
Kinara baru saja membersihkan badannya, tentu dibantu oleh Surti. Wajahnya Kinara sudah terlihat segar, hanya saja masih kesulitan untuk berjalan. Kinara belajar duduk di sofa tanpa melepas selang infus ditangannya.
"Awas mbak..., pelan-pelan aja ya...",
"Iya makasih mbak..",
Saat ini, rambutnya sedang disisir oleh Surti.
"Mbak.., mertuanya mbak Kina kayaknya baik..",
"Kan aku udah pernah cerita, gimana sih..",
"Bilangnya sibuk? tapi mbak Kina lahiran aja ditungguin. Ibuk sama bapak berdoa terus lho mbak..",
"Iya ya..",
"Kata mbak Sri, bapak yang punya rumah sakit ini. Terus katanya, bos ganteng juga kerjanya dikantor, tapi kenapa mbak Kina bilang kalo kerjanya di kapal...? mbak Kina tuh sebenarnya kabur kan?",
"Siapa yang bilang..?",
"Mbak Sri..",
"Jangan percaya..",
"Tuh, didepan juga ada yang jagain kamar ini. Katanya, biar mbak Kina nggak kabur lagi..",
"Masa sih..Eh mbak.., mas Javas kok nggak balik-balik ya..",ucapnya mengalihkan pembicaraan.
"Kenapa? kangen sama Bos ganteng ya..?",
"Ya nggak gitu.., tapi nanti bayiku bisa dibawa ke kamar mbak.., aku udah nggak sabar...",
"Ini masih sore mbak, kan acara pemakaman juga lama biasanya..",
"Iya sih.., tapi kan masih bayi mbak..",
"Ya mungkin ngumpul sama keluarga yang lain juga mbak..",
"Iya sih...",
"Mbak Kina, mau makan sekarang? saya ambilin..apa mau disuapin..?",
"Nanti aja mbak..",
"Makan mbak.., biar ASI nya keluar lancar..",
Memang ASI Kinara masih tersendat. Tapi, dia tetap berusaha agar ASInya nanti bisa diminum oleh putranya.
Javas tiba di rumah sakit, saat jam menunjukkan pukul 7 malam. Javas menepati janjinya, dengan membawa putranya masuk ke dalam ruang rawat istrinya.
"Udah ditunggu sama mama sayang...",ucapnya.
Javas memberikan putranya pada Kinara.
"Makasih mas..",
Kinara rindu, meskipun belum genap 24 jam
dia berpisah dengan putranya.
"Sayang.., tidur terus ya. Hmmm..wanginya anak Mama....",
Javas bahagia. Pemandangan di depan matanya sangat menyejukkan hatinya. Seorang Putra tampan yang dilahirkan oleh perempuan cantik yang sangat dia cintai.
Tidak lama kemudian, keluarganya yang lain menyusul masuk ke dalam kamar. Daddy, Mommy, Kak Sharen serta si kecil Jaz.
"Wah.., cucu Omy.., udah disini. Gantengnya....",
Mommy Aira lantas menggendong cucu pertamanya.
__ADS_1
"Omy, apaan mom...?",tanya Jaz.
"Oma mommy dong...",
"Terus kalo Daddy apa? Ody gitu..?",tanya Javas.
"Ya, tanya Dad dong, mau di panggil apa..?",
"Apa dad..?",
"Apa aja.., Ody juga boleh...",
"Utu..utu..utu.., mulutnya manyun..., cucu Omy, haus ya sayang...?",
"Tadi dari ruang bayi, abis minum susu kok mom...",
"Gantian dong mom.., dad juga mau gendong..",
"Ody mau gendong si ganteng juga..., sama Ody dulu ya sayang...",
"Mom..mom..kalo Jaz, dipanggilnya apa?",
"Little uncle dong..",
"Uncle Jaz ya mom...",
"Iya sayang...,
adeknya ganteng ya, hidungnya juga kayak kamu. Mancung..",
"Adek baby, namanya siapa kak Kina..?", tanya Jaz.
"Oh iya, udah ada namanya belum Na..?",
Kinara melihat ke arah Javas, seperti meminta persetujuan memberikan nama untuk putranya.
Javas menganggukkan kepalanya sambil tersenyum pada istrinya.
Javas kembali tersenyum. Ternyata, istrinya memberikan nama yang bagus untuk putranya.
"Panggilannya apa dong kak dok..?",
"Ze atau Zeev juga boleh...",
Mereka bersuka cita menyambut kehadiran baby Ze ditengah-tengah keluarga Rendra Perdana. Ze seperti piala bergilir. Dari tangan Mommy, ke Daddy, lalu beralih ke Sharen. Dan, kali ini Ze dipangku oleh uncle Jaz tapi masih dibantu oleh Moma Sharen.
