
Kak.., apa kabar?
Maaf..maaf...maaf..
Hanya kata itu yang bisa Mine ungkapkan...
Kak Javas.., jalan kita sudah berbeda...langkah kita tidak lagi sama..
Benci Mine yang nggak bisa jaga setia..
Lupakan Mine yang tak lagi cinta..
Tapi, satu yang kak Javas harus tau..
Mine selalu berdoa.., semoga kakak selalu bahagia..
Kakak akan selalu ada di hati Mine.., meskipun ditempat yang tak lagi sama...
Sampai jumpa lagi kak..
Javas menerima balasan pesan yang dia kirimkan tempo hari kepada Mine. Javas langsung buru-buru menghubungi nomor tersebut menggunakan panggilan video, namun nihil.
"Bodoh.., mana mungkin Mine mau terima..",
Mencoba kembali tapi kali ini menggunakan panggilan telepon. Namun, sayangnya juga tidak mendapatkan respon. Menyerah dan akhirnya Javas memilih untuk mengirimkan kembali pesan untuk Mine.
Kakak punya salah sama kamu?
Kakak pernah singgung perasaan kamu?
Bilang Mine.., bilang....!!!!
Kamu tega nyiksa kakak kayak gini? kenapa Mine?
Jangan memutuskan hubungan sepihak.., ini nggak adil buat kakak..
Kakak mau telepon, angkat. Setidaknya untuk yang terakhir kalinya..
Javas mencoba untuk menghubungi Mine kembali. Dan,seperti mendapatkan sebuah mukjizat, Mine mengangkat telepon Javas.
"Halo kak..",
"Sayang..., akhirnya kamu mau terima telepon, kakak rindu sayang...",
"Maaf...", ucapnya lirih.
"Kamu bercanda kan? foto itu cuma rekayasa aja, foto itu cuma pemotretan aja kan? kamu mau ngeprank kakak ya?",
"Mine..minta maaf kak..",
"Dia lebih baik daripada kakak? apa kelebihannya? apa kurangnya kakak Mine? apa sayang..? aku salah apa?",
"Bukan Kak Javas yang salah, tapi Mine...",
"Kamu khilaf sama dia? atau..kamu dijebak??? kakak yang akan tanggung jawab.., kakak rela..asal kamu mau kembali sama kakak..",
"Maaf kak.., mine nggak bisa. Lupakan Mine kak..", ucap Mine untuk terakhir kalinya, lalu menutup teleponnya sepihak.
"Halo.., mine..halo..",
Sebisa mungkin, Javas menahan emosinya. Ini sudah tengah malam dan dia sedang berada di rumah kakek yang keadaannya sangat berbeda dengan rumahnya.
Javas mencoba menghubungi Mine kembali, namun sayangnya tidak menyahut sama sekali. Nomor Javas sudah diblok.
Tidak percaya jika kekasihnya semudah itu berpaling darinya. Namun, ini kenyataannya. Meskipun tidak menjawabnya secara gamblang tadi, tapi secara tersirat Mine mengiyakan jika dia memang sudah mendua dari Javas. Semudah itu..?
Aira melihat putra keduanya yang terlihat sangat lesu. Wajahnya tidak secerah hari-hari sebelumnya. Putranya memang belum bercerita, namun Aira yakin jika ini ada hubungannya dengan Mine.
"Nggak usah tanya, kalo anak kamu nggak cerita...",
"Mas tau?",
"Nggak sayang..",
__ADS_1
Tidak percaya, Aira menatap suaminya dengan serius.
"Jangan liat mas seperti istri yang mencurigai suaminya selingkuh..",
"Anak kita kenapa?",
"Nggak tau sayang.., mas nggak tau..",
"Kasian..
Coba mas tanya.., kenapa dia kayak gitu. Tadi waktu sarapan juga cuma diem..",
"Javas mana mau cerita. Mending suruh si bungsu hibur kakaknya..",
"Oh iya..
mana tadi si Jaz mas..",
"Lagi main sama suster ke rumahnya tetangga...",
"Yah...,
anak kamu tuh ya keluyuran terus.., tadi pagi waktu habis sarapan, tiba-tiba udah ada di ujung gang mas.., ngobrol sama ibu-ibu..",
"Keturunan siapa ya? perasaan mas waktu kecil nggak gitu..",
"Aira juga nggak...",
"Terus kayak siapa?",
"Kayak tetangga mungkin..",
"Jahat..",
"Bercanda sayang..
katanya mau belanja?",
"Iya nunggu nunggu tukang sayur..",
Istri, si bungsu dan mertuanya sedang berkunjung ke toko. Tidak menyia-nyiakan kesempatan, Rendra menghampiri Javas yang duduk melamun.
"Son..",
"Dad..", jawab Javas yang memperbaiki posisi duduknya.
