagi-pagi gini kok udah nggak ada",
"Ke makamnya nenek..",
"Kok nggak ngajak-ngajak?",
"Besok pagi juga kesana lagi..",
"Javas mandi dulu kalo gitu kek..",
Javas selesai mandi, Jaz juga sudah. Mereka bertiga sarapan dengan kakek. Menunggu mommy dan Daddynya juga sepertinya belum ada tanda-tanda kalau mereka akan segera pulang. Ke makam, mungkin juga sambil keliling menikmati udara kampung yang masih segar karena belum tercemar polusi.
"Kek.., Javas sama Jaz ke toko dulu..", pamitnya.
"Iya hati-hati cu..",
"Jaz.., pamit dulu sama kakek..",
Jaz langsung menurut menghampiri kakek.
"Jaz pergi ya kek.., mau bantuin disana.."
"Halah..bantuin. Bantuin apa? ngabisin jajan..?",Jaz menyengir kuda.
Ditengah perjalanan, Javas dan Jaz berpapasan dengan Aira dan Rendra yang juga sedang mengendarai motor.
"Loh mas..mas..berhenti itu Javas sama Jaz..
Javas...Jaz..", panggil Aira.
Javas berhenti lalu membalikkan arah motornya.
__ADS_1
"Mom.. Dad.., Jaz mau ke toko kakek..", sebelum Aira dan Rendra bertanya, si bungsu sudah bercerita.
"Oh.., Jaz udah mandi?",
"Udah mom..",
"Kakak udah mandi? udah sarapan belum?", tanya Aira.
"Udah mom.., udah semua. Javas sama Jaz pamit ya Dad.., Mom..",
"Hati-hati ya..",
"Oke mom..",
"Aira.., mampir...", ucap tetangga yang melihat Aira di pinggir jalan, depan rumahnya.
"Mbak..makasih..., lain kali mbak.." ucapnya sedikit berteriak.
Kepulangan Aira memang sering mendapatkan perhatian oleh tetangga disekitarnya. Sudah menjadi rahasia umum jika Aira ini memiliki suami tampan dan sangat kaya raya.
Akhirnya Javas dan Jaz sampai di toko Kakak. Toko grosir dan ecer yang menyediakan segala kebutuhan rumah tangga. Dari membuka mata sampai tidur kembali.
Toko milik kakek ini dikelola oleh Didik, anak dari almarhumah mbok Yem yang dulunya bekerja di rumah kakek Hendra. Meskipun tidak ada ikatan darah, namun kakek sangat percaya dengan Didik. Orangnya jujur, dan sangat bertanggung jawab.
"Om...",
"Javas.., udah sampe..",
"Kok tau Javas mau kesini?",
"Semalam bapak bilang ke om..",
"Oh..kakek udah bilang.
Masih pagi tapi udah rame ya om..",
"Iya..setiap hari Alhamdulillah kayak gini Vas..",
"Om..om.., Jaz mau jajan..",
"Ya udah ambil aja semua Jaz..
Lu..Lu.., ini Lu tolong Mas Jaznya ditemenin..", panggil om Didik kepada pegawainya.
"Bukanya jam berapa om?",
"Jam 7 pagi .., sampai jam 9 malam..",
"Lebih 12 jam ya om, berarti dibagi 2 shift?",
"Iya Vas..betul..",
Javas melihat-lihat keadaan toko milik kakeknya. Semuanya tertata dengan rapi. Pegawai terlihat sibuk dengan kegiatannya masing-masing..",
"Om..kenapa yang ecer sama grosir kasirnya nggak dibedain aja om..",
"Kan sama aja Vas.., harganya udah otomatis beda kok..",
"Bukan gitu om maksudnya, jadi kalo yang beli grosir kayak pedagang-pedagang gitu dibedain. Kan mereka pasti belanjaannya banyak. Jadi yang mau beli kebutuhan sehari-hari nggak nunggu terlalu lama om..",
"Gitu ya Vas..",
"Depan situ diatur aja om, dijebol gitu.., memang yang bikin ribet pas renovasi tapi kalo udah selesai nanti juga enak kok..",
"Coba om bilang ke bapak dulu ya Vas..",
"Iya om.., cuma masukkan aja dari Javas..",
"Makasih, om malah seneng kalo kamu ngasih saran kayak gini..",
"Sama-sama om..",
Ditengah obrolannya dengan om Didik, samar-samar Javas mendengar obrolan Jaz dengan seseorang yang tidak asing untuknya.
"Jaz..kok disini?",
"Kan ini tokonya kakek..",
"Oh ini punya kakek ya..",
Javas mencari sumber suara, dan ketika menemukannya, Javas sudah melihat Jaz digendong oleh seseorang yang juga tidak asing baginya. Tante Tia.
Tadinya mau update nanti malam, tapi
terpantau kolom komentar rameš¤. Update sekarang aja.
__ADS_1