Istri Pura - Pura ( Bukan Perawan Tua )

Istri Pura - Pura ( Bukan Perawan Tua )
Invitation


__ADS_3

Hari masih gelap, namun Javas sudah berada di depan laptopnya. Pagi ini nanti dia harus menggantikan Daddynya sebagai pemimpin meeting. Mendadak, Daddy dan mommy harus mengantarkan Oma untuk chek up kesehatan ke Spore.


"Mas..", ucap Kinara yang baru keluar dari kamarnya. Tangannya memegang sebuah handuk dengan mengusap-usap rambutnya yang masih setengah basah.


"Udah solat..?",


"Udah.., kok Na nggak dibangunin..?",


"Mas tau kamu masih capek gara-gara semalam", jawab Javas seadanya. Sepulang dinner memang mereka masih tetap tancap gas. Alasan Javas, karena istrinya sebentar lagi akan mengalami siklus haid. Jadi, dia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan.


"Hmmmm..,


Mas sibuk ya..?",


"Iya.., hari ini ada meeting penting.., ini baru baca materinya..",


"Mas nanti ngantor?",


"Ngantor sayang..,


kamu ikut ya..",


"Iya mas..,


Kita jadi pulang..?",


"Nggak kayaknya..",


"Yah.., diteror lagi deh..",


"Kamu diteror? sama siapa?",


"Sama Jaz mas.., kasian kan kemarin kita udah janji kalo mau pulang.., pasti nanti seharian telepon terus..",


"Jaz nggak di rumah, ikut mom sama dad ke Spore nemenin Oma chek up..",


"Kapan berangkatnya?",


"Pagi ini...",


"Hmmmm..gitu yah..


mas.... mau sarapan apa?",


"Apa aja..",


"Nasi goreng, mau mas? Na masakin..",


"Roti aja deh..",


"Sandwich?",


"Iya boleh sayang...",


Javas sudah rapi dengan pakaian kerjanya. Setelan kemeja lengkap dengan jasnya. Javas meminta mamang untuk mengantarkan ke Apartement.


"Udah....", ucap Kina yang selesai memasangkan dasi untuk Javas.


"Makasih sayang...", jawabnya dengan menyematkan sebuah kecupan di kening istrinya.


"Upahnya...", kata Javas lagi.


"Modus..., tapi makasih upahnya.."


"Kamu udah siap?",


"Udah.., tinggal ambil tas aja..",


Sudah lama rasanya tidak memijakkan kakinya di lantai kantor Prime grup. Karena sudah dua Minggu ini Javas memilih untuk WFH di Apartement agar bisa ditemani oleh istrinya.


Kehadiran Javas tentu saja menjadi buah bibir karyawan yang melihat Javas datang ditemani oleh Kinara. Yang semakin membuat mereka menjadi bahan ghibah adalah Javas yang menggandeng Kinara. Tidak hanya itu, pakaian yang dikenakan keduanya juga berwarna senada.

__ADS_1


"Pagi pak..


Pagi mbak dokter..", ucap Lani yang memang sudah sering melihat Kinara, bahkan mereka sempat mengobrol sedikit.


"Pagi mbak..", balas Kina dengan anggukkan kepala.


"Lan.., tamunya belum dateng kan?", tanyanya pada Lani, resepsionist.


"Belum pak.."


"Kalo udah, kamu telepon ke ruangan saya..",


"Baik pak..",


Javas mengajak Kinara masuk ke dalam ruangannya. Sepertinya, meeting kali ini memang sangat penting. Javas terlihat membuka laptopnya sesaat, setelah duduk di meja kerjanya.


"Mas mau minum nggak?",


"Kamu mau apa? buatin minum? nggak usah.., nanti dibuatin sama OB sayang..",


"Ya udah deh,


Terus Kina ngapain disini..?"


"Ya nemenin mas.., ngapain kek kamu..",


"Mbak Sharen, ikut meeting juga mas..?"


"Ikut sayang.., mas pelajarin ini dulu ya..,kamu kalo mau keliling kantor, nggak apa-apa..",


"Ogah ah..nanti pada ditanya-tanya..", ucapnya lirih. Tahu suaminya tidak ingin diganggu, Kinara hanya diam, duduk di Sofa dengan menscroll hape miliknya.