"Kapan Na boleh pulang Vas..?", tanya Mommy.
"Besok sore udah boleh pulang mom..",
"Kamar Ze udah siap ditempatin.., popok, baju, perlengkapan mandi, semuanya udah ada..",
"Makasih mom...",
Ze tiba-tiba menangis. Kali ini, sepertinya dia haus.
"Sayang, kasih dulu kek Kak Kina, biar disusuin...", ucap Mommy.
Mommy memberikan Ze kepada mamanya.
"Tapi, ASI nya belum keluar banyak mom..",
"Nggak apa-ap, dilatih dulu..., sambil dibantu sama susu formula. Sur.., siapin susunya Ze ya..",
"Baik nyonya..",
"Ayo Na, cepetan disusuin...",
"Tapi mom..",
__ADS_1
"Kenapa? Daddy juga nggak ada disini, Jaz barusan keluar..., Mommy, Sharen sama Surti juga sama-sama perempuan.
Tanpa dijelaskan, mommy sudah tau alasan sebenarnya.
"Kenapa? Ada Javas? kan Javas udah liat semuanya, biasanya juga pasti dinikmatin kan? sekarang gilirannya Ze.., ayo susuin Na..",
"Iya mom..",
Kinara akhirnya mengeluarkan gunungnya. Ukurannya lebih besar dari yang biasanya Javas nikmati. Benda yang selama ini menjadi kesukaannya akhirnya bisa Javas lihat , meskipun belum bisa dia nikmati kembali.
Meskipun air susunya belum keluar deras, tapi tangisan Ze berhenti.
Mommy, Daddy, Sharen dan juga Jaz akhirnya pamit untuk kembali pulang ke rumah.
"Mommy sama yang lainnya pamit pulang dulu ya sayang, besok mommy kesini lagi..",
"Makasih mommy...",
"Kalo nangis, jangan lupa di cek popoknya. Kalo masih kering, berarti dia kehausan.., kamu cepet susuin ya..",
"Iya mom...",
"Vas..jagain Kina. Jangan sampe kabur lagi..", gurau Mommy pada putranya.
"Iya mom...",
Ze terlelap dalam box bayinya. Kinara yang terlihat lelah juga terlihat tertidur. Hanya menyisakan Javas yang masih terjaga. Javas masih tidak percaya, semua yang ada dihadapannya saat ini rasanya seperti mimpi.
Mengamati lekat wajah istrinya yang polos tanpa make up, tapi tetap memancarkan kecantikannya. Ingin rasanya menghujani ciuman di wajahnya, tapi dia urungkan karena takut mengganggu istirahat Kinara.
Javas benar-benar akan bertanggung jawab penuh pada istri dan anaknya. Tidak akan membiarkan keduanya pergi lagi dari hidupnya.
Oek..oek..oek...
Ze menangis. Dengan sigap, Javas mendekati putranya dan mencoba menenangkan. Kinara terbangun ketika mendengar putranya menangis.
"Popoknya udah penuh sayang, udah..kamu tidur aja...",
"Nggak haus..?",
"Nggak..ini popoknya diganti..",
Javas mengganti popok putranya. Setelah selesai, dia kembali menaruh Ze ke dalam boxnya. Namun, putranya justru kembali menangis.
"Dia haus mas..",
Javas mengangkat kembali Ze untuk diberikan kepada istrinya. Namun, setelah dal gendongannya, Ze justru terdiam.
"Oh.., anak Papa mau digendong aja ya...",
"Haus mas dia..",
"Pengen digendong sayang..,
udah ya, kamu tidur aja. Mas aja yang jaga dia..",
Javas menggendong putranya sambil menimang-nimang. Setelah memastikan putranya kembali terlelap, Javas menaruh kembali Ze ke dalam boxnya. Tapi, putranya kembali menangis. Sepertinya memang Ze ingin digendong.
"Nggak mau ya.., sini biar sama Kina aja..",
Javas memberikan Ze pada Kinara, tapi Ze kembali menangis.
"Nggak mau kan? Dia mau digendong sambil ditimang-timang.., biar sama mas aja Na..",
Javas menggendong Ze dengan menimang-nimang. Ze diam, dan kembali terlelap tidur. Namun, Javas tidak berani menaruh Ze ke dalam box.
Kinara sudah tidur, dan mata Javas juga terasa sangat berat. Takut jika Ze kembali menangis jika ditaruh di boxnya, Javas akhirnya memutuskan untuk menidurkan Ze ke ranjang yang menjadi tempat tidurnya selama dia menemani Kinara.
"Tidur sama Papa ya sayang...",
__ADS_1
Javas berhasil menidurkan putranya. Malam itu, Ze tidur bersama Papanya.