
"Beneran nggak apa-apa kalo Mas kerja..?",
"Nggak apa-apa mas.., kenapa emangnya?",
"Kamu kan lagi sakit..",
"Nggak sakit, ini tuh wajar...",
"Anak Papa.., jangan nakal ya...,
kasian Mama lemes terus..",
"Mas...",
"Iya..pengen sesuatu? mau dibeliin sekarang..?",
"Sarapannya dibawa ke kamar aja..",
"Iya sayang..
mas bawain ya..mau minum yang seger..?",
"Air putih sama jus aja..",
"Jus apa..?",
"Jeruk aja..",
"Oke..nanti biar di bikinin bibik..",
Kinara menggeleng
"Nggak...",
"Maksudnya..? nggak jadi jus jeruk..?",
"Jadi...
tapi mas Javas yang bikin ya..?",
*"Hah...? *
yang bener aja sayang..mas kan nggak bisa..",
"Minta tolong bibik ajarin..
tapi awas aja kalo bibik yang bikin..Kina nggak mau minum. Mau? adeknya Zee ileran..?",
"Nggak dong...
nggak ada itu..
iya udah mas bikinin..
kalo gitu nggak usah pake kemeja dulu ya sayang..",
Javas turun ke bawah lalu menuju ke pantry, membuatkan jus untuk istrinya yang sedang ngidam. Dia memanggil salah satu maid untuk mengajarinya membuat jus. Sebenarnya bukan tidak bisa sama sekali tapi Javas hanya kaku karena tidak terbiasa melakukannya.
"Biar bibik aja yang buat Den Javas..",
"Nggak bik..
Kina maunya dibikinin sama saya..",
"Hmmmm..
non Kina ngidam..?",
"Kalo ngidam, emang gitu bik..?",
"Biasanya sih gitu den.., pengen aneh-aneh..",
"Ini kan nggak aneh, cuma maunya Javas aja yang bikin..",
"Iya..kan biasanya non Kina rajin, bikin sendiri..",
"Iya sih..",
"Jadi.., non Kina beneran ngidam..? ",
"Iya.., Javas mau punya anak lagi...",
"Alhamdulillah...., selamat den Javas..",
"Makasih bik..
ini gimana dulu..?",
"Di kupas dulu mas.., sampai bersih. Baru dimasukkan.."
Javas melakukannya dengan benar. Dia bisa membuatkan jus untuk istrinya meskipun. Ya.., itu dilakukannya karena ngidam Kinara.
"Makanan sama minuman siap sayang...",Javas datang ke kamar dengan membawa nampan yang berisi makanan dan minuman. *
"Makasih mas..."
*Kinara makan, tapi dari tangan Javas. Sungguh manja ibu hamil yang satu ini. *
"Udah..? nggak mau nambah lagi..?",
"Nggak usah cukup..",
"Jusnya di minum dulu..",
"Udah nggak pengen mas..
mau minum air putih aja..",
"Ini buatan mas loh sayang..beneran..mas nggak boong..",
"Iya taruh situ.., nanti Na minum..
sekarang mau minum air putih dulu.."
Padahal susah-susah membuatnya, tapi istrinya justru menunda untuk meminumnya. Astaga, serandom inikah ibu hamil? Tapi, Javas sudah berjanji, apapun keinginan Kina, dia akan memenuhinya.
"Mas berangkat sayang..
vitamin, air putih udah mas taruh di meja ya.
Jusnya diminum, jangan lupa..",
"Mas..abis ngantor mau jalan-jalan...",
"Kemana..?",
"Pengen beli seblak..
__ADS_1
enak mas..",
"Seblak tuh pedes sayang..
nggak usah...",
"Adeknya Zee loh yang pengen..",
"Kasian nanti kalo kamu makan pedes..",
"Hmmm mau ileran..? ",
"Jangan sayang...",
"Ya udah tapi level 2 aja ya..",
"Hmmmmm..",
"Nurut.....",
"Iya -iya mas..."
"Nah gitu dong..
kalo gitu mas sarapan terus berangkat ya berangkat dulu..