Setengah jam kemudian, Javas pamit kepada istrinya untuk masuk ke dalam ruang meeting.


"Mas tinggal dulu ya..",


"Lama mas..?",


"Lumayan, mungkin abis makan siang baru selesai..",


"Boleh.., tapi kunci ya ruangannya..",


"Iya mas.., selamat kerja..", ucapnya dengan mencium tangan suaminya.


"Makasih sayang.., tunggu mas ya..",


Kinara menyalakan Tv di ruangan Javas, mencoba membunuh waktu. Benar kata orang, menunggu itu melelahkan. Baru saja setengah jam ditinggal suaminya, Kinara sudah merasakan kebosanan.


"Kayaknya harus pesen makan siang deh..., delivery aja deh...", ucapnya bermonolog. Kinara segera memilih menu makan siang untuk dia nikmati bersama suaminya.


Satu jam kemudian, pintu ruangan Javas diketuk oleh seseorang. Kinara segera membukanya, karena tadi dia mengunci pintunya, persis seperti apa yang Javas ucapkan kepadanya.


"Oh..... makanannya udah Dateng ya mbak..",


"Iya mbak.., saya bantuin bawa masuk ya..",


"Makasih mbak.., ini tadi udah aku bayar ya mbak..",


"Sudah mbak, tadi abangnya udah bilang kalo udah di bayar..",


"Makasih mbak..",


"Sama-sama..


Mbak Kina, ini sebenarnya istri mas Javas kan?",


"Hah..?"


"Tuh kan bener..",


"Mbak Lani tau dari siapa?",

__ADS_1


"Saya tanya ke Oma mbak..",


Kinara tersenyum kecut.


"Kenapa mbak? nggak apa-apa, saya bisa jaga rahasia kok..nggak bakal bilang sama temen-temen yang lain",


"Iya mbak.., makasih..",


"Nggak nyangka kalo mas Javas udah punya istri.., pasti cinlok gara-gara mbak Kina jadi dokter gizinya mas Javas kan? ayo ngaku...",


Oh, ternyata Lani tahu, tapi hanya sebatas tahu saja. Dia bahkan tidak tahu saat Kina mengaku sebagai dokter gizi, sebenarnya statusnya sudah sah menjadi istri Javas.


"Iya mbak.., ya gitu pokoknya..",


"Selamat ya mbak, semoga langgeng. Oh ya, kalo butuh sesuatu, tekan 0 aja ya mbak, langsung nyambung ke resepsionist..",


"Makasih doanya ya mbak..,


Iya mbak makasih perhatiannya..,


Terus teleponnya siapa yang jaga kalo mbak disini?"


"Ada pak satpam..hehe


ya udah mbak, saya balik lagi ya...",


"Iya mbak makasih..",


Meeting baru selesai pada pukul 12.30, seperti prediksi. Javas yang hendak buru-buru kembali ke ruangannya, langsung dicegah oleh Sharen, kakaknya.


"Nih...", ucap Sharen yang menyodorkan sebuah kertas tebal kepadanya.


"Apa ini..?"


"Buka aja sendiri...",


Sebuah invitation yang depannya berlambangkan huruf GB. Javas yang memang penasaran langsung membuka dan membacanya dengan seksama.


"Beneran ini? kak Gladys mau tunangan sama Bian?",


"Ya.., yang kamu baca gimana?",


"Katanya nggak disetujui sama pakdhe?",


"Daripada Pakdhe nanti jantungan kalo tau anaknya nikah diam-diam kayak budhe sama mommy dulu, mending direstui kan?",


"Kak Sharen mau dateng..?",


"Kalo semesta merestui..",


"Halah, bahasanya...


Kak Sha nggak apa-apa? udah bisa lupain Bian?",


"Udah..",


"Secepet itu?",


"Kamu sendiri? secepet itu kan lupain Mine? ya kakak juga sama. Buat apa noleh ke belakang lagi? jalan ke depan aja masih jauh.."


"Jangan sok tegar ..",


"Kakak nggak apa kok Vas.., kakak terima...",


"Beneran?",


"Iya..",


"Ya udah.., yok.., Javas mau balik keruangan. Kasian Kina disana.."


"Loh.., Kina ikut?",

__ADS_1


"Iya..., ada di ruangan Javas..",


"Ya udah yok.., tapi kakak mau langsung ke butik..",


__ADS_2