"Lagi ngelamun?",
"Nggak dad..",
"Putus cinta itu wajar.., Dad pernah muda, tau apa yang kamu rasakan. Tapi, jangan berlarut-larut Son..",
"Mine sudah terang-terangan mengakhiri hubungan kami Dad..",
"Mine?",
"Ya.., semalam kami bicara tapi cuma sebentar..",
"Mine mutusin kamu?",
"Harus Javas perjelas?",
"Maaf nak.., Daddy nggak bermaksud seperti itu..",
"Manusia memang nggak sempurna Dad.., tapi setidaknya selama ini Javas berusaha menjadi sempurna, bukan sebagai manusia. Tapi, sebagai pasangan..",
Rendra tidak menyahut, dia menunggu putranya berbicara kembali.
"Ternyata Javas belum sempurna untuk Mine.., ada seseorang yang bisa membahagiakan dia, lebih dari yang Javas lakukan..",
"Kamu sudah sangat sempurna nak.., mungkin memang jodoh kalian hanya sampai disini. Dad bisa saja menggunakan kekuasaan untuk memaksa Mine tetap sama kamu. Tapi untuk apa? Jika sepatu Kanan sudah rusak, maka sepatu kiri pun tidak bisa menopang dengan kuat. Hubungan adalah kerja sama berdua. Untuk apa jika selama ini kamu yang bertahan dan berjuang, tapi Mine sudah menyerah dan pergi?",
"Menurut Dad, Javas harus gimana? Javas perjuangkan atau mengibarkan bendera putih?",
__ADS_1
"Apapun yang kamu putuskan, Daddy akan selalu mendukung..",
"Kalo Javas ke Aussie?",
"No problem.., Daddy nggak akan larang kamu..",
"Tapi, untuk apa? Mine sudah menyerah dad..",
"Semua keputusan ada di kamu, nak..",
"Dad..
Berapa lama dad sama mom pacaran, akhirnya memutuskan untuk menikah?",tanya Javas yang akhirnya membelokkan topik pembicaraan.
"Tiga bulan..",
"Tiga bulan lalu akhirnya memutuskan menikah? Diam-diam kan?",
"Kedua putri kakek, kedua putra Oma semuanya menikah diam-diam karena terhalang restu...tidak membenarkan apa yang kami lakukan. Tapi, kami saling cinta..",
"Tapi harus dengan cara seperti itu..?",
"Kami memutuskan karena kami tau resikonya, dan dad sama mom sudah siap sama konsekuensinya. Pelajaran buat kamu nak.., libatkan keluarga dalam moment penting di dalam hidup. Jangan seperti Dad sama mom dulu..",
"Javas nggak akan kayak gitu Dad..
Dad sama mom pacaran sebentar, bukannya Dad lama pacaran sama Tante Ernest, semudah itu melupakan dad.., amazing..?",
"Saat pertama kali ketemu sama mommy, Daddy udah yakin kalo mommy adalah orangnya. Perempuan yang Dad cari. Meskipun tertarik, tapi Dad masih tetap setia sama Tante Ernest. Hingga akhirnya suatu hari dia memutuskan hubungan.., tanpa membuang waktu Dad langsung deketin mommy, dan berhasil sampe sekarang..",
"Apa yang membuat Dad yakin sama mom?",
"Cantik, sederhana, polos.., lembut tapi tegas..",
"Dad beruntung dapat mom..",
"Ya.., tapi Mommy juga beruntung dapat Dad..",
"Karena dad kaya? yang lebih kaya banyak, lebih tampan juga banyak..",
"Karena nggak ada laki-laki yang cintanya sebesar cinta Dad ke Mommy..",
"Hmmmm.., kayaknya sih gitu..",
"Son, apapun yang kamu putuskan. Dad sama mommy akan selalu dukung. Kejar Mine kalo kamu memang ingin berjuang.., tapi lepaskan kalo sudah nggak bisa digenggam..",
"Javas merasa dipermainkan, tapi disatu sisi, Javas masih menginginkan dia Dad..",
"Semua keputusan ada di kamu..",
Setelah sebelumnya meminta izin kepada Daddynya, Javas akhirnya bercerita kepada mommynya. Termasuk, komunikasi terakhirnya dengan Mine.
"Kamu yakin mau kesana?",
"Iya Mom.., Javas mau kesana..",
"Kalo seandainya hasilnya nggak seperti yang kamu harapkan, gimana?",
"Setidaknya Javas tau dengan mata kepala Javas sendiri mom. Apapun nanti, yang penting Javas sudah berusaha. Mommy doakan Javas mom..",
"Pasti sayang.., doa mommy selalu menyertai anak-anak mommy..,kapan rencana mau berangkat?",
"Lusa mom..",
"Tapi, mom sama dad masih disini sayang..",
"Nggak apa-apa Mom.., Javas bisa sendiri. Nanti biar dianterin sama Tama atau Ray...",
Aira mengelus-elus pundak sang anak agar bisa sedikit membantu menenangkan Javas. Putranya garang, tapi lembek kalo sudah berurusan dengan Mine.
Spoilernya nih bentar lagi muncul. Hayo deg-degan nggak..hihihi.
__ADS_1
Oh ya yang kangen sama Jaz di bab ini belum dulu yak, dia masih ngerumpi sama emak-emak di kampung mommynya.