Zee...jagain Mama ya sayang...",
Anak pertamanya mengangguk seolah mengerti perkataan papanya. Zee kembali fokus pada mainan yang dibawanya ke dalam kamar Papa Mamanya.
"Vas..., Kina mana..?", tanya Mommy ketika Javas tiba di ruang makan.
"Di kamar.., mager...",
"Kenapa? hamil lagi..?", tanya Mommy.
"Iya Mom...",
"Hah....???", Padahal mommy asal berbicara, tapi ternyata benar. Menantunya sedang hamil cucu keduanya.
"Iya..Zee mau punya adek..",
Mommy tersenyum lebar.
"Alhamdulillah...
udah berapa Minggu..?",
"Jalan 8 Minggu mom...",
Sebenarnya Javas sudah dilarang Kina untuk bercerita kepada Mommy dan Daddy. Tapi, jika terus menutupi nanti Javas takut akan membuat orang tuanya salah paham.
"Mommy mau izin ke kamar kamu ya..",
"Iya mom..",
Mommy bergegas naik ke atas. Padahal, di atas piringnya masih ada setengah makanan yang belum masuk ke dalam perut.
"Selamat Son..,
Topcer juga ya, gas terus..",
"Dia keenakan Dad, sampe nggak ngerasain pake pengaman atau nggak..",
"Gunakan kesempatan ini sebaik- baiknya..
"Nggak akan Dad...",
...****************...
Hari ini, Nathan sengaja untuk tidak pergi bekerja untuk menemani sang istri. Sharen sangat sedih dan terpukul karena hasil tes kesehatan yang diterimanya.
"Sedihnya udah ya.., sampe kapan mau kayak gitu terus..?", ucap Nathan yang melihat istrinya meringkuk di tempat tidur.
"Perlu waktu yank..
Aku nggak apa-apa..",
"Kita cerita ke semuanya ya..",
"Nggak usah, buat apa..?",
"Biar mereka nggak bertanya-tanya lagi, kenapa sampe sekarang kamu nggak hamil. Biar mas yang ngomong..",
"Aku takut sama respon mereka..",
"Nggak apa-apa..
pasti mereka ngerti...",
Sharen menghirup nafasnya panjang.
"Kayaknya kita butuh healing..
ke Sydney lagi yok.., itung-itung nengokin Apartement...",
"Kerjaan kamu, gimana?",
"Bisa di atur itu..",
"Berangkat kapan..?",
"Lusa...",
"Hah..? kok mendadak..?",
"Mas udah pesen tiketnya..",
"Serius..?",
"Iya sayang...",
"Berapa lama..?",
"Belum tau, baru beli tiket one way aja..
Lama juga nggak apa-apa, atau kita stay disana aja..?",
"Nggak ah..enakan disini sama keluarga..",
"Dulu aja kamu suka tinggal disana..",
"Itu kan karena ngehindari kamu..",
"Ya udah, kan dulu sayang..
nggak usah di bahas lagi..
__ADS_1
Nanti malem ke tempat Mommy Daddy ya. Kita ngomong...",
"Kita lewatin ini sama-sama kan Nath..?",
"Pasti sayang.., kan aku udah janji sama kamu..",
Mereka tiba di rumah Mommy dan Daddy tepat saat jam makan malam. Jadilah mereka ikut bergabung bersama untuk menikmati makan malam.
"Kak Sha.., kenapa lama banget nggak kesini..", ucap Jaz.
"Ye.., kakak kesini terus.., tapi kamu sekolah Yul...",
"Dih..bilang aja takut dimintain duit jajan..",
"Astaga ini anak....
nanti deh kakak kasih. Tas kakak masih di kamar...",
"Oke.., janji ya..
Jaz mau belajar dulu..",
"Tumben rajin banget..",
"Iya dong...",
Mereka semua berkumpul di ruang keluarga. Termasuk Kina yang terpaksa membatalkan niatnya untuk jajan seblak bersama suaminya. Kina menghormati kehadiran Sharen. Lagipula, moment bersama seperti sekarang ini sudah jarang terjadi karena mereka sudah berumah tangga.
"Mom..Dad..
Nathan mau ngomong ..",
"Kenapa? kalian baik-baik aja kan?", tanya Mommy yang justru khawatir.
"Baik-baik aja mom..",
"Terus apa? kok kalian serius gitu mukanya. Jangan ada prank-prankan mommy nggak suka..",
"Jadi, Nathan sama Sharen udah tes kesehatan reproduksi Mom..., dan hasilnya mengecewakan. Kami berdua sulit punya keturunan...",
"Astagfirullah....., kalian nggak bercanda kan..?",
"Nggak mom..kami serius..",
"Yang bermasalah siapa..?", tanya Daddy.
"Sharen dad...",
"Sulit bukan berarti nggak bisa kan Sha..?",
"Nggak tau...", Sharen mewek, dia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Nathan lalu membawanya kepelukan.
"Udah..jangan nangis..,ada mas sayang...",
"Orang tua kamu gimana Nath? udah tau..?",
"Belum Dad, besok Nathan mau bilang.
Lusa Nathan sama Sharen mau ke Aussie, hitung-hitung liburan disana..",
"Kalian apa nggak mau coba dokter luar negeri, therapy , bayi tabung atau sejenisnya..?",
"Mau mom.., tapi mungkin nanti.
Nggak ada yang berubah dari Nathan dan Sharen, kami tetap suami istri...",
Keputusan Kinara untuk menyembunyikan sementara kehamilannya sepertinya adalah keputusan yang tepat. Mungkin akan menunggu waktu yang tepat nanti.
Kinara mengetok pintu kamar Sharen, setelah tau jika Nathan sedang bersama Javas dan Daddy di ruang kerja.
"Mbak..., sabar ya..",
"Makasih Na..",
"Mbak..masalah infertilitas kan banyak. Masalahnya apa..?",
Sharen membuka tasnya lalu menunjukkan hasilnya kepada Kina.
Kina membukanya dan membacanya satu persatu.
"Mbak..Kina emang bukan dokter spesialist obgyn, Kina dokter umum. Tapi, Kina ngerti bacanya. Apa Kina yang salah baca..?",
"Enggak Na...",
"Jadi..., bener kan?
mbak bohong..?",
"Iya Na..",
"Jadi mas Nathan kan yang bermasalah? bukan mbak Sharen..?",
"Iya Na..",
"Mas Nathan tau..?",
"Enggak....",
"Lho..kenapa nggak bilang mbak..?",
"Aku nggak bisa liat Nathan terpukul. Dia pasti nyalahin dirinya sendiri Sha.., pasti dia minder nanti sama Dad, Mom, Javas.., sama kamu juga... Aku nggak bisa liat dia insecure..., aku nggak mau Na..",
"Mbak.., tapi kan mas Nathan harus tau, jadi kalian bisa nentuin gimana nanti kedepannya...",
"Nentuin kedepannya? cerai maksudnya? kakak nggak kepikiran itu sama sekali Na..",
"Bukan itu maksud Kina mbak..
tapi therapy mbak.., kan nggak mungkin mbak Sharen yang bermasalah tapi mas Nathan yang diteraphy? kan mas Nathan harus tau dulu kan masalahnya dimana?",
"Kakak udah pasrah Na..
kamu liat sendiri kan tadi? Nathan berbesar hati menerima keadaan kakak.., meskipun yang dia tau, kalo kakak yang bermasalah. Dia nggak pernah nyalahin sedikitpun Na.., sikap dia nggak berubah sedikitpun, tetap sayang sama kakak..",
"Atau.., jangan-jangan Mas Nathan udah tau mbak..?",
"Nggak Na.., aku kenal Nathan dengan baik. Dia selalu cerita sama aku, apalagi untuk hal yang sepenting ini..",
"Gimana sama keluarganya mas Nathan nanti mbak? Apa mereka nggak kecewa sama mbak Sharen..?",
"Kakak udah terima resikonya..
Nathan berjanji semuanya akan baik- baik saja..",
"Mbak.., pesan Kina..
secepatnya terus terang sama mas Nathan. Dia harus tau dari mulut mbak Sharen sendiri..",
__ADS_1
"Iya Na.., kakak mau ngumpulin kekuatan dan keberanian dulu